Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Takbiran


__ADS_3

Pagi pagi sekali Aisyah sudah terbangun dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 04:15. Aisyah mengerjap ngerjapkan matanya, mengumpulkan seluruh nyawanya. Riziq pun belum terbangun. Perlahan Aisyah mengelus pundak suaminya, berniat untuk membangunkannya.


" Le bangun"


Bukannya bangun Riziq malah memeluk Aisyah.


" Bangun Le, sebentar lagi adzan subuh"


" 5 menit" ucap Riziq masih memejamkan matanya. Aisyah pun pasrah.


5 menit pun berlalu. Aisyah kembali membangunkan suaminya.


" Le, ayo bangun"


Namun Riziq nampak begitu pulas. Aisyah pun memutuskan untuk bangun duluan. Setelah selesai mandi dan mengenakan mukena, ia pun kembali membangunkan Riziq karna adzan subuh sudah berkumandang di masjid besar pesantren.


" Le, bangun"


Aisyah menggoyang goyangkan pundak suaminya. Seketika Riziq langsung membuka matanya.


" Bangun Le sudah subuh"


" Aku kesiangan uni?" tanya Riziq memastikan.


" Belum, baru saja adzan berkumandang. Cepatlah mandi" pinta Aisyah. Riziq pun bangun dan berlalu ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Aisyah pun membantu suaminya memakaikan kopeah serta sorban yang ia taruh di pundaknya. Riziq sudah menarik ujung mukena Aisyah hingga istrinya itu mendekat padanya.


" Apa tidak ada sentuhan dipagi hari yang bisa membuatku semangat" ucap Riziq.


" Kau jangan macam macam Le, aku sudah mengambil wudhu" ucap Aisyah waspada. Riziq pun tersenyum lalu melepaskan cengkramannya di ujung mukena Aisyah.


" Sudah sana berangkat, nanti terlambat" pinta Aisyah.


" Ya sudah aku berangkat ke masjid dulu, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Setelah kepergian Riziq, Aisyah pun mengerjakan shalat subuh. Setelah itu ia langsung membuat sarapan. Tidak lama kemudian Riziq pun pulang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah pun langsung mencium tangan suaminya dan langsung menggandengnya menuju dapur.


" Ayo kita sarapan dulu" ajak Aisyah. Riziq pun menghentikan langkahnya.


" Mana sentuhanmu di pagi hari" ucap Riziq sambil menatap Aisyah. Aisyah pun mengeryitkan keningnya.


" Sentuhan apa?" tanya Aisyah tak mengerti. Riziq malah tersenyum. Perlahan Riziq mengangkat dagu Aisyah dengan telunjuknya. Aisyah langsung mendongakan wajahnya, namun ia enggan untuk menjinjitkan kakinya.


" Jinjitkan kakimu" pinta Riziq. Aisyah malah menggelengkan kepalanya.


" Otakmu kan pintar, kau pasti tau caranya jika ingin mendapatkan sentuhan pagi dariku tanpa aku harus menjinjitkan kakiku" ucap Aisyah. Riziq malah tersenyum.


" Kau sedang menantang nafsuku uni?" tanya Riziq.


" Mungkin" jawab Aisyah.


" Bukankah aku sering bilang padamu, kalau seseorang sedang dikuasai nafsu, fikiran licik mulai menari nari di otak dan fikiran. Orang bodoh saja jika sedang dikuasai nafsu dan nafsunya sudah berada di ubun ubun, dia akan mendadak jadi pintar" tutur Riziq.


" Lalu?"


Riziq pun membungkukan badannya, mengimbangkan tinggi badannya hingga setara dengan tinggi badan Aisyah. Setelah satu menit, Aisyah langsung mencubit pinggang suaminya itu.


" Awww"


" Tidak boleh lebih dari satu menit, karna kalau lebih, kau bisa kenyang dulu sebelum sarapan" tutur Aisyah sambil meninggalkan Riziq menuju dapur.

__ADS_1


" Pelit" gerutu Riziq sambil mengikuti Aisyah sampai ke dapur.


" Lain kali setiap pagi kau loncat loncat tinggi biar tinggi badanmu bertambah, dan setara dengan tinggi badanku, hingga aku tidak perlu repot repot menunduk jika kau tidak mau berjinjit"


"Badanmu saja yang ketinggian" ucap Aisyah.


