Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Belajar.


__ADS_3

Hari libur pun tiba. Aisyah sudah menunggu Zahira di persimpangan jalan. Mereka sudah berencana untuk pergi ke rumahnya ustadzah Yasmin. Kebetulan Riziq sedang pergi berkumpul dengan para pengajar lain di aula. Karena itu Aisyah memberanikan diri berkunjung ke rumah kakak iparnya, karna ustad Rasyid pun pasti tidak ada di rumah.


Tidak lama kemudian Zahira datang dengan senyuman bahagianya sambil berlenggak lenggok centil.


" Haaai ka Aisyah asalamualaikum" sapa Zahira penuh semangat.


" Waalaikum salam, sepertinya kau sangat senang hari ini?" tanya Aisyah.


" Tentu saja"


" Kenapa?"


" Beberapa hari yang lalu aku ke rumahnya ka Yusuf, aku memasak bersama calon mertuaku, ustadzah Ulfi, mereka semua sangat baik" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah memicingkan matanya.


" Dan kau tau bagaimana rasa masakanmu?" tanya Aisyah.


" Hmmm, pasti enaklah"


" Memangnya kau mencoba masakanmu itu?" tanya Aisyah.


" Tidak, entah kenapa ustadzah Ulfi melarangku untuk memakannya, mungkin karna masakanku terlalu enak, jadi keluarganya ka Yusuf ingin memakan itu sampai puas" jawab Zahira. Aisyah sudah mengeryitkan keningnya.


" Kau tau, masakanmu hancur berkeping keping. Rasa gurihnya terbang ke arah barat, rasa manisnya terbang ke arah timur, rasa asinnya menempel kuat di permukaan lidah hingga menghadiahkan rasa mual yang mulai menari nari di dalam perut, dan akhirnya menghasilkan sesuatu yang keluar di dalam mulut" tutur Aisyah.


" Apa itu sebuah puisi?" tanya Zahira tak mengerti. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.


" Astaghfirullah, kecerdasan otaknya level berapa sih, di sindir begitu saja dia tak mengerti" batin Aisyah.


" Terserah kau mau mengerti atau tidak, yang jelas kau harus ingat ya Ira, kau adalah seorang perempuan, apalagi usiamu masih di bawah umur, tidak baik kau bersikap genit seperti itu, apalagi sampai kau datang kerumah seorang laki laki, itu sangat memalukan Ira, kau jangan merendahkan dirimu seperti itu, kau tau kakakmu Riziq sampai malu pada ustadzah Ulfi, jangan sampai dia marah karna kelakuanmu, karna kalau dia benar benar marah, kau pasti akan di gantung di atas pohon" tutur Aisyah. Zahira pun bergidik ngeri mendengar kalimat terakhir yang Aisyah ucapkan.


" Kau takut?" tanya Aisyah.


" Hmmm" ucap Zahira sambil mengangguk nganggukan kepalanya.


" Ya sudah kalau kau takut, sekarang kita ke rumahnya ustadzah Yasmin ya" ajak Aisyah. Zahira pun mengangguk.


Mereka pun berjalan menuju rumahnya ustadzah Yasmin. Di jalan Zahira terus berdendang ria tanpa rasa malu.


" Trala la la la la la. . . ."


" Trili li li li li li li li. . . . ."


" Brisik Ira"


Zahira pun mengerucutkan bibirnya.


" Ikh tidak mengerti seni" gerutu Zahira.


Sesampainya di rumah ustadzah Yasmin, Zahira pun mengetuk pintu.


Tok tok tok


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Kini Syakir sudah membuka pintu, ia tersenyum melihat mereka.


" Tante Ira, bibi Aisyah" ucap Syakir, lalu dengan gemasnya Syakir mengunyel ngunyel pipinya Adam dan Hawa. Perlahan ustadzah Yasmin pun menghampiri mereka.


