
Masih dengan Zahira yang sudah di antarkan lagi oleh Riziq ke kelas nol besar. Meskipun kesal marah dan malu, Zahira mau tidak mau belajar di kelas itu meskipun rata rata dari mereka adalah adalah anak kecil semua. Zahira duduk paling belakang, ia sudah menutupi wajahnya dengan masker karna malu. Dan Riziq masih setia menunggu di ambang pintu ia takut Zahira akan kabur. Riziq sudah seperti orang tua yang sedang menunggu anaknya bersekolah. Di luar kelas Dewi sudah cekikikan melihat Riziq yang kini setia menunggu adiknya mengikuti pelajaran pertamanya. Kebetulan Riziq mengajar sore hari.
"Manis sekali si ustad Brondong itu sudah seperti seorang ibu yang sedang menunggu anaknya belajar. Untung mukanya manis, kalau mukanya sangar, dia pasti dikira sekuriti Ha ha ha" batin Dewi.
* * * * * *
Sore pun tiba, Aisyah mengajak jalan jalan Adam dan Hawa, di temani oleh Dewi. Ia sengaja berjalan jalan sekalian menjemput Riziq pulang mengajar.
" Kau tau Aisyah, Tadi pagi aku cekikikan sampai perutku sakit, gara gara menertawakan suami dan adik iparmu yang selebor itu" ucap Dewi yang kini tertawa kembali.
" Memangnya kenapa dengan mereka?" tanya Aisyah.
" Suamimu dengan setia dan sabar menunggu Zahira belajar di kelas, suamimu sudah seperti èma èma yang sedang menunggu anaknya sekolah ha ha lucu ya, tapi lebih lucunya lagi Zahira adik iparmu yang selebor itu, dia belajar menggunakan masker, sudah seperti takut terpapar virus" Dewi tak henti hentinya tertawa.
" Aku seperti mimpi tiba tiba punya adik ipar dadakan" ucap Aisyah.
Mereka pun menunggu tidak jauh dari gerbang sekolah. Para santri mulai berhamburan keluar kelas setelah jam pelajaran selesai. Para pengajar pun satu persatu keluar dari kelas masing masing. Ustad Azam sudah berjalan bersama ustad Rasyid keluar gerbang sekolah. Dari kejauhan, Riziq keluar gerbang sendirian. Riziq berjalan jauh di belakang ustad Rasyid dan ustad Azam.
Aisyah sudah tersenyum saat melihat suaminya nampak batang hidungnya. Tiba tiba dari arah lain datang ustadzah Ulfi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab Aisyah dan Dewi. Ustadzah Ulfi kini sedang membawa cemilan khas suatu daerah, pemberian salah satu santri yang baru pulang kampung. Mata Dewi langsung tertuju pada cemilan itu. tiba tiba ustad Rasyid dan ustad Azam menghampiri mereka. Namun Riziq masih tertinggal di belakang.
" Ustadzah itu di tangannya bawa apa?" tanya Dewi tidak tau malu, ustadzah Ulfi sudah tau maksudnya Dewi.
" Kau mau Wi?" tanya ustadzah Ulfi.
" Kalau di kasih sih alhamdulilah" ucap Dewi sambil tersenyum senyum.
" Ini ambil" ucap ustadzah Ulfi. Seketika Dewi langsung bergegas menghampiri ustadzah Ulfi, namun tiba tiba kakinya tersandung batu bata hingga ia terjatuh dan tidak sengaja mendorong Aisyah, hingga Aisyah menubruk tubuhnya ustad Rasyid.
BRUGHHH
__ADS_1
Kini Aisyah mendekap tubuhnya ustad Rasyid, sementara Dewi sudah tersungkur ke tanah. Semua nampak terkejut, begitu pula Riziq yang melihat kejadian itu, dadanya seperti terbakar, darahnya pun seakan mendidih, matanya sudah memerah tangannya pun mengepal begitu saja, seakan bendera berlambang cemburu berkibar kibar didadanya saat ia melihat Aisyah mendekap tubuh kakanya, meskipun ia tau itu adalah suatu kecelakaan. Riziq biasanya tak pernah marah atau pun cemburu, namun kali ini berbeda, ia tak suka jika ada laki laki lain yang menyentuh istrinya, baik sengaja maupun tidak. Seketika Riziq langsung menghampiri mereka kebetulan posisinya berdiri saat ini lumayan jauh dari posisi mereka, dadanya sudah naik turun mencoba untuk menahan gejolak emosinya.
Aisyah pun langsung menjauhkan diri dari tubuhnya ustad Rasyid.
" Astaghfirullah maaf" ucap Aisyah. Namun saat Aisyah ingin menjauh dari ustad Rasyid, ia di kejutkan kembali karna ujung kerudungnya nyangkut di kancing baju kokonya ustad Rasyid. Aisyah sudah berusaha untuk melepasnya, namun entah kenapa ujung kerudung itu seakan di ikat kuat dengan bajunya ustad Rasyid sehingga kini Aisyah berdiri dekat dengan kakak iparnya itu.
" Ya allah susah sekali" ucap Aisyah. Ustad Rasyid pun mencoba untuk membantu melepaskan, namun tetap saja tidak bisa di lepas. Tiba tiba matanya Aisyah membulat saat melihat Riziq berjalan mendekatinya, ia melihat kemarahan di wajahnya Riziq. Kini wajahnya yang manis itu seakan berubah menjadi wajah monster yang menyeramkan. Jantungnya Aisyah sudah dag dig dug dibuatnya.
" Asalamualaikum" Riziq memberi salam tanpa ekspresi.
