
Kini Riziq sudah berjalan menuju kantinya bi Ratna. Ia sudah selesai mengajar dan langsung pergi untuk menjemput Aisyah dan putra putrinya. Setelah sampai di kantin ia melihat Aisyah, umi Fadlun, bi Ratna dan Dewi sedang asik mengobrol.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Le, sudah selesai mengajarnya?" tanya Aisyah sambil mencium tangannya Riziq. Kini Riziq pun mencium tangannya umi Fadlun dan bi Ratna.
" Sudah uni, ayo kita langsung pulang, ayo umi nanti kita anterin" ucap Riziq. Umi Fadlun pun mengangguk sambil tersenyum.
" Bi kita pulang duluan ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Wi, jangan terlalu di fikirkan ya omongannya ka Usman" pinta Aisyah.
" Kau tenang saja Aisyah, karna mulai besok aku akan mulai diet" jawab Dewi tegas.
" Kalau mau kurus, jangan minum obat diet ya, takutnya berbahaya dan akan berakibat buruk, kau cukup mengurangi porsi makan dan sering berolah raga" tutur umi Salamah.
" Terima kasih umi atas sarannya" ucap Dewi sambil tersenyum.
Riziq, Aisyah dan umi Fadlun pun pergi dari kantinnya bi Ratna. Riziq sudah mendorong kereta bayi bayinya. Di pertengahan jalan mereka melihat Zahira baru keluar dari kelasnya.
" Itu Ira baru keluar kelas" ucap Aisyah sambil menunjuk Zahira. Umi Fadlun pun melambai lambaikan tangannya pada Zahira. Seketika Zahira yang melihat pun langsung tersenyum dan berlari menghampiri mereka.
" Ka"
" Kau sudah belajarnya Ira?" tanya umi Fadlun sambil membelai kepalanya Zahira.
" Sudah umi, kalian mau pulang ya"
" Kamu pulang sama umi ya, nginep di rumahnya umi" ucap umi Fadlun. Zahira pun mengangguk. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.
" Pelajaran apa yang kau dapat hari ini?" tanya Riziq.
" Eeee, banyak, ustadzah ulfi banyak memberikan materi baru" jawab Zahira.
" Ada yang menempel di otakmu?" tanya Riziq kembali. Zahira pun menggelengkan kepalanya sambil cengengesan.
" Semuanya lolos tanpa sisa" jawab Zahira.
" Astaghfirullah alazim" ucap mereka yang menggelengkan kepalanya masing masing.
" Besok adalah hari libur kau datang lah ke rumah, kita belajar bersama, sekalian kau ajak kakak iparmu yang ganjen itu, ternyata kecerdasannya sebelas dua belas denganmu" ucap Riziq pada Zahira. Seketika Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya setelah Riziq mengatakan kecerdasannya sebelas dua belas dengan Zahira. Riziq yang melihat raut wajah Aisyah yang sedikit kesal pun langsung tersenyum.
" Uni kenapa wajahmu nampak menggemaskan seperti itu, sepertinya kau nampak senang setelah mendengar ucapanku barusan" ucap Riziq sambil tersenyum senyum sambil menggoda istrinya.
" Terima kasih atas pujiannya" ucap Aisyah sambil cemberut. Tiba tiba Zahira tertawa tawa.
" Ka Riziq tidak memujimu tapi dia mengataimu bodoh, hi hi hi" ucap Zahira sambil di bumbui tawa di akhir kalimatnya. Hingga Aisyah semakin mengerucutkan bibirnya.
" Kau tau Ira, kakak iparmu sangat pintar dalam suatu pelajaran, dan kau tau pelajaran ala itu" ucap Riziq pada Zahira. Zahira pun mengangguk sambil tersenyum senyum.
" Aku tau ka. Dia sangat pintar menggoda dan merayumu" ucap Zahira sambil cekikikan.
" Iraaaaaaa" geram Aisyah. Umi Salamah pun tersenyum melihat mereka, ia seperti punya keluarga yang lengkap, punya anak laki laki dan anak perempuan dan menantu yang baik serta cucu cucu yang menggemaskan. Ia merasa lengkap dengan hidupnya meski mereka tidak ada hubungan darah dengannya.