" Masuk" ajak ustadzah Yasmin. Mereka pun masuk. Adam dan Hawa sudah di baringkan di kasur busa kecil milik Syakir. Syakir terus saja menggoda sepupu sepupunya itu. Saat ustadzah Yasmin masuk kamar, diam diam Syakir mengambil mainan di kamarnya, setelah itu ia memberikannya pada Adam dan Hawa, sebuah mobil mobilan untuk Adam dan sebuah boneka untuk Hawa.


" Mainan punya kamu itu Syakir?" tanya Aisyah.


" Bukan, dulu mainan ini di beli abi khusus untuk Adam sama Hawa, tapi saat abi ingin memberikannya pada mereka, tiba tiba umi melarangnya" ucap Syakir sambil berbisik. Aisyah pun terdiam.


" Kenapa umimu melarangnya" tanya Zahira kepo.


" Kau jangan ingin selalu tau urusan orang lain, umurmu belum cukup untuk memahaminya" ucap Aisyah hingga Zahira mengeryitkan keningnya.


" Apa maksudmu membawa bawa usia segala, ka Aisyah fikir Syakir sudah dewasa hingga ia bisa memahaminya sementara aku tidak" protes Zahira.


" Pada kenyataannya, meskipun umur Syakir tiga kali lipat darimu, tapi dia lebih cerdas dibanding denganmu. Kecerdasan Syakir sudah berada di level 3, sementara kecerdasanmu masih di level satu, itu pun kecerdasanmu sudah berkedap kedip, artinya level satu pun belum pas, masih oleng" tutur Aisyah. Zahira hanya mengererucutkan bibirnya.


" Kau sungguhenyebalkan ka Aisyah" gerutu Zahira. Tiba tiba ustadzah Yasmin menghampiri mereka.


" Boleh aku menggendong Hawa?" tanya ustadzah Yasmin.


" Tentu"


Setelah mendapat izin, ustadzah Yasmin langsung menggendong Hawa, karna sudah lama ia mendambakan anak perempuan.


" Ka Yasmin sudah belanja bahan makanan?" tanya Zahira.


" Sudah"


" Asik, aku akan membantumu memasak, ka Yasmin tau beberapa hari yang lalu aku memasak di rumah calon mertuaku dan hasilnya sangat memuaskan" tutur Zahira sambil tersenyum senyum.


" Memangnya siapa calon mertuamu?" tanya ustadzah Yasmin.


" Jangan di dengar, terkadang ira suka bermimpi disaat tidak sedang tidur" ucap Aisyah hingga Zahira cemberut.


" Kau beneran bisa masak Ira?" tanya ustadzah Yasmin kembali.


" Tentu saja, kemarin saja keluarganya Yu,"


Belum saja Zahira menyelesaikan ucapannya, Aisyah sudah membungkam mulutnya dengan tangan kirinya.


" Kau jangan lupa dengan hasil masakanmu itu, aku saja sampai muntah muntah dan sampai dikira dedemit di kamar mandi gara gara makan masakanmu yang sudah seperti permen nano nano itu" bisik Aisyah. Zahira malah tersenyum.


" Ya sudah, ayo kita masak" ucap ustadzah Yasmin.


" Ustadzah ustirahat saja, biar aku dan Zahira yang masak, lagian kata dokter, kau butuh istirahat pul, agar bayimu tidak kenapa napa" tutur Aisyah. Ustadzah Yasmin pun mengangguk.


Aisyah dan Zahira pun sudah siap berperang di dapur sambil memakai celemek masing masing. Zahira sudah memegang pisau, sementara Aisyah sudah memegang penggorengan.


" Kau sudah siap Ira?" ucap Aisyah.


" Siaaaaap"

__ADS_1


Mereka pun berkutat di dapur hampir satu jam. Sementara ustadzah Yasmin dan Syakir duduk di ruang tamu menjaga Adam dan Hawa. Setelah selesai memasak.


" Ira kau panggil ustadzah Yasmin" pinta Aisyah.


" Hmmm"


Zahira pun menghampiri kakak iparnya itu.


" Ka masakannya sudah selesai, kakak mau makan sekarang?" tanya Zahira pada ustadzah Yasmin.


