Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Nasehat


__ADS_3

Masih dengan Zahira yang masih duduk di batu pinggir jalan. Iya masih memikirkan ucapannya ustadzah Ulfi.


" Apa aku salah terlalu memikirkan jodoh. Kata om ustad sifat perempuan akhir Zaman, mereka lebih memikirkan jodoh"


Zahira menepuk nepuk pipinya sendiri. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan mulai berjalan kembali menuju asrama. Di depan asrama iya bertemu Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ka Dewi habis dari mana?" tanya Zahira.


" Habis nemuin Syifa tadi"


" Ooh"


Zahira pun mengangguk ngangguk.


" Aku duluan ya ka. Aku cape, baaay"


Zahira pun masuk ke asrama putri.


" Asalamualaikum selebor bukan baay, katanya mau memperbaiki diri, baru beberapa hari aja sudah kumat" gerutu Dewi.


* * * * * * *


Keesokan harinya Setelah Riziq pulang mengajar, iya dan Aisyah pun berkunjung ke rumahnya umi Salamah. Aisyah sudah menggendong Adam, sementara Riziq menggendong Hawa.


Sesampainya di sana. Terlihat keluarga kiyai Husen sedang berkumpul di teras rumah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Umi Salamah langsung menggendong Hawa sementara kiyai Husen menggendong Adam. Riziq pun duduk bergabung dengan mereka.


" Aku buatin minum dulu ya Le" ucap Aisyah sambil berlalu ke dapur untuk membuatkan kopi. Riziq, ustad Soleh dan ustad Usman sudah mengobrol ngobrol. Sebelum ke dapur, Aisyah terdiam melihat kalender yang terpajang didinding rumahnya umi Salamah. Perlahan Aisyah mengusap kalender dengan jari jarinya ada senyum yang mengembang di bibirnya.


" Besok suamiku ulang tahun, hampir saja aku lupa" batin Aisyah.


Tiba tiba Nisa menghampirinya.


" Kenapa Aisyah, menatap kalender terus, apa ada tanggal yang penting?" tanya Nisa. Aisyah pun tersenyum.


" Besok itu ulang tahun suamiku ka" jawab Aisyah.


" Benarkah?, jadi ustad Riziq besok ulang tahun"


" Kira kira aku kasih hadiah apa ya ka?" tanya Aisyah meminta pendapat. Nisa tersenyum dan membisikan sesuatu pada Aisyah. Aisyah pun tersenyum senyum.


" Nanti kucoba" jawab Aisyah.


Mereka pun kembali menatap kalender itu, tiba tiba Nisa terkejut, lalu meraba kalender itu.


" Astaghfirullah ini sudah akhir bulan ya" ucap Nisa.


" Memangnya kenapa ka?" tanya Aisyah.


" Ka Nisa baru sadar, ka Nisa sudah relat 2 minggu"


" Ka Nisa hamil?" tanya Aisyah.


" Belum tau, kan belum cek juga"


" Pake tespek aja kak" Aisyah memberi saran.


" Besok ka Nisa beli di apotik"


" Titip aja sama Dewi ka, kebetulan sekarang Dewi lagi ke pasar. Nanti aku hubungi dia ya ka"


" Hmmm"


" Waah umi sama ka Usman pasti senang sekali kalau ka Nisa hamil" ucap Aisyah yang ikut merasa senang juga.


" Ssstth, jangan bilang siapa siapa dulu, hasilnya kan belum pasti, ka Nisa tidak mau mereka nanti kecewa" tegas Nisa.

__ADS_1


" Hmmm, aku akan jaga rahasia, dan kudo'akan ka Nisa beneran hamil"


" Amiin"


Tiba tiba ustad Usman masuk rumah, dan heran melihat istri dan adiknya sedang berdiri menatap kalender.


" Astaghfirullah alazim, kalian gak ada kerjaan ya menatap kalender begitu" ucap ustad Usman.


" Biarin"


" Biasanya kalau èma èma rempong lagi rame rame menatap kalender di akhir bulan, mereka pasti sedang menunggu berapa hari lagi gajihan suaminya turun. Benarkan?" tutur ustad Usman.


" So tau" ucap Aisyah.


Nisa malah tertawa kecil.


" Mas tau aja deh kalau istrinya itu sedang menunggu nunggu transperan"


" Materialistis" ejek ustad Usman.


