
Masih dengan mereka yang habis menjemput umi Fadlun dan kiyai Mansyur. Aisyah Riziq dan Zahira pun mengantarkan mereka sampai ke rumahnya. Meskipun rumah itu sudah lama tidak di tempati, namun rumah itu selalu rapih dan terawat, karna bi Ratna setiap minggu selalu rutin membersihkan dan merawat rumah itu. Itu juga atas perintahnya umi Fadlun yang menyewa jasanya bi Ratna.
" Asalamualaikum" ucap mereka sambil membuka pintu.
" Alhamdulilah kembali lagi ke rumah ini " ucap kiyai Mansyur.
" Ayo masuk" ucap umi Fadlun sambil menggendong Adam. Mereka pun duduk di ruang tamu untuk beristirahat sejenak.
" Biar aku buatkan minum sebentar" ucap Aisyah, ia pun memberikan Hawa pada Riziq. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuat minuman. Setelah selesai, minuman itu di taruh di meja. Aisyah duduk kembali di sebelahnya Riziq.
" Zahira, kamu tinggal di rumahnya Riziq?" tanya umi Fadlun.
" Aku tinggal di asrama, tante" jawab Zahira.
" Panggil umi jangan panggil tante" protes Riziq. Zahira pun tersenyum getir.
" Tidak apa apa, waah kalau abi ada urusan di luar kota, kamu mau kan nemenin umi di sini" ucap umi Fadlun pada Zahira.
" Jangan umi, nanti umi bisa menyesal, sehari bersama Ira, kepala umi bisa migren" ucap Riziq. Umi Fadlun sudah tersenyum senyum, sementara Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Ikh punya kakak ko menyebalkan" batin Zahira.
" Masa anak semanis ini bisa bikin kepala umi migren" ucap umi Fadlun sambil mengelus pipinya Zahira. Zahira pun tersenyum senang, perlahan ia menatap Riziq.
" Meskipun otakku bodohnya gak ketulungan, dan kecerdasanku di bawah rata rata, tapi pada kenyataannya semua orang menyayangiku, ka Riziq tau kenapa?, itu karna aku begitu menggemaskan. Wk wk wk" ucap Zahira sedikit sombong. Riziq sudah memicingkan matanya, sementara Aisyah sudah tersenyum senyum. Riziq dan Aisyah pun menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan adik seperti Zahira pada umi Fadlun dan kiyai Mansyur.
" Waah warisanmu lain dari yang lain ya Ziq umi suka" ucap umi Fadlun sambil mencubit pipinya Zahira.
" Aku menggemaskan ya umi he he he" ucap Zahira penuh percaya diri.
" Abi turut berduaka atas meninggalnya ayahmu" ucap kiyai Mansyur, Riziq pun mengangguk.
" Oh iya Aisyah, abi sama umimu ada di rumah?" tanya kiyai Mansyur.
" Ada"
" Setelah kita istirahat nanti kita kesana ya" pinta umi Fadlun.
" Mi aku pulang duluan ya, sebentar lagi aku harus mengajar" ucap Riziq pamit.
" Ya sudah tidak apa apa, tapi Ira disini ya sama umi, temenin umi, nanti kita main ke rumahnya umi Salamah" pinta umi Fadlun. Zahira pun mengangguk antusias.
" Kau tidak ada kelas lagi Ira?" tanya Riziq.
" Tidak ada ka, lagian kalau aku bolos pun calon ibu mertuaku pasti memaklumi" ucap Zahira. Umi Fadlun dan kiyai Mansyur sudah mengeryitkan keningnya.
" Ibu mertua?"tanya umi Fadlun heran. Zahira sudah tersenyum malu.
" Umi jangan dengarkan ucapannya, pikirannya sering bergeser ngalor ngidul" ucap Riziq sedikit mengejek Zahira. Hingga Zahira cemberut kesal. Namun umi Fadlun malah tersenyum.
" Katanya tadi mau pergi, sudah sana pergi jangan ganggu" ucap Zahira sedikit mengusir kakanya itu.
" Ya sudah mi aku sama uni pergi, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Ingat ya Ira kau jangan macam macam disini, jangan menyusahkan umi" pinta Riziq.
" Hmmm"
Riziq dan Aisyah pun pergi dari rumahnya umi Fadlun. Umi Fadlun mengelus lembut kepalanya Zahira.
" Sekarang kau kelas berapa Ira?" tanya umi Salamah.
" Sebenarnya aku sudah lulus smp umi, tapi sejak ka Riziq membawaku ke sini dan menjadikanku santri putri, aku di jebloskan ustad Soleh ke kelas nol besar" ucap Zahira sedikit malu. Umi Fadlun dan kiyai Mansyur pun terdiam lalu saling lirik satu sama lain.
" Nol besar?"
" Hmmm, katanya kecerdasan pelajaran agamaku di bawah rata rata, jadi mau tidak mau aku di masukan ke kelas itu" tutur Zahira.