" Nanti saja, kakakmu belum pulang, aku akan makan dengannya, kalau kalian mau makan, kalian duluan saja" ucap ustadzah Yasmin. Zahira pun kembali ke dapur.


" Ka, ka Yasmin makannya nanti kalau ka Rasyid sudah pulang" ucap Zahira.


" Ya sudah tidak apa apa kau makan dengan Syakir saja" ucap Aisyah.


" Memangnya ka Aisyah tidak makan?"


" Ka Aisyah makannya nanti nunggu ka Riziq di rumahnya umi" jawab Aisyah.


" Ya sudah aku pun makannya nanti nunggu ka Yusuf" jawab Zahira.


" Untuk apa kau menunggu Yusuf, sampai kau mati kelaparan pun Yusuf tidak akan kemari. Sudah kalian makan berdua, yang banyak makannya"


" Kenapa semua orang selalu menyuruhku makan yang banyak, aku kan tidak mau badanku selebar ka Dewi" ucap Zahira. Tiba tiba Syakir tertawa.


" Eh kenapa kau tertawa?" tanya Zahira pada Syakir.


" Lucu ya kalau tante Ira badannya kaya tante Dewi" ucap Syakir sambil tertawa tawa. Zahira langsung memicingkan matanya pada Syakir.


" Umi aku mau di telan sama tante Ira" teriak Syakir mengadu.


"Ssstttth, jangan berisik ayo habiskan makanannya" pinta Aisyah.


Setelah selesai makan dan berberes di dapur, tiba tiba terdengar suara ustad Rasyid mengucap salam.


" Astaghfirullah alazim" ucap Aisyah.


" Loh ka, bukannya kalau jawab salam itu harus waalaikum salam bukan astaghfirullah alazim" ucap Zahira.


"Sssttth jangan berisik, ayo kita pergi ke rumahnya umi, lewat pintu belakang" ucap Aisyah sambil berbisik.


" Kenapa harus lewat pintu belakang?" tanya Zahira heran.


" Sudah jangan banyak tanya, ikut ka Aisyah saja"


" Hmmm"


Sebelum pergi, Aisyah dan Zahira pun mengambil Adam dan Hawa.


" Ustadzah, kami pulang dulu ya, sepertinya suamimu sudah pulang, kami lewat belakang saja asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab ustadzah Yasmin.


" Tapi ka Aisyah, sandal kita kan di depan" ucap Zahira.


" Biarkan saja besok kita kesini lagi" jawab Aisyah sambil mendorong kereta bayi menuju pintu belakang, tiba tiba ustadzah Yasmin memanggilnya.


Seketika Aisyah langsung membalikan wajahnya pada ustadzah Yasmin.


" Terima kasih" ucap ustadzah Yasmin. Aisyah pun mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun keluar lewat pintu belakang, tiba tiba Aisyah terserimpet dengan Zahira hingga keningnya terjedot pintu.


" Allahu akbar" ucap Aisyah sambil meringis.


" Ka kau tidak apa apa?" tanya Zahira.


" Sssttth ayo kita pergi dari sini"


Dan pada akhirnya mereka pergi lewat pintu belakang, karna Aisyah tidak mau sampai bertemu dengan ustad Rasyid, selain ia menjaga perasaannya ustadzah Yasmin, ia juga harus menjaga perasaannya Riziq. Mereka pun berjalan menuju rumahnya umi Salamah tanpa memakai sandal.


" Ka aku boleh bertanya sesuatu?" ucap Zahira.


" Kau mau tanya apa Ira?"


" Kenapa kau seperti menghindar dari ka Rasyid?" tanya Zahira kembali. Aisyah pun langsung terdiam.


" Kenapa kau bicara seperti itu?"


" Karna itu yang aku rasakan" jawab Zahira.


" Usiamu masih di bawah umur, kau tidak akan mengerti" ucap Aisyah sambil berjalan kembali. Zahira hanya mengeryitkan keningnya.


