
Setelah pulang dari rumahnya kiyai Husen, Riziq langsung pulang kerumahnya. Kini dirinya di kuasai emosi, ia membuka pintu rumah tanpa mengucapkan salam, dan menutup pintu dengan membantingnya keras. Ia masuk kamar dan duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kau melakukan ini ang, kau bukan hanya menyakiti uni Aisyah, tapi kau juga menyakitiku, apa kau tidak pernah menghiraukan ancaman ku selama ini, baiklah kalau ini keputusanmu, jangan harap aku mau memaafkanmu " gumam Riziq dalam hatinya.
Matanya sudah memerah, tangannya mengepal tanpa ia sadari, tubuhnya sedikit bergetar, ia mencoba meredakan gejolak amarahnya.
Saat ia mengingat raut wajah Aisyah yang nampak kecewa, ia bisa merasakan perasaan Aisyah yang penuh dengan rasa sakit. Raut wajah Aisyah yang nampak sedih membuat hatinya teriris.
"Uni maafkan aku yang tidak bisa meyakinkan kakaku untuk tetap mempertahankanmu, jangan sedih uni, aku akan tetap menjagamu dan akan kupastikan aang Rasyid akan menyesal karna melepaskanmu " gumam Riziq kembali.
Tiba tiba ia mendengar ucapan salam dan mendengar suara reketan pintu yang terbuka, ia yakin itu adalah ustad Rasyid yang datang. Kini emosinya meluap kembali, ia tak mengerti kenapa ia bisa semarah itu pada kakaknya yang telah membesarkannya selama ini. Mungkin alasannya adalah Aisyah yang sangat ia sayangi melebihi kakaknya sendiri.
Sementara itu, ustad Rasyid sudah masuk rumah, ia berjalan menuju kamarnya Riziq, ada keraguan dalam dirinya, ia yakin adiknya itu sedang marah besar padanya, kemarin saja sudah merajuk, apalagi dengan keputusannya sekarang, sudah terpikir bagaimana marahnya Riziq. Namun ia coba untuk memberanikan diri menghadapi adiknya itu. Perlahan ustad Rasyid mengetuk pintu.
Tok tok tok
" Riziq " panggil ustad Rasyid, namun tak ada jawaban.
"Ziq, apa kamu sudah tidur " panggil ustad Rasyid kembali, namun lagi lagi tak ada jawaban. Perlahan ustad Rasyid membuka handle pintu kamarnya Riziq. Nampak Riziq sedang duduk di tepi ranjang sambil memandang ke arah lain tanpa menoleh sedikitpun pada kakaknya itu. Ustad Rasyid mengerti akan sikap adiknya itu.
__ADS_1
" Kita perlu bicara " ucap ustad Rasyid.
"Tidak perlu, semua sudah jelas " jawab Riziq acuh. Perlahan ustad Rasyid masuk dan duduk di sebelahnya Riziq, ia menatap lekat adik kesayangannya itu.
"Aku tau kau sangat marah padaku, keputusan yang ku ambil telah menyakitimu dan Aisyah, tak ada maksudku untuk itu " tutur ustad Rasyid.
" Tapi kenyataannya kau telah menyakiti Aisyah " jawab Riziq tanpa menoleh sedikitpun pada kakaknya itu.
" Maafkan aku, bukan maksudku untuk mempermainkannya, hanya saja ...
Belum juga ustad Rasyid menyelesaikan ucapannya, Riziq sudah memotong pembicaraannya sambil bangkit dari duduknya.
" Kau jangan selalu menyudutkan ku seperti ini, aku punya alasan sendiri untuk itu " ucap ustad Rasyid yang kini mulai terbawa emosi karna Riziq selalu memojokannya.
"Aku tidak perlu mendengar alasanmu, yang jelas kau telah menyakiti uni ku, sudah sering ku peringatkan kalau kau berani menyakiti Aisyah maka bersiap siaplah untuk kehilanganku " ucap Riziq penuh penegasan.
"Kenapa kau selalu memojokanku seperti ini, kau pikir aku mau dengan keadaan seperti ini, kau pikir aku tidak sakit, aku sangat mencintai Aisyah, tapi kau tidak mengerti dengan posisiku, tak ada niatku untuk mempermainkannya sedikitpun, aku menyayanginya sama seperti aku menyayangimu " ucap ustad Rasyid yang kini ikut terbawa emosi. Riziq mendengus kesal.
" Kalau kau juga merasa sakit, lalu kenapa kau melakukan semua ini ? " tanya Riziq yang tak kalah emosi, dadanya sudah naik turun, mencoba menetralisir gejolak amarah di dadanya.
__ADS_1
" Kau tau Ziq, kenapa ayah membawaku ke pesantren, ia membawaku kesini bukan karna ingin aku menuntut ilmu di sini, tapi karna ia ingin membuangku di sini, dia membenciku sangat membenciku karna aku tidak menyukai kehidupan barunya. Kau tau aku tidak pernah dikirim uang sedikitpun, ayah sudah tidak mau lagi bertanggung jawab atas diriku. Kiyai Samsul lah yang selama ini membantuku, dia memberiku beasiswa di sini. Dia juga menunjang semua kebutuhanku di sini, dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, apa salah kalau aku berbalas budi padanya dengan cara menikahi putrinya " tutur ustad Rasyid panjang lebar menjelaskan.
Riziq hanya diam saja matanya mulai berkaca kaca, ia tau kalau ayahnya sudah berubah sejak menikah lagi, namun ia masih tak terima dengan keputusan kakaknya itu.
"Apapun alasannya aku tetap tak terima kau menyakiti uni ku, aku sudah sering mengancamu bukan, kalau kau menyakiti uni Aisyah kau akan kehilanganku, dan kini kau sudah menyakiti uni ku, jadi bersiap siaplah untuk kehilanganku, dan satu lagi jangan salahkan siapapun kalau aku membencimu" ucap Riziq sambil berlalu pergi, ia pun membanting pintu dengan kerasnya.
Jebreeed.
Seketika tubuhnya ustad Rasyid melemas begitu saja, perasaannya hancur ia bagai di penjara dengan keadaan.
Saat Riziq berjalan dengan sedikit berlari, masih di kuasai emosi, ia sempat berpapasan dengan Dewi. Dewi baru pulang dari rumahnya bi Ratna, ia membawa 2 kantong pelastik belanjaannya, Dewi heran melihat Riziq berjalan dengan kecepatan yang tidak biasa.
"Riziq " panggil Dewi. Seketika Riziq langsung berhenti di hadapannya Dewi.
"Kamu mau kemana Ziq ? " tanya Dewi heran. Riziq hanya diam saja, ia tak menjawab pertanyaannya Dewi.
"Kenapa sama Riziq, kenapa wajahnya nampak menyeramkan seperti itu " gumam Dewi dalam hati. Tanpa menjawab Dewi, Riziq pun kembali melanjutkan perjalanannya, membuat Dewi semakin heran.
" Kenapa bocah ingusan itu, apa dia salah makan "
__ADS_1