Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Ngidam part 2


__ADS_3

Ketika itu Riziq sedang membujuk Aisyah yang tidak mau makan.


" Uni, kau makan dulu, dari tadi pagi kau belum makan"


Aisyah hanya menggelengkan kepalanya. Perutnya terasa mual.


" Sedikit saja ya uni, nanti aku suapin" bujuk Riziq. Lagi lagi Aisyah menggelengkan kepalanya.


" Perutku mual, uni tak selera makan" ucap Aisyah.


" Tapi kalau uni tidak makan, kasian ade bayinya, nanti dia kurang gizi"


Riziq yang berkali kali membujuk istrinya itu untuk makan, namun Aisyah tetap tak mau. Hingga Riziq prustasi karna cemas dengan kesehatan Aisyah. Ia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Dewi. Seketika Dewi langsung mengangkat teleponnya.


" Hallo Asalamualaikum" ucap Dewi.


" Waalaikumsalam, kak Dewi boleh aku tanya sesuatu?" tanya Riziq.


" Kenapa ustad Riziq, kau mau tanya apa?"


" Waktu kak Dewi hamil, kak Dewi susah makan tidak? " tanya Riziq.


" Tidak, bahkan waktu hamil selera makanku semakin bertambah, biasanya aku makan sehari sebanyak 4 kali, tapi semenjak hamil aku makan 5 sampai 6 kali sehari" tutur Dewi.


Riziq hanya mengeryitkan keningnya mendengar jawaban Dewi.


" Tapi uni Aisyah, sekarang tidak mau makan, katanya mual, apa itu tidak akan apa apa?" tanya Riziq cemas.


" Setiap perempuan hamil pasti berbeda beda, ada yang suka makan dan ada juga yang tidak suka makan karna mual, tapi sebaiknya harus makan meskipun hanya sedikit, atau Aisyah suruh minum susu ibu hamil, setidaknya perutnya tidak terlalu kosong" tutur Dewi menjelaskan.


" Oh begitu ya kak, nanti aku bujuk uni Aisyah agar mau makan dan minum susu"


Setelah mematikan sambungan teleponnya, ia pun masuk dapur untuk mencari susu ibu hamil. Dan kebetulan Aisyah sudah membelinya. Perlahan Riziq membuat susu itu sesuai takarannya yang tertulis di dus susu itu. Setelah selesai membuatkan satu gelas susu. Riziq pun menemui Aisyah di ruang tamu.


" Uni kau minum susu ibu hamil ini, biar perutmu tidak terlalu kosong" ucap Riziq sambil memberikan segelas susu pada Aisyah.


" Tidak mau rasanya pasti tidak enak"


" Minumlah sedikit saja, kasian bayi dalam perutmu, pasti dia kehausan" bujuk Riziq.


Aisyah pun terdiam.


" Baiklah aku akan minum, tapi sebelum itu, kau dulu yang meminumnya. Kalau nanti rasanya enak, pasti aku minum" ucap Aisyah. Hingga Riziq mengeryitkan keningnya.


" Masa aku harus minum susu ibu hamil" ucap Riziq tak percaya.


" Ya sudah, kalau kau tidak mau meminumnya , uni juga tidak mau minum"


Riziq pun mendengus kesal, namun ia coba untuk bersabar menghadapi istrinya yang sedang hamil itu.


" Baiklah, aku akan meminumnya, tapi ngomong ngomong, kalau aku minum susu ibu hamil, aku tidak akan ikut hamil juga kan?" pertanyaan konyol keluar dari mulutnya Riziq hingga Aisyah tertawa tawa.


" Mana mungkin ada laki laki hamil" ucap Aisyah sambil tertawa tawa.


Riziq pun meminum setengah susu itu.


" Tidak enak tidak ada rasanya" ucap Riziq dalam hati.

__ADS_1


" Enak ko uni" ucap Riziq bohong. Perlahan Aisyah meminumnya.


" Tidak enak, susunya tidak manis" ucap Aisyah sambil menaruh kembali sisa susu itu.


" Abisin uni, sedikit lagi" Riziq pun berhasil membujuk Aisyah hingga menghabiskan susu itu.


" Le, aku ingin makan sesuatu" ucap Aisyah.