" Terima kasih ya Allah, kau telah menghadirkan mereka dalam hidupku" batin umi Fadlun.
" Kenapa umi?" tanya Aisyah yang heran melihat ekspresinya umi Fadlun.
" Entah kenapa umi merasa sempurna memiliki kalian" ucap umi Fadlun. Riziq dan Aisyah pun tersenyum.
" kita juga beruntung punya umi yang selalu sayang sama kita. Aku dan Aisyah adalah yatim piatu, tapi kami tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, umi Fadlun dan umi Salamah sudah benar benar membuat kami merasa punya orang tua yang utuh" tutur Riziq sambil merangkul pundak umi Salamah dan berjalan berdampingan. Aisyah pun mengangguk. Umi Fadlun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke pundak putra angkatnya itu.
Setelah sampai di rumahnya umi Fadlun.
" Ira, kau jangan merepotkan umi, ingat ya bersikaplah sesuai umurmu, awas ya kalau kau curhat tentang Yusuf pada umi, aku tidak akan segan segan menggantungmu di pohon mangganya ustad Azam" tutur Riziq dengan sedikit mengancam adik perempuannya.
" Iya iya" ucap Zahira sedikit mengerucutkan bibirnya.
" Umi kita duluan ya asalamualaikum" ucap Aisyah sambil mencium tangannya umi Fadlun. Sebelum pergi Zahira pun sempat menciumi pipi pipi keponakannya itu.
" Daah Adam dan Hawa" ucap Zahira sambil melambai lambaikan tangannya. Kini Riziq lah yang menggandeng Aisyah menuju rumahnya.
* * * * * * *
Keesokan harinya. Zahira sudah bersiap ke rumahnya Riziq. Ia sudah berdandan imut dan menggemaskan sesuai usianya. Zahira memang suka berdandan sesuai umurnya, hanya saja sikapnya itu yang sering keluar jalur. sikapnya selalu lebih dewasa dari umurnya. Zahira pun keluar dari kamarnya umi Fadlun.
" Gimana umi penampilanku, apa sudah nampak menarik?" tanya Zahira.
" Kau nampak cantik dan manis" jawab umi Fadlun sambil mencubit pipinya Zahira gemas.
" Umi tau kenapa aku bisa nampak cantik dan manis"
" Kenapa memangnya?" tanya umi Fadlun.
__ADS_1
" Kata orang aku sangat mirip dengan kakak kakaku, aku cantik karna menurun dari ka Rasyid yang tampan, aku manis karna menurun dari ka Riziq yang nampak begitu manis" ucap Zahira sambil tersenyum.
" Kau memang sangat mirip dengan kakak kakakmu" ucap umi Fadlun sambil membelai pipinya Zahira.
" Ayo kita berangkat" ajak umi Fadlun.
" Ayo, eh tapi penampilan aku udah benar benar cantik kan umi, aku takut di jalan ketemu ka Yusuf, nanti kalau penampilanku kurang ok, bukankah itu sangat memalukan" tutur Zahira. Umi Fadlun pun mengeryitkan keningnya. Mereka pun berjalan menuju rumahnya Riziq. Di perjalanan mereka benar benar bertemu dengan Yusuf yang sedang berolah raga.
" Asalamualaikum ka Yusuf" Zahira mengucap salam sambil tersenyum senyum dan berhenti di hadapannya Yusuf. Zahira sudah melemparkan senyuman menggemaskannya.
" Waalaikum salam" jawab Yusuf sambil menundukan kepalanya.
" Dari mana Suf?" tanya umi Fadlun.
" Dari lapangan olah raga Mi" jawab Yusuf.
Umi Fadlun pun tersenyum.
" Ya sudah kita pergi dulu ya. Asalamualaikum" ucap umi Fadlun.
