Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Bakar bakar


__ADS_3

Sore pun tiba, Aisyah, Riziq dan Zahira serta umi Fadlun pergi ke rumahnya kiyai Husen.


" Umi abi kemana?" tanya Riziq.


" Abimu sudah ada di rumahnya kiyai Husen, mereka katanya mau bakar bakar ikan" jawab umi Fadlun. Seampainya di sana.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dilihatnya kiyai Husen dan kiyai Mansyur serta umi Salamah sedang duduk di teras depan rumah. Sedangkan ustad Usman dan ustad Soleh sedang sibuk membakar ikan. lalu Nisa dan sarah sedang membersihkan sisik ikan. Aisyah pun mencium tangan abi dan uminya.


"Aisyah sini bantuin" pinta ustad Usman. Aisyah pun menghampiri mereka.


" Waaah kayanya enak nih" ucap Aisyah.


" Kau buatkan bumbunya ya" pinta ustad Soleh.


" iya ka" jawab Aisyah.


Aisyah pun dengan senang hati membuatkan bumbu sambal kecap.


" Eh slebor dari pada kau berdiri disitu, mendingan kau samperin ka Nisa sana" pinta ustad Usman.


" Iya iya aku nantuin ka Nisa" ucap Zahira.


" Tidak usah bantuin ka Nisa"


" Trus aku nyamperin ka Nisa mau ngapain?" tanya Zahira heran.


" Kau minta ka Nisa untuk membersihkan sisikmu, nanti kalau sisikmu sudah bersih, kau balik lagi kesini, nanti ku baringkan kau di atas panggangan" tutur ustad Usman. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.


" Ka Riziq, aku mau di panggang sama om ustad" ucap Zahira mengadu pada Riziq.


" Kalian berisik akh" protes ustad Soleh. Kini Zahira pun membantu Aisyah membuat sambal kecap.


" Aisyah kau bantu dulu kipas kipas ikannya, ka Soleh mau ke kebun mengambil daun pisang" ucap ustad Soleh. Aisyah pun mengangguk dan kini ia membantu ustad Usman mengipas ngipas ikan.


" Uhuk uhuk, Aisyah kau jangan terlalu kencang kipas kipasnya, asepnya kena mukaku semua" protes ustad Usman.


"Ini udah pelan ka, nanti kalau lebih pelan lagi apinya bisa mati"


" Tapi asepnya kena mukaku Aisyah. Nanti muka ka Usman cemong dan hitam hitam kena asap, nanti ketampananku berkurang" protes ustad Usman lagi.

__ADS_1


" Cemong ga cemong, hitam gak hitam cuma ka Nisa doang ko yang suka sama ka Usman" ledek Aisyah. Seketika Zahira langsung tertawa.


" Diam kau selebor" ucap ustad Usman sedikit menggeram pada Zahira.


" Heei kau jangan menghinaku Aisyah. Dulu di Kairo banyak sekali para perempuan yang mengejarku"


"Mengejar karna apa?, apa karna ingin minta tanda tangan apa mengejar karna ingin menagih utang" ledek Aisyah.


" Heei kau jangan meragukan ketampananku, coba aku tanya sekarang, tampanan siapa aku dan suamimu?" tanya ustad Usman. Aisyah pun mulai menimbang nimbang.


" Tidak bisa jawabkan?, itu artinya aku lebih tampan dari suamimu" ucap ustad Usman kembali.


" Iya, om ustad lebih tampan dari ka Riziq, tapi ketampananmu masih kalah sama ka Rasyid" ucap Zahira memotong pembicaraan.


" Kau dengar Aisyah adik iparmu sedang memuji mantan kekasihmu" ucap ustad Usman sambil berbisik. Seketika Aisyah langsung memicingkan matanya.


" Tapi ka biasanya menatap wajah yang tampan itu lama lama akan bosan. Tapi kalau menatap yang manis itu tidak akan merasa bosan" ucap Aisyah tidak mau kalah.


" Iya iya suamimu memang paling manis, sayang sekali kau yang cantik tapi harus bersaing dengan semut" ledek ustad Usman. Dengan kesalnya Aisyah mengipas ngipas panggangan itu hingga asapnya mengenai wajahnya ustad Usman. Karna tidak mau kalah ustad Usman pun membalas perbuatan Aisyah hingga asap itu mengenai wajah adik perempuannya itu.


" Uhuk uhuk"


Aisyah terbatuk batuk.


" Aisyah, Usman, kemarilah" pinta kiyai Husen.


Seketika Aisyah dan ustad Usman langsung menghentikan keributannya. Mereka malah saling lirik satu sama lain.


" Kenapa bi?" tanya Aisyah.


" Kemarilah, abi punya hadiah buat kalian" ucap kiyai Husen sambil tersenyum. Seketika itu pula Aisyah dan ustad Usman langsung tersenyum, mereka bangun dan berlari menghampiri kiyai Husen karna tak sabar dengan hadiah yang akan di berikan oleh abi mereka.


