
Kini kehamilan Aisyah sudah menginjak bulan kelima. Perutnya sudah terlihat buncit. Didalam kamar ia menatap diri di cermin sambil menatap dan mengelus perutnya. Ketika Riziq masuk, ia tersenyum melihat kelakuan Aisyah.
" Wah, Uni terlihat lebih sexy ya dengan perut seperti itu" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.
" Kau memujiku atau menghinaku?" tanya Aisyah masih dengan menatap diri di cermin. Perlahan Riziq mendekati Aisyah, lalu memeluknya dari belakang.
" Aku menggodamu" ucap Riziq sambil mempererat pelukannya. Seketika Aisyah langsung tersenyum. Ia pun membalikan badannya sambil mengalungkan tangan kelehernya Riziq.
" Le, kalau setelah melahirkan, badanku menjadi gemuk seperti Dewi, apa kau tetap akan mencintaiku?" tanya Aisyah.
" Tentu saja, kau berubah gemuk artinya kau bahagia hidup bersamaku" jawab Riziq sambil memeluk pinggangnya Aisyah.
"Le, kau tempelkan telingamu di perutku, terdengar tidak detak jantungnya" ucap Aisyah. Seketika Riziq langsung menempelkan wajahnya ke dada Aisyah.
" Terdengar" ucap Riziq sambil tersenyum. Aisyah langsung menepuk pundaknya suaminya itu.
" Bukan detak jantungku, tapi detak jantung bayinya, kau curi curi kesempatan ya, kau jangan macam macam Le" ucap Aisyah menegaskan. Riziq malah tersenyum senyum.
" Bukankah aku sering macam macam padamu, hingga membuat perutmu buncit seperti itu" goda Riziq. Perlahan Riziq menaikan gamis Aisyah hingga menyingkapnya sampai ke perut. Aisyah pun terkejut dengan apa yang di lakukan suaminya itu.
" Le, kau mau apa?" tanya Aisyah sedikit panik dan malu, ketika Riziq mengangkat rok gamisnya.
" Aku ingin mendengarkan detak jantungnya langsung dari perutmu." ucap Riziq sambil menempelkan telinganya pada perut Aisyah. Wajah Aisyah sudah memerah karna malu, pasalnya ia tak menggunakan celana leging seperti biasanya di karnakan ia merasa engap. ia hanya menggunakan celana dalam saja.
" Le, turunkan baju gamisku, aku malu"
Riziq malah pokus dengan perutnya Aisyah yang sudah mulai mebuncit itu. Saat sadar akan Aisyah.
" Uni, kenapa kau tidak memakai celana lapisan, kau mau menggodaku ya sore sore begini" ucap Riziq. Seketika Aisyah langsung menutupi matanya Riziq dengan tangannya sambil membenarkan gamis yang sengaja di singkapkan oleh suaminya itu. Setelah membenarkan bajunya ia pun melepaskan tangannya yang menutupi matanya Riziq. Riziq hanya tersenyum senyum saja.
" Kenapa tidak memakai celana panjang seperti biasanya, uni siap berperang denganku?" ucap Riziq menggoda istrinya. wajah Aisyah sudah memerah.
" Bukannya mau menggodamu. Perutku engap kalau harus memakai celana berlapis" ucap Aisyah menegaskan. Riziq pun tersenyum sambil berdiri kembali.
" Aku memang tidak bisa merasakan betapa engapnya perutmu, tapi aku berdo'a semoga kau selalu di beri kesehatan" ucap Riziq sambil mengelus perutnya Aisyah. Seketika Aisyah langsung memeluk suaminya itu.
" Terima kasih Le, kau memang suami terbaik, aku akan sangat berbahagia melewati semua masa masa kehamilanku ini"
__ADS_1
" Mau ikut jalan jalan ga?" tanya Riziq.
" Kemana?"
