Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Rindu


__ADS_3

Pagi pagi sekali Riziq sudah melamun sambil duduk di kursi. Entah kenapa ia memikirkan tentang ayahnya, padahal selama 18 tahun ia tak pernah memikirkan tentang ayahnya yang dirasa tak pernah menyayanginya begitupun pada ustad Rasyid.


"Yah, entah kenapa tiba tiba aku teringat padamu, apa kau baik baik saja, maaf kalau selama ini aku dan aang melupakanmu, kami punya alasan sendiri untuk itu" batin Riziq.


Tiba tiba Aisyah terheran melihat suaminya melamun sedari tadi. Perlahan Aisyah mendekatinya dan duduk di sebelahnya Riziq.


" Lee" panggil Aisyah lembut sambil tersenyum. Seketika Riziq tersenyum saat melihat istrinya itu. Namun Aisyah melihat ada raut kesedihan di wajah suaminya.


" Kau kenapa Le?" tanya Aisyah. Riziq hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


" Kau tidak bisa bohong padaku" ucap Aisyah yakin.


" Aku tidak kenapa napa uni"


" Tapi aku melihat ada sesuatu yang kau pikirkan Le, katakan padaku, apa kau punya masalah?" tanya Aisyah kembali. Riziq pun terdiam, ia sedikit ragu untuk bercerita pada Aisyah. Aisyah pun mengelus ngelus punggungnya Riziq.


" Kalau kau ada masalah, kau boleh bercerita padaku"


" Uni, tiba tiba aku teringat dengan ayah"


Aisyah pun terdiam, lalu ia menatap Riziq, di lihat suaminya memendam kerinduan yang selama 18 tahun terpendam.


" Kau rindu padanya Le?" tanya Aisyah ragu. Seketika Riziq langsung menganggukan kepalanya.


"Kapan kau akan mencarinya, aku siap menemanimu" ucap Aisyah kembali.


" Kau mau menemaniku?"


" Hmmm"


Riziq pun tersenyum.


" Besok kita mulai untuk cari ayah, nanti malam aku akan menemui aang Rasyid, aku juga harus izin dulu padanya, aku takut dia tidak setuju kalau aku mencari ayah" tutur Riziq.


" Kalau ustad Rasyid melarangmu, lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Aisyah.


" Sepertinya uni sudah tau dengan sikap keras kepalaku, meskipun aang Rasyid melarangku, aku akan tetap mencari ayah"


" Setelah kau bertemu dengan ayahmu, lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Aisyah.


Riziq pun terdiam.


" Tentu saja aku akan memeluknya, dan berkata padanya kalau aku rindu"


Aisyah pun tersenyum mendengarnya.


" Tapi kalau memarahi orang tua itu tidak berdosa, aku pasti sudah marah marah padanya. Aku akan mengatakan: Heei kau bapak Fiqri laki laki tua ber'uban yang tak bertanggung jawab, kenapa kau tidak mencariku, 18 tahun aku menghilang, kau sama sekali tidak berusaha untuk mencari tau keberadaanku, bahkan untuk menanyakan kabar pun kau tidak pernah, apa kau tidak rindu padaku. " ucap Riziq sedikit berteriak dan sedikit beremosi.


"Kalau kau bicata seperti itu apa kau tidak takut masuk neraka?" tanya Aisyah. Seketika Riziq langsung menatap wajah istrinya itu dengan tatapan intens.


" Aku sudah mendapatkan surgaku setiap malam"

__ADS_1


Seketika Aisyah langsung mencubit pinggangnya Riziq.


" A a a a www"


" Jangan bicara genit, aku sedang serius" ucap Aisyah. Riziq malah tertawa.


* * * * * *


Malampun tiba. Setelah shalat isya, Riziq sudah bersiap untuk pergi menemui kakaknya.


" Le, kau jadi mau menemui kakakmu?" tanya Aisyah.


" Hmmm, tapi aku sedikit ragu"


" Kenapa ?"


" Aku takut aang akan marah, uni pasti ingat kalau dia punya sejarah kelam dengan sikap ayah yang arogan dan acuh dengan teganya dia membuang aang kesini" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk seakan mengerti dengan perasaan adik kakak itu.


" Aku berangkat ya uni"ucap Riziq. Saat akan membuka pintu rumah, Riziq pun langsung berbalik pada Aisyah.


" Uni, tolong kau ambilkan aku tisu" pinta Riziq.


" Tisu?"


" Hmmm"


Seketika Aisyah langsung mengambil 2 lembar tisu, lalu memberikannya pada Riziq.


Setelah menerima tisu itu, Riziq langsung memeluk pinggang Aisyah dengan tangan kirinya. Aisyah pun sedikit terkejut.


