
Ketika ustajah Yasmin beberes kamar di rumahnya ustad Rasyid, ia terus kepikiran tentang Aisyah, rasa cemburunya terus saja membayangi pikirannya. Tiba tiba ia melihat sebuah kertas terselip di buku yang ada di laci saat ia berberes beres, kebetulan hari ini ia tak mengajar. Sementara ustad Rasyid sudah keluar rumah untuk mengajar para santri. Perlahan ustajah Yasmin membuka kertas itu.
" Puisi dari Aisyah "
Seketika itu ustajah Yasmin menangis, hatinya seperti teriris.
" Selama ini aku tidak pernah melihat cinta di matamu, tapi kemarin aku melihat cinta itu di matamu. tapi cinta itu bukan untukku melainkan untuk Aisyah. Sebenarnya ada hubungan apa antara suamiku dengan Aisyah?, apa Aisyah datang untuk menghancurkan rumah tanggaku, atau kedatanganku yang telah merusak hubungan mereka ? "
Ustajah Yasmin pun menyeka air matanya, ia juga menaruh kertas puisi itu ke tempat semula.
"Aku tidak boleh egois, aku harus bicara sama Aisyah, aku dan suamiku berhak bahagia termasuk Aisyah "
Ustajah Yasmin mulai menimbang nimbang keputusan yang akan ia buat, kebahagiaan suaminya adalah yang paling utama, belajar ikhlas dan menerima kini yang ada di pikirannya.
Setelah selesai, ustajah Yasmin pergi dari rumah tanpa seizin suaminya. Kini tekadnya sudah bulat.
* * * * * *
Sementara dengan Aisyah yang kini sedang sibuk di kantin, menjalankan rutinitas seperti biasa. Tiba tiba bi Ratna mendekatinya.
" Aisyah makan siangnya sudah bibi siapkan, nanti kamu tinggal makan saja " ucap bi Ratna.
" Terima kasih bi, aku minta 2 porsi ya bi " pinta Aisyah.
" Buat Dewi ? " tanya bi Ratna.
" Bukan, buat Riziq "
Seketika bi Ratna langsung terdiam begitupun Aisyah.
" Riziq ? " tanya bi Ratna heran.
" Ya Allah, bi aku lupa, kalau Riziq sudah tidak disini " ucap Aisyah sambil menundukan kepalanya. Perlahan bi Ratna mengelus lembut kepala nya Aisyah.
" Kamu rindu ya sama Riziq ? "
" Sangat " jawab Aisyah.
" Kamu yang sabar ya, ada saatnya dia pulang lagi kesini " ucap bi Ratna. Aisyah pun menganggukan kepalanya. Tiba tiba Dewi datang.
__ADS_1
"Asalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Aisyah dan bi Ratna.
" Bi aku mau ngambil kue yang baru " ucap Dewi sambil menaruh wadah kue yang sudah kosong.
" Oh ya Aisyah, tadi aku bertemu ustajah Yasmin. Dia ingin bertemu denganmu nanti sore di perkebunan " bisik Dewi pada Aisyah. Aisyah yang mendengarpun terdiam heran.
" Ustajah Yasmin ingin bertemu denganku ? " tanya Aisyah memastikan.
" Hmm " jawab Dewi singkat.
" Sepertinya ada sesuatu, perasaanku tidak enak " ucap Aisyah cemas.
" Mau aku temani ? " tanya Dewi.
" Tidak usah Wi, biar aku sendiri saja "
" Ya sudah, tapi kalau ada apa apa hubungi aku ya "
Aisyah pun mengangguk.
* * * * * *
Sesampainya di perkebunan. Ternyata ustajah Yasmin sudah duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu itu menunggu Aisyah.
" Asalamualaikum "
Seketika ustajah Yasmin menengok ke arahnya Aisyah.
" Waalaikumsalam "
Entah kenapa Aisyah merasa canggung dan gelisah sendiri.
" Ustajah Yasmin ingin bertemu dengan saya ? " tanya Aisyah memastikan.
" Duduklah " pinta ustajah Yasmin. Perlahan Aisyah duduk di sebelahnya ustajah Yasmin, ia terus menduga duga apa yang akan di bicarakan oleh ustajah Yasmin padanya, pasti ini ada hubungannya dengan ustad Rasyid itu pikirnya. Mereka duduk terdiam sambil memandang perkebunan yang luas itu, suasana terasa hening kala itu, karna Aisyah maupun ustajah Yasmin belum ada yang angkat bicara, selang beberapa menit kemudian ustajah Yasmin membuka pembicaraan.
