Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Menjenguk


__ADS_3

Masih dengan Riziq dan Aisyah yang baru pulang dari rumah sakit, setelah tau kalau Adam dan Hawa berada di rumah umi Salamah, Aisyah memutuskan untuk mandi terlebih dulu karna takut umi Salamah cemas dan berfikir yang macam macam melihat darah yang menempel di bajunya. Setelah mandi dan berpakaian di lihatnya Riziq duduk sambil diam saja. Aisyah masih merasa takut dengan kemarahan suaminya itu. Perlahan ia medekatinya dan duduk di sebelahnya.


" Leee, kau masih marah" ucap Aisyah. Seketika Riziq langsung menatap Aisyah.


" Sebaiknya uni ambil dulu Adam sama Hawa, takutnya mereka merepotkan umi Salamah dan ka Nisa" ucap Riziq dengan nada datar. Aisyah masih merasakan kalau Riziq masih marah.


" Hmm"


Aisyah pun bangkit dari duduknya.


" Aku pergi dulu ke rumah umi, asalamualaikum"


" Waalaikumsalam, jangan main dulu ya uni, aku mau bicara denganmu" ucap Riziq dengan nada serius. Aisyah pun menganggukan kepalanya. Aisyah pun pergi ke rumahnya umi Salamah.


Sesampainya disana.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab umi Salamah sambil membuka pintu.


" Sudah pulang Aisyah?, ayo masuk" pinta umi Salamah. Aisyah pun masuk, dilihatnya kiyai Husen sedang menggoda Adam dan Hawa. Setelah mencium tangan uminya, Aisyah pun mencium tangannya kiyai Husen.


" Mereka rewel tidak mi?" tanya Aisyah.


" Mereka anteng disini, cuma tadi Hawa sedikit menangis gara gara kakakmu mencibit pipinya" tutur umi Salamah.


" Dasar kak Usman menyebalkan" batin Aisyah.


" Bagaimana keadaannya ustadzah Yasmin?" tanya kiyai Husen.


" Dia baik baik saja bi, dia mengalami pendarahan, tapi alhamdulilah bayinya baik baik saja. Kata dokter, kandungannya sangat lemah" tutur Aisyah.


" Alhamdulilah kalau bayinya baik baik saja" ucap umi Salamah.


" Umi aku pulang dulu ya, Ale menungguku di rumah. Terima kasih sudah menjaga Adam sama Hawa" ucap Aisyah berpamitan. Umi Salamah pun mengangguk sambil tersenyum.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Kini Aisyah sudah pergi dari rumah umi Salamah. Di jalan ia terus kepikiran dengan Riziq yang masih marah padanya.


Sesampainya di rumah, Aisyah pun mengucap salam. Dilihatnya Riziq tidak ada, namun Aisyah dapat mendengar gemericik air di dalam kamar mandi. Riziq sedang membersihkan diri disana. Setelah selesai mandi, Riziq pun duduk bersama Aisyah di ruang tamu. Awalnya Riziq diam saja membuat Aisyah merasa cemas dan ketakutan.


" Le, sampai kapan kau akan mendiamkanku" batin Aisyah sedih.


" Uni boleh aku tanya sesuatu?" tanya Riziq dengan nada serius.


" Hmmm"


" Apa kau masih menyimpan kertas puisi dari aang Rasyid?" tanya Riziq.


" Ternyata dia masih marah soal puisi itu" batin Aisyah.


" Bukannya kau yang membuangnya tadi saat di rumah sakit" jawab Aisyah.


" Bukan puisi yang itu, tapi puisi yang aang buat untukmu dulu, apa kau masih menyimpannya?" tanya Riziq kembali. Aisyah pun terdiam.


" Jawab aku uni, apa kau masih menyimpannya?"


"Sejak kakakmu menikah dengan ustadzah Yasmin, kertas puisi itu sudah mau uni buang"


" Lalu?"


" Dewi memintanya"


" Ka Dewi?"