"Enak saja materialistis, kita itu lagi menatap kalender karna besok adalah ulang tahun suaminya Aisyah" ucap Nisa.


" Oh jadi si berondong besok ulang tahun?, ulang tahun yang ke 19 ya" ucap ustad Usman dengan sedikit mengejek. Hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.


" Masa iya 19. orang dia ulang tahun yang ke-24" jawab Aisyah.


" Oh yang ke 24. Jadi tahun ini si berondong umurnya 24, kalau kamu berapa Aisyah?" tanya ustad Usman. Aisyah yang tau kalau kakaknya itu bertanya hanya untuk mengejeknya.


" Aku 19" jawab Aisyah. Ustad Usman langsung tertawa kecil.


" 19 apa 29" sindir ustad Usman. Nisa hanya tersenyum sementara Aisyah sudah cemberut.


" 29, memangnya kenapa?" tanya Aisyah ketus. Ustad Usman langsung tertawa.


" Ha ha ha, waaah ternyata umurmu lebih muda dari suamimu ya" ejek ustad Usman.


" Kenapa memangnya kalau aku lebih tua dari suamiku?" tanya Aisyah.


" Tidak apa apa" jawab ustad Usman sambil tersenyum senyum hingga Nisa menepuk pundak suaminya karna sedari tadi mengejek Aisyah terus.


" Kau mau kasih hadiah apa Aisyah?" tanya ustad Usman.


" Kau tidak perlu repot repot memikirkan hadiah apa yang akan kau berikan, kau cukup telanjang saja di depannya, nanti dengan sigap suamimu yang berondong itu dengan sigap akan menerjangmu" tutur ustad Usman. Aisyah sudah mengeryitkan keningnya, sementara Nisa kembali menepuk pundak suaminya itu.


" Jangan di dengarkan Aisyah, kakakmu ini sedang merasa iri dengan suamimu, karna dia tidak bisa merayakan ulang tahunnya tiap tahun" tutur Nisa.


" Memangnya kenapa ka?" tanya Aisyah kepo.


" Karna kakakmu ini lahir tanggal 29 Februari, jadi ulang tahunnya 4 tahun sekali" ucap Nisa sambil tersenyum senyum. Seketika Aisyah langsung tertawa, sementara ustad Usman sudah mengerucutkan bibirnya.


" Sudah sudah jangan ngomongin masalah ulang tahun, apalagi sampai tiup lilin. Kau suruh suamimu tiup obor saja, kebetulan obor bekas tahun baru islam kemarin masih ada" ucap ustad Usman.


" Jangan dengarkan Aisyah" pinta Nisa yang kini meninggalkan mereka berjalan keluar.


" Aku mau bikin minum dulu" ucap Aisyah sambil berlalu ke dapur. Kini menyisakan ustad Usman sendirian sambil menatap kalender.


" Aku masih penasaran kenapa bulan Februari hanya sampai 28 hari. dan 29 hanya 4 tahun sekali. Kenapa pula aku harus terlahir di tanggal 29, kenapa gak nunggu sehari lagi aja biar hari jadiku tanggal 1 Maret" gumam ustad Usman.


Kini ustad Usman dan yang lainnya pun berkumpul kembali di teras depan rumah termasuk Aisyah. Tidak lama kemudian Dewi dan Zahira datang yang kebetulan bertemu di jalan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira pun ikut duduk bersama mereka, sementara Dewi hanya memberikan tespek pesanan Nisa yang terbungkus plastik putih.


" Makasih ya Wi" ucap Nisa sambil mengganti uangnya.


" Sama sama ka, saya pulang dulu, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Wi, tidak mau main dulu?" tanya Aisyah.


" Terima kasih Aisyah, aku masih banyak pekerjaan bersama bi Ratna" jawab Dewi.

__ADS_1


" Wi, mau kambing guling gak?" tanya ustad Usman. Seketika mata Dewi langsung berbinar.


" Ustad Usman punya kambing guling?" tanya Dewi antusias.


" Punya, tapi kambingnya masih hidup" jawab ustad Usman. Mendengar jawaban itu, Dewi langsung menggeram. Terdengar tawa kecil dari mulutnya Aisyah dan ustad Usman.


" USMAAAN" sentak umi Salamah.


" Maaf Wi hanya bercanda"


Sambil cemberut Dewi pun pergi dari rumahnya umi Salamah.


Perlahan Zahira mendekati ustad Usman.