" Aku sungguh tidak mengerti dengan kalian, tapi sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu dariku" batin Zahira.


" Ka boleh aku tanya sekali lagi?"


" Kau seperti wartawan saja banyak pertanyaannya" ucap Aisyah. Zahira pun hanya tersenyum senyum.


" Memangnya kau mau bertanya apa?"


" Berapa selisih usiamu dengan ka Riziq?" tanya Zahira penasaran. Seketika Aisyah langsung menghentikan langkahnya dan langsung menatap Zahira.


" Apa maksudmu bertanya seperti itu"


" Aku tidak sengaja menemukan foto ka Aisyah dan ka Riziq di kamarnya ka Riziq yang ada di rumahnya ka Rasyid, dan diam diam aku mencurinya" ucap Zahira sambil memperlihatkan foto itu yang ia ambil dari kantong bajunya. Aisyah langsung menatap foto itu.


" Ini foto 6 tahun yang laku kan?" tanya Zahira.


" Hmmm"


" Lalu berapa selisih usiamu?" tanya Zahira penasaran.


" Sepertinya kau sangat penasaran ya dengan perbedaan umur kami"


Zahira pun malah cengengesan.


" Baiklah ka Aisyah jawab, aku memang lebih tua dari kakakmu, umurku 5 tahun lebih tua darinya" jawab Aisyah. Tiba tiba Zahira tertawa terbahak bahak mendengar jawabannya Aisyah. Hingga Aisyah menggeram kesal padanya.


" Kenapa kau tertawa seperti itu?" tanya Aisyah sedikit kesal.

__ADS_1


" Tidak apa apa, lucu saja, pantas saja si om ustad memanggil ka Riziq dengan sebutan ustad berondong, ha ha ha" Zahira tertawa puas sementara Aisyah sudah mengerucutkan bibirnya.


" Jangan tertawa terus, ayo kita ke rumahnya umi, bukankah kau akan mendapatkan hadiah dari ka Usman"


" Bukan hadiah tapi hukuman" ucap Zahira sambil melangkahkan kembali kakinya.


Sesampainya disana, Riziq dan ustad Usman sudah berada di rumahnya umi Salamah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Le kau sudah di sini, maaf aku datang terlambat, baru selesai membantu ustadzah Yasmin" ucap Aisyah.


" Kalian kenapa tidak memakai sandal?" tanya ustad Usman.


" Biar terhindar dari penyakit rematik" jawab Zahira. Riziq dan ustad Usman pun mengeryitkan keningnya. Zahira dan Aisyah pun duduk bersama mereka.


" Uni, kenapa keningmu merah begini?" tanya Riziq.


" Ia ka Aisyah kejedot pintu, gara gara pulang lewat pintu belakang, hanya untuk tidak bertemu ka Rasyid, aneh kan" ucap Zahira. Riziq pun langsung menatap Aisyah. Aisyah sudah memicingkan matanya pada Zahira ingin sekali rasanya ia menarik telinganya Zahira karna sudah berani bicara seperti itu.


Riziq sudah mengelus lembut keningnya Aisyah, sesekali ia meniupi kening istrinya itu.


" Le, kau sudah makan?" tanya Aisyah. Riziq pun menggelengkan kepalanya.


" Ayo aku masakain sesuatu di dapurnya umi, kebetulan aku juga belum makan" ucap Aisyah sambil mengajak Riziq ke dapur. Sementara Adam dan Hawa sudah di pangku oleh umi Salamah di depan rumah, tidak jauh dari posisinya Zahira dan ustad Usman.


" Kau tidak lupa kan slebor kalau hari ini kau akan mendapatkan pelajaran tambahan dariku" ucap ustad Usman mengingatkan.


" Ingat om ustad aku ingat"


" Pelajaran apa yang paling sulit menurutmu?" tanya ustad Usman.


" Semuanya" jawab Zahira polos.