" Hmmm, Dewi meminta puisi itu, katanya kalau baca puisi itu badannya terasa langsing, memang tidak nyambung, tapi ya itulah Dewi" ucap Aisyah.


" Jadi puisinya ada pada ka Dewi?" tanya Riziq kembali. Aisyah pun mengangguk.


" Lalu puisi dariku mana?" tanya Riziq.


" Ada di laci" jawab Aisyah.


" Taruh puisi itu dalam bingkai lalu pajang di dinding" pinta Riziq tegas. Aisyah pun kembali mengangguk.


" Sekarang"


" Hmm"


Aisyah pun mengambil puisi itu, lalu di beri bingkai dan di pajang di dinding kamar.


Saat memajang puisi itu, Aisyah menggerutu dalam hatinya.


" Kalau si berondong itu lagi cemburu, ia sangat menakutkan sekaligus menyebalkan, entah hukuman apa yang akan diberikannya padaku nanti malam. Pasti dia menyuruhku untuk menggodanya" gerutu Aisyah.


Malam pun tiba. Riziq sudah berbaring di tempat tidur, tubuhnya sudah tengkurep dan menyembunyikan wajahnya dalam bantal. sehabis pulang dari rumah sakit ia mendiamkan Aisyah. Hingga Aisyah dibuat kebingungan.


Melihat suaminya sudah tertidur, perlahan Aisyah mendekatinya dan berbaring di sebelahnya Riziq.


" Apa dia masih marah?, dengan terpaksa aku harus menggodanya biar dia tidak marah lagi, bukankah sudah biasa kau menjadi wanita penggoda Aisyah, penggoda suami genit seperti si berondobg ini" batin Aisyah.


Perlahan Aisyah memeluk Riziq yang kini sedang tengkurep itu. Lalu tanpa malu malu ia mengelus ngelus punggungnya Riziq dengan gerakan sensualnya. Namun Riziq hanya diam saja tak seperti biasa saat di sentuh sedikit saja oleh istrinya dia pasti langsung bereaksi, namun kali ini ia hanya diam saja, membuat Aisyah terheran.


" Apa dia sudah tidur, apa marahnya sudah bertingkat ke level 10. Hingga di sentuhku saja dia hanya diam saja, biasanya di sentuh sedikit saja dia sudah bereaksi. Waah dia benar benar marah padaku, menakutkan sekali" batin Aisyah.


" Le, kau sudah tidur?" ucap Aisyah. Namun tak ada jawaban dari suaminya itu.


" Lee, kau masih marah padaku?" tanya Aisyah kembali. Kembali Riziq hanya diam.


" Dia benar benar marah padaku" batin Aisyah. Perlahan Aisyah pun tertidur sambil memeluk Riziq.


Pagi pagi buta Aisyah sudah mengerjap ngerjapkan matanya. Dilihatnya Riziq sudah tidak ada disampingnya.


" Apa dia masih marah hingga dia tidak membangunkanku" batin Aisyah. Ada rasa kecewa dalam hatinya. Perlahan saat Aisyah akan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, tiba tiba matanya membelalak melihat tubuhnya sudah telanjang bulat.

__ADS_1


" Astaghfirullah alazim"


Aisyah memutar memori otaknya mencoba mengingat ngingat kejadian semalam.


"Perasaan semalam aku dan Riziq tidak ngapa ngapain, kami hanya tidur biasa, tidak terjadi apa apa, kenapa aku telanjang begini, apa dia menyentuhku semalam?, dia pasti macam macam padaku, tidak mungkin dia hanya diam saat melihatku tanpa sehelai pakaian, melihatku tanpa kerudung saja dia sudah tergoda, apalagi melihatku telanjang. Tapi masa aku tidak berasa saat dia menyentuhku?" batin Aisyah bertanya tanya. Ia mulai mengerutkan keningnya mencoba mengingat ngingat kejadian semalam.


Selang beberapa waktu kemudian Riziq masuk sambil menggodok gosok rambutnya yang basah setelah ia selesai mandi. Aisyah langsung menatap Riziq dengan tatapan mengintimidasi sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Riziq yang tau hal itu hanya tersenyum senyum saja melihat mimik wajah istrinya yang kini nampak kebingungan.