" Apa?" tanya Riziq antusias.


" Aku ingin makan telur ceplok, sepertinya enak" ucap Aisyah. Riziq pun terdiam.


" Baiklah aku akan beli di kantin"ucap Riziq.


" Jangan beli Le, tapi harus bikin"


" Baiklah aku akan membuatkannya untukmu" ucap Riziq sambil melangkah menuju dapur.


" Aku tidak mau kau yang membuatnya"


" Lalu uni mau buat sendiri?" tanya Riziq.


"Aku mau kak Usman yang buat" ucap Aisyah tegas. Hingga Riziq mengeryitkan keningnya heran dengan keinginan istrinya itu.


" Kenapa harus kak Usman, lama lama aku bisa cemburu, ngidamnya jangan yang aneh aneh dong ni"


" Bukan uni yang menginginkannya tapi bayi yang ada di dalam perutku yang mau" ucap Aisyah menjelaskan. Perlahan Riziq mendekati Aisyah lalu menempelkan wajahnya ke perut Aisyah dan mengelus perut istrinya itu.


" Ade bayi, kenapa kau selalu memilih ustad Usman, bukankah ayahmu ini lebih manis dari ustad Usman, jangan terlalu dekat dengannya lama lama aku bisa cemburu, aku cuma takut satu hal, pas kau lahir wajahmu mirip ustad Usman. Tak bisa kubayangkan aku pasti prustasi akan hal itu." tutur Riziq. Aisyah hanya tersenyum senyum saja ketika mendengarkan Riziq yang berceloteh dengan calon bayinya.


Riziq pun menemui ustad Usman di rumahnya kiyai Husen. Setelah menjelaskan keinginan Aisyah, ustad Usman pun terdiam kebingungan.


" Kenapa harus aku?" tanya ustad Usman.


" Aisyah bilang, bayinya yang minta" jawab Riziq.


" Sepertinya bayimu sangat mengidolakanku ya ustad Riziq, tapi sayang, aku tidak mau menemui Aisyah, kemarin saja dia membuatku prustasi, pasti sekarang ngidamnya yang aneh aneh lagi, pasti lebih aneh dari yang kemarin" ucap ustad Usman menolak keinginannya Aisyah.


" Kau menolaknya Usman" geram umi salamah sambil menatap ustad Usman dengan sorotan mata menusuk.


" la ia, aku mau " ucap ustad usman yang takut dengan tatapan uminya. Kini Riziq dan ustad Usman pergi ke rumahnya Aisyah. Aisyah tersenyum pada ustad Usman. namun entah kenapa ustad Usman seperti takut melihat Aisyah.


" Ustad Riziq, kenapa senyuman Aisyah tampak menakutkan ya" ucap ustad Usman yang sudah merasa gelisah sendiri.


" Kak Usman mau kan memasak untuk ku" ucap Aisyah.


" Ia mau, tapi cuma telor ceplok doang kan?" tanya ustad Usman memastikan.


" Ia, cuma telor ceplok. Di kasih cabe merah sama cabe hijau, tapi cabenya harus metik dulu di kebunnya abi, lalu di kasih tomat, tapi tomatnya harus tomat di pohon punya ustad Azam yang ada di belakang rumahnya. Terus di kasih kecap, sepertinya sangat enak" ucap Aisyah panjang lebar. Riziq dan ustad Usman terdiam, mereka mulai mencerna keinginan Aisyah yang tak masuk akal.


" Ustad Riziq, apa telingaku tidak salah dengar" ucap ustad Usman sedikit berbisik pada Riziq.


" Uni apa keinginanmu itu tidak salah?" tanya Riziq memastikan.


" Tidak"


" Ya sudah kak Usman akan memetik cabe dulu ke kebun, setelah itu kak Usman langsung pergi ke rumahnya ustad Azam untuk meminta tomat"

__ADS_1


"Tapi metik tomatnya, jangan minta izin dulu sama ustad Azam atau ustajah Ulfi" ucap Aisyah.


" Kalau tidak izin, itu artinya mencuri Aisyah" ucap ustad Usman tegas.


" Tapi ade bayinya yang minta seperti itu."