Mereka pun sarapan bersama.


" Le, hari ini aku main ya ke rumahnya umi Fadlun. Hari ini abimu pulang dari luar kota, tapi dia mau pergi ke pasar kambing bersama abi Husen, kasian umi sendirian lagi" tutur Aisyah. Riziq pun mengangguk. Setelah sarapan mereka pun bersiap pergi. Riziq pergi untuk mengajar, sementara Aisyah akan pergi ke rumahnya umi Fadlun.


" Ayo kita berangkat"


Aisyah pun mengangguk dan langsung mendorong Adam dan Hawa dengan kereta bayinya ke luar rumah. Setelah mereka ke luar, Riziq pun mengunci pintu rumah.


Mereka pun berjalan bergandengan tangan seperti biasa.


" Uni, nanti malamkan malam takbiran, kau mau ikut tidak ke masjid, sepertinya yang lain juga akan berdatangan ke sana" ucap Riziq.


" Bukankah para santri mulai di liburkan ya Le"


" Iya, sebagian dari santri ada yang pulang kampung, sebagian lagi ada yang tidak pulang" ucap Riziq.


" Aku ikut Le"


" Kalau kau ikut, nanti kau bawa cemilan yang sering kau buat ya Uni, buat teman ngopi di masjid nanti, pasti banyak yang datang ke masjid nanti malam untuk takbiran"


" Hmmm"


Mereka terus mengobrol hingga persimpangan jalan. Tiba tiba Riziq menghentikan langkahnya.


" Kenapa Le?" tanya Aisyah heran.


" Entah kenapa uni, seperti ada sesuatu yang lupa"


" Apa?"


" Asalamualaikum" ucap Aisyah saat menerima panggilan telepon.


" KA AISYAAAAAAAH" teriak Zahira di balik sambungan teleponnya. Zahira sudah terengah engah menahan nafasnya karna sedang bergulat dengan kemarahan dan rasa kesalnya.


" Kenapa kau tidak membangunkanku, kalian meninggalkanku dan malah mengunciku di dalam rumah sendirian, tega sekali kalian" gerutu Zahira sambil berteriak. Seketika Aisyah langsung terkejut, entah apa yang sedang ada di dalam fikirannya hingga Zahira bisa terlupakan.


" Astaghfirullah alazim, maaf Ira ka Aisyah lupa" ucap Aisyah merasa bersalah.


" Le, Zahira masih ada di rumah, aku lupa kalau Zahira menginap di rumah semalam, aku juga lupa membangunkannya" ucap Aisyah.


" Ya Allah uni, aku juga lupa, pantas saja aku merasa ada sesuatu yang lupa. Ayo kita pulang lagi ke rumah, pasti Ira sedang ngamuk ngamuk di rumah" tutur Riziq. Mereka pun akhirnya kembali pulang ke rumah. Aisyah segera membuka pintu yang terkunci. Setelah membuka pintu dan masuk rumah, Aisyah dan Riziq langsung terdiam ketika melihat Zahira sedang berdiri berkacak pinggang sambil menggeram kesal.


" Kenapa kalian tidak membangunkanku" ucap Zahira sedikit kesal.


" Maaf ka Aisyah lupa Ira, ka Aisyah tidak ingat kalau kau semalam menginap disini" ucap Aisyah.


" Kau tau ka, aku sampai tidak shalat subuh, belum bersiap pergi ke keasrama untuk mengambil baju seragamku, kalian malah mengunciku di dalam rumah, bahkan aku belum sarapan" gerutu Zahira kesal.


" Maaf, ka Riziq benar benar lupa Ira"


Zahira malah mengerucutkan bibirnya.


" Ya sudah, ayo kita berangkat, takutnya nanti telat, kau harus ke asrama dulu kan Ira?" tanya Aisyah.


" Sudah jangan ngambek terus, ayo kita berangkat" pinta Riziq sambil menarik tangan Zahira ke luar dari rumah. Mereka pun berjalan kembali meninggalkan rumah.


* * * * *


Malam pun tiba, setelah shalat Isya, Riziq dan Aisyah pun pergi ke masjid untuk ikut takbiran, tidak lupa mereka mengajak Adam dan Hawa. Aisyah sudah membawa dua box kue yang ia buat tadi sore untuk dihidangkan di masjid. Di tengah jalan mereka bertemu Dewi dan Syifa yang hendak pergi ke masjid juga.