" Lee"


" Hmmm"


Aisyah ingin bertanya namun ia ragu. Riziq sudah tau apa yang ada dalam pikirannya Aisyah.


" Le"


" Hmm"


" Apa semalam kau menyentuhku?" tanya Aisyah sedikit ragu, wajahnya sudah memerah karna malu.


" Kenapa uni bertanya seperti itu?" ucap Riziq santai sambil memilih milih baju dalam lemarinya.


" Kenapa bangun bangun uni telanjang?" ucap Aisyah sambil menatap Riziq yang sedang berdiri di hadapannya. Riziq pun ikut menatap Aisyah.


" Memangnya uni tidak ingat dengan kejadian semalam?" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Aisyah pun terdiam dan mulai mengingat ngingat kejadian semalam, namun ia hanya ingat kalau dirinya tidur sambil memeluk Riziq. Aisyah pun menggelengkan kepalanya.


" Jadi kau tidak ingat kalau semalam kau menggodaku di tempat tidur" ucap Riziq sambil menatap Aisyah dan menampakan senyum tipisnya.


" Aku tidak menghodamu semalam" jawab Aisyah. Riziq pun sedikit tertawa.


" Jadi sentuhanku tidak berasa semalam?, padahal aku sudah mengeluarkan tenaga dan kemampuanku 2 kali lipat dari biasanya" ucap Riziq.


" Jadi kau benar benar menyentuhku semalam?" tanya Aisyah sambil memicingkan matanya.


" Hmm"


" Kau menyentuhku tanpa izin?"


" Apa perlu aku izin dulu?, bukankah jiwa ragamu adalah miliku"


Seketika Aisyah menyibakan selimutnya sambil menggenggam bantal, lalu berdiri mendekati Riziq dan,


BUKH BUKH BUKH


Aisyah memukulkan bantal itu pada Riziq. Bukannya Riziq marah, dia malah tertawa tawa.


" Aku sebel padamu" gerutu Aisyah. Sampai ia tak sadar kalau kini dirinya telanjang dihadapannya Riziq karna ia menyibakan selimut. Riziq sudah memalingkan wajahnya karna kalau tidak hasratnya bisa datang kembali saat melihat Aisyah tanpa pakaian.


" Uni kau mau menantang kembali nafsuku, kau lihat dirimu sekarang, kau telanjamg dihadapanku" ucap Riziq sambil memalingkan wajahnya. Saat sadar dengan penampilannya, Aisyah bergegas menarik selimut dari tempat tidurnya dan langsung menutupi tubuh polosnya. Aisyah sudah menundukan wajahnya yang nampak memerah karna malu. Riziq pun tersenyum gemas lalu memeluk Aisyah.


" Kenapa wajahmu merah begitu?" goda Riziq.


" Kau tau uni semalam saat aku menyentuhmu, kau hanya menggeliat dan mengeluarkan suara seximu itu tapa kau membuka mata" ucap Riziq sambil menyentuh bibir Aisyah dengan telunjuknya. Aisyah langsung menyembunyikan wajahnya di dadanya Riziq karna malu setelah mendengar ucapan suaminya itu. Namun ia merasa senang karna Riziq sudah tidak marah lagi padanya. Dan pada kenyataannya Riziq tidak bisa lama lama marah pada istrinya itu.


" Uni mandi sana, adzan subuh sudah berkumandang sedari tadi, apa kau mau kumandikan?" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.


" NGGAAA" ucap Aisyah sambil bergegas pergi ke kamar mandi dengan selimut tebalnya itu. Riziq hanya tersenyum senyum geli melihat tingkah istrinya itu.


" Lee"


" Hmmm"


" Kau tidak marah lagi?" tanya Aisyah.


" Apa aku terlihat sedang marah?" tanya Riziq balik. Aisyah pun menggelengkan kepalanya.


" Le, siang ini bolehkan aku pergi ke rumah sakit ?" tanya Aisyah sambil menatap Riziq.


