
Tanggal merahpun tiba, Sebagian santri dan pengajar sedang asik menghabiskan waktu libur dengan berkumpul di lapangan sambil berolah raga. Aisyah sudah mendorong kereta bayi Adam dan Hawa bersama ustajah Ulfi. Sementara Riziq sedang asik berlari dengan ustad Azam dan Yusuf. Aisyah dan ustajah Ulfi duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia disana. Ustajah Ulfi pun menggendong Hawa kepangkuannya.
" Hawa cantik"
ustajah Ulfi asik menggoda Hawa, sesekali terdengar tawa dari bibir mungilnya Hawa.
" Aisyah, saya masih tak menyangka, kalian sudah mempunyai dua orang anak. Padahal masih jelas dalam ingatan saya kalau Riziq masih berlari larian denganmu, bahkan kalian sering saling meledek satu sama lain, Riziq si bocah ingusan itu yang sering kamu katakan padanya. Tapi kini dia menjadi suamimu" tutur ustajah Ulfi. Aisyah pun tersenyum.
" Jodoh, itulah jodoh. Ustajah pernah bilang kalau kita sudah punya pasangan, kita sudah tidak perduli lagi dengan kriteria yang selama ini kita inginkan. Sudah tidak perduli lagi dengan kekurangan dan kelebihannya, yang ada kini kita menerima apa adanya"
Tiba tiba Dewi datang bersama Syifa sambil terengah engah karna kelelahan setelah lari berkeliling lapangan. Kini ia duduk di sebelah ustajah Ulfi, keringat sudah mulai bercucuran di dahinya.
" Aisyah, aku cape sekali" ucap Dewi
" Sudah lari berapa putaran?" tanya ustajah Ulfi.
" Satu ustajah" jawab Dewi masih dengan nafas yang ngos ngosan.
" Baru satu udah ngos ngosan seperti itu, bagaimana kalau 5 keliling, kau pasti sudah pingsan" ledek Aisyah.
" Setelah pulang dari sini aku harus segera pergi ke klinik" ucap Dewi sambil memijat mijat kakinya.
" Kamu sakit?" tanya Aisyah.
" Aku pergi ke klinik bukan karna sakit, tapi aku ingin meminjam timbangan berat badan yang ada di klinik, siapa tau setelah berolah raga berat badanku sedikit berkurang"
" Ia setelah berolah raga, berat badanmu turun dua kilo, tapi setelah pulang kerumah, kamu makan banyak hingga berat badanmu naik lagi 3 kilo, intinya berat badanmu akan naik satu kilo setelah kamu berolah raga" ucap Aisyah sambil tersenyum. Bahkan ustajah Ulfi tertawa mendengar ucapannya Aisyah.
__ADS_1
" Dengar Wi, kamu berolah raga berniatlah bukan karna ingin mengurangi berat badanmu, tapi karna kamu ingin sehat" ucap ustajah Ulfi. Dewi malah tersenyum malu. Tiba tiba Riziq datang bersama Yusuf, sementara ustad Azam berjalan di belakang bersama ustad Rasyid dan ustajah Yasmin. Aisyah memberikan botol minuman yang ia bawa untuk Riziq, setelah meminumnya Riziq pun duduk di sebelahnya Aisyah. Riziq bersandar di pundaknya Aisyah karna merasa lelah. Perlahan Aisyah mengambil handuk kecil lalu mengelap keringat yang ada di dahi dan leher suaminya itu. Dari kejauhan ustajah Yasmin terus memandangi kemesraan mereka.
" Yas kau bawa minum?" tanya ustad Rasyid. Ustajah Yasmin pun menggelengkan kepalanya. Aisyah yang tau kalau ustad Rasyid sedang kehausan, ia mengambil botol minuman dan memberikannya pada Riziq.
" Aku sudah tidak haus" ucap Riziq.
" Sepertinya kakakmu ingin minum" bisik Aisyah. Seketika Riziq langsung menatap Aisyah.
" Jangan terlalu perhatian padanya, nanti aku cemburu" bisik Riziq.
" Kasian"
Riziq pun menatap kakaknya yang sedang kehausan. Perlahan ia mengambil botol minum itu dari tangan Aisyah dan memberikannya pada ustad Rasyid.
