Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Menagih hadiah.


__ADS_3

Setelah selesai pertandingan, Riziq dan Aisyah sudah bersiap untuk pulang, Aisyah sudah menaruh Adam dan Hawa pada kereta bayinya.


" Putra putri umi yang manis, kita pulang ya" ucap Aisyah pada Adam dan Hawa.


" Ayo uni" ajak Riziq, Aisyah pun mengangguk.


" Semuanya kita pulang duluan ya, asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Ira kau mau pulang dulu ga ke rumahnya ka Aisyah?" tanya Aisyah pada Zahira.


" Ka aku pulang ke rumahnya ka Yasmin ya " jawab Zahira. Aisyah pun mengangguk. Aisyah dan Riziq pun beranjak pergi dari lapangan itu.


" Jalannya sedikit cepat Le, badanku pegal semua" ucap Aisyah.


" Hmm"


Tiba tiba mereka bertemu dengan Dewi yang baru pulang dari klinik.


" Asalamualaikum"


Bukannya menjawab, Dewi malah merengek seperti anak kecil.


" Kau kenapa Wi?" tanya Aisyah.


" Aku dari klinik habis menimbang berat badanku" jawab Dewi.


" Terus, turun berapa kilo berat badanmu ?" tanya Aisyah penasaran.


" Bukannya turun berat badanku malah naik setengah kilo" ucap Dewi sambil cemberut kesal, karna bayangan 5 mangkok baso yang di janjikan ustad Usman kandaslah sudah. Riziq sudah ingin tertawa namun ia tahan. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya saja.


" Aneh ya Wi, ya sudah aku pulang duluan ya, asalamualaikum" ucap Aisyah dan Riziq sambil berlalu.


" Waalaikum salam" jawab Dewi.


Sesampainya dirumah. Aisyah sudah mendudukan badannya di kursi ruang tamu karna begitu kelelahan. Hingga Riziqlah yang kini menidurkan Adam dan Hawa di kamar. Setelah menidurkan Adam dan Hawa, Riziq pun menemui Aisyah. Riziq terdiam saat melihat Aisyah sudah terlelap di kursi.


" Ya allah si uni, saking capeknya ia tidur tanpa sadar begitu" ucap Riziq sambil membenar kan posisi tidur istrinya itu. Riziq tersenyum melihat wajah Aisyah yang tertidur pulas tanpa ada Riasan di wajahnya. Riziq terus tersenyum senyum melihat Aisyah, hingga ia refleks mengunyel ngunyel pipinya Aisyah bak seorang bayi karna merasa gemas pada istrinya itu. Kini Riziq pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karna tubuhnya dipenuhi dengan keringat. Setelah selesai membersihkan diri, Riziq pun mendekati Aisyah untuk membangunkannya.


" Uni bangun, mandi dulu biar badanmu enakan" ucap Riziq sambil berjongkok di hadapan Aisyah. Aisyah begitu nampak terlelap hingga Riziq tak tega untuk membangunkannya. Riziq pun mecium hidung Aisyah, setelah itu ia pun ikut terlelap menyender di kursi yang Aisyah tiduri.


Setelah hampir satu jam tidur siang, Riziq pun terbangun duluan, ia melihat Aisyah masih terlelap.


" Ya allah si uni belum bangun juga, sepertinya ia nampak kelelahan" ucap Riziq.


" Uni, bangun"


Aisyah pun terbangun sambil mengerjap ngerjapkan matanya, dilihatnya jendela sudah di penuhi sinar matahari, seketika mata Aisyah membelalak.


" Astaghfirullah, Le aku kesiangan. Kenapa kau tidak membangunkanku, aku sampai tidak shalat subuh karna kesiangan. Ya Allah ampuni aku" ucap Aisyah panik sendiri. Riziq hanya mengeryitkan keningnya saja merasa heran dengan tingkah istrinya yang aneh itu.


"Si uni kenapa, seperti orang linglung saja, apa dia ngigo. Bukankah tadi pagi dia sudah shalat subuh" batin Riziq.


" Uni apa kau ngigo?" tanya Riziq.


" Apa maksudmu Le?. aku kesiangan, aku sampai lupa tidak membuatkanmu sarapan pagi" ucap Aisyah.


" Waah beneran si uni ngigo, dia pasti berfikir dia itu tidur malam, padahalkan dia tidur siang" batin Riziq.


" Uni coba kau lihat jam berapa sekarang" ucap Riziq. Aisyah pun langsung menatap jam pukul 12:15 siang. Seketika Aisyah langsung tersenyum malu.


" Uni lupa kalau uni tadi tidur siang bukan tidur malam" ucap Aisyah, wajahnya sudah bersemu merah. Riziq sudah tersenyum senyum gemas pada istrinya itu.