" Duduklah" pinta kiyai Husen.


Aisyah dan ustad Usman pun duduk di hadapan kiyai Husen.


" Duduk yang rapih uni nanti ku poto untuk kenang kenangan" ucap Riziq yang tau apa maksud dari ucapannya kiyai Husen. Aisyah pun tersenyum pada Riziq sambil berpose mengangkat dua jarinya( pis) setelah melihat kalau Riziq mau memotretnya. Riziq pun memoto Aisyah sambil tersenyum senyum.


" Aisyah kau ganjen sekali" ucap ustad Usman. Seketika Aisyah langsung menyipitkan matanya. Setelah mereka duduk di hadapan kiyai Husen.


" Apa hadiahnya abi?" tanya Aisyah tak sabar.


" Ini" ucap kiyai Husen sambil mendaratkan telunjuknya ke telinga Aisyah dan ustad Usman.

__ADS_1


Celetak celetak.


Dua sentilan mendarat tepat di telinganya Aisyah dan ustad Usman.


" Awww" ringis Aisyah dan ustad Usman sambil mengusap ngusap telinga mereka masing masing.


" Abi kenapa kita di sentil" protes ustad Usman.


" Ini adalah hadiah untuk kalian karna kalian selalu ribut dan berantem" ucap kiyai Husen. Aisyah sudah mengerucutkan bibirnya. Sementara Riziq sudah cekikikan tanpa suara sambil menundukan kepalanya. Kiyai Mansur dan umi Fadlun serta umi Salamah sudah menundukan wajahnya sambil menyembunyikan tawanya.


" Iya maaf abi, kita tidak akan ribut ribut lagi" ucap Aisyah.


" Bagus kalau begitu, sekarang lanjutkan lagi pekerjaan kalian" pinta kiyai Husen. Aisyah dan ustad Usman pun mengangguk dan kembali mengipas ngipas ikan lagi. Aisyah sudah memicingkan matanya pada Riziq yang sedari tadi sudah cekikikan tanpa suara.


" Kipas kipas lagi" pinta ustad Usman.


" Semua gara gara ka Usman, aku jadi di sentil di hadapan suami dan mertuaku, bukan kah itu sangat memalukan" ucap Aisyah sambil berbisik.


" Enak saja kau menyalahkanku, santai saja Aisyah, aku saja tidak malu pada Nisa"


" Ya karna ka Usman tidak tau malu, urat malunya kan sudah putus" ledek Aisyah. Aisyah dan ustad Usman kembali berdebat sambil berbisik.


" Aisyah, Usman kenapa lagi?" tanya kiyai Husen. Aisyah dan ustad Usman pun menghadap abinya sambil tersenyum.


" Nggak kenapa napa ko bi, kita lagi belajar sayang sayangan, iya kan dede Aisyah adiknya ka Usman yang manis" ucap ustad Usman sambil tersenyum senyum pada Aisyah. Aisyah malah mengeryitkan keningnya.


" Aku geli mendengarnya" ucap Aisyah.


" Cuma pura pura doang Aisyah, memangnya kamu mau di sentil lagi sama abi" bisik ustad Usman. Aisyah langsung menggelengkan kepalanya. Tiba tiba ustad Soleh datang sambil membawa beberapa daun pisang yang belum di reret.


" Ira kau bersihkan dulu daunnya" pinta ustad Soleh. Dengan sigap Zahira langsung membersihkan daun daun tersebut. Setelah semua ikan sudah di bakar, Nisa dan Aisyah pun menuangkan nasi liwetnya di atas daun daun itu. Dan sarah sudah menaruh ikan ikan yang sudah di bakar itu ke masing masing daun beserta dengan sabal kecapnya.


" Alhamdulilah, siap untuk dinikmati" ucap ustad Soleh.


" Ayo semuanya kita makan bareng" pinta kiyai Husen. Mereka pun sudah berkumpul menghadap pada nasi liwet yang di tabur di atas daun pisang. Namun Zahira hanya diam saja sambil menatap makanannya.


" Kenapa kau diam saja Ira, ayo makan" pinta Aisyah.


" Apa kita yakin mau makan diatas daun pisang, bukankah itu primitip sekali" protes Zahira.


" Kau jangan macam macam Ira, bukannya kau biasa makan di atas kertas nasi" ledek ustad Usman.


" Ira makanlah" pinta Riziq. Zahira pun mengangguk, ini pertama kalinya ia makan bukan dengan menggunakan piring melainkan dengan daun pisang. Mereka pun makan makan dengan lahap, ada setitik kebahagiaan disana yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Meskipun hidup sederhana dan tidak bermewah mewah, namun mereka bisa merasakan rasa bahagia yang teramat sangat.

__ADS_1


__ADS_2