
Setelah kepergian Zahira dari ruangannya ustadzah Ulfi, Aisyah pun langsung menyusul Zahira. Dan kini bu Erni sudah menggeram kesal, karna Zahira lebih memilih kakaknya di bandingkan dengan dirinya. Sambil berkacak pinggang, bu Erni pun berdiri di hadapannya Riziq. Tentu saja Riziq langsung memejamkan matanya di balik kaca mata hitam yang Aisyah kenakan, ia bukannya takut dengan kemarahan ibu tirinya, melainkan ia takut matanya akan ternodai oleh pemandangan menantang di hadapannya meskipun kini yang berdiri di hadapannya adalah seorang èma èma.
"Agtaghfirullah alazim, jauhkan aku dari godaan Setan yang terkutuk. Ingat Riziq jangan buka matamu sedikit pun kau harus ingat, kecantikan Aisyah 1000 x lipat di banding perempuan yang ada di hadapanmu itu. Rambut istrimu masih hitam sementara yang ada di hadapanmu itu rambut hitamnya sudah memudar, jadi jangan kau buka matamu, jangan sampai matamu ternodai" batin Riziq.
" Semua ini adakah gara gara ulahmu, beraninya kau menculik Zahira dan membawanya kemari, hingga dia tidak mau pulang bersamaku" Tutur bu Erni sambil menunjuk nunjuk ke arahnya Riziq.
" Sudah kubilang, aku tidak menculik Zahira, kau yang meninggalkannya 6 tahun yang lalu setelah kepergian ayahku, kenapa sekarang sès ingin mengambilnya?, dan jika Zahira tidak mau itu bukan kesalahanku, itu artinya dia lebih nyaman tinggal di pesantren di banding denganmu" tutur Riziq. bu Erni sudah mendengus kesal.
" Saya tidak akan menyerah sampai disini, pokonya Zahira harus tinggal bersamaku titik"
Seketika bu Erni langsung pergi.
Setelah kepergian bu Erni.
" Aku ingin bicara denganmu" ucap ustad Rasyid pada Riziq sambil keluar dari ruangannya ustadzah Ulfi. Riziq dapat merasakan kemarahan kakaknya itu.
" Maaf ustadzah sudah membuat kegaduhan" ucap Riziq.
" Tidak apa apa saya mengerti" jawab ustadzah Ulfi.
" Saya permisi asalamualaikum"
" Waalaikumsalam, maaf ustad Riziq, kacamatanya punya suami saya" ucap ustadzah Ulfi mengingatkan.
" Astaghfirullah, maaf ustadzah saya lupa" Riziq pun membuka kaca mata hitam yang di pakaikan Aisyah lalu menaruhnya pada mejanya ustadzah Ulfi.
Kini ustad Rasyid sudah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu Riziq. Perlahan pun Riziq mendekatinya dan berdiri di sebelahnya.
" Aang ingin bicara apa padaku?" tanya Riziq.
" Kenapa kau membawa Zahira kemari?" tanya ustad Rasyid.
" Kenapa Aang bertanya seperti itu, bukankah sudah kubilang, dia adalah warisan yang di tinggalkan ayah untuk kita"
" Lalu kenapa ibunya mencari Zahira kemari, sampai sampai dia menuduhmu menculiknya" ucap ustad Rasyid, ada rasa tak suka di raut wajahnya.
" Aang mau bilang kalau aku membawa paksa Zahira kemari seperti yang aang lakukan padaku dulu?" tanya Riziq.
" Dengar Ziq, aang tidak mau kau kenapa napa, kalau sampai perempuan itu melaporkanmu pada yang berwajib dengan tuduhan telah menculik putrinya" ucap ustad Rasyid sedikit cemas. Riziq hanya tersenyum tipis.
" Aku tidak sebodoh itu ang, kalau dia melaporkanku, aku siap berperang dengannya" ucap Riziq tegas.
" Aang hanya takut dia nekat dan berbuat seperti dulu lagi, dulu dia menjauhkan kita dengan ayah, dan jangan sampai kini dia menjauhkan kita, kau satu satunya saudara yang kupunya"
" Zahira ang, kau jangan lupa itu, mau tidak mau dia adalah saudara kita, Zahira adalah darah dagingnya ayah dan kita mempunyai darah yang sama" tutur Riziq.
Tiba tiba Zahira dan Aisyah menghampiri mereka.
" Ka"
Riziq dan ustad Rasyid pun menatap ke arah Zahira.