" Kau mau apa Le?" tanya Aisyah ragu.


" Untuk ini" ucap Riziq sambil menghapus lipstik di bibirnya Aisyah. Setelah itu Riziq mengangkat dagu istrinya itu dengan lembut, hingga Aisyah menjinjitkan kakinya, mencoba mengimbangi tinggi badannya Riziq. Setelah melepaskan dagunya Aisyah, Riziq pun tersenyum, sementara wajah Aisyah sudah nampak memerah karna malu.


" Aku butuh energi khusus, biar bisa bicara pada aang Rasyid tentang niatku ini" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.


" Sempat sempatnya kau menggodaku saat kau dirundung keraguan untuk berdiskusi dengan kakakmu" batin Aisyah.


" Aku pergi asalamualaikum"


" Waalaikumsalam, hati hati Le"


Sesampainya di rumah ustad Rasyid. Saat Riziq akan mengetuk pintu, tiba tiba ia terdiam saat melihat kakanya sedang mengelus ngelus perutnya ustadzah Yasmin yang kini sedang mengandung. Riziq melihatnya di kaca jendela yang sedikit terbuka. Ustadzah Yasmin nampak tersenyum bahagia setelah tau ia hamil, perhatian ustad Rasyid begitu besar padanya. Di lihatnya Syakir ikut mengelus perut ibunya.


" Syakir sebentar lagi akan punya ade" ucap ustad Rasyid pada putranya itu sambil tersenyum.


" Nanti aku punya ade kaya Adam sama Hawa ya bi?" ucap Syakir polos.


Sebenarnya Riziq tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka, namun karna waktu sudah malam, dengan terpaksa ia pun mengetuk pintu.


Tok tok tok

__ADS_1


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin. Perlahan ustad Rasyid pun membuka pintu, ia terdiam saat melihat Riziq sedang berdiri di depan rumahnya.


" Riziq"


" Ang, aku ada perlu sebentar, bolehkah aku bicara denganmu" pinta Riziq.


" Masuk" ajak ustad Rasyid.


" Di luar saja Ang"


Kini Riziq dan ustad Rasyid pun berdiri di halaman rumah sambil berdampingan dan tak menatap kearah masing masing.


" Sepertinya sesuatu yang ingin kau bicarakan sangatlah penting, hingga kau repot repot datang kerumahku" ucap ustad Rasyid sambil memandang lurus kedepan.


" Aku rindu ayah " jawab Riziq seketika. Seketika itu pula Ustad Rasyid terkejut dan langsung menatap adiknya itu.


" Kau merindukannya?"


" Hmmm"


" Apa dia juga merindukanmu?" tanya ustad Rasyid. Riziq hanya diam saja. Ia sendiri tidak tau ayah nya rindu atau tidak padanya.


" Apa kau tidak merindukannya?" tanya Riziq balik. Ustad Rasyid malah tersenyum sinis.


" Kalau dia rindu pada kita, kenapa selama 18 tahun dia tidak pernah mencari kita kesini, bukankah itu artinya dia sudah melupakan kita" tutur ustad Rasyid.


" Kalau dia tidak mencari kita, lalu apa salahnya jika kita yang mencarinya" ucap Riziq.


" Kalau kau datang kemari untuk mengajaku mencarinya maka jawabannya, maaf aang belum siap bertemu dengan ayah"


" Apa kau membenci ayah?" tanya Riziq sambil menatap lekat pada kakaknya itu.


" Tidak boleh ada seorang anak yang membenci orang tuanya, aku tidak membencinya, aku hanya kecewa padanya" jawab ustad Rasyid.


" Tidak apa apa kalau kau tidak mau mencarinya, aku kesini cuma ingin minta alamat rumahnya ayah"


" Ayah sudah pindah rumah, dan aang tidak tau alamat rumah barunya" ucap ustad Rasyid.


" Kalau begitu aku minta alamat rumah yang lama, siapa tau aku dapat petunjuk" ucap Riziq. Meski sedikit ragu, ustad Rasyid pun memberikan alamat rumah ayahnya yang lama.


" Terima kasih ang, besok aku dan Aisyah akan pergi mencarinya"


" Hmmm"


"Do'akan aku semoga aku bisa bertemu dengannya, asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu.


" Waalaikumsalam"


Ustad Rasyid pun menatap kepergian adiknya itu.

__ADS_1


" Sikap keras kepalamu menurun dari ayah, kau lupa Ziq, dulu ayah memperlakukanmu dengan buruk, hingga dengan terpaksa aku harus membawamu kabur kepesantren"


__ADS_2