" Waalaikum salam"
" Mi ko pergi sih, kita ngobrol ngobrol dulu ya sama ka Yusuf" protes Zahira. Umi Fadlun hanya menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan perjalanan menuju rumahnya Aisyah. Zahira hanya bisa mengerucutkan bibirnya sambil mengekori umi Fadlun. Yusuf hanya terdiam menatap kepergian mereka.
Sesampainya di rumah Aisyah. Umi Fadlun pun mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Asalamualaikum"
Namun tidak ada jawaban dari Aisyah maupun Riziq. Mereka pun kembali mengetuk ngetuk pintu. Namun masih tak ada yang menjawab salam apalagi membukakan pintu.
" Apa mereka pergi ya" ucap umi Fadlun.
" Tidak mungkin umi, ka Riziq yang menyuruhku kemari, tidak mungkin dia pergi" ucap Zahira. Zahira pun perlahan membuka pintu, ternyata pintunya tidak di kunci. Zahira pun masuk sementara umi Fadlun menunggu di luar.
" Kaa"
Zahira mencari cari kakaknya itu namun tidak ada di kamar dan ruang tamu. Ia pun berjalan menuju dapur. Ternyata Riziq dan Aisyah sedang ada di dapur. Kini Riziq sedang asik menyisir rambut istrinya kadang ia mengunyel unyel pipinya Aisyah dengan gemasnya seperti menguyel uyel pipinya Adam dan Hawa. Zahira pun terdiam sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Dari tadi aku ketuk ketuk pintu ternyata lagi mesra mesraan di dapur. hadeuuuh" batin Zahira.
" HADEEEEEUH, aku sedari tadi ketuk ketuk pintu sambil mengucap salam, pantas saja tidak ada jawaban, ternyata kalian sedang asik main salon salonan plus plus" ucap Zahira sambil berkacak pinggang. Riziq dan Aisyah terkejut dengan kedatangannya Zahira. Bahkan Aisyah sempat meloncat.
" Eh bocah semprul kau datang dari mana tiba tiba sudah ada disini?" tanya Riziq heran. Aisyah sudah memakai kerudungnya kembali.
" Aku datang dari kayangan" jawab Zahira.
" Sama umi Fadlun. Ya ampun, aku lupa umi menunggu di depan"
Aisyah pun pergi ke depan dan menyuruh umi Fadlun masuk.
" Maaf umi aku tidak mendengar salam" ucap Aisyah. Mereka pun berkumpul di ruang tamu. Setelah ngobrol ngobrol, Riziq pun mengajak Aisyah dan Zahira untuk belajar bersamanya. Aisyah dan Zahira sudah duduk di hadapannya Riziq. Sementara umi Fadlun sedang asik menjaga Adam dan Hawa, posisinya tidak begitu jauh dari posisinya Riziq.
" Ka bukannya hari libur itu jatahnya om ustad untuk memberiku les tambahan" ucap Zahira.
" Ustad Usman sedang sakit, kemarin dia tertabrak busway"
Zahira pun terkejut.
" Benarkah?, apa orang seperti om ustad bisa sakit juga?" tanya Zahira.
" Ira, kakaku kan manusia bukannya dedemit" jawab Aisyah. Zahira sudah cekikikan.
" Kupikir dia dedemit, karna saat aku menanyakan apa hadiah kalau aku menang pertandingan bola itu dia malah jawab hadiahnya adalah tiket menuju alam gaib" jawab Zahira. Umi Fadlun pun tersenyum senyum mendengar ucapannya Zahira.
" Sudah sudah kita mulai belajarnya" ucap Riziq. Riziq sudah mengajarkan beberapa materi pada Aisyah dan Zahira. Aisyah sudah mengangguk ngangguk sementara Zahira malah menggeleng geleng.
" Kenapa kau menggeleng geleng terus?" tanya Riziq.
" Aku kurang mengerti ka" jawab Zahira. Riziq sudah menghela nafas panjang, ia berusaha sabar untuk mengajari adik perempuannya itu.
" Sekarang aku tanya apa sesuatu yang bisa bernafas namun tidak mempunyai ruh" ucap Riziq memberi pertanyaan. Aisyah sudah mulai berfikir. Begitu pun dengan Zahira.