" Aku tidak mau pergi dengan ibu"
" Jika kau tidak mau kami mendapatkan masalah, sebaiknya kau ikut dengan ibumu" ucap ustad Rasyid.
" Aku mau sama ka Aisyah, ka Riziq, tidak mau sama ibu" ucap Zahira sedikit memelas.
" Kau akan tetap bersamaku disini" ucap Riziq sambil menarik tangannya Aisyah dan Zahira.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab ustad Rasyid sambil menatap kepergian mereka. Aisyah dan Riziq mengantarkan Zahira ke asrama.
" Ira aku bangga padamu, tidak kusangka kau akan menolak tinggal bersama ibumu" ucap Riziq.
" Kalau boleh ka Aisyah tau, kenapa sampai kau menolak untuk tinggal bersama ibumu?" tanya Aisyah.
" Jadi ka Aisyah ingin tau kenapa aku bisa menolaknya, ya tentu saja kalau aku ikut dengan ibu, otomatis aku tidak bisa bertemu lagi dengan ka Yusuf" jawab Zahira. Riziq dan Aisyah sudah mengeryitkan keningnya.
__ADS_1
" Jadi itu alasanmu hah, kalau Yusuf adalah alsanmu menolak ibumu, sebaiknya kau pergi saja bersama ibumu sanah" Ucap Riziq sedikit kesal.
" Haha ha... maaf, itu memang salah satu alasanku, tapi alasan utamaku adalah karna aku senang tinggal disini bersama ka Aisyah, ka Riziq dan teman teman di asrama, selain itu juga aku ingin belajar agama disini" tutur Zahira. Aisyah pun tersenyum.
" Kita hargai alasanmu" ucap Aisyah.
* * * * *
Keesokan harinya. Bu Erni datang lagi ke pesantren. la memang bukan orang yang pantang menyerah, ia terus berusaha membujuk Zahira agar mau pulang bersamanya. Kini bu Erni menggunakan pakaian tidak seperti kemarin, ia memakai baju gamis syar'i berwarna putih dan kerudungnya berwarna hitam tak lupa juga ia mengenakan cadar agar ia dapat mudah bertemu dengan Zahira. Sesampainya di depan gerbang, ia pun beralasan sebagai tamu nya pemilik pesantren. Hingga ia berhasil menyelinap ke asrama putri.
" Permisi, saya mau tanya kamarnya Zahira sebelahmana ya?" tanya bu Erni pada salah satu temannya Zahira.
"Kamar no 11 bu" jawab temannya Zahira.
Perlahan bu Erni pun berjalan menuju kamarnya Zahira. Setelah berada di depan pintu, terdengar suara Zahira sedang menghafal huruf hija'iah.
" Alif, ba ta sa jim"
Perlahan bu Erni membuka pintu sambil mengendap ngendap.
" Zahira" panggil bu Erni.
Saat Zahira melihat bu Erni tiba tiba ia menjerit dan langsung melemparkan sepatu pada bu Erni dan mendarat tepat di jidatnya bu Erni.
" HUAAAAAAAAAAAA HANTUUUU"
Zahira menjerit karna melihat penampilan bu Erni yang mengenakan baju putih dan kerudung hitam syar'i dengan cadarnya hingga Zahira tak mengenalinya bahkan di anggapnya hantu. Setelah mendapat serangan sepatu itu bu Erni langsung tergeletak pingsan. Sementara Zahira malah bersembunyi di pojokan kamar sambil berdo'a.
" Berdoa Zahira" gumam Zahira.
" Bismilahirahmanirrahim, baca ayat kursi Zahira" gumam Zahira bicara sendiri.
" Ayat kursi, ayat kursi, ayat kursi, ayat kursi, ayat kursi" Zahira terus berdo'a. Karna Zahira belum bisa dan belum hafal bacaan ayat kursi, jadi seperti itulah bacaan yang keluar dari mulutnya Zahira. ( WK WK WK WK)
Tiba tiba temannya Zahira datang karna mendengar teriakannya Zahira. ia pun mendekatinya.
Zahira masih mengumandangkan bacaan ayat kursinya.
" Berdo'a" jawab Zahira.
" Bacaan do'amu lain dari yang lain ya lra, untuk apa kau berdo'a seperti itu?" tanya temannya Zahira.
" Ada hantu" jawab Zahira sambil menunjuk pada ibunya yang tergeletak di lantai. Temannya Zahira pun terkejut.