" Aku tidak bisa uni, aku harus mengajar" jawab Riziq.


" Kalau kau tidak bisa, aku pergi sama Zahira ya Le, kasian ustadzah Yasmin tidak ada yang menjaga, orang tuanya kan sedang ada di luar kota" ucap Aisyah.


" Disana kan ada aang Rasyid yang jaga"


" Aku janji Le, aku akan jaga jarak dengan kakakmu" ucap Aisyah.


" Hmm, tapi jangan lama lama ya uni, kasian Adam sama Hawa"


" Hmmm"


Kini Aisyah sudah menitipkan Adam sama Hawa pada umi Salamah. Setelah itu ia pergi untuk menemui Zahira di kelasnya. Setelah sampai dikelasnya Zahira, Aisyah pun masuk kelas, dilihatnya Zahira tidak ada di kelas itu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab ustadzah Ulfi. Kebetulan ustadzah Ulfi sedang mengajar di kelas itu.


" Maaf ustadzah, apa Zahira tidak masuk?" tanya Aisyah. ustadzah Ulfi malah tersenyum.


" Maaf ya Aisyah, bukannya saya tidak menghargai suamimu, tapi Zahira sedang saya hukum berdiri di lapangan" ucap ustad Ulfi.


" Dihukum?"


Ustadzah Ulfi pun mengangguk.


" Memangnya Ira berbuat kesalahan apa?" tanya Aisyah.


" Pertama dia tidak bisa menghafal surah al ikhlas, yang kedua dia datang terlambat, yang ketiga nilainya nol besar saat ulangan dan yang keempat dia melototi teman sekelasnya hingga menangis, dengan terpaksa saya menghukumnya." tutur ustadzah Ulfi. Aisyah pun terkejut dan sedikit malu pada ustadzah Ulfi.


" Maafkan perbuatan Ira ya ustadzah"


" Tidak apa apa Aisyah, mungkin Zahira perlu beradaptasi" ucap ustadzah Yasmin sambil tersenyum.


" Ustadzah saya datang kesini mau minta izin untuk membawa Zahira pergi ke rumah sakit menengok ustadzah Yasmin" ucap Aisyah.


" Saya izinkan" jawab ustadzah Ulfi.


Setelah mendapat izin, Aisyah langsung pergi ke lapangan menemui Zahira.

__ADS_1


" Asalamualaikum"


Zahira pun langsung menatap Aisyah.


" Waalaikumsalam"


" Kenapa kau berdiri disini?, kau mau kulitmu berwarna coklat seperti kakakmu. Sungguh memalukan sekali kau dihukum calon mertuamu, apa kau tidak malu" ledek Aisyah.


" Kak Aisyah jangan meledeku terus" jawab Zahira sambil mengerucutkan bibirnya.


" Sekarang ikut ka Aisyah ya, kita pergi ke rumah sakit menengok ustadzah Yasmin, ka Aisyah sudah minta izin pada ustadzah Ulfi"


Zahira pun mengangguk. Mereka pun pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aisyah dan Zahira pun bergegas pergi keruangannya ustadzah Yasmin. Di depan pintu terlihat ustad Rasyid sedang menggenggam tangan istrinya, ustadzah Yasmin pun nampak tersenyum.


" Ira kau saja yang masuk ya, ka Aisyah tunggu disini, berikan makanan ini pada kakakmu, sepertinya dia belum makan" ucap Aisyah sambil memberikan rantang makanan yang ia bawa pada Zahira.


Setelah Zahira membuka pintu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Ustadzah Yasmin pun tersenyum pada Zahira.


" Ira, kau kesini?" tanya ustadzah Yasmin. Zahira pun mengangguk tersenyum.


" Sama siapa?" tanya ustad Rasyid.


"Sama kak Aisyah, dia menunggu di luar"


Zahira pun memberikan rantang makanan itu pada ustad Rasyid.


" Terima kasih"


Zahira pun sempat mengobrol ngobrol dengan ustadzah Yasmin.