"Kita ke kebun, sudah lama tidak duduk di kursi bambu" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk antusias. Dan akhirnya mereka pun pergi ke perkebunan dengan bergandeng tangan seperti layaknya pengantin baru. Di tengah perjalanan mereka bertemu ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
" Hei Aisyah gendut kau mau kemana?" tanya ustad Usman. Seketika Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.
" Le aku di bilang gendut" ucap Aisyah mengadu.
" Perut uni kan sekarang memang gendut" ucap Riziq sambil mengelus perut istrinya itu.
" Kita mau ke kebun, ustad Usman mau ikut?" tanya Riziq. Seketika ustad Usman langsung mengucap salam sambil berlalu pergi dengan sedikit berlari. Ia masih takut jika Aisyah tiba tiba ngidam lagi dan mengerjainya yang aneh aneh, hingga ia memilih kabur.
" Waalaikumsalam" jawab Aisyah dan Riziq. Aisyah malah tertawa.
Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali menuju perkebunan. Lalu bertemu dengan kiyai Husen.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
" Kalian mau kemana?" tanya kiyai Husen.
" Kita mau kekebun bi, mau nyari angin segar" jawab Aisyah sambil tersenyum.
" Ya sudah hati hati, pulangnya jangan terlalu sore, kurang baik untuk kehamilanmu" kiyai Husen memperingatkan.
Aisyah dan Riziq pun mengangguk. Lalu melanjutkan kembali perjalanannya. Sesampainya disana, mereka pun langsung duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu itu. Anginnya sangat terasa dan pemandangannyapun tidak pernah berubah, masih asli enak di pandang mata.
Riziq sudah menempelkan tangannya ke perut Aisyah.
" De, kau baik baik ya dalam perut ibumu." ucap Riziq sambil mengelus ngelus perut buncit itu.
__ADS_1
" Le, kau mau anak laki laki, atau perempuan?" tanya Aisyah.
" Laki laki atau perempuan sama saja, yang penting, kalau dia laki laki, dia tidak seperti ustad Usman yang banyak bicara. Dan kalau perempuan, dia tidak seperti kak Dewi yang banyak makan" ucap Riziq menegaskan, membuat Aisyah sedikit tertawa mendengar ucapan suaminya.
" Menurutku kalau dia laki laki, uni berharap dia sepertimu, bertanggung jawab dan lebih mengutamakan kebahagiaan istrinya. Dan untuk perempuan uni lebih suka kalau dia seperti ustajah Ulfi" jawab Aisyah. Hingga Riziq terdiam.
" Kenapa harus seperti ustajah Ulfi, kenapa tidak seperti uni saja"
"Ustajah Ulfi orangnya baik, ramah, penyayang dan sabar dalam menghadapi apapun, uni sangat menyukainya"jawab Aisyah.
" Sudah punya nama untuk anak kita?" tanya Aisyah.
" Sudah"
" Boleh uni tau?" tanya Aisyah penasaran.
" Nanti, kalau anak kita sudah lahir aku beritau"
" Le, berjanjilah kau akan tetap berada di sisiku apapun yang terjadi, bagaimanapun banyaknya ujian dan beratnya cobaan yang menimpa rumah tangga kita"
" Insyaallah aku akan tetap di sisimu apapun yang terjadi" jawab Riziq.
" Meskipun uni berubah menjadi jelek dan tak menarik lagi?" tanya Aisyah.
" Hmmm" jawab Riziq singkat.
" Bagaimana kalau uni keriput lebih dulu?"
" Aku tidak peduli"jawab Riziq.
" Kalau uni ubanan lebih dulu bagaimana?"
" Biarkan, aku tidak perduli. Kenapa pertanyaanmu selalu kau yang lebih dulu" tanya Riziq heran.
" Ya karna uni terlahir lebih dulu darimu" jawab Aisyah. Hingga Riziq pun tersenyum senyum.
" Aku tak peduli meskipun kau lebih tua dariku, yang penting uni mau menemaniku di sisa hidupku"
__ADS_1