" Asalamualaikum"

__ADS_1


" Waalaikum salam"


" Wi kalian mau pergi ke masjid juga?" tanya Aisyah.


" Iya, kita mau ikut takbiran bersama yang lain" jawab Dewi. Aisyah pun mengangguk. Tiba tiba mata Dewi tertuju pada box kue yang Aisyah bawa.


"Aisyah itu kau bawa apa?" tanya Dewi penasaran. Aisyah langsung menyipitkan matanya sambil menatap Dewi.


" Kau jangan macam macam ya Wi, katanya kau mau diet" ucap Aisyah mengingatkan. Dewi langsung tersenyum getir.


" Kalau cuma nyoba satu hingga dua kue saja pasti tidak akan berpengaruhkan" ucap Dewi.


" Terserah kamu sajalah" ucap Aisyah pasrah.


Mereka pun berjalan bersama hingga sampai di masjid besar pesantren. Disana sudah ada beberapa pengurus masjid dan beberapa santri yang tidak pulang kampung. Termasuk para guru pembimbing.


Ustadzah Ulfi nampak tersenyum melihat Adam dan Hawa.


" Eh Adam dan Hawa mau ikut takbiran juga ya" ucap ustadzah Ulfi sambil menguyel uyel pipinya Adam dan Hawa. Aisyah pun berjalan bersama Riziq menemui ustad Rasyid, ustad Usman, ustad Soleh dan beberapa ustad Yang lain untuk memberikan kue buatannya. Dewi pun ikut mengekori Aisyah.


" Kenapa kau sedari tadi mengekoriku terus Wi?" tanya Aisyah heran.


" Aisyah, kau seperti tidak tau saja sahabatmu itu, Dewi pasti sedang mengincar kue cemilan yang kau bawa" ucap ustad Usman. Dewi sudah tersenyum malu.


" Ustad, sepertinya kau sangat memahamiku ya, kau tau saja kalau sedari tadi aku sedang mengincar cemilan yang Aisyah bawa" ucap Dewi sambil tersenyum senyum. Aisyah hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Aisyah pun memberikan beberapa kue yang ia bawa pada Dewi.


" Jangan minta lebih, kau harus ingat, sekarang kau sedang berusaha menurunkan berat badanmu" ucap Aisyah.


" Iya aku ingat Aisyah" ucap Dewi sambil mencicipi kue itu.


" Yang banyak makannya Wi, biar besok saat kau akan disembelih, kau tidak akan merasa kelaparan" tutur ustad Usman sambil tersenyum senyum. Seketika Dewi langsung mengerucutkan bibirnya.


" Memangnya aku sapi kurban, main sembelih sembelih saja" gerutu Dewi. Ustad Rasyid dan ustad Soleh pun sedikit tertawa. Kini Riziq sudah masuk ke dalam masjid dan bersila sambil mengumandangkan takbiran.


Allahu akbar allahu akbar Allahu akbar


Laa ilaha ilallahu allahu akbar.


Aisyah kini mendekati Ustadzah Ulfi begitupun dengan Dewi.


" Selamat hari idul Adha ya" ucap ustadzah Ulfi. Aisyah pun tersenyum.


" Semoga hati kita semakin bersih ya"


Mereka pun takbiran bersama sama. Adam dan Hawa sudah tertidur di gendongan Aisyah dan ustadzah Ulfi. Mereka nampak terlelap meskipun suara takbir yang menggema di speker masjid.


" Aisyah, besok kau pergi untuk melaksanakan shalat idul adha tidak?" tanya Dewi.


" Tentu"


" Nanti samper aku ya" pinta Dewi. Aisyah pun menganguk.


" Besok aku juga ingin melihat hewan kurban di potong" ucap Dewi kembali.


" Kau sudah daftar?" tanya Aisyah. hingga Dewi mengeryitkan keningnya.


" Daftar apa?"


" Tentu saja daftar calon kurban"


Seketika Dewi langsung menggeram.


" Kau jangan macam macam Aisyah"


" He he, maaf bercanda"


* * * * ****Advance**** HAPPY EID'L ADHA to all Muslims around the world****'* * * *

__ADS_1


__ADS_2