" Kau ini menggemaskan uni, sekarang bangun, trus kau mandi, abis itu kau shalat Zuhur, ingat ya shalat zuhur bukan shalat subuh" ucap Riziq mengingatkan. Aisyah pun mengangguk ngangguk.


" Aku pergi ke masjid dulu uni, tapi ingat ya uni, kau jangan tidur lagi, langsung mandi. asalamualaikum" ucap Riziq mengingatkan kembali, setelah itu ia langsung pergi ke masjid.


" Waalaikum salam"


Setelah selesai mandi, Aisyah pun menyiapkan makan siang, tiba tiba ia teringat dengan Zahira.


" Apa ira sudah makan ?, tapi apa ustadzah Yasmin masak, dia kan kondisinya masih lemah, aku telpon Zahira saja"


Aisyah pun langsung menelpon Zahira.


" Hallo Asalamualaikum ira"


" Waalaikum salam ka, ada apa?" tanya Zahira.


" Kau sudah makan?" tanya Aisyah.


" Belum, ini aku mau beli ke kantin"


" Jangan beli, ini kebetulan ka Aisyah masak banyak, kau ambilah kesini, sekalian buat ustadzah Yasmin juga" ucap Aisyah.


" Ia kak"

__ADS_1


Aisyah pun menutup telponnya.


" Kenapa?" tanya ustadzah Yasmin.


" Katanya ka Aisyah masak banyak hari ini, dia menyuruhku untuk mengambil masakannya biar kita gak beli di kantin, ka Yasmin mau kan makan masakannya ka Aisyah?" tanya Zahira. Ustadzah Yasmin pun terdiam lalu ia pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya, pertanda ia setuju.


" Ya sudah sekarang aku ke rumahnya ka Aisyah dulu" ucap Zahira.


" Salam dulu" ucap ustadzah Yasmin mengingatkan. Zahira pun tersenyum malu karna ia selalu lupa untuk mengucap salam.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab ustadzah Yasmin. Zahira pun langsung pergi ke rumahnya Aisyah. Sesampainya disana.


" Asalamualaikum ka" ucap Zahira.


" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah pun memberikan rantang makanan pada Zahira.


" Waaah wanginya sudah tercium, sepertinya enak" ucap Zahira sambil mendekatkan rantang itu ke hidungnya.


" Kau makan yang banyak ya, biar badanmu ga kecil terus" ucap Aisyah.


" Tidak mau, kalau aku makannya banyak, nanti badanku akan tumbuh subur seperti ka Dewi" ucap Zahira.


" Aku cuma memberimu makan, bukan memberimu pupuk, kalau badanmu besar, itu artinya kau bahagia" tutur Aisyah. Zahira hanya mengangguk ngangguk saja.


" Ya sudah ka, aku kerumahnya ka Yasmin dulu asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati"


Zahira pun pergi ke rumahnya udtadzah Yasmin sambil membawa rantang makanan itu. Sesampainya di rumahnya ustadzah Yasmin, Ira pun langsung menaruh makanan itu ke piring di meja makan. Makanannya bermacam macam vareasi, karna Aisyah hobi masak, jadi apa yang ada selalu dimasak.


" Asalamualaikum" ustad Rasyid dan Syakir mengucap salam setelah pulang dari masjid.


" Waalaikum salam" jawab ustadzah Yasmin sambil membuka pintu. Ia pun mencium lengan suaminya.


" Kemana tante Ira mi?" tanya Syakir.


" Ada dimeja makan, ayo sekalian kita makan siang" ajak ustadzah Yasmin. Mereka pun sudah duduk di meja makan, ustad Rasyid pun sudah memimpin do'a.


" Ayo kita makan" ucap Zahira semangat.


Baru saja satu suap, ustad Rasyid langsung terdiam.


"Seperti masakannya Aisyah" batin ustad Rasyid. Ustadzah Yasmin pun menatap ekspresi suaminya itu.


" Sepertinya suamiku tau kalau makanan yang ia makan adalah masakannya Aisyah" batin ustadzah Yasmin. Ustad Rasyid pun mengedarkan pandangannya di dapur seperti mencari sesuatu.


" Sepertinya mas sangat hafal ya dengan masakannya Aisyah" ucap ustadzah Yasmin. Ustad Rasyid hanya diam saja sambil menundukan kepalanya. Tiba tiba Zahira menuangkan sayuran ke piringnya ustadzah Yasmin.


" Makan sayurnya yang banyak ka, katanya sayur itu sangat baik untuk ibu hamil" ucap Zahira. Ustadzah Yasmin pun tersenyum lalu memakan sayuran itu. Karna rasanya sangat disukai olehnya, ustadzah Yasmin mengambil kembali makanan itu. Hingga ustad Rasyid di buat heran.