" Sudah bisa di tebak, kecerdasanmu kan di bawah rata rata, hingga kau bisa menjadi murid fenomenal di kelasmu yang super duper fantastis itu. Lalu pelajaran apa yang kamu sukai?"


" Fisika" jawab Zahira. Ustad Usman terkejut dengan jawabannya Zahira.


" Eh slebor, tidak ada pelajaran Fisika disini" gerutu ustad Usman. Umi Salamah hanya senyam senyum saja melihat mereka.


" Sekarang aku tanya pelajaran apa yang menurutmu paling sulit?"


" Aku tidak bisa menghafal surat Al ikhlas" jawab Zahira sambil menundukan kepalanya.


" Apaaaaa, kau belum hafal surat Al ikhlas?" tanya ustad Usman tak percaya. Zahira pun menggelengkan kepalanya.


" Cuma 4 ayat kau belum bisa?" tanya ustad Usman kembali.


" Hmmm"


" Astaghfirullah alazim, dosa apa sès Erni saat melahirkanmu, kakak kakakmu semuanya guru pengajar, kau sampai belum hafal surat Al ikhlas, sungguh miris nasibmu Ira" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


" Aku kan terlambat di temukan oleh kakak kakaku. Tapi aku sudah hafal ayat pertama" ucap Zahira.


" Ya sudah, coba kau bacakan ayat pertama" pinta ustad Usman.


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"


" Waalaikum salam" jawab ustad Usman. Namun saat ia sadar.


"Astaghfirullah, eh slebor bukan mengucap salam, tapi mengucap bismilah dulu. Ya Allah dosa apa aku punya murid sepertimu" ucap ustad Usman sambil mengelus ngelus dadanya.


" Om ustad saja menjawab salamku, jadi bukan aku saja yang salah, kau pun juga salah" jawab Zahira.


" Astaghfirullah, lama lama aku ikutan gila juga seperti si slebor" gumam ustad Usman. Umi Salamah sudah tersenyum senyum melihat mereka.


" Ya sudah coba kau bacakan yang satu ayat itu, sebelumnya kau baca bismilah dulu"


" Baik. Ehm ehm"


" Gak usah pake ehm ehm segala, langsung saja bacakan" ucap ustad Usman.


" Audzubillahiminasyaiton nirojim bismilahirahmanirrohim. Alhamdulillah hirabbil alamin"


" Eh slebor, itu surat Al fatihah bukan Al ikhlas. Astaghfirullah, itu artinya kau belum bisa satu ayat pun, ya allah ngidam apa ibumu waktu hamil" ucap ustad Usman sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Zahira sudah tersenyum malu, sementara umi Salamah sudah cekikikan.


" Aku belum hafal, makanya aku minta diajarkan, biar aku tidak di hukum calon ibu mertuaku" ucap Zahira.


" Siapa calon ibu mertuamu?" tanya ustad Usman heran.


" Tentu saja ustadzah Ulfi"


Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya.


" Mimpi apa udtadzah Ulfi punya calon menantu sepertimu" ledek ustad Usman.


" Om ustad jangan mehinaku seperti itu, aku ini termasuk kriteria menantu idaman" jawab Zahira.


" Iya iya sakarepmu lah"


tiba tiba Riziq dan ustad Soleh keluar dari dalam rumah.


" Man kau mau ikut ke kebun?" tanya ustad Soleh. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya melihat ustad Soleh.


" Nanti aku menyusul"


" Asalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Riziq dan ustad Soleh pun pergi ke kebun. Kini Aisyah sudah duduk bersama umi Salamah.


" Ira, kenapa kau seperti tidak suka melihat kakaku?" tanya ustad Usman.


" Ustad Soleh yang telah menjebloskanku ke kelas fantastis itu hingga aku menjadi murid fenomenal disana" gerutu Zahira kesal.


" Kakaku tidak salah menempatkanmu di kelas itu, kecerdasanmu kan di bawah rata rata. Jadi kau pantas bersemayam di kelas itu" ujar ustad Usman. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


" Adik sama kakak sama saja, sama sama menyebalkan"


__ADS_2