Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Ancaman Riziq


__ADS_3

Ketika perjalanan menuju rumah, sehabis pulang dari rumahnya kiyai Husen, ustad Rasyid berjalan tak bersemangat, pikirannya mulai kacau, ia bingung, takut, bimbang dan kecewa, rencana semula yang ingin mengkhitbah Aisyah kini tinggal hayalan saja, bukan ia tak berani untuk bilang pada kiyai Husen tentang niatnya mengkhitbah Aisyah, namun ia tak mau kiyai Husen kecewa dengan keputusannya menolak perjodohan itu. Ustad Azam menatap heran pada sahabatnya itu.


"Apa yang harus aku putuskan ya Allah, berilah aku petunjukmu " gumam ustad Rasyid dalam hati. Ustad Azam menepuk pelan pundaknya ustad Rasyid.


"Kenapa?, ustad Rasyid ragu? " tanya ustad Azam.


"Ntah lah saya sendiri juga bingung" jawab ustad Rasyid sambil berjalan.


"Sepertinya ustad harus salat istikharah. Saya cuma mau mengingatkan menikah adalah ibadah, jadi jangan menunda nunda" tutur ustad Azam. Ustad Rasyid pun tersenyum lalu melanjutkan kembali perjalanan mereka. Tiba tiba ustad Azam tersenyum melihat anak dan istrinya, ustajah Ulfi dan Yusuf yang telah menunggunya di depan rumah.


"Asalamualaikum "ustad Azam dan ustad Rasyid mengucap salam.


"Waalaikumsalam "jawab ustajah ulfi dan Yusuf sambil tersenyum, seketika Yusuf berlari dan langsung memeluk ayahnya itu, sementara ustajah ulfi mencium tangan ustad Azam.


"Ustad Rasyid tidak iri pada saya?" tanya ustad Azam mencoba menggoda ustad Rasyid, namun ustad Rasyid hanya tersenyum menanggapinya.


"Cepat cepat lah menikah, biar ada yang menunggu di depan rumah, karna dengan itu lelah kita terasa hilang setelah melihat anak istri " tutur ustad Azam. Ustajah Ulfi hanya tersenyum mendengar pertuturan suaminya itu.

__ADS_1


" Menikah adalah ibadah, cepat lah beri keputusan" ucap ustad Azam kembali.


"Akan saya pikirkan " jawab ustad Rasyid. Tidak lama setelah itu ustad Rasyid pamit pulang. Di perjalanan menuju rumah, ia benar benar di buat pusing akan keputusan yang harus ia ambil, semangat nya meleleh tidak seperti saat ia baru pergi untuk ke rumahnya kiyai Husen yang terasa semangatnya menggebu gebu ketika ada niatnya untuk menta'aruf Aisyah, namun semua terasa sia sia.


Sesampainya di rumah, ustad Rasyid perlahan membuka pintu rumah.


"Asalamualaikum" ucap ustad Rasyid memberi salam, namun tak ada jawaban, ia mengira Riziq tidak ada di rumah. Tiba tiba ia terkejut melihat Riziq yang sedang duduk mematung di sofa.


"Riziq kau mengagetkan ku " ucap ustad Rasyid sambil menutup pintu rumah.


"Apa keputusanmu? " tanya Riziq tegas tanpa ekpresi, ustad Rasyid terdiam ia tau kemana arah pembicaraan adiknya itu. Perlahan dengan nafas berat ustad Rasyid duduk di sebelah Riziq.


"Aang belum tau" ucap ustad Rasyid sambil berdiri untuk pergi kekamarnya.


"Aang tidak lupakan dengan ancamanku yang sering ku katakan padamu "


Ustad Rasyid berdiri mematung di depan pintu kamarnya, ia menatap lekat adiknya itu. Kini wajah ustad Rasyid nampak berantakan.

__ADS_1


"Aku ingat itu ziq, tolong beri aang waktu, biarkan aang berfikir" ucap ustad Rasyid.


"Berfikir ?, kalau aang berfikir dulu itu artinya aang masih ragu dengan uni Aisyah. Kalau aang mencintainya aang tidak perlu berfikir dulu, aang langsung putuskan untuk menolak perjodohan itu " tutur Riziq menegaskan. Kini ia sedikit emosi dengan sikap kakaknya itu.


"Kalau kau tidak mau menyakiti uni ku, maka putuskan sekarang juga, tolak perjodohan itu " ucap Riziq penuh emosi.


"Kau tidak mengerti posisiku" ucap ustad Rasyid, membuat Riziq berdengus kesal.


" Kalau kau tidak berani bilang pada kiyai Husen biar aku yang bilang kalau aang dan uni Aisyah saling mencintai " ucap Riziq tegas.


"Jangan Ziq aang mohon beri aang waktu untuk berfikir, tidak segampang itu memutuskan, kau tidak mengerti posisiku, kiyai Husen begitu sangat kuhormati, dia berpengaruh besar dalam hidupku" tutur ustad Rasyid.


"Jadi aang akan memilih menyakiti uni ku?. Kau lupa dengan ancamanku, kalau aang benar benar menyakiti uni ku maka bersiap siaplah kau akan kehilanganku" ucap Riziq mengancam. Ustad Rasyid terdiam mendengar ucapan adiknya itu, ia semakin di buat bingung dengan keputusan yang akan di berikannya.


"Tak ada sedikitpun niatku untuk menyakiti Aisyah, aang mencintainya seperti aang mencintaimu, berilah sedikit waktu untuk ku, meskipun aang menolaknya tentu harus ada alasan yang jelas, kiyai Husen punya alasan sendiri kenapa ia lebih memilih ustajah Yasmin di banding dengan Aisyah." tutur ustad Radyid .


"Harus kau tau ang, aku menyayangi mu, sangat menyayangimu tapi kalau kau berani menyakiti uni Aisyah sedikitpun, aku tidak akan segan segan untuk membencimu, kau harus ingat itu " ucap Riziq sambil berlalu ke kamarnya ia menutup pintu dengan begitu kerasnya, hingga ustad Rasyid terkaget di buatnya, perlahan ustad Rasyid pun masuk ke kamarnya, duduk di atas ranjang sambil mengusap kasar wajah nya yang nampak berantakan tak karuan karna penuh dengan pikiran bimbang dan bingung.

__ADS_1


"Ya Allah jika keputusan ku menerima perjodohan itu adalah keputusan yang benar, hamba mohon berilah kekuatan untuk Aisyah, jujur hamba tidak ingin melihatnya terluka apalagi melihatnya menangis, berilah dia kebahagiaan yang berlimpah, dan jika aku menolak perjodohan itu, hamba mohon jangan ada yang tersakiti. Ustajah Yasmin perempuan yang baik sama seperti Aisyah, berilah pengertian pada kiyai Husen tentang apa yang akan hamba putuskan.


__ADS_2