" Tidak usah heran begitu melihatnya ka, ka Yasmin kan sedang hamil, pasti dia makannya banyak kan di perutnya ada bayi" ucap Zahira.


Ustad Rasyid menatap heran pada istrinya itu karna porsi makannya tak biasa. Zahira pun tersenyum.


" Sepertinya bayinya ka yasmin kembar deh seperti Adam dan Hawa karna ka Yasmin makannya banyak banget. Atau jangan jangan bayinya ada 3 ka, ka Yasmin mengandung bayi kembar tiga" ucap Zahira ceplas ceplos. Hingga ustad Rasyid langsung tersendak saat mendengar ucapannya Zahira.


" Uhuk uhuk"


" Mas kau hati hati" ucap ustadzah Yasmin sambil menyodorkan minum pada suaminya.


Setelah selesai makan, Zahira pun meminta izin untuk beristirahat.


" Ka aku mau istirahat dulu ya" ucap Zahira setelah beberes dan mencuci piring.


" Kau boleh beristirahat di kamar kosong, dulu itu adalah kamarnya kakakmu Riziq sebelum kakakmu itu pergi ke Kairo" ucap ustadzah Yasmin. Zahira pun masuk ke kamarnya Riziq dulu. Kamarnya nampak sederhana namun sangat rapih dan nyaman karna ustadzah Yasmin selalu membereskan kamar itu.


Zahira pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur ia merasa begitu kelelahan setelah bermain sepak bola. Tiba tiba matanya tertuju pada laci berukuran kecil di kamar itu. Karna penasaran Zahira pun membuka laci itu, di lihatnya ada beberapa buku yang sudah lama tidak terpakai. tiba tiba Zahira menemukan beberapa lembar foto di laci itu, ia pun menatap satu persatu foto itu.


" Foto ka Riziq waktu seumuranku" ucap Zahira sambil tersenyum senyum geli. Tiba tiba ia terdiam saat melihat foto Riziq waktu kecil yang sedang bersama Aisyah di perkebunan. Karna foto itu di ambil saat Riziq belum pergi ke kairo, foto 6 tahun yang lalu.


" Apa aku tidak salah lihat, ko ka Riziq masih kecil sementara ka Aisyah sudah dewasa?" ucap Zahira heran. Di tatapnya kembali foto itu.


" Apa jangan jangan ka Riziq umurnya lebih muda dari ka Aisyah?, ia pasti itu benar, pantas saja si om ustad selalu memanggil ka Riziq dengan sebutan ustad berondong. Ternyata ka Aisyah umurnya lebih tua dari ka Riziq. Ha ha ha" ucap Zahira bicara sendiri. Zahira memang belum tau kalau umurnya Riziq lebih muda lima tahun dari Aisyah.


" Ha ha ha ha ha"


Zahira masih tertawa tawa di kamar itu. Ustadzah Yasmin dan ustad Rasyid pun terdiam saling lirik ketika mendengar Zahira tertawa tawa di kamar itu. Kalau saja di sana ada ustad Usman, pasti dia akan mengira kalau Zahira sedang kesurupan karna memasuki kamar yang selama hampir 6 tahun kosong. Zahira masih setia dengan tawanya yang riang tanpa beban.


" Umi tante Ira kenapa, dia tertawa dengan siapa?" tanya Syakir. Syakir pun beranjak turun dari kursi untuk menemui Zahira, namun ustad Rasyid melarangnya.


" Mau kemana?" tanya ustad Rasyid.


" Mau nyamperin tante Ira" jawab Syakir.


" Jangan kau dekati tantemu itu, nanti kau ketularan gila" ucap ustad Rasyid.

__ADS_1


" Mas, kau adik sendiri dibilang gila" ucap ustadzah Yasmin. Syakir hanya tertawa tawa kecil.


Sore pun tiba. Kini waktunya Zahira pulang ke asrama.


" Ira, mau ka Yasmin antarkan?" tanya ustadzah Yasmin.


" Tidak usah ka, lagian kata dokter, ka Yasmin tidak boleh cape cape, harus banyak istirahat, kasian dede bayinya" ucap Zahira. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.


" Ira, apa uang jajanmu masih ada?" tanya ustad Rasyid. Zahira pun mengangguk.


" Kalau kau kekurangan sesuatu kau bilang pada kami" ucap ustad Rasyid kembali.


" Aku hanya kekurangan kasih sayangmu" ucap Zahira pada ustad Rasyid.


" asalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Ustad Rasyid pun terdiam sambil menatap kepergian Zahira.


Di tengah jalan ia bertemu dengan ustad Usman. Zahira sudah menampakan senyumnya. Sementara ustad Usman hanya mengeryitkan keningnya melihat Zahira yang tiba tiba tersenyum padanya.