" Mas, boleh aku bicara bertiga dengan Aisyah dan Ira" pinta ustadzah Yasmin.


Ustad Rasyid pun mengangguk, lalu ia keluar.


Tidak lama kemudian Aisyah pun masuk.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Perlahan Aisyah mendekati mereka, sementara ustad Rasyid menunggu di luar sambil menikmati bekal yang di berikan Zahira.


" Aku ingin bicara denganmu"


Aisyah pun terdiam dan sedikit takut dengan apa yang akan dibicarakan ustadzah Yasmin. Aisyah sudah duduk di sebelahnya Zahira.


" Mau bicara apa ustadzah?" tanya Aisyah.


"Saya cuma mau bilang terima kasih karna kau telah menolongku"


" Ustadzah tidak marah pada saya?, soal kertas itu?" tanya Aisyah ragu. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.


" Maaf, mungkin saya yang tidak bisa mengendalikan kecemburuanku hingga membuatku celaka sendiri, saya juga minta maaf, kudengar kemarin ustad Riziq marah pada suamiku, apa dia juga marah padamu?"


tanya ustadzah Yasmin. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.


" Aisyah, Kau tau Syakir semalam tidur dimana?"


" Semalam Ale sudah mengajaknya untuk menginap di rumah, tapi Syakir tidak mau, dia lebih memilih tidur di asrama bersama teman temannya" jawab Aisyah. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.


" Aisyah boleh saya minta sesuatu padamu?"


"Apa ustadzah Yasmin akan memintaku untuk menjauhi ustad Rasyid?" batin Aisyah.


" Kandungan saya sangat lemah, kalau suatu saat Allah berkehendak lain, apa saya boleh menganggap Adam dan Hawa sebagai putra putriku?" tanya ustadzah Yasmin. Aisyah pun terdiam.


" Apa maksudnya ustadzah?" tanya Aisyah.


" Saya sangat suka anak kecil, jika bayi dalam kandunganku tidak bisa di selamatkan, bolehkan sesekali saya menjaga putra putrimu"


" Tentu saja boleh, tapi saya yakin kalau bayi dalam kandungannya ustadzah Yasmin pasti akan baik baik saja, saya dan Zahira akan bantu untuk merawat ustadzah, dan membantu memasak dan beberes rumah, jadi ustadzah tidak perlu capek capek" Zahira pun mengangguk.


Tiba tiba ustad Azam dan ustad Usman serta ustad Soleh datang menjenguk.


" Asalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Mereka pun masuk keruangan perawatan.


Ustad Usman sudah menarik ujung kerudungnya Aisyah. Hingga Aisyah menggeram padanya.


" Kau sudah disini, mana anak anakmu yang menjengkelkan itu?" tanya ustad Usman.


" Sama umi"


Tiba tiba perawat datang sambil membawa sebuah suntikan. Seketika ustad Usman langsung berlari keluar karna takut namun tiba tiba pintu terbuka karna satu orang perawat datang lagi masuk hingga,


BRUUGGH.


Ustad Usman menabrak pintu.


" Allahu akbar nikmatnya" ringis ustad Usman. Zahira pun tertawa.


" Kenapa om ustad, takut ya sama jarum suntik" ledek Zahira.


" Kau meledeku?"


" Tamatan kairo takut sama jarum suntik. Memalukan" ucap Zahira sambil berlalu keluar dan duduk bersama ustad Rasyid.

__ADS_1


" Kak Rasyid, aku tau kenapa kak Yasmin bisa masuk rumah sakit, dia cemburu padamu kan?, kak Rasyid tau rumah tangganya ka Riziq sama kak Aisyah meskipun sederhana namun mereka sangat bahagia. Meskipun kak Riziq genit dan kak Aisyah ganjen, tapi rumah tangga mereka penuh warna. Tidak seperti rumah tanggamu, cuma punya warna hitam dan putih, membosankan" tutur Zahira. Ustad Rasyid pun terdiam karna memang itu benar adanya.


" Kalau kau ingin bahagia seperti mereka, belajarlah pada kak Riziq"


__ADS_2