" Bukankah sesuatu yang bernafas itu pasti mempunyai ruh" ucap Aisyah.
" Otaku hanya memutar mutar di tempat saja, seolah tidak ada jaringan internet dan sekaratnya kuota" jawab Zahira. Riziq dan Aisyah sudah mengeryitkan kening masing masing.
" Apa yang kau katakan Ira" ucap Riziq tak mengerti. Umi Fadlun sudah tertawa tawa tanpa suara.
" Jawaban warisanmu Le, sungguh unik, dia mengait ngaitkan pertanyaanmu dengan kuota internet" bisik Aisyah. Riziq sudah memicingkan matanya pada Aisyah. Aisyah langsung tersenyum getir.
" Kau tau jawabannya uni?" tanya Riziq. Aisyah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja.
" Ternyata kau memang tidak ada bedanya dengan Zahira" ucap Riziq dengan nada mengejek. Seketika Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya. Sementara Zahira sudah cekikikan membuat Aisyah memicingkan matanya pada adik iparnya itu.
" Memangnya apa jawabannya?" tanya Aisyah.
__ADS_1
" Jawabannya waktu subuh" ucap Riziq sambil menjelaskan secara detailnya. Aisyah pun mengangguk.
" Coba Ira kau bacakan surah An nas" pinta Riziq. Zahira pun tersenyum karna ia sudah hafal, meskipun ustad Usman mengajarinya dengan banyak kekonyolan dan kejengkelan, namun ia benar benar bisa membuat Zahira hafal dengan beberapa surat.
Zahira pun dengan lantang membacakan surah An nas, meskipun panjang pendeknya belum sepenuhnya benar. Riziq pun dengan sabar mengajarkan tadzwid.
" Surat An nas ada berapa ayat Ira?" tanya Riziq.
" 6 ayat"
" Lalu artinya apa?" tanya Riziq kembali.
" Artinya pembukaan" jawab Zahira. Aisyah dan Riziq langsung menyipitkan matanya.
" Pembukaan itu arti dari surah al Fatihah, bukan arti dari surah An nas" ucap Riziq.
" Lalu arti dari surah An nas apa?" tanya Zahira.
" Kau tanyakan pada kakak iparmu itu, kalau sampai dia tidak tau jawabannya, bilang padanya dia akan mendapatkan hukuman dariku" tutur Riziq. Aisyah sudah menyipitkan matanya.
" Aku boleh tau hukuman apa yang akan kau berikan pada ka Aisyah?" tanya Zahira.
" Kau tidak perlu tau hukuman apa yang akan ku berikan pada Aisyah, karna kau belum cukup umur"
Zahira langsung mengeryitkan keningnya setelah mendengar ucapannya Riziq.
" Aku tau kau pasti menyuruhnya untuk menggodamu, itu kan hukuman yang akan kau berikan pada ka Aisyah"
Kini Riziq lah yang mengeryitkan keningnya.
" Bagaimana bocah semprul ini mengetahui isi fikiranku" batin Riziq.
"Kalau ka Riziq memberikan hukuman seperti itu pada ka Aisyah, otomatis ka Aisyah akan mendadak amnesia" ucap Zahira.
" Apa maksudmu ira?" tanya Aisyah.
" Meskipun ka Aisyah tau jawabannya, kau pasti akan pura pura tidak tau supaya ka Aisyah bisa di hukum oleh kakaku" tutur Zahira. Riziq langsung tertawa. Hingga Aisyah memicingkan matanya pada adik iparnya itu dengan sedikit menggeram.
" Ira sepertinya kau sangat tau ya kalau kakak iparmu itu sangat genit padaku" ucap Riziq dengan nada mengejek membuat Aisyah mengerucutkan bibirnya.
" Aku tau jawabannya" ucap Aisyah tegas.
" Apa?"
" Jawabannya manusia" jawab Aisyah.
Riziq pun tersenyum.
" Jawabanku benar kan?, jadi kau tidak perlu repot repot untuk menghukumku" ucap Aisyah sambil menatap garang suaminya. Riziq pun mengangguk tersenyum. Tiba tiba Riziq menarik ujung kerudungnya Aisyah hingga Aisyah mendekat padanya.