" Eh slebor kenapa kau tersenyum senyum begitu padaku?. Jangan bilang kalau kau menyukaiku" ucap ustad Usman yang kini percaya dirinya setinggi langit.


" Ikh amit amit" jawab Zahira.


" Lalu kenapa kau tersenyum senyum begitu?"


" Aku hanya ingin menagih hadiahku, aku kan sudah menang dalam pertandingan, tapi jangan bilang kalau hadiahnya itu aku akan di jemput malaikat Izrail, karna aku sudah mengenalnya" ucap Zahira. Tiba tiba ustad Usman tertawa.


" Jadi kau sudah mengenalnya ?"


"Hmmm, diakan malaikat pencabut nyawa, masa gara gara aku menang terus aku di beri hadiah sebuah kematian" ucap Zahira sedikit kesal. Ustad Usman sudah tertawa tawa.


" Dengar Ira, hadiahnya akan ditentukan oleh abi'ku, nanti dia yang akan memberi pengumuman hadiah apa yang akan di berikannya pada para pemenang. Tapi karna kau yang mencetak gol, jadi kau mendapatkan hadiah khusus dariku" ucap ustad Usman.


" Tidak mau, kau pasti memberikan hadiah yang macam macam padaku" ucap Zahira sedikit waspada.


" Sepertinya kau takut sekali dengan hadiah yang akan ku berikan padamu"


" Memangnya kau mau memberiku hadiah apa?" tanya Zahira.


" Hadiahnya adalah, kau akan ku jadikan anah buahku" ucap ustad Usman.


" Apaaaaa, anak buahmu, apa aku tidak salah dengar, kau mau menjadi bos ku?"


" Hmmm"


"Tidak mau" ucap Zahira menolak mentah mentah. Hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.


" Kenapa?" tanya ustad Usman.


" Memangnya kalau aku jadi anak buahmu, berapa kau akan membayar gajihku?" tanya Zahira hingga ustad Usman terkejut mendengar ucapan bocah ingusan itu.


" Astaghfirullah alazim, eh slebor ternyata kau materialistis sekali, aku menjadikanmu anak buahku, itu artinya kau akan menjadi muridku, kau akan kuberi pelajaran agama geratis tidak usah bayar itu adalah hadiah untukmu karna kau telah mencetak gol dalam pertandingan tadi pagi. Di otakmu hanya ada uang dan uang saja sungguh menggelikan" tutur ustad Usman hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Hadiahmu tidak menarik" ucap Zahira cuek.


" Lalu apa yang membuatmu menarik?" tanya ustad Usman. Zahira langsung tersenyum mendengar pertanyaannya ustad Usman.


" Aku ingin kau menjadi pak combangku dengan ka Yusuf" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.


" Astaghfirullah, kau ini masih kecil sudah genit sekali Zahira" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


" Aku tanya berapa umurmu sekarang?" tanya ustad Usman penasaran.


" 18 tahun kurang"


" Kurang berapa?" tanya ustad Usman kembali. Zahira sudah tersenyum senyum.


" Kau jangan tersenyum senyum terus dari tadi, aku geli melihatnya. Aku tanya sekali lagi 18 tahun kurang berapa?" tanya ustad Usman kembali.


" Kurang 3 tahun" ucap Zahira sambil menundukan kepalanya.


" Astaghfirullah alazim, jadi umurmu 18 tahun kurang 3 tahun?, itu artinya kau masih berumur 15 tahun. Kau masih anak di bawah umur Ira, tapi kau sudah genit seperti perempuan yang sudah berumur 30 tahun, sungguh kau menggelikan Ira" ucap ustad Usman. Zahira sudah tersenyum senyum malu.


" Aku tidak mau tau, hari libur nanti, kau harus menyempatkan waktumu selama satu jam untuk mendapatkan pelajaran agama dariku titik, nanti aku yang akan bicara pada kakak kakakmu. Kalau kau menolak dan berusaha kabur, kau akan ku sered kerumah sakit bersama kakakmu" tutur ustad Usman.


" Untuk apa om mau membawaku ke rumah sakit?" tanya Zahira heran.


" Tentu saja untuk tes DNA dengan kakamu, aku tidak yakin kau adalah adiknya ustad Rasyid dan ustad brondong itu"


" Kenapa om tidak yakin?"


" Karna otakmu berbanding terbalik dengan mereka, kecerdasan mereka di atas rata sementara kecerdasanmu di bawah rata rata" ucap ustad Usman hingga Zahira mengerucutkan bibirnya sambil berlalu pergi.


" Baaay" ucap Zahira.

__ADS_1


"Baay juga" jawab ustad Usman.


" Astaghfirullah, asalamualaikum Ira bukan bay, lama lama aku ikutan selebor juga seperti dia" gerutu ustad Usman


__ADS_2