Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Ngidam part 1


__ADS_3

Ketika Riziq pulang mengajar, ia pun bertemu dengan ustad Rasyid.


" Asalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


" Baru pulang juga Ang?" tanya Riziq.


" Hari ini Aang mengajar 2 mata pelajaran. Mau pulang dulu, setelah itu balik lagi mengajar. Ziq aang dengar, Aisyah hamil ya?. Selamat ya kamu akan jadi seorang ayah."


" Terima kasih Ang" ucap Riziq sambil tersenyum. Setelah berpamitan Riziq pun berjalan kembali menuju rumah, ia sudah tak sabar ingin bertemu Aisyah dan mengelus perutnya.


Sesampsinya di rumah, Riziq sudah mengucap salam dan beberapa kali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.


" Asalamualaikum, Uni, aku pulang"


Karna tak ada jawaban, Riziq menjadi cemas dan khawatir dengan keadaan Aisyah. Lalu tanpa aba aba ia menyongkel jendela. Dan akhirnya Riziq masuk rumah melalui jendela.


" Uni" teriak Riziq sambil mencari cari Aisyah. Tiba tiba ia terdiam melihat Aisyah yang tertidur di kursi dapur. Perlahan Riziq menghampiri istrinya itu sambil mengelus lembut keningnya Aisyah.


" Sepertinya kau sangat lelah sekali hari ini"


Aisyah masih tak sadar dengan keberadaan Riziq, ia masih tertidur pulas.


" Hei ade bayi, kau baik baik ya dalam perut umi mu, jangan biarkan dia lelah dan cape. Kau beri dia semangat ya" Bisik Riziq pada perut Aisyah sambil mengelus ngelus perut Aisyah yang masih datar. Sesekali ia mencium perut istrinya itu. Perlahan Aisyah terbangun. la terkejut melihat Riziq ada di hadapannya.


" Le, kau sudah pulang?, kenapa kau bisa masuk, pintunya kan masih uni kunci?" tanya Aisyah heran. Riziq malah tersenyum.


" Memangnya uni tidak tau, semenjak aku akan menjadi ayah, entah kenapa tiba tiba aku mempunyai kekuatan. sekarang aku bisa menghilang dan bisa menembus pintu dengan kedipan mata" goda Riziq.


" Masaaa!"ucap Aisyah tak percaya. Riziq malah tertawa tawa.


" Astaghfirullah Le, aku lupa belum masak, maaf aku ketiduran." ucap Aisyah sedikit menyesal.


" Tidak apa apa uni"


" Uni beli aja ya, di rumah makannya bi Ratna" ucap Aisyah.


" Tidak usah repot repot uni, biar aku saja yang masak"

__ADS_1


Aisyah langsung mengeryitkan keningnya.


" Apa aku tidak salah dengar, dia mau memasak. cuma membantuku masak saja dia sudah menghancurkan masakanku, apalagi dia mau memasak sendiri, bisa bisa dia menghancurkan seisi dapur" gerutu Aisyah dalam hati.


" Jangan Le, biar aku saja yang masak. Kau kan baru pulang, pasti cape. Kau duduk manis saja biar uni yang masak"


" Uni takut aku akan menghancurkan masakanmu lagi?" tanya Riziq.


" Kau bukan hanya akan menghancurkan masakanku tapi kau juga menghancurkan selera makanku" ucap Aisyah. Riziq yang mendengar pun tertawa tawa saja. Dan akhirnya Aisyah memasak dengan di bantu Riziq. Dan hasilnya selalu sama, masakannya enak, namun bentuknya tak karuan tak enak di pandang. Setelah selesai makan, mereka pun ngobrol ngobrol di ruang tamu. Riziq sudah mengelus ngelus perutnya Aisyah. Karna sejak tau istrinya itu hamil, Riziq punya kebiasaan baru yaitu mengelus perut istrinya.


" Le, entah kenapa ya, aku ingin sekali memandang wajahnya kak Usman" ucap Aisyah sambil mengelus perutnya. hingga Riziq mengeryitkan keningnya merasa heran dengan ucapan istrinya itu.


" Kenapa ingin memandang wajahnya kak Usman, bukannya uni bilang, kalau melihat wajahnya kak Usman. Perut uni suka mual" ucap Riziq mengingatkan.


" Uni sendiri tidak tau, tiba tiba saja ingin memandang wajahnya kak Usman, mungkin uni ngidam" ucap Aisyah.