" Untukmu dariku ya, bukan dari Aisyah" ucap Riziq menegaskan. Riziq bukannya cemburu tapi ia takut ustajah Yasmin lah yang cemburu pada Aisyah.
" Kita pulang" ajak ustajah Yasmin pada suaminya. Mau tidak mau ustad Rasyid pun menurut. Setelah mengucap salam mereka pun pulang. Di perjalanan ustajah Yasmin terus menggandeng lengannya ustad Rasyid. Pikirannya melayang layang entah kemana.
" Entah kenapa aku selalu merasa cemburu dan tak suka jika suamiku bertemu dengan Aisyah, meskipun aku yakin mereka tak akan menghianatiku. Ustad Rasyid perlahan lahan mulai memperlihatkan perubahan sikapnya padaku, ia sedikit perhatian dan romantis padaku, meskipun tak seromantis ustad Riziq, setidaknya itu adalah perubahan yang baik, ia mulai menghargaiku sebagai istrinya, tapi entah kenapa aku selalu merasa takut sikapnya akan berubah saat ia bertemu Aisyah. Aku takut keyakinannya akan goyah kembali, karna kata orang cinta pertama itu sangat sulit untuk di lupakan. Aku harus benar benar bisa memisahkan suamiku dengan Aisyah, demi keharmonisan rumah tanggaku" ucap ustajah Yasmin dalam hati.
Sementara Aisyah dan Riziq, mereka pun pulang dari lapangan sambil mendorong kereta bayi Adam dan Hawa.
" Le kau lihat tidak sikapnya ustajah Yasmin tadi saat kau memberinya botol minuman" tanya Aisyah.
" Hmmm, dia menatap tak suka padamu"
" Aneh ya, bukankah yang memberi botol itu kamu ya Le, kenapa ia cemburu padaku?" tanya Aisyah heran.
__ADS_1
" Dia sangat mencintai kakaku dan dia takut jika suatu saat dia akan kehilangannya, biasanya rasa cemburunya akan lebih besar dari rasa cinta yang di milikinya, maka dari itu dia akan sangat berhati hati jika aang Rasyid bertemu denganmu, dia tau kalau uni adalah cinta pertama suaminya, jadi uni jangan terlalu dekat dekat dengan kakaku" tutur Riziq.
" Uni kan tidak pernah ngobrol dengan kakakmu, apa lagi sampai berdua duaan, seharusnya dia tidak usah cemburu seperti itu"
Tiba tiba Riziq tertawa.
" Apa uni ingat saat kau cemburu pada Zahra. Emosimu nampak menggebu gebu saat Zahra mulai mendekatiku, kau cemburu pada Zahra selama enam hari saja cemburumu sudah naik ke ubun ubun, apalagi ustajah Yasmin yang sudah hampir 6 tahun merasa cemburu padamu, tentu kau bisa bayangkan jika rasa cemburunya tiba tiba meledak padamu, Kira kira apa yang akan dilakukannya"
" Mana uni tau, tapi saat uni merasa cemburu pada Zahra, seakan darahku mendidih, ingin rasanya aku menabur biji cabai di, "
belum saja Aisyah selesai dengan ucapannya ia sudah menutup mulutnya sendiri.
" Menabur biji cabai dimana uni?" tanya Riziq penasaran. Aisyah hanya diam saja sambil menundukan wajahnya. Sebenarnya Riziq tau apa yang di maksud ucapannya Aisyah, namun ia sengaja terus bertanya untuk menggoda istrinya itu.
" Dimana uni?
" Dimana??" tanya Riziq berulang ulang.
" Di daerah kewanitaannya" jawab Aisyah sedikit kesal karna Riziq terus bertanya. Hingga Riziq tertawa tawa. Tiba tiba ia menghentikan langkahnya.
" Uni tau apa yang akan aku lakukan jika aku sedang merasa cemburu padamu?"
" Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Aisyah sambil menatap wajah suaminya. Riziq pun tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Aisyah sambil berbisik.
" Aku akan menabur sp* * *a di rahimu"
Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
" Bukankah saat kau tidak merasa cemburu pun kau selalu melakukan itu padaku, bahkan hampir setiap malam" gerutu Aisyah. Hingga Riziq tertawa tawa.