Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Cemburunya Aisyah.


__ADS_3

Sesampainya di rumah umi Fadlun, Aisyah pun minta izin untuk pamit.


" Umi aku pamit dulu ya, kasian anak anak takutnya mereka nangis" ucap Aisyah.


" Kak Riziq, kau jangan pulang dulu ya, aku ingin ngobrol ngobrol dulu denganmu, sudah lama kan kita tidak bertemu, memangnya kau tidak Rindu padaku?" tanya Zahra.


" Awas ya Le, kalau kau berani ngobrol dengan perempuan lain" ucap Aisyah sambil berbisik pada Riziq.


" Maaf Zahra, aku mau pulang dulu, aku Rindu pada anak anak" jawab Riziq.


" Ziq, nanti kesini bawa anak anak ya, abi ingin bertemu dengan cucu cucu abi" ucap kiyai Mansyur.


" Ia bi, nanti aku bawa Adam sama Hawa kesini"


" Kak Riziq aku ikut ya kerumahnya kakak" pinta Zahra. Aisyah malah mengeryitkan keningnya heran dan hampir tak percaya dengan keinginannya Zahra yang tidak tau malu itu.


" Zahra, memangnya kau tidak cape, kau kan baru datang sebaiknya kau istrirahat saja" ucap Aisyah. Aisyah sudah menampakan rasa cemburunya. Riziq hanya tersenyum saja melihat tingkah Aisyah, ia tau kalau istrinya itu sedang cemburu.


" Lain kali saja ya Zahra, ka Riziq sama ka Aisyah mau istirahat juga, capek" jawab Riziq. Membuat Zahra mengerucutkan bibirnya karna kesal.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Riziq dan Aisyah pun pamit pulang. Di perjalanan, sudah menekuk wajahnya karna kesal. Ia sudah menggandeng lengan Riziq begitu eratnya.


" Uni, tanganku sakit di gandeng seperti itu"


" Biar saja, aku akan semakin mengeratkan genggaman tanganku, kalau perlu, akan ku rantai tanganmu, biar kau terhindar dari serangan pelakor" ucap Aisyah menegaskan.


" Sepertinya aku mencium bau bau kecemburuan" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.


" Memangnya kenapa kalau aku cemburu?" tanya Aisyah sedikit kesal.


" Tidak kenapa napa, justru aku malah senang, itu artinya kau sangat mencintaiku" ucap Riziq sambil mencubit hidung Aisyah.


Sesampainya di rumah umi Salamah, Aisyah pun mengambil Adam dan Hawa yang sedang tertidur.


" Terima kasih ya Umi, terima kasih juga ya ka Usman sudah menjaga anak anak" ucap Aisyah.


" Aisyah lain kali, kalau mau menitipkan anak anak pada umi, kau beritau aku dulu ya, minimal setengah jam sebelumnya" ucap ustad Usman. Membuat Aisyah heran dengan ucapan kakaknya itu.

__ADS_1


" Memangnya kenapa kak?"


" Biar aku bisa bersiap siap untuk kabur, anak anakmu sangat merepotkan Aisyah, mereka bahkan berani mengerjaiku" gerutu ustad Usman membuat Aisyah, Riziq dan umi Salamah tertawa.


" Sepertinya itu hukuman untuk kak Usman".


Mereka pun pulang ke rumah. Aisyah sudah menggendong Hawa, dan Riziq menggendong Adam. Setelah sampai rumah, mereka membaringkan anak anak di tempat tidur.


" Le aku mau bicara denganmu." ucap Aisyah sambil berjalan ke ruang tamu meninggalkan Adam dan Hawa yang sedang terlelap di kamar.


Mereka pun sudah duduk di ruang tamu.


" Kenapa uni?"


" Kau jelaskan sejelas jelasnya siapa Zahra sebenarnya, supaya uni tidak merasa cemburu padamu"


Riziq malah tersenyum lalu mencium pipinya Aisyah.


" Aku suka kalau istriku sedang cemburu" ucap Riziq.


" Jangan menggodaku, aku minta penjelasan padamu" tegas Aisyah.