" Uni mau membuatku cemburu, kenapa harus memandang ka Usman, kenapa tidak memandang wajahku saja, sudah jelas wajahku lebih manis dari kak Usman" tutur Riziq.


" Yang ingin memandang kak Usman bukan uni, tapi bayi yang ada di dalam perutku" ucap Aisyah menjelaskan. Riziq sudah sedikit mendengus kesal, namun ia mencoba mengalah, karna itu adalah keinginan bayinya. Perlahan Riziq mengelus perut Aisyah kembali.


" Ade bayi, kalau ngidam itu yang sedikit berkualitas dong de, masa ngidamnya pengen memandang ustad Usman sih, seharusnya itu ngidamnya ingin memandang ustad MUHAMMAD RIZA, ustad SOLMED, atau paling ngga SYAKIR DAULAY. ltukan terdengar lebih keren di banding ustad Usman" ucap Riziq bicara pada calon bayinya. Aisyah hanya tersenyum senyum saja mendengar pertuturan Riziq pada calon bayinya itu.


" Uni yakin, ingin memandang wajahnya kak Usman?" tanya Riziq memastikan.


" Hmm" jawab Aisyah sambil mengangguk.


Seketika itu mereka langsung pergi ke rumahnya umi Salamah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab umi Salamah bersama kak Nisa. umi pun membuka pintu rumah, ia tersenyum melihat Aisyah.


" Eh ada Aisyah sama Riziq. Ayo masuk" pinta umi Salamah. Aisyah dan Riziq pun masuk ke dalam.


" Mi, ka Usman ada? " tanya Riziq sambil mencaricari ustad Usman.


" Ada di kamarnya"


Tidak lama kemudian ustad Usman pun keluar.

__ADS_1


" Eh, ada Aisyah sama Riziq. Cieeee, calon ibu dan ayah baru"ucap ustad Usman. Semuanya duduk di ruang tamu.


" Maaf sebelumnya, sebenarnya kami datang kemari, Karna Aisyah ngidam sesuatu" ucap Riziq menjelaskan. Seketika umi Salamah dan ustad Usman menjadi heboh sendiri.


" Kau ngidam apa Aisyah?, bilang sama umi" umi semakin heboh.


" Ustad Riziq, kau harus mewujudkannya. Aisyah memangnya kau ngidam apa?" tanya ustad Usman serius.


" Aku ingin memandang wajahnya kak Usman" jawab Aisyah sambil menundukan wajahnya malu. Seketika umi Salamah dan Nisa sangat terkejut, dan akhirnya tawa pun pecah. Sementara ustad Usman mengeryitkan keningnya. Merasa ngidamnya Aisyah tak masuk akal.


" Ingin memandangku?" tanyanya memastikan.


" Hmmm, kak Usman mau kan?" tanya Aisyah.


" Aku paling tidak suka ada seseorang memandang wajahku. Aku risih dan malu kalau harus di tatap seperti itu." jawab ustad Usman.


" Biarkan Aisyah memandang wajahmu, sebentar saja" ucap umi Salamah. Aisyah sudah duduk di hadapan kakaknya itu, jarak mereka sekitar 1,5 meter. Aisyah begitu nampak serius memandang wajah ustad Usman. Hingga yang di tatap sudah mulai risih.


" Ustad Riziq, kau tidak cemburu padaku, istrimu memandangiku terus" ucap ustad Usman yang sebenarnya ingin ada yang menolongnya. Riziq hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Nis, kau tidak cemburu ada perempuan lain memandang wajah suamimu ini"


Nisa pun menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak cemburu, justru aku senang melihatnya" ucap Nisa dengan sedikit tertawa.


" Kau jangan jadi istri durhaka Nis"


ustad Usman sudah mulai prustasi, ia benar benar tidak suka di pandang seperti itu.


" Ustad Riziq tolong aku, demi Allah, aku paling tidak suka di pandang seperti ini, Aku tau aku memang ganteng, tapi aku risih di tatap seperti ini, di tatap Nisa saja aku tidak mau." ucap ustad Usman sedikit prustasi.


" Sudah belum Aisyah?" tanya ustad Usman tak sabar.


" 15 menit lagi kak" jawab Aisyah.


" Astaghfirullah lama sekali Aisyah" gerutu ustad Usman. Riziq, umi Salamah dan Nisa merasa lucu memandangi Aisyah dan ustad Usman.


" Kau yang sabar Man " ucap umi Salamah.

__ADS_1


__ADS_2