" Ya sudah tidak apa apa, kamu semangat belajarnya, nanti biar bisa naik kelas" ucap umi Fadlun. Zahira pun mengangguk ngangguk. Setelah lama mengobrol, umi Fadlun pun mengajak Zahira pergi ke rumahnya umi Salamah bersama kiyai Mansyur.
Sesampainya di rumah umi Salamah. Umi Salamah dan kiyai Husen sedang beristirahan di depan rumah.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
__ADS_1
" Masya allah, umi Fadlun kapan datang?" tanya Umi Salamah yang sedikit terkejut dengan kedatangannya umi Fadlun dan kiyai Mansyur.
" Bagaimana kabarnya umi?" tanya umi Fadlun sambil memeluk umi Salamah.
" Alhamdulilah umi sehat"
Kiyai Husen dan kiyai Mansyur pun berangkulan.
" Ayo duduk" pinta umi Salamah.
" Man, ini ada kiyai Mansyur" teriak umi Salamah pada ustad Usman. Mereka pun duduk di karpet bludru di teras depan. Ustad Usman pun menghampiri mereka.
" Kiyai" panggil ustad Usman dengan antusiasnya, karna kiyai Mansyur adalah salah satu gurunya di kairo. Ustad Usman pun merangkul kiyai Mansyur.
" Apa kabar Man?"tanya kiyai Mansyur.
" Alhamdulilah baik kiyai" jawab ustad Usman, tiba tiba ia terdiam heran melihat Zahira duduk dengan umi Fadlun.
" Umi, umi nemu si slebor dimana?" tanya ustad Usman. Umi Fadlun sudah tersenyum, sementara Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
" Usmaaaaan" ucap umi Salamah sedikit menggeram pada ustad Usman. Seketika ustad Usman langsung tersenyum senyum. Sementara Zahira sudah tertawa tawa. Melihat reaksi Zahira, ustad Usman langsung memicingkan matanya.
" Maaf om"
Mereka pun mengobrol ngobrol. Tidak lupa Nisa pun membawa minum dan beberapa cemilan.
" Ira, mumpung kau ada disini, ayo kita belajar" ucap ustad Usman.
" Tapi om ustad, jatah mengajarku kan cuma hari libur saja" ucap Zahira sedikit menolak.
" Kau di berikan tambahan pelajaran bukannya bersyukur kau malah menolaknya" gerutu ustad Usman. Mau tidak mau akhirnya Zahira pun menurut. Mereka sudah duduk sedikit menjauh dari yang lain.
" Om ustad aku sudah hafal surat al iklas, sudah beberapa hari ini aku giat menghafalnya" ucap Zahira.
" Benarkah?" ucap ustad Usman sedikit tak percaya.
" Hmmm, kau boleh mengetesnya" ucap Zahira.
" Coba bacakan aku ingin dengar"
Zahira pun membacakan surat al ikhlas di depan ustad Usman.
Ustad Usman pun mengangguk ngangguk.
" Gimana apa bacaanku benar semua?, aku sudah hafalkan?" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Iya iya kau sudah hafal, tapi kau jangan terlalu senang begitu, yang lain baru umur 4 tahun saja sudah hafal dengan surat Al ikhlas, kau sudah berumur 15 tahun, jadi wajar kalau kau hafal dan tidak ada yang istimewa." tutur ustad Usman. Seketika Zahira langsung cemberut. Melihat Zahira seperti itu ustad Usman pun mengalah.
" Iya iya kau hebat Ira, kau pantas di acungi jempol" ucap ustad Usman. Seketika Zahira langsung tersenyum.
" Jadi kau mengakui kalau aku hebat?" tanya Zahira antusias.
" Hmmm"
" Ha ha ha, sekarang mana hadiahku" ucap Zahira sambil merentangkan tangannya untuk meminta hadiah. Ustad Usman hanya mengeryitkan keningnya.
" Apa maksudmu?" tanya ustad Usman tak mengerti.
" Ya hadiah, aku kan sudah berhasil menghafal surat al ikhlas, jadi aku menagih hadiahku padamu" Zahira sudah tersenyum senyum.
" Kau benar benar materialistis Ira" Seketika ustad Usman langsung memasukan tangannya ke saku bajunya sambil mengambil uang lembaran 5000 dan menaruhnya di hadapan Zahira.
" Nih hadiahnya"
Zahira pun menganga di buatnya, karna ustad Usman menghadiahkan uang 5000 pada Zahira.
" 5000, apa tidak salah?, Adam sama Hawa saja belum tentu mau di kasih uang 5000an" ucap Zahira sambil menerawang uang lembaran itu.
" Itu uang asli bukan palsu" jawab ustad Usman.
" Pelit" ucap Zahira sambil memasukan uang itu ke saku bajunya.
" Bilang pelit tapi di embat juga itu uang lima ribuannya" ledek ustad Usman.
" Kau harus banyak banyak bersyukur" ucap ustad Usman. Zahira hanya mengangguk saja.