" Om ustad, aku kemarin ketemu ustadzah Ulfi, aku tanya soal memperbaiki diri kemarin, kata ustadzah Ulfi tidak boleh berhijrah dan memperbaiki diri hanya karna aku menyukai laki laki" tutur Zahira.


" Terus?"


" Dia bilang semuanya harus karna Allah, dan aku juga merasa seperti bukan diriku sendiri" jawab Zahira.


" Lalu sekarang apa niat dalam hatimu?" tanya ustad Usman. Zahira malah menggelengkan kepalanya.


" Ira, sini duduk sama mbah" ucap kiyai Husen yang kini masih asik menggendong Adam. Perlahan Zahira pun duduk di depan kiyai Husen.


" Kenapa mbah?" tanya Zahira.


Kiyai Husen pun tersenyum.


" Niatkan memperbaiki dirimu hanya karna Allah, seperti yang di katakan ustadzah Ulfi. Kalau menjalankannya berat, pelan pelan saja, jangan terlalu memaksa nanti hasilnya kurang baik" tutur kiyai Husen. Zahira pun mengangguk ngangguk.


" Perbaiki dirimu pelan pelan saja"


" Iya mbah"


" Kau sudah siap untuk menikah?" tanya kiyai Husen. Zahira langsung bengong seketika mendengar pertanyaan kiyai Husen. Aisyah dan ustad Usman langsung cekikikan tak bersuara.


" Kalau kau sudah berani mendekati laki laki dan kau sudah berusaha memperbaiki dirimu untuknya, apa kau sudah siap untuk berumah tangga?" tanya kiyai Husen kembali. Zahira pun menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


" Mbah tanya berapa umurmu sekarang?"


" 18 tahun mbah" jawab Zahira.


" 18 tahun kurang 3 tahun" ustad Usman menimpali hingga Zahira tersenyum malu.


" Kau masih terlalu muda untuk menikah. Saran mbah, belajarlah dulu, dekatkan dirimu pada Allah sedekat dekatnya. Nanti jodoh mu akan datang menghampirimu saat usiamu sudah benar benar cukup untuk berumah tangga" tutur kiyai Husen. Zahira kembali mengangguk.


" Tapi mbah, sifatku yang imut, nyenengin, menggemaskan dan menyenangkan susah untuk di hilangkan"


" Kebalik Ira, bukan imut, nyenengin, menggemaskan dan menyenangkan. Tapi rewel, bawel, cerewet, ngeyel, genit, centil dan pecicilan serta yang lain lain" ustad Usman meralat kata katanya Zahira. Hingga Zahira tersenyum malu. Kiyai Husen dan umi Salamah pun ikut tersenyum.


" Semua sifatku itu seperti sudah mendarah daging dalam diriku" ucap Zahira.


" Rubahlah pelan pelan saja" pinta kiyai Husen.


" Iya mbah, nanti di coba"


" Ira, saat ustadzah Ulfi memberimu nasehat kemarin, apa dia tau kalau laki laki yang kau sukai itu putranya?" tanya ustad Usman. Zahira pun menggelengkan kepalanya.


" Kalau ustadzah Ulfi tau, pasti dia langsung mendadak pingsan" ucap ustad Usman kembali. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.


" Akukan termasuk kriteria menantu idaman" ucap Zahira percaya diri. Saat Aisyah ingin tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu, Riziq langsung membungkam mulutnya Aisyah.


" Nanti dia marah uni" bisik Riziq. Aisyah pun mengangguk dan mencoba untuk menahan tawanya.


Setelah memberi nasehat nasehat, ustad Usman, Riziq dan ustad Soleh pun pergi ke perkebunan.


" Ira, ayo ikut ke kebun, nanti kita belajar lagi di sana" ucap ustad Usman.


"Iya om ustad"


Zahira pun ikut pergi ke kebun.


" Aisyah, umi lihat Zahira sudah sedikit terlihat berubah" ucap umi Salamah.


" Iya umi, sikapnya pada Yusuf sudah sedikit berubah. Dulu kalau ketemu Yusuf suka centil dan genit, sekarang sudah tidak lagi, hanya saja cara bicaranya yang nyablak dan pecicilan susah dihilangkan dalam dirinya" tutur Aisyah.

__ADS_1


" Mudah mudahan dia bisa merubah dirinya menjadi lebih baik dan itu pun karna Allah"


" Amiin"


__ADS_2