Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Tatapan Intens


__ADS_3

Hari libur pun tiba, Aisyah sedang bersantai di rumahnya umi Salamah, di temani cucu cucunya umi Salamah yang masih kecil kecil, putra putranya ustad Soleh. Aisyah bermain dengan anak anak itu, perlahan ia bisa tersenyum ceria lagi. Tiba tiba kiyai Husen datang bersama sahabatnya yaitu kiyai Mansyur ( 41 tahun ) dia juga termasuk pemimpin pesantren, namun sekarang ia tinggal di kairo untuk mengajar disana umurnya 41 tahun namun masih terlihat lebih muda.


"Asalamualaikum " ucap kiyai Husen dan kiyai Mansyur.


"Waalaikumsalam " jawab Aisyah dan umi Salamah. Kiyai Mansyur menatap lekat pada Aisyah, pasalnya ia baru pertama kali melihat Aisyah. Mereka pun duduk bersama di teras rumah.


"Siapa ini kiyai ? " tanya kiyai Mansyur.


" Ini Aisyah putri angkat kami " jawab kiyai Husen. Aisyah pun tersenyum menganggukan sedikit kepakanya, lalu ia pergi ke dapur untuk membuatkan minum, tidak lama kemudian Aisyah datang membawa dua gelas teh manis di atas nampan dan menaruhnya tepat di hadapan mereka.


"Terima kasih Aisyah " ucap kiyai mansyur sambil tersenyum, ia menatap Aisyah begitu intens, menatapnya dengan tak biasa seperti ada yang berbeda, Aisyah yang sadar akan hal itu ia menjadi heran melihatnya, ia lalu masuk ke dakam rumah kembali.


"Kenapa kiyai Mansyur menatapku seperti itu, ada yang aneh dengan tatapannya, entah kenapa aku merasa takut " gumam Aisyah dalam hati. Ia tak berani lagi keluar untuk menemui mereka, takut mendapat tatapan intens lagi dari kiyai Mansyur.


Setelah lama mengobrol di depan rumah, ahirnya kiyai Mansyur izin pamit. Namun entah kenapa sebelum pergi ia ingin bertemu dulu dengan Aisyah.


Umi Salamah menemui Aisyah di dalam rumah.


"Aisyah ke depan dulu sebentar, kiyai Mansyur mau pulang " ucap umi Salamah. Aisyah pun terdiam tak bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Kalau kiyai Mansyur mau pulang, memangnya kenapa, kenapa juga aku harus menemuinya " gumam Aisyah dalam hati.


"Aisyah kedepan dulu sebentar, sebelum pulang kiyai Mansyur ingin bertemu dulu denganmu " tutur umi Salamah,


Deg..

__ADS_1


Entah kenapa ada rasa tak senang di raut wajah Aisyah.


"Kenapa kiyai Mansyur ingin bertemu dulu denganku, kenapa juga perasaanku menjadi tak enak seperti ini " gumam Aisyah kembali.


Perlahan Aisyah dan umi Salamah menghampiri kiyai Husen dan kiyai Mansyur. Aisyah terus memegangi tangannya umi Salamah karna takut dengan tatapannya kiyai Mansyur. Perlahan kiyai Mansyur mendekati Aisyah, membuat Aisyah semakin ketakutan hingga menggenggam tangan umi Salamah semakin erat.


"Saya pamit ya Aisyah " ucap kiyai Mansyur masih dengan tatapan intensnya pada Aisyah. Aisyah hanya menganggukan kepalanya namun tak berani menatap wajah orang yang ada di hadapannya itu.


"Asalamualaikum " kiyai Mansyur mengucap salam lalu pergi dari rumahnya kiyai Husen.


"Waalaikumsalam " jawab mereka.


"Umi kiyai mansyur itu siapa ? " tanya Aisyah penasaran, umi pun tersenyum.


"Dia sahabatnya abi, dulu dia mengajar di sini, dia membantu abi memimpin pesantren, tapi sekarang dia mengajar di kairo, kakakmu usman juga adalah muridnya kiyai Mansyur di kairo" tutur umi Salamah.


"Dia lagi liburan bersama istrinya di sini, kebetulan dia punya rumah di sini " jawab umi Salamah. Aisyah malah membelalakan matanya setelah mendengar kalau kiyai Mansyur telah mempunyai istri.


" Jadi kiyai Mansyur sudah mempunyai istri, tapi dia masih bisa menatap intens pada perempuan lain, Astaghfirullah " gumam Aisyah dalam hati. Ada rasa tak suka di raut wajahnya Aisyah, umi yang melihatpun sedikit heran.


"Kenapa wajahmu seperti itu ? " ucap umi heran.


"Oh tidak apa apa umi " jawab Aisyah sambil mengambil gelas kosong yang tadi ia suguhkan dan membawanya kedapur. Saat ia kembali lagi kedepan rumah, ia melihat abinya tidak ada di depan.


"Umi abi kemana ? " tanya Aisyah.

__ADS_1


"Abi mu keperkebunan tadi bersama Soleh dan Riziq.


"Riziq ada di perkebunan ?, mi aku ke perkebunan ya mau liat " ucap Aisyah, umi Salamah pun mengangguk. Aisyah bergegas pergi keperkebunan, ia melihat Riziq dan ustad Soleh sedang berdiri di perkebunan. Perlahan Aisyah menghampirinya.


"Asalamualaikum "


"Waalaikumsalam "


Aisyah keheranan melihat Riziq yang berdiri mematung di perkebunan cabai yang dulu ia tanam bersama kiyai Husen.


"Kenapa Ziq ? " tanya Aisyah heran.


"Kau lihat uni, bibit cabai yang ku tanam dulu, kenapa satu galian tumbuhnya lebih dari 5 pohon cabai ya, padahal punya kiyai Husen satu galian isinya satu pohon cabai yang tumbuh" ucap Riziq sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aisyah pun tertawa mendengarnya.


"Wah kau menakutkan sekali Ziq, ini artinya dalam satu rumah mempunyai 5 istri lebih, kau sangat serakah sekali Ziq " ucap Aisyah dengan sedikit menggoda bocah yang ada di hadapannya itu.


"Ini pohon cabai uni, bukan perempuan " gerutu Riziq, membuat Aisyah tertawa tawa. Riziq yang sadar dengan tawanya Aisyah ia pun tesenyum.


"Aku senang melihat uni bisa tertawa lagi " ucap Riziq sambil menatap Aisyah .


"Uni tidak mau hidup dalam kesedihan terus menerus, uni ingin menjalani hidup seperti dulu lagi " tutur Aisyah menegaskan. Riziq pun tersenyum mendengarnya.


" Disini panas banget ya Ziq, sinar mataharinya memancar sempurna, kamu tidak ingin berteduh ? " tanya Aisyah.


"Tidak mau, biarkan saja aku terkena paparan sinar matahari, biar kulitku eksotis seperti coklat lumer" jawab Riziq sambil cengengesan. Membuat Aisyah mengeryit heran.

__ADS_1


"Istilah dari mana itu "


membuat Riziq tertawa tawa melihat ekpresi wajahnya Aisyah.


__ADS_2