
Siang pun tiba. Kini Aisyah dan Zahira sedang asik memasak. Sementara Riziq, ia sedang menjaga Adam dan Hawa. Meskipun Zahira belum bisa memasak setidaknya ia bisa memotong sayuran dan beberes yang lain tidak seperti Riziq yang suka menghancurkan masakannya Aisyah.
" Sudah mateng semua lra?"
" Hmmm"
Mereka pun menghidangkan hasil masakannya di atas meja.
" Le, makan dulu" teriak Aisyah di dapur. Zahira sudah duduk dan siap menikmati masakannya. Riziq pun duduk bersama mereka.
" Ini kau yang masak lra?" tanya Riziq.
" Hmmm, hebatkan aku, jadi jika kau mau menikahkan aku dan kak Yusuf sekarang, aku sudah siap karna aku sudah bisa memasak" tutur Zahira sambil tersenyum senyum. Riziq dan Aisyah sudah mengeryitkan keningnya.
" Kau jangan macam macam ya" ucap Riziq sambil memicingkan matanya karna tak suka dengan ucapannya Zahira.
" Ira, umur mu baru 15 tahun, kau jangan genit genit kau belum pantas membicarakan pernikahan, sekolah dulu yang benar, lagi pula kau hanya membantuku memotong sayuran saja, belum bisa memasak" tutur Aisyah. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya. Tiba tiba ia mengeluarkan hp miliknya yang di pinta dari Aisyah. Kalau hari libur Riziq membolehkan Zahira untuk memegang hp. Zahira pun mengangkat hp itu dan mengarahkan ke hadapannya.
" Haai gays, kembali lagi bersamaku Zahira rahmadia al fiqri, gays hari ini aku lagi kumpul kumpul nih ceritanya mau makan makan sama kakak kakaku yang sedikit otoriter dan sedikit menyebalkan. Gays asal kalian tau ya ini semua adalah hasil masakanku hebatkan " tutur Zahira yang kini sedang asik dengan konten IG nya. Tiba tiba Riziq merebut hp itu dari tangan Zahira. Tentu saja Zahira langsung menggeram kesal.
" Ka, aku kan belum selesai" ucap Zahira kesal.
" Tidak boleh memainkan hp mu, aku saja tidak punya IG, kau malah asik dengan kontenmu itu" gerutu Riziq.
" Ka Riziq tidak punya IG?"
" Hmmm"
" Norak" Zahira meledek.
" Sekali lagi kau bilang aku norak, ku makan hpmu" ucap Riziq mengancam. Aisyah hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.
Sore pun tiba, Aisyah pun mengantarkan Zahira kembali ke asrama putri. Sesampainya disana.
" Sudah sampai, ka Aisyah pulang dulu ya, ini ada uang jajan dari kakakmu, tidak terlalu banyak jadi kau harus bijak menggunakannya" pinta Aisyah sambil memberikan uang jajan pada Zahira.
" Terima kasih ka, tapi kalau aku belikan mak up boleh tidak?" tanya Zahira sambil tersenyum senyum. Seketika Aisyah langsung menggeram.
" Iraaaaaaaa"
" Haa ha ha ha, maaf ka aku cuma bercanda" ucap Zahira sambil tertawa.
" Tapi aku boleh kan pake mak up yang kubawa dari rumah dulu?" tanya Zahira.
" Tidak boleh, seorang santriwati dilarang berdandan berlebihan disini, ku ingatkan ya, kau jangan sekali kali memakai lipstik di depan kakakmu, nanti dia akan menggantungmu di pohon mangganya ustad Azam" tutur Aisyah.
"Menakutkan sekali kakakku itu" gerutu Zahira
" Ya sudah ka Aisyah pulang asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Di jalan saat Aisyah berjalan untuk pulang, ia melihat ustad Usman berjalan ke arahnya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam, kau dari mana Aisyah?" tanya ustad Usman.
" Habis mengantarkan Ira ke asrama"
" Ooh, bocah ingusan itu. Ya sudah kak Usman pergi dulu asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
"Tumben ka Usman kalem begitu" gumam Aisyah. Aisyah pun melanjutkan perjalanannya kembali.
Di depan gerbang pesantren berdiri seorang perempuan paruh baya namun dandanannya sangat modis. Ia memakai dres mini di atas lutut tanpa lengan berwarna merah sambil memakai kaca mata hitam.
Kini ustad Usman berjalan menyusuri gerbang, Tiba tiba matanya membelalak hebat, ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saat melihat perempuan itu berdiri di dekat gerbang.
