
Kini Aisyah sudah duduk menunggu Riziq pulang. Ia sudah tidak sabar ingin mengadukan soal permintaannya Zahra. Tidak lama kemudian pun Riziq datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Aisyah pun membuka pintu sambil tersenyum. Lalu mencium tangan suaminya itu. Perlahan ia menggandeng Riziq untuk duduk di kursi.
" Aku mau bicara sebentar Le" ucap Aisyah sedikit cemberut.
" Muka uni kenapa di tekuk seperti itu?" tanya Riziq heran.
" Aku sedang kesal Le"
" Ya sudah kau boleh cerita, tapi sebelum itu buatkan dulu aku kopi" pinta Riziq.
" Suasana hatiku sedang kacau, aku takut kopi buatanku sekarang rasanya tidak akan manis seperti biasa"
" Baiklah kau boleh cerita dulu baru bikin kopi"
" Kau tau Le, keponakan umi Fadlun itu memintaku untuk berbagi suami dengannya" ucap Aisyah kesal.
" Zahra bilang seperti itu?"
" Hmmm"
"Sepertinya Zahra tidak menyerah setelah ku beri peringatan. Dia benar benar nekat memintanya langsung pada Aisyah" gumam Riziq dalam hati.
" Dia bilang ingin menjadi istri keduamu, dia juga bilang kalau aku itu tak pantas jadi istrimu karna aku lebih tua darimu." ucap Aisyah mengadu.
Riziq pun terdiam.
" Lain kali tidak usah bicara lagi dengannya" pinta Riziq.
" Kalau dia tetap nekat?"
"Mungkin ini ujian rumah tangga kita, setiap rumah tangga pasti punya ujian, dan masalah. Mudah mudahan kita bisa melewatinya tanpa ada yang tersakiti" tutur Riziq.
" Apa Allah sedang menguji kesetiaanmu Le?"
" Mungkin"
" Apa kau akan setia padaku?"
" Apa uni meragukanku?" tanya Riziq balik.
Seketika Aisyah langsung memeluk Riziq.
__ADS_1
" Jangan berpaling dariku ya Le, demi Allah aku tidak mau di madu, jangan sampai ada poligami ya Le. Aku percaya padamu, jangan sampai kau goyah dengan cinta dan kesetiaanmu padaku. Jangan sampai kau menodai kepercayaanku. Kalau sampai setan berhasil mengoyahkan keimananmu, dan kau lupa padaku, kuharap kau tidak akan lupa dengan anak anak." pinta Aisyah.
" Aku tidak akan lupa dengan istri dan anak anakku" jawab Riziq sambil membelai pipinya Aisyah.
" Janji ya Le"
" Nanti aku bicara pada Zahra, biar dia tidak mengganggu kita."
Aisyah pun tersenyum.
" Sudah ceritanya? apa suasana hatimu masih kacau?" tanya Riziq.
" Sedikit lagi"
" Ya sudah sekarang buatkan aku kopi" pinta Riziq. Seketika Aisyah langsung membuatkan kopi untuk Riziq. tidak lama kemudian Ia sudah membawa kopi itu di atas nampan.
Riziq pun tesenyum sambil mengambil gelas itu. Saat ia mencicipi kopi itu, keningnya langsung mengeryit.
" Apa suasana hati uni semakin kacau?"
" Kopinya kurang manis ya?" tanya Aisyah.
" Sepertinya kau lupa memberi gula"
" Astaghfirullah, maaf Le mungkin aku terlalu memikirkan masalah kita, jadi aku lupa memberinya gula. Lagian kau kan manis Le, minum kopi itu sambil ngaca aja, pasti kopinya terasa manis, he he" ucap Aisyah sambil di bumbui tawa.
Keesokan harinya. Pagi pagi sekali Riziq sudah bersiap untuk pergi mengajar. Ketika ia mau sarapan, tiba tiba ia terdiam melihat Aisyah yang sedang berdiri mematung di depan tembok sambil memandang dan menghitung tanggal di kalender. Riziq pun tersenyum lalu mendekati Aisyah.
" Ternyata bukan aku saja yang sudah tidak sabar menunggu masa nifasmu berakhir. Ternyata istriku yang genit ini rupanya sudah tidak sabar juga ya?" ucap Riziq sambil memeluk Aisyah dari belakang.
" Uni tidak menghitung kapan masa nifasku berakhir. Tapi uni sedang menghitung berapa hari lagi Zahra akan tinggal di pesantren" jawab Aisyah.
" Lalu berapa hari lagi dia akan menguji kesetiaanku padamu?" tanya Riziq sambil menempelkan pipinya pada pipi Aisyah.
" Empat hari lagi" jawab Aisyah ketus. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dan suara ucapan salam.
" Waalaikumsalam"
" Sepertinya ada tamu. Kau sarapan saja dulu, uni mau lihat siapa tamu yang datang" ucap Aisyah. Perlahan Aisyah berjalan mendekati pintu, sebelum membuka pintu, Aisyah pun mengintip dulu dari jendela. Aisyah menggeram kesal setelah tau tamu yang datang adalah Zahra. Perlahan Aisyah menemui Riziq yang sedang sarapan tanpa membuka pintu terlebih dulu.