" Waalaikum salam" jawab mereka. Mereka pun dapat merasakan kecemburuannya Riziq pada ustad Rasyid. Aisyah sudah nampak ketakutan.
" Le"
Tanpa bicara apa apa Riziq berusaha melepaskan kerudung Aisyah yang tersangkut itu, namun ia pun tak bisa melepasnya, kerudung Aisyah seperti menempel kuat pasa bajunya ustad Rasyid, ia tak mungkin menariknya kuat kuat karna salah satunya pasti akan robek. Karna tidak bisa melepasnya, Tanpa berkata apa apa dan tanpa izin pula Riziq melepas satu persatu kancing baju kokonya ustad Rasyid, setelah selesai melepas semua kancing kancing itu, Riziq pun tanpa izin melepas baju kokonya ustad Rasyid, hingga kini ustad Rasyid hanya mengenakan s-thrit putih yang menempel di tubuhnya. Ustad Rasyid hanya diam saja seperti patung manekin yang tak bernyawa.
Aisyah, ustadzah Ulfi dan ustad Azam hanya diam menatap Riziq yang tiba tiba melepaskan baju kakaknya itu. Sementara Dewi mulutnya sudah menganga saat melihat kelakuannya Riziq. Riziq tidak mungkin membiarkan Aisyah menempel pada kakaknya, jadi ia lebih memilih melepas pakaiannya ustad Rasyid, karna ia tak mungkin melepas kerudungnya Aisyah disana. Riziq membiarkan bajunya ustad Rasyid menggelantung di ujung kerudungnya Aisyah, perlahan Aisyah pun meraih baju itu.
" Waalaikumsalam"
Tiba tiba Dewi memanggil mereka.
" Aisyah, ustad Riziq. Adam dan Hawa ketinggalan" ucap Dewi.
Seketika Riziq langsung berbalik kembali dan mendorong kereta bayinya Adam dan Hawa. Wajah Aisyah sudah nampak memerah karna malu.
" Astaghfirullah" ucap ustad Azam.
Ustadzah Ulfi sudah menutup mulutnya mencoba menahan agar suara tawanya tidak terdengar, sementara Dewi sudah cekikikan tanpa suara apalagi saat melihat ekspresinya ustad Rasyid yang seperti patung manekin yang hanya diam saja saat adiknya itu melepas bajunya tanpa izin. Perlahan ustad Azam menepuk pelan pundaknya ustad Rasyid. Seketika itu ustad Rasyid seakan tersadar dengan apa yang terjadi. Perlahan ia menatap penampilannya yang kini hanya mengenakan sarung dan kaos s-thrit putihnya.
" Astaghfirullah" ucap ustad Rasyid.
" Baru kali ini aku melihat si ustad brondong itu cemburu dan marah seperti itu. ha haha, tapi lucu juga ya dia saat cemburu. untung ustad Rasyid memakai kaos dalam, kalau tidak ustad Rasyid akan pulang dengan bertelanjang dada" tutur Dewi sambil cekikikan.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Aisyah hanya diam saja karna ia merasa takut pada kemarahan suaminya.
" Lepas kerudungnya" pinta Riziq dengan ekspresi dingin. Perlahan Aisyah pun melepas kerudungnya, lalu Riziq mengambil kerudung dan baju itu untuk di lepas. Aisyah hanya diam sambil menatap suaminya itu. Setelah hampir 30 menit akhirnya kerudung itu terlepas dari baju kokonya ustad Rasyid.
" Le"
" Hmm"
" Kau marah padaku?" tanya Aisyah sedikit takut.
" Hmm"
" Tapi Le, kejadian tadikan tidak di sengaja, Dewi tersandung dan tidak sengaja mendorongku hingga aku menabrak kakakmu" tutur Aisyah sambil menundukan kepalanya. Riziq hanya diam saja.
" Kau tidak marah kan Le?" tanya Aisyah kembali.
" Hmmm"
" Le, kau dari tadi hmm hmm hmm mulu, jawab dong Le." Aisyah sudah mulai prustasi. Karna Riziq tak menjawab pertanyaannya, Aisyah pun berdiri sambil mengambil kerudung dan baju kokonya ustad Rasyid berniat untuk menaruhnya di mesin cuci.
" Tidak perlu di cuci, jangan di pegang juga, nanti bau tubuh kakakku menempel di tubuhmu, aku tidak suka" ucap Riziq. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya.
" Ternyata si berondong manis ini kalau lagi cemburu menyebalkan juga" batin Aisyah.
Aisyah pun menaruh kembali baju kokonya ustad Rasyid. la teringat dengan ucapannya Riziq "Uni tau, apa yang akan aku lakukan saat aku sedang merasa cemburu padamu, aku akan menabur sp* * * a di rahimu" itu kata kata Riziq yang ia ucapkan dulu pada Aisyah.
" Sepertinya dengan terpaksa aku harus menggodanya. Mudah mudahan marah dan rasa cemburunya hilang. Huuh, cemburunya sungguh merepotkan" batin Aisyah.
Perlahan Aisyah duduk di sebelahnya Riziq yang kini sudah menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke ujung sandaran kursi.
" Lee, " ucap Aisyah sambil mendekap tubuh suaminya sambil mengelus ngelus dadanya Riziq. Seketika itu pula Riziq langsung menyergap tubuhnya Aisyah tanpa aba aba. Aisyah sempat terkejut di buatnya.
" ikhh dasar ustad genit, baru di elus begitu saja sudah bereaksi, kemana rasa cemburunya yang tadi berkobar kobar itu, tak kusangka tubuhku jadi penawar rasa cemburu butanya itu ishh ishh ishh"
__ADS_1