" Astaghfirullah alazim, mataku telah ternodai" ucap ustad Usman sambil menutup mata dan membalikan badannya.
" Dajjal, dia pasti dajjal, astaghfirullah alazim, kiamat sudah dekat" ucap ustad Usman.
" Heei pak ustad" panggil perempuan itu pada ustad Usman.
__ADS_1
" Ya Allah apa dia memanggilku" gumam ustad Usman.
" Pak ustad" panggil perempuan itu kembali.
Ustad Usman merasa cemas takut dan gelisah melihat perempuan yang ada di hadapannya. Ia takut matanya akan ternodai kembali.
" Kabuuuuuur" ucap ustad Usman sambil berlari, tiba tiba ia menabrak tihang.
" Allahu akbar nikmatnya" ucap ustad Usman sambil meringis. Tiba tiba ia melihat ustadzah Ulfi.
" Ustadzah" teriak ustad Usman sambil mengusap ngusap jidatnya. Perlahan ustadzah Ulfi menghampiri ustad Usman yang sedang memegangi jidatnya.
" Ustad Usman kenapa?" tanya ustadzah Ulfi heran.
" Itu di depan ada Dajjal"
" Dajjal??"
" Hmmm"
Ustadzah Ulfi hanya mengeryit heran.
" Apa maksudnya?"
" Itu di depan gerbang ada perempuan dajjal yang sedang berdiri"
Ustadzah Ulfi pun menatap perempuan itu.
" Astaghfirullah alazim"
" Ustadzah temuilah perempuan itu, mau apa dia kesini, mungkin dia tersesat. Saya pergi dulu, saya takut keimanan saya ikut tersesat juga asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Saat ustad Usman melangkah pergi tiba tiba sarungnya tersangkut.
" Astaghfirullah alazim, nikmat apa lagi yang kau berikan ya allah, ampuni aku yang tidak sengaja melihat paha sama ketek perempuan yang bukan mahromku. duuh mimpi apa aku semalam hingga sore sore begini sudah lihat paha pred cicken èma èma" gumam ustad Usman. Namun ia tersenyum saat sarung nya utuh dan tidak robek.
" Alhamdulillah, untung sarungnya tidak robek, aman. l love you ya allah" ustad Usman sedikit berlari menjauh dari perempuan modis itu. Perlahan ustadzah Ulfi pun mendekati perempuan itu.
" Dandanannya norak kampungan ikh iyuuuee" batin perempuan itu.
" Maaf ibu, ada keperluan apa datang kemari?" tanya ustadzah Ulfi.
" Nama saya sès Erni, saya kesini mau cari anak saya" ucapnya sedikit sinis.
" Kalau boleh tau siapa nama anaknya ibu?"
" Zahira"
" Zahira??"
" Hmmm, dia di culik kakanya kemari. lbu guru bisa tunjukan dimana anak saya sekarang, saya ingin bertemu dengannya" ucap bu Erni sambil melangkah angkuh masuk ke dalam pesantren.
" Tunggu bu Erni" ucap ustadzah Ulfi.
" Ya kenapa ibu guru?"
" Maaf sebelumnya bu, karna penampilan bu Erni sedikit kurang pantas masuk pesantren, jadi ibu Erni tidak bisa masuk dengan penampilan seperti itu" tutur ustadzah Ulfi. Bu Erni pun mengeryitkan keningnya.
" Apaaa, ibu guru tidak mengerti mode ya, ini fashion bu, lagi tren di pasaran" ucap bu Erni dengan rasa tak suka atas omongannya ustadah Ulfi.
" Sekali lagi maaf bu, tapi ini lingkungan pesantren, penampilan ibu akan mengotori kesucian mata para santri disini, jadi kalau ibu ingin menemui putri ibu, maka ibu harus tunggu di ruangan saya, kebetulan ruangannya tidak jauh dari sini" tutur ustadzah Ulfi. Ustadzah Ulfi pun mengajak bu Erni keruangannya, mereka bertemu dengan beberapa santri disana, mereka langsung menutup mata saat berpapasan dengan bu Erni sambil mengucap istighfar.
" Astaghfirullah alazim"
Bu Erni pun mengeryitkan keningnya.
" Kenapa mereka menutup mata saat melihat saya, memangnya saya menyeramkan?, segini cantiknya" gumam bu Erni.
Setelah sampai di ruangannya ustadzah Ulfi.
" Silahkan duduk bu" pinta ustadzah Ulfi.