" Le sebaiknya kau berangkat sekarang, di depan ada Zahra" bisik Aisyah.
" Uni aku kan belum selesai sarapan"
"Pokonya berangkat sekarang lewat pintu belakang, kau lanjut sarapan di kantinnya bi Ratna." ucap Aisyah sambil menarik tangan Riziq untuk segera berangkat mengajar. Mau tidak mau Riziq pun mengalah pada istrinya itu, ia berangkat diam diam lewat pintu belakang. Setelah Riziq terlihat sudah berjalan jauh, Aisyah pun menemui Zahra di depan rumah.
" Ada apa pagi pagi kesini " tanya Aisyah ketus. Namun Zahra malah tersenyum.
__ADS_1
" Pagi ka Aisyah, aku kesini mau ketemu ka Riziq"
" Waah, sepertinya kau tidak tau malu ya, pagi pagi sudah ingin menemui suamiku, tapi suamiku belum bangun" ucap Aisyah.
Zahra pun mengeryitkan keningnya tak percaya.
" Kau bohong, mana mungkin ka Riziq jam segini belum bangun" ucap Zahra tak percaya.
" Hei Zahra. Tadi malamkan malam jum'at, aku dan suamiku melewatkan malam panjang berdua. Panjaaaaaaang sekali, sampai dia kelelahan dan lupa bangun pagi, aku tidak tega membangunkannya. Aku juga menitipkan anak anak pada bi Ratna biar kami tak terganggu dengan anak anak." ucap Aisyah bohong, untung saja Adam dan hawa sedang tidur, jadi Zahra tak mendengar suara rengekan mereka. Wajah Zahra nampak kesal.
" Sebaiknya kau pulang saja" pinta Aisyah.
" Tidak mau, aku mau bertemu ka Riziq. Tolong kau bangun kan ka Riziq" pinta Zahra.
" Kalau aku tidak mau kau mau apa?" tanya Aisyah.
" Aku yang akan membangunkannya" ucap Zahra tak tau malu.
" Heei kau tidak tau malu ya mau membangunkan suamiku, lai pula dia tidur tidak menggunakan pakaian dia hanya menggunakan selimut saja, jadi biar aku sana yang membangunkannya" ucap Aisyah, ia sengaja ingin memberi pelajaran pada Zahra.
" Kau tunggu di sini, jangan masuk. Suamiku mau mandi dulu. Kau tunggu di luar saja" ucap Aisyah sambil masuk rumah dan mengunci pintu. Zahra pun menunggu di luar. Di dalam rumah Aisyah sudah tertawa tawa setelah melihat reaksinya Zahra. Setelah hampir satu jam, Zahra masih setia menunggu di depan rumahnya Aisyah. Karna merasa kasihan, Aisyah pun membuka pintu.
" Zahra, kau masih disini?" tanya Aisyah.
" Kak Aisyah yang menyuruhku menunggu disini, trus mana ka Riziq nya, mandi aja lama banget" gerutu Zahra.
" Loh memangnya kau tidak lihat barusan suamiku keluar dia sudah berangkat mengajar" ucap Aisyah.
" Kau bohong, dari tadi aku di sini dan aku tidak melihat ka Riziq keluar dari rumah" dari luar Zahra pun meliat lihat ruangan di rumah Aisyah memang Riziq nampak tak terlihat.
" Waah sepertinya matamu sedikit kurang normal ya Zahra"
" Tapi aku sama sekali tidak melihat ka Riziq keluar rumah" tegas Zahra.
" Kau tau Zahra apa yang paling disukai oleh suamiku"
" Apa?" tanya Zahra penasaran.
"Dia sangat suka menanam bibit cabai di kebun"
" Lalu?"
Aisyah pun mendekat pada Zahra sambil berbisik "Kalau kau masih mendekati suamiku, kupastikan biji cabai yang sering di tanam suamiku, akan kutabur di daerah sensitifmu, kau mau?"
Zahra bergidik ngeri mendengar ucapannya Aisyah.
" Kau pasti pernah mendengarkan ada seorang istri sah, menaburkan biji cabai ke daerah sensitifnya seorang pelakor, apa kau juga mau merasakannya juga?" tanya Aisyah menakut nakuti. Hingga Zahra mengeleng gelengkan kepalanya karna takut. Seketika itu pula Zahra langsung pergi. Saking ngerinya Zahra pergi tanpa mengucap salam terlebih dulu. Hingga Aisyah tertawa terpingkal pingkal.
__ADS_1
" Zahra zahra, kau mirip suamiku, pikiranmu lebih dewasa dari umurmu. Umurmu baru 19 tahun, tapi pikiranmu sudah seperti perempuan berumur 30 tahun. Masih muda tapi sudah mau jadi istri kedua. Dasar gadis ingusan" ucap Aisyah sambil meggeleng gelengkan kepalanya.