
Pagi pun tiba, sinar matahari telah menghangatkan tubuh Aisyah dan anak anaknya yang sengaja berjemur karna ingin merasakan hangatnya sinar matahari pagi. Tiba tiba Riziq menghampirinya.
" Eh anak anak abi lagi ngapain?" ucap Riziq sambil menciumi Adam dan Hawa.
" Uni, kau siap siap dulu, sebentar lagi kita berangkat" ucap Riziq kembali. Mereka sudah siap untuk pergi mencari ayahnya.
Saat Aisyah sudah berdandan rapih. Setelah beres berdan dan menyiapkan asinya yang ia simpan di dalam 4 botol dot kecil, persediaan untuk Adam dan Hawa karna anak anaknya akan di titipkan pada umi Salamah.
Saat Aisyah keluar dari kamar. Riziq pun langsung menatap istrinya itu yang kini terlihat lebih cantik dari biasanya.
" Uni, kenapa kau berdandan seperti itu?" tanya Riziq. Aisyah pun terdiam, lalu menatap penampilannya sendiri.
" Memangnya dandananku kenapa?" tanya Aisyah balik.
" Kau berdandan terlalu cantik, memangnya kau mau menggoda siapa?"
Aisyah malah mengeryitkan keningnya.
" Aku kan berdandan karna aku mau bertemu dengan ayah mertuaku" jawab Aisyah.
" Jadi kau berdan dan cantik seperti itu untuk menggoda ayahku?"
" Heei kenapa kau bicara seperti itu" tanya Aisyah tak suka.
" Uni, di luar sana banyak sekali berpasang pasang mata liar yang siap menatap kecantikanmu dengan penuh nafsu. Mata di luar berbeda dengan mata yang ada di pesantren kita, jadi kau jangan berdandan seperti ini" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk. Seketika Riziq langsung menggendong Aisyah masuk ke dalam kamar, tentu saja Aisyah sangat terkejut.
" Le kau mau ngapain?" tanya Aisyah. Riziq pun menurunkan Aisyah tepat di depan lemari.
" Gantilah bajumu, ini terlalu mewah" pinta Riziq. Aisyah hanya mengangguk saja. Namun tiba tiba Riziq sudah membuka retsleting gamis Aisyah yang berada di punggungnya, tentu saja Aisyah terkejut dan nampak curiga.
" Le kau mau apa?"
" Mau membantumu berganti pakaian" jawab Riziq. Aisyah sudah memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam ya Le" ucap Aisyah penuh waspada. Riziq malah tersenyum senyum.
" Aku hanya ingin membantu saja, siapa tau uni butuh bantuan"
" Uni bisa sendiri, sebaiknya kau keluar"
Riziq pun mengangguk dan berjalan menjauh, terdengar suara pintu tertutup saat Aisyah memilih milih baju di lemari. Setelah mendapatkan baju yang pas, Aisyah pun melepaskan gamis dan kerudungnya, kini menyisakan pakaian dalam Aisyah, Aisyah pun mengganti celana lejingnya dengan warna senada sama baju gamis yang akan di kenakannya, tak lupa juga ia mengganti kerudungnya. Setelah selesai mengganti pakaian, Aisyah pun duduk di depan meja riasnya untuk menghapus riasannya yang menurut suaminya terlalu berlebihan, padahal Aisyah hanya berdandan senatural mungkin.
Saat Aisyah menatap cermin riasnya, tiba tiba matanya membulat saat ia melihat Riziq yang sedang bersandar di pintu sambil tersenyum.
" Leeeeee" Aisyah menggeram. Riziq malah tersenyum senyum.
" Sejak kapan kau berdiri disitu?" tanya Aisyah sedikit kesal.
" Sedari tadi aku disini, sejak aku menggendongmu masuk kamar" jawab Riziq. Aisyah pun sudah memicingkan matanya.
__ADS_1
" Jadi dari tadi dia tidak keluar kamar, kupikir suara pintu tertutup itu dia yang keluar, dia tidak keluar pasti ingin melihatku ganti pakaian, dasar genit" gerutu Aisyah.
Riziq memang menjauh dari Aisyah saat Aisyah menyuruhnya untuk keluar kamar saat ia akan berganti pakaian. Namun Riziq malah menutup pintu dan berdiri bersandar di pintu melihat sesuatu yag ada di hadapannya itu.
" Ribet banget ya jadi perempuan, pakaian dalam saja warnanya harus senada dengan pakaian yang akan dikenakan" ucap Riziq menyindir. Seketika wajah Aisyah langsung memerah.
Setelah siap dengan dandanan yang natural dan sederhana. Aisyah pun langsung menggandeng Riziq untuk pergi kerumahnya umi Salamah menitipkan Adam dan Hawa.
" Ayo Le"
" Tunggu uni"
Riziq pun memasangkan masker berwarna putih pada wajah Aisyah.
" Le, kenapa aku harus memakai masker?" tanya Aisyah.
" Biar mata mata di luar sana tidak memandangmu dengan tatapan liar dan lapar, aku tidak iklas jika kecantikanmu harus di konsumsi oleh laki laki lain" tutur Riziq. Aisyah pun terdiam.
