
Ketika itu Aisyah sedang berberes di kantin. Ia sangat cekatan dalam urusan beberes dan merapihkan kantin. Kini ia sedang asik mengelap etalase, tiba - tiba bi Ratna datang mendekatinya sambil membawa secangkir teh manis di tangannya, ia sedikit panik saat mengingat sesuatu.
" Ya allah, Aisyah bibi lupa belum membawa wadah - wadah bekas kue yang sudah kosong di kantin mamang mu, padahal tempat kuenya besok mau di pake lagi " ucap bi Ratna.
" Ya sudah biar aku saja yang mengambil ke kantin mamang " ucap Aisyah sambil merapihkan botol - botol minuman di atas meja, bi Ratna pun tersenyum.
" Kamu beneran mau mengambilnya ? " tanya bi Ratna memastikan. Aisyah hanya mengangguk pasti.
" Ya sudah kalau kamu mau mengambilnya sekalian bilang sama Dewi bawa daftar belanjaan dan daftar pesenan ketring besok,
tapi ke kantinnya jangan lama - lama ya Aisyah, karna setelah ini kita harus pergi ke rumahnya umi Salamah " tutur bi Ratna.
"Ia bi " jawab Aisyah.
" Ya sudah pergilah " pinta bi Ratna. Tiba - tiba Aisyah mengambil cangkir teh manisnya bi Ratna.
" Buat aku ya bi he he " ucap Aisyah sambil di bumbui tawa. Bi Ratna hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Aku pergi ya bi asalamualaikum " ucap Aisyah sambil berlalu pergi.
" Waalaikumsalam jangan lama - lama ya Aisyah " ucap bi Ratna mengingatkan.
Kini Aisyah sudah berjalan menuju kantinnya mang llham yang ada di pondok santri putra.
__ADS_1
"Kalau aku hanya berjalan seperti ini pasti akan memakan waktu yang lama, jangan sampai aku terlambat ke rumahnya umi salamah " ucap Aisyah sambil mengangkat sedikit gamisnya untuk siap - siap berlari. Ya benar saja Aisyah berlari dengan kencangnya tanpa melihat kanan kiri, yang ada di pikirannya adalah sampai tepat waktu namun kenyataannya salah, tiba - tiba saja,
"bruuugh
Aisyah menabrak seorang laki laki yang berjalan berlawanan arah dengannya, dia adalah ustad Rasyid ( 24 th ). Ia seorang guru yang mengajar di pesantren. Ustad Rasyid terkenal dengan kecerdasan dan ketampanannya, ia juga adalah salah satu ustad terbaik kepercayaannya kiyai Husen.
"Maaf " ucap Aisyah sambil menundukan wajahnya. I benar - benar canggung dan takut , apalagi ketika ia sadar teh manis yang ia bawa telah tumpah di baju koko nya ustad Rasyid yang berwarna putih.
" Maaf saya tidak sengaja " ucap Aisyah sambil menutupi sebagian wajahnya dengan kerudung panjang yang ia kenakan, ia ingat dengan perkataan Riziq kalau pergi ke pondok santri putra harus menutupi wajahnya.
" Maafkan saya karna telah mengotori baju anda, maafkan saya juga karna telah mengotori kesucian mata anda " ucap Aisyah dengan posisi yang sama menundukan kepalanya dan menutupi sebagian wajanya.
Ustad Rasyid yang mendengarpun langsung terdiam ia mencoba menahan tawanya.
"subhanallah tampan sekali , aku sampai terpesona melihatnya sebenarnya bukan aku yang mengotori kesucian matanya tapi dialah yang telah membuat pikiranku kemana - mana, ketampanannya membuat pikiranku tak fokus.
Astaghfirullah alazim bicara apa aku ini sadar Aisyah sadar " ucap Aisyah dalam hatinya. Ia benar - benar terpesona melihat ketampanan ustad Rasyid, setelah sadar akan pikirannya Aisyah kembali berlari menuju kantinnya mang llham.
* * * *
Malam pun tiba, Aisyah berada di kamarnya, ia masih teringat dengan kejadian tadi siang saat ia bertabrakan dengan laki - laki tampan itu. Aisyah tersenyum senyum sendiri serasa ada bunga - bunga berlarian menghampirinya, ia benar - benar terpesona dengan laki - laki yang di tabraknya itu.
"Siapa ya laki - laki itu "ucap Aisyah pada dirinya sendiri. Pikirannya melayang entah kemana, tiba - tiba lamunannya buyar setelah mendengar ketukan pintu.
__ADS_1
"Aisyah makan malam dulu " ucap mang Ilham di balik pintu.
"Ia mang sebentar " jawab Aisyah sambil membuka pintu. Mereka pun makan malam bersama. Mang ilham dan bi Ratna sangat menyayangi Aisyah, mereka memperlakukan Aisyah seperti anak kandung mereka sendiri.
Setelah selesai makan Aisyah pun mencuci piring kotor di dapur, tiba - tiba ia teringat akan sesuatu.
" Ya Allah aku belum mengingatkan umi untuk minum obat " ucap Aisyah sambil berjalan kekamarnya mengambil hp. Aisyah pun menelpon ke rumahnya umi salamah.
"kring kring
"Asalamualaikum " terdengar suara laki laki yang mengucap salam, ada rasa ragu dan takut pada Aisyah, ia yakin kalau yang menerima telponnya adalah kiyai Husen. Dan benar saja yang kini bicara dengannya adalah kiyai Husen.
"Waalaikumsalam " jawab Aisyah terbata.
" Siapa ? " tanya kiyai Husen lembut.
Sebenarnya Aisyah takut namun ia mencoba memberanikan diri.
" Saya Aisyah, maaf kalau saya mengganggu , saya cuma mau mengingatkan umi kalau sekarang sudah waktunya minum obat " tutur Aisyah menjelaskan. Kiyai Husen memang belum pernah bertemu dengan Aisyah, namun istrinya itu selalu bercerita tentang Aisyah.
"Minum obat ? " tanya kiyai Husen.
" Ia kemarin saya membawa umi ke dokter karna kemarin umi sakit, maaf saya cuma mengingatkan takutnya umi lupa " ucap Aisyah. Kiyai Husen tidak tau kalau istrinya itu sempat di bawa ke rumah sakit. Setaunya istrinya itu tidak pernah mau di bawa ke dokter karna merasa putus asa dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh, ia lebih memilih diam di rumah menikmati sisa - sisa hidupnya.
__ADS_1
"Ia nanti saya akan mengingatkan umi untuk minum obat, terima kasih Aisyah sudah mengingatkan." ucap kiyai Husen, ia sangat senang ketika tau ada seseorang yang begitu sangat memperdulikan istrinya itu.