" Maaf ya bu guru, jangan panggil saya ibu, panggil saya sès Erni" tegas bu Erni. Ustadzah Ulfi pun menghubungi Riziq dan ustad Rasyid. Tidak lama kemudian Riziq datang bersama ustad Rasyid dan juga Aisyah.
__ADS_1
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab ustadzah Ulfi.
Saat mereka menatap penampilan bu Erni.
" Astaghfirullah alazim" ucap Riziq, ustad Rasyid dan Aisyah. Ustad Rasyid dan Riziq langsung memalingkan pandangannya. Ustad Rasyid sudah menggeram kesal karna ia tau siapa perempuan yang ada di hadapannya itu.
Seketika Aisyah langsung mengambil kaca mata hitam yang ada di mejanya ustadzah Ulfi.
" Pinjam ustadzah"
Aisyah langsung memakaikannya pada Riziq.
" Uni kau ini apa apaan, kenapa kau memakaikan kaca mata hitam padaku, gelap uni" ucap Riziq protes.
" Jangan protes, biar matamu tidak silau dengan pemandangan yang ada di hadapanmu itu" ucap Aisyah.
" Uni dia sudah tidak muda lagi, masa kau cemburu sama èma èma" bisik Riziq.
" Maaf ustad Riziq, ustad Rasyid, ibu Erni ini sedang mencari Zahira" ucap ustadzah Ulfi.
" Kenapa ibu mencari Zahira?" tanya Riziq.
Tiba tiba bu Erni menggebrak meja.
" Kenapa?, kamu tanya kenapa?, saya ini ibunya Zahira, kau pasti Riziq kan, berani beraninya kau menculik anakku" ucap bu Erni kesal.
" menculik?" gumam Aisyah.
Riziq nampak terkejut kalau perempuan yang ada di hadapannya itu adalah ibu tirinya. Sementara ustad Rasyid sudah memandang tak suka pada Riziq setelah bu Erni mengatakan Riziq telah menculik Zahira.
" Saya tidak menculik Zahira" ucap Riziq.
" Apa namanya kalau bukan menculik, saat kau membawa Zahira kesini tanpa seizinku. Kau mau mengikuti perbuatannya Rasyid, saat dia menculikmu dulu dan membawamu ke pesantren ini tanpa sepengetahuanku dan ayahmu, dan sekarang kau yang menculik adikmu dan membawanya kesini, saya bisa saja melaporkanmu pada polisi" tutur ibu Erni.
" Ibu nini salah saya tidak men," belum juga Riziq menyelesaikan ucapannya, bu Erni langsung memotong ucapannya.
" Heeei Riziq, kenapa kau memanggilku Nini, namaku Erni" ucap bu Erni menegaskan.
" Aku hanya memanggil nama ujungmu saja, zahira saja kupanggil lra, lalu apa salahnya aku memanggil nama ujungmu saja"
" Tapi Nini itu adalah panggilan èma èma yang sudah beruban" ucap bu Erni tak suka.
" Panggil aku sès"
Ustad Rasyid hanya diam saja, sedari dulu ia memang tidak suka dengan ibu tirinya.
" Baiklah sès tiri"
" Kenapa kau memanggilku sès tiri?" ucap bu Erni tak suka.
" Kau kan ibu tiriku, karna kau tidak mau di panggil ibu dan hanya ingin di panggil sès, maka aku memanggilmu seperti itu" ucap Riziq. Bu Erni pun sudah menggeram kesal.
" Maaf sès Erni, tapi kami tidak menculik Zahira, pak Rudi sendiri yang memberikan Zahira pada kami, katanya dia adalah warisan yang di tinggalkan pak Fiqri untuk kami" tutur Aisyah.
" Warisan? ? ?"
Tiba tiba Zahira datang, ia terkejut melihat ibunya.
" Ibu"
Bu Erni pun tersenyum melihat Zahira.
" Zahira anak ibu" ucap bu Erni sambil memeluk Zahira. Dengan kesalnya Zahira langsung melepaskan pelukan ibunya.
" Ngapain ibu kesini" ucap Zahira ketus.
" Ibu kesini mau bawa kamu pulang sayang, ibu tidak tau kalau kamu di culik kakak kamu" ucap bu Erni.
" Aku tidak mau pulang sama ibu, dan ka Riziq tidak menculiku, ibu yang telah membuangku dan pergi dengan suami baru ibu" ucap Zahira kesal.
"Maafin ibu sayang, kita pulang ya" pinta bu Erni.
" Tidak mau, aku mau disini sama ka Riziq dan ka Aisyah titik asalamualaikum" ucap Zahira sambil berlalu pergi.
__ADS_1
" Waalaikum salam"