" Kau memang lolos dari hukuman uni, kau tidak perlu repot repot menggodaku, karna nanti malam akulah yang akan menggodamu" bisik Riziq sambil tersenyum senyum hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya. Saat Riziq melepaskan ujung kerudungnya Aisyah. Ia terheran melihat Zahira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aisyah pun ikut terheran apalagi saat ia melihat umi Fadlun sedang tersenyum senyum sambil menundukan wajahnya. Ada rasa malu yang mendera Riziq dan Aisyah. Mereka tidak menyangka kalau Zahira dan umi Fadlun mendengar bisikannya Riziq.
" Sekarang aku beri pertanyaan untuk kalian, kalau kalian bisa menjawab dengan benar, ku beri kalian hadiah" ucap Riziq.
" Jangan memberi pertanyaan yang aneh aneh" pinta Aisyah.
"Apa pertanyaannya?"
" Dengarkan pertanyaannya baik baik" pinta Riziq.
" Sebutkan 1 yang tidak akan ada 2nya. 2 yang tidak akan ada 3nya. 3 yang tidak akan ada 4nya. 4 yang tidak akan ada 5nya. 5 yang tidak akan ada 6nya. 6 yang tidak akan ada 7nya. 7 yang tidak akan ada 8nya. 8 yang tidak akan ada 9nya. 9 yang tidak akan ada 10 nya dan 10 yang tidak akan ada 11nya. 11 yang tidak akan ada 12nya. 12 yang tidak akan ada 13nya" ucap Riziq memberi pertanyaan.
Zahira sudah menganga mendengar pertanyaan tak masuk akal dari kakaknya.
Deg.
Aisyah terdiam mendengar pertanyaan dari suaminya itu. itu kedua kalinya ia mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dulu 7 tahun yang lalu ustad Rasyid pernah memberikan pertanyaan itu padanya, namun Aisyah hanya bisa menjawab dua pertanyaan. Yang kesatu pertanyaan yang pertama dan yang kedua pertanyaan yang terakhir. Dan pada kenyataannya kini pertanyaan itu di lontarkan lagi padanya oleh orang yang berbeda.
" Uni kau tau jawabannya?" tanya Riziq.
Aisyah hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin bilang pada Riziq kalau ia pernah mendapatkan pertanyaan itu dari kakaknya.
" Aku tidak tau Le"
" Ira kau tau jawabannya?" tanya Riziq.
" Aku sungguh tidak tau ka, kenapa kau memberi pertanyaan seperti itu padaku, bukankah kau tau kalau kecerdasanku di bawah rata rata, buatku itu bukan pertanyaan tapi sebuah penyakit" ucap Zahira.
" Penyakit?, apa maksudnya?" ucap Aisyah tak mengerti.
" Mendengar pertanyaan dari ka Riziq membuat kepalaku jadi mendadak migren" ucap Zahira. Aisyah sudah tertawa tawa namun Riziq malah mengeryitkan keningnya.
" Ira kau masih untung cuma mendadak migren, aku mendengar pertanyaan itu mendadak amnesia" ucap Aisyah. Tiba tiba mereka berdua tertawa.
" Astaghfirullah, ternyata otak kita memang sebelas dua belas"
" Aku beri pertanyaan itu, kalian jadikan pr ya, kau boleh tanya pada siapaun, nanti kalau sudah dapat jawabannya hubungi aku, nanti kalau jawabannya benar, kalian boleh mengajukan hadiah padaku" tutur Riziq.
__ADS_1
" Kira kira om ustad yang lulusan kairo itu tau tidak ya jawabannya" ucap Zahira. Aisyah pun langsung terdiam.
" Ustad Rasyid pernah melontarkan pertanyaan itu padaku, itu artinya dia tau jawabannya, tapi aku tidak mungkin minta jawabannya pada ustad Rasyid, bukannya mendapatkan jawabannya aku pasti malah di beri hukuman" batin Aisyah.