" Astaghfirullah, lra ini siapa?" tanya temannya.
" Hantu" jawab Zahira.
" Mana mungkin hantu lra, tapi kenapa dia malah tidur di lantai?"
" Aku yang melemparnya dengan sepatu"
" Ira dia manusia, sepertinya dia pingsan setelah kau lempar sepatu"
Zahira pun mendekatinya lalu memegang tangan ibunya itu.
" la dia manusia, duh bagaimana ini dia pingsan" ucap Zahira cemas.
" Kita bawa dia ke klinik"
Saat akan membawa bu Erni ke klinik mereka pun kebingungan.
" Orang ini berat sekali, tidak mungkin kita bisa membawanya ke klinik. Cari bantuan" pinta Zahira. Teman Zahira pun berlari keluar untuk mencari bantuan, tiba tiba ia melihat ustad Usman.
" Ustad" teriak temannya Zahira sambil berlari mendekati ustad Usman.
" Kenapa kau teriak teriak?" tanya ustad Usman.
" Ada orang pingsan di asrama"
__ADS_1
Ustad Usman pun langsung bergegas ke asrama, dan terkejut melihat bu Erni pingsan, ia tidak tau kalau yang pingsan itu adalah perempuan dajjal yang pernah dilihatnya kemarin.
" Ya allah dia kenapa Zahira?" tanya ustad Usman. Zahira pun sedikit takut menjawabnya.
" Di dia pingsan" jawab Zahira terbata.
" Saya tau dia pingsan bukan berenang, apa kau tau kenapa dia bisa pingsan?" tanya ustad Usman.
" Saya melemparkan sepatu ke kepalanya" jawab Zahira sedikit ragu.
" Apa, Zahira kau jahat sekali"
" Saya pikir dia hantu makanya saya lempar sepatu"
" Kejamnya dirimu"
Saat ustad Usman mau mebawa bu Erni ke klinik.
" Astaghfirullah alazim berat sekali ibu ini, sepertinya ibu ini kebanyakan dosa" ucap ustad Usman tak kuat.
" Ustad tidak kuat menggendongnya ?, ikh memalukan" ledek Zahira.
" Kau jangan menghinaku, cepat bantu angkat"
Ustad Usman dan Zahira pun membawa bu Erni ke klinik. Sesampainya disana bu Erni langsung di periksa oleh dokter.
" Eh bocah ingusan, apa kau mengenalnya ?" tanya ustad Usman. Zahira hanya menggelengkan kepalanya.
" Ira, kau harus bertanggung jawab, bagaimana kalau ibu ini geger otak atau insomia setelah kepalanya terbentur sepatu" ucap ustad Usman.
" Bukan insomia tapi amnesia" ucap Zahira.
" Itu maksud saya"
" Ustad jangan menakuti saya, saya tidak mau nanti masuk penjara, kalau saya di penjara, pupus sudah harapanku untuk duduk di pelaminan bersama ka Yusuf" tutur Zahira.
" Yusuf?, ha ha ha, tipe nya Yusuf tidak selebor sepertimu"
Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
Tiba tiba bu Erni tersadar, ia pun tersenyum saat melihat Zahira.
" Ira" panggil bu Erni.
" Ibu siapa, maaf saya telah melempar ibu dengan sepatu" ucap Zahira. Bu Erni pun membuka cadarnya.
" Ini ibu"
" Ibu" ucap Zahira terkejut.
" Dajjal" ucap ustad Usman repleks saat melihat bu Erni.
"Dajjal??" ucap Zahira tak mengerti.
" Eh maaf salah bicara, ibu sudah hijrah sekarang?" tanya ustad Usman.
" Ustad kenal ibu saya?" tanya Zahira.
" Ibu?, jadi ini ibu kamu?" tanya ustad Usman tak percaya. Zahira pun mengangguk.
" Astaghfirullah"
" Ibu ngapain kesini lagi, dan ibu ngapain pake baju seperti ini?" tanya Zahira kesal.
" Ira ibu kamu seperti ini karna ibu kamu sudah hijrah" jawab ustad Usman. Bu Erni pun mengangguk meskipun tak mengerti
" Ibu tau gak hijrah itu apa?" tanya Zahira.
" Hijrah itu, e e nama tetangganya ibu" jawab bu Erni ragu dan tak mengerti.
__ADS_1
" Astaghfirullah alazim" ucap ustad Usman tak percaya.
" Ema sama anak sama saja tidak ada bedanya"