" Maaf kalau saya mengganggu pekerjaanmu, saya cuma mau tanya, ada hubungan apa antara kamu dan suamiku ? " tanya ustajah Yasmin. Seketika Aisyah langsung terkejut dengan pertanyaan yang ustajah Yasmin lontarkan.
__ADS_1
" Maksud ustajah ? " tanya Aisyah.
" Apa hubungan kalian belum berakhir ? " tanya ustajah Yasmin kembali.
" Sepertinya ustajah Yasmin salah, tidak ada yang belum berakhir, bahkan di muali saja belum, jadi kami tidak mempunyai hubungan apa apa " ucap Aisyah menjelaskan.
" Bukankah kalian saling mencintai, bahkan suamiku sangat mencintaimu Aisyah, dan kau pun punya perasaan yang sama kan ? "
Aisyah terdiam sambil menundukan kepalanya.
" Kenapa kamu diam Aisyah, kamu tau Aisyah, sejak pertama saya menikah dengan ustad Rasyid, saya tidak pernah melihat cinta di matanya, tapi kemarin saya melihat cinta di mata suami saya, tapi cinta itu bukan untuk saya Aisyah, melainkan untukmu. Saya melihat cinta di mata suami saya saat ia menatapmu " ucap ustajah Yasmin sambil berkaca kaca, kini Aisyah merasa bingung sendiri.
" Mungkin rasa cintamu pada ustad Rasyid lebih besar dari rasa cinta saya padanya, aku tidak tau kalau suami saya mencintai perempuan lain, kalau saja saya tau sebelumnya, pasti saya akan membatalkan pernikahan itu, tapi nasi sudah jadi bubur. Saya tidak ingin egois Aisyah, sebagai istri yang baik saya ingin suami saya bahagia. Jadi saya minta padamu, menikahlah dengan suami saya " pinta ustajah Yasmin. Sontak Aisyah terjejut bahkan sangat terkejut dengan kalimat terakhir yang di ucapkan ustajah Yasmin.
" Menikahlah dengan suamiku, jadilah istri keduanya ustad Rasyid, insyaallah saya ikhlas Aisyah "
Aisyah hampir tak percaya dengan ucapannya ustajah Yasmin.
" Kamu maukan Aisyah ? "
" Tidak ustajah Yasmin, tidak mungkin saya menikah dengan suamimu " jawab Aisyah tegas.
" Kenapa, bukankah kalian saling mencintai ? " ucap ustajah Yasmin.
" Saya memang mempunyai rasa pada suamimu, tapi itu dulu sebelum ustajah Yasmin menikah dengannya, setelah itu saya sudah berjanji akan membuang rasa cinta itu jauh jauh " tutur Aisyah menjelaskan.
" Kenapa kau harus membuangnya Aisyah ?, aku ingin melihat suamiku bahagia, jadi saya minta menikahlah dengan suamiku, saya yakin suamiku bisa adil dengan kita " pinta ustajah Yasmin kembali. Kini matanya sudah berkaca kaca.
" Jawabanku tetap sama ustajah, saya tidak ingin menyakiti perasaanmu, ada yang bilang tidak ada perempuan yang rela berbagi suami dengan perempuan lain "
" Saya ikhlas Aisyah, demi kebahgiaan suamiku saya rela di madu " ucap ustajah Yasmin yang kini sudah menangis tersedu.
" Tapi saya tidak mau jadi istri kedua, bahkan saya sudah berjanji pada Riziq, saya tidak akan menikah dengan laki laki yang sudah beristri, saya tidak mau dia membenciku "
" Jadi kau ingin menjadi satu satunya istri dari ustad Rasyid, kau ingin dia menceraikan saya lalu menikah denganmu " ucap ustajah Yasmin.
" Tidak ustajah Yasmin, saya tidak pernah berpikir seperti itu, tidak ada sedikitpun niatku untuk menyakitimu, berusahalah untuk memperjuangkan cintamu, buatlah ustad Rasyid mencintaimu. Saya yakin lama lama dia akan menyayangimu dan melupakanku, yakinlah akan hal itu "
Ustajah Yasmin pun tersenyum.
__ADS_1
" Terima kasih Aisyah "