" Uni mau aku pasangkan masker atau aku pasangkan lakban?" tanya Riziq.
" Masker" jawab Aisyah pasrah.
Mereka pun membawa Adam dan Hawa kerumahnya umi Salamah. Sesampainya disana, Aisyah pun mengetuk pintu.
Tok tok tok
" Waalaikumsalam" jawab umi Salamah sambil tersenyum. Nisa pun menghampiri.
"Maaf ya umi aku merepotkan lagi" ucap Aisyah.
" Tidak apa apa, umi senang menjaga anak anak" Jawab umi Salamah. Umi Salamah sudah menggendong Adam, sementara Nisa menggendong Hawa. Tidak lupa juga Aisyah memberikan 4 botol asi yang ia simpan dalam dot.
" Umi kita berangkat ya, asalamualaikum"
" Waalaikumsalam, ustad Riziq semoga kau bertemu dengan ayahmu ya" ucap umi Salamah.
" Terima kasih ya umi"
Setelah mencium Adam dan Hawa, Riziq dan Aisyah pun pergi. Di depan pagar rumahnya umi Salamah, Aisyah dan Riziq bertemu dengan ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waakaikumsalam"
Ustad Usman terdiam saat melihat perempuan yang ada di hadapannya itu berjalan bersama Riziq. ustad Usman tidak tau kalau itu adalah Aisyah, karna Aisyah menutup wajahnya dengan masker.
" Siapa perempuan ini, waaah si ustad brondong mulai macam macam nih, dia sudah berani membawa perempuan lain kesini, dia tidak tau kalau si Aisyah sudah marah gawatnya minta ampun" batin ustad Usman. Riziq pun terheran melihat tatapannya ustad Usman pada Aisyah.
" Kenapa ustad?" tanya Riziq.
__ADS_1
" Heei ustad berondong, berani beraninya kau membawa perempuan lain kesini, memangnya kau belum pernah merasakan ya dengan hantaman bogem si Aisyah" ucap ustad Usman sedikit tidak suka.
" Apa maksud dengan perkataan ustad?" tanya Riziq kembali. Aisyah sudah menahan tawa di balik maskernya, ia tau akan maksud dari kakanya itu.
" Kau jangan pura pura bodoh, lalu siapa perempuan ini, kenapa dia berjakan berdampingan denganmu?" tunjuk ustad Usman pada Aisyah. Tiba tiba Aisyah tertawa.
" Ha ha ha, kak ini aku" ucap Aisyah sambil membuka maskernya. Ustad Usman pun terkejut.
" AISYAH, kupikir siapa, kenapa kau pake masker begitu, aku sampai berfikiran su'udzon pada suamimu" ucap ustad Usman sedikit malu.
" Kepo"
" Memangnya kalian mau kemana?"
" Kita ada perlu ke luar, makanya kita titip anak anak sama umi" jawab Riziq.
" Kalian pergi ke luar bukan untuk jalan jalan ke mall kan?" tanya ustad Usman.
" Ya nggak lah, ya sudah kita berangkat asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Riziq dan Aisyah pun pergi. Kini ustad Usman pun masuk kerumah. Dilihatnya rumah nampak sepi, ustad Usman pun masuk kedapur.
" Nis"
Tiba tiba ustad Usman melihat satu gelas kecil berisi susu.
" Waah Nisa perhatian sekali, aku baru saja datang dia sudah menyiapkan minum, tapi tumben di kasih susu, biasanya juga kopi"
Tanpa izin dulu ustad Usman meneguk susu itu, baru saja satu tegukan, ia merasa ada yang aneh hingga gelas itu di taruhnya kembali.
" Susunya tidak ada rasanya, apa Nisa lupa memberinya gula" ucap ustad Usman sambil menatap gelas itu. Tiba tiba Nisa datang sambil membawa dot kosong. la hampir tak percaya melihat susu dalam gelas itu tinggal setengah.
" Mas, kenapa susunya di minum?" tanya Nisa sedikit panik.
" Kenapa memangnya, kupikir ini untuku yang sengaja kau buat" jawab ustad Usman.
" Itu Asinya Aisyah buat Adam dan Hawa, aku sengaja menaruhnya di gelas, karna dotnya mau ku cuci" ucap Nisa. Seketika itu pula ustad Usman membelalakan matanya. Ia tak menyangka kalau susu yang ia minum adalah asinya Aisyah. Seketika itu pun udtad Usman berlari ke kamar mandi.
"Oo Oo Oo "ustad Usman muntah muntah. Nisa mun menjadi cemas.
" Mas Usman gak apa apa ?" tanya Nisa khawatir. Tiba tiba umi Salamah pun menghampiri mereka karna mendengar ustad Usman muntah muntah.
" Man, kau kenapa muntah muntah?" tanya umi Salamah.
" Perutku mual umi"
" Jangan jangan Nisa hamil Man, Nisa hamil dan kau yang ngidam" ucap umi Salamah.
__ADS_1