" Wah wah, belum lahir saja, bayimu sudah memaksaku untuk mencuri, sungguh ajaib" ucap ustad Usman.


" Ya sudah aku pergi ke kebun memetik cabe, setelah itu pergi ke rumahnya ustad Azam untuk mencuri tomat. Kau harus ikut ustad Riziq, nanti kalau aku ketahuan mencuri, kau bisa menjelaskannya" ucap ustad Usman.


Mereka pun akhirnya pergi ke kebun untuk memetik cabe merah dan cabe hijau. Setelah itu pergi ke rumahnya ustad Azam. Sesampainya di sana.


" Memalukan sekali, aku yang lulusan terbaik di Kairo, harus mencuri seperti ini demi seorang bayi yang belum lahir agar tidak ileran. Bagaimana coba kalau kita ketauan. Masa kita yang lulusan dari kairo harus mencuri. Kalau mencuri hati sih itu masih mending, ini mencuri tomat, mau di taruh di mana mukaku uang lulusan Kairo ini" gerutu ustad Usman.


" Cepat ustad ambil tomatnya, nanti ketauan"


Saat ustad Usman memetik tomat itu.


" Ya Allah ampuni dosa dosaku yang mau mencuri ini, ustad Riziq sungguh aku tidak ingin menjadi seorang pencuri, apalagi menjadi pencuri tomat"


" Maaf ustad Usman kau jadi terlibat dengan ngidamnya istriku, aku akan menjelaskan pada ustad Azam tentang pencurian ini tapi setelah Aisyah melahirkan" ucap Riziq hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.


" Lama sekali kau menjelaskannya, kehamilan Aisyah baru saja beberapa minggu, kau akan menjelaskannya setelah melahirkan"


Perlahan ustad Usman memetik satu tomat di pohon itu.


" Ampuni dosa dosaku ya Allah"


Tiba tiba ustajah Ulfi keluar dari dapur dan melihat mereka.


" Ustad Usman ustad Riziq, sedang apa di situ?" tanya ustajah Ulfi heran. Seketika ustad Usman langsung menyembunyikan tomat itu.


" Tidak sedang apa apa ustajah Ulfi, kami permisi Asalamualaikum" ustad Usman langsung pergi.


" Maaf ustajah Ulfi, nanti saya jelaskan setelah Aisyah melahirkan, Asalmualaikum" ucap Riziq sambil berlalu pergi mengejar ustad Usman.


Sesampainya mereka di rumah. Ustad Usman pun memasak telor ceplok dan di beri cabai merah dan cabai hijau, lalu di beri tomat dan kecap. Setelah itu ia menaruh nya di atas meja. Riziq dan ustad Usman merasa jijik dengan telor ceplok itu. bentuknya sudah tak karuan apalagi rasanya, sudah dapat di bayangkan betapa hancurnya masakan itu. Maklum saja ustad Usman tidak pernah masak sebelumnya.


" Ustad Usman, kau yakin Asyah tidak akan apa apa makan makanan itu?" tanya Riziq cemas.


Aisyah pun tersenyum lebar melihat hasil mahakarya kakaknya itu.


" Wah menggugah selera sekali" ucap Aisyah. Riziq dan ustad Usman malah mengeryitkan keningnya. Perlahan Aisyah memakan telor ceplok itu dengan lahapnya sampai habis. Hingga ia menjilati kecap yang menempel di jari jarinya.


Glek.


Riziq dan ustad Usman hampir tak percaya kalau Aisyah menghabiskan masakannya itu.


" Enak?" tanya ustad Usman.


" Hmm, rasanya enak, aku suka sekali, kak Usman maukan kalau setiap hari membuatkan makanan seperti ini untukku" ucap Aisyah sambil menjilati kecap yang menempel di jari jarinya.


Seketika mata ustad Usman membulat sempurna. Ketika mendengar Aisyah memintanya untuk memasak setiap hari.


" Ustad Riziq, aku lebih baik tidur di luar selama tiga minggu di banding harus jadi kokinya Aisyah"


Riziq sudah menundukan kepalanya, ia ingin sekali tertawa. Namun ia urungkan takut ustad Isman tersinggung.

__ADS_1


__ADS_2