" Iya iya terima kasih om ustad atas hadiah uang 5000 nya, aku akan mengucap syukur dan menggunakannya dengan bijak" ucap Zahira sedikit mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
" Bagus"
Ustad Usman pun mengajarkan pelajaran kembali pada Zahira. Setelah selesai belajar mengajar, mereka pun bergabung kembali dengan yang lain.
" Sudah selesai belajarnya?" tanya Umi Fadlun.
" Sudah umi" jawab Zahira.
" Umi tidak merasa mual dan pusing saat mengobrol dengan Zahira?" tanya ustad Usman. Zahira sudah menggeram.
" Om ustad pikir umi Fadlun hamil" gerutu Zahira.
Tidak lama kemudian Riziq datang bersama Aisyah, Adam dan Hawa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Seketika umi Fadlun langsung menggendong Hawa.
" Cucu umi yang cantik" ucap umi Fadlun sambil mengunyel unyel pipinya Hawa.
" Ka Aisyah kita shoping yu ke mall, aku dapat hadiah dari om ustad karna aku berhasil menghafal surat Al ikhlas" ucap Zahira sedikit meledek.
" Waah kau hebat Ira, memangnya ka Usman memberi hadiamu berapa dolar hingga kau mau mengajaku shoping di mall?" ucap Aisyah.
" Alhamdulilah ka 5000 rupiah" jawab Zahira sedikit meledek. Aisyah dan Zahira pun tertawa tawa.
" Heei kalian jangan meledeku seperti itu. Aku memberi uang 5000 itu ikhlas lahir dan batin" ucap ustad Usman.
" Ka, penghasilanmu kan ga jauh beda dengan penghasilannya presiden, masa kau pelit sekali cuma ngasih 5000 rupiah" ucap Aisyah.
" Aisyah, 5000 juga banyak maanfaatnya, belikan saja permen, nanti permennya dapat 10 biji, nah yang sembilannya itu bagikan pada teman temanmu Ira, itu artinya kau telah melakukan kebaikan dengan berbagi" ucap ustad Usman.
" Iya iya uang nya akan kumasukan celengan, siapa tau taun depan bisa berubah jadi 50 ribu" ucap Zahira. Semua mengeryitkan keningnya mendengar ucapan bocah ingusan itu.
" Eh slebor, eh maksudnya Ira, mana mungkin di masukin celengan bisa berubah jadi 50 ribu, kalau di masukin bank bisa jadi, itu pun harus bertahun tahun" ucap ustad Usman.
Zahira sudah mengerucutkan bibirnya. Namun umi Fadlun merasa gemas dengan Zahira.
" Ira, kalau abi Mansyur ada urusan di luar kota, kau mau kan tinggal bersama umi" ucap umi Fadlun.
" JANGAAAAAAAN" ucap Riziq dan ustad Usman. Hingga semuanya menatap mereka.
" Kenapa?" tanya umi Fadlun heran.
" Kalau umi tinggal bersama Zahira, dijamin satu minggu saja pasti umi langsung masuk UGD" ucap ustad Usman.
" Om ustaaaaaaaad, di kira aku virus mematikan" ucap Zahira sedikit menggeram.
" Sudah sudah jangan ngeledekin Ira terus" ucap umi Salamah. Zahira pun tersenyum saat merasa kalau umi Salamah sedang membelanya.
" I love you umi" ucap Zahira.
Tiba tiba ustad Soleh datang bersama ustad Azam dan ustad Rasyid.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Waah ada kiyai Mansyur ya sama umi Fadlun, kapan datang dari kairo?" tanya ustad Azam.
" Tadi siang"
Zahira sudah mengerucutkan bibirnya saat menatap ustad Soleh. Seketika ustad Usman berbisik pada Aisyah.
" Sepertinya adik iparmu itu menaruh dendam kesumat pada kakakku"
" Biarkan saja, sikapnya Zahirakan tidak bisa di prediksi, nanti juga dia menyukai ka Soleh, dia hanya sedikit kesal karna ka Soleh memasukannya di kelas fantastis itu hingga menjadikannya sebagai murid fenomenal disana" tutur Aisyah sedikit berbisik pada ustad Usman.
Mereka pun duduk bergabung. Riziq sudah menyuruh Aisyah berpindah tempat duduk. Aisyah pun mengerti ia pun berpindah duduk dekat umi Salamah sedikit menjauh dari mereka. Riziq sengaja menyuruh istrinya berpindah tempat supaya ia tidak dekat dekat dengan posisinya ustad Rasyid.
" Aisyah, tolong buatkan minum untuk ustad Azam dan dan ustad Rasyid" ucap umi Salamah.
" Ia mi" ucap Aisyah sambil bergegas pergi ke dapur. Tidak lama kemudian Aisyah membawa beberapa gelas minuman dan di taruhnya di tengah tengah.
" Silahkan di minum"
__ADS_1
" Terima kasih Aisyah" ucap ustad Azam.
Mereka pun mengobrol ngobrol santai.