" Sepertinya kalian sangat akrab?" tanya Aisyah.


" Ya bisa di katakan kami berteman, tapi uni jangan salah sangka dulu, temanku banyak bukan cuma Zahra saja, jadi jangan menyimpulkan kalau Zahra adalah teman spesialku. Karna teman spesialku adalah kau" ucap Riziq sambil menunjuk hidung istrinya itu.


" Tetap saja uni tidak suka kalau dia dekat dekat denganmu, apalagi dia begitu kecentilan padamu, rasanya aku ingin menjambak jambak rambutnya" gerutu Aisyah. Riziq malah tertawa.


" Ha ha ha, ternyata kalau istriku sedang marah, dia nampak menakutkan ya, sama menakutkannya saat dia sedang datang bulan" ucap Riziq sambil terkekeh. Hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.


* * * * *


Sore pun tiba. Aisyah sedang asik menggoda Adam dan Hawa yang baru terbangun dari tidurnya.


" Eh, anak umi yang tampan dan cantik udah bangun ya" ucap Aisyah sambil mencium pipi bayi bayinya.


" Uni sebaiknya kau bersiap siap, kitakan mau kerumah umi Fadlun, abi ingin bertemu dengan Adam dan Hawa" ucap Riziq.


" Sebentar uni mandi dulu, tapi kau jaga anak anak dulu ya Le"


" Apa mau ku temani?"

__ADS_1


" Kemana?" tanya Aisyah tak mengerti.


" Mandi"


" Kau jangan macam macam Le" ancam Aisyah. Hingga Riziq tertawa tawa.


" Aku akan setia menunggu satu minggu lagi"


Setelah selesai bersiap siap mereka pun pergi ke rumahnya umi Fadlun sambil berjalan kaki. Sementara Adam dan Hawa sudah duduk di kereta bayi hadiah dari umi Fadlun.


Sesampainya disana.


" Inget ya Le, kau jangan deket deket dengan Zahra" Bisik Aisyah sedikit mengancam.


" Asalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab umi Fadlun sambil membuka pintu.


" Eh, Adam sama Hawa sudah dateng, ayo masuk" ajak umi.


" Kak Riziq" ucap Zahra saat mereka datang.


Kiyai mansyur pun tersenyum lalu menggendong bayi Adam, sementara umi Fadlun menggendong Hawa. Zahra sudah menarik ujung lengan bajunya Riziq.


" Duduk ka" pinta Zahra. Riziq dan Zahra pun duduk berdampingan. Seketika Riziq langsung mengeser posisinya lalu menatap Aisyah sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya Zahra. Aisyah pun tersenyum dan langsung duduk di sebelahnya Riziq. Tepatnya kini Aisyah duduk di tengah tengah antara Riziq dan Zahra. Hingga Zahra mendengus kesal.


" Oh ya Zahra, kau pergi kesini, memangnya tidak kuliah?" tanya Riziq.


" Kuliahku sedang libur ka" jawab Zahra.


" Abimu sama Zahra cuma satu minggu di sini Ziq, setelah itu mereka balik lagi ke kairo, Zahra juga harus menyelesaikan kuliahnya" ucap umi Fadlun yang sedang asik menggendong Hawa.


" Ka Riziq jadi pengajar ya disini?, kenapa tidak mengajar di kairo saja" ucap Zahra.


" Kak Riziq sudah punya keluarga di sini, sudah punya 2 bidadari cantik (Aisyah dan Hawa) dan juga malaikat kecil yang manis ( Adam), sudah tidak mungkin pergi ke kairo lagi" ucap Riziq menjelaskan.


" Yang kau maksud bidadari itu aku Le?" tanya Aisyah.


" Tentu saja" jawab Riziq sambil menatap Aisyah. Aisyah nampak tersenyum bahagia. Sementara Zahra langsung memalingkan wajahnya karna cemburu.


" Sepertinya kau sangat mencintai istrimu ka, akan kupastikan, keyakinanmu akan goyah dalam satu minggu ini" ucap Zahra dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2