
Masih dengan ustad Usman, Zahira dan bu Erni yang kini masih berada di klinik.
" Bu, aku kan sudah bilang sama ibu, aku tidak mau pulang bersama ibu, aku masih ingin disini bersama ka Riziq, aku ingin belajar agama disini" ucap Zahira.
" Tapi lra, apa kakak kakakmu menerimamu disini?, kenapa kau tidak belajar agama bersama ibu saja di rumah" ucap bu Erni.
" Emangnya ibu ngerti agama?"
" Ngerti"
" Kalau gitu aku tanya iman artinya apa?" tanya Zahira pada bu Erni.
" Eh jangan kau bertanya seperti itu pada ibumu, nanti dia jawabnya iman adalah nama tetangganya" ucap ustad Usman.
" Ibu tau tidak huruf hija'iah?"
" Tau"
" Apa?"
" A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z"
" ltu huruf abjad bu" jawab Zahira kesal.
" Astaghfirullah" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya, ia hampir tak percaya dengan ibunya Zahira.
" Bu boleh saya lihat KTP ibu" pinta ustad Usman. Hingga bu Erni mengeryitkan keningnya.
" Untuk apa KTP saya, lagi pula jangan panggil saya ibu, panggil saya sès Erni" ucap bu Erni tegas.
" Sès? ? ?, saya ingin lihat apa agama yang tertera di ktp sès" ucap ustad Usman. Zahira sudah memicingkan matanya.
" Tentu saja agama saya lslam" jawab bu Erni.
" Kalau agama ibu islam dan ibu ingin mengajariku mengaji, coba aku ingin dengar ibu membacakan huruf hija'iah dari mulai alif dulu"
" Oh, kalau itu sih ibu tau. Alif ba ta tsa jim ha Allah tuhan kita semua, kha dal dzal ro zai sin syin dari yang kaya sampai yang miskin"
" Ibuuuuu, itu mah lirik lagunya wali" ucap Zahira sedikit menggeram. Bu Erni sudah tersenyum malu, sementara ustad Usman sudah mengucap istighfar sambil mengusap ngusap dadanya.
" Astaghfirullah alazim, lama lama aku bisa gila dengan pasangan anak sama ibu yang ada dihadapanku ini" gumam ustad Usman.
" Ya sudah begini saja. Untuk kebaikan semua, saya minta ibu Erni eh maksud saya sès Erni saya daftarkan sebagai santriwati disini. Nanti saya masukan sès Erni di kelas yang sama dengan Zahira, bagaimana?" ucap ustad Usman. Bu Erni hanya bengong sambil menganga sementara Zahira sudah mengeryitkan keningnya.
" Sebenarnya yang gila itu ibu apa om ustad?" batin Zahira.
" Memangnya lra sekarang duduk di kelas berapa?" tanya bu Erni.
__ADS_1
" Nol besar" jawab Zahira.
"Apaaaa! ! ! . Tidak mau, masa saya harus duduk di kelas nol besar. lagi pula nanti suami saya siapa yang jagain, kalau saya tinggal disini dia pasti akan mencari janda baru untuk dijadikan istrinya" ucap bu Erni menolak.
"Astaghfirullah, lama lama aku beneran gila menghadapi mereka." batin ustad Usman.
" Asalamuakaikum" ucap ustad Usman sambil berlalu pergi dari klinik.
Setelah pulang dari klinik, ustad Usman membaca istighfar berkali kali. Ia merasa Zahira dan ibunya adalah pasangan yang klop sebagai seorang ibu dan anak ( Pasangan slebor). Namun ia sedikit merasa senang dengan keputusan yang diambil Zahira untuk tetap menimba ilmu di pesantren meskipun belajar dari nol dari kelas nol besar.
* * * * *
Waktu sudah menunjukan pukul 21:15 malam. Kini Aisyah dan Riziq sedang asik bermain dengan Adam dan Hawa di tempat tidur.
" Le, coba kau perhatikan wajah Adam dan Hawa, entah kenapa uni merasa makin lama mereka makin mirip ka Usman ya" ucap Aisyah. Riziq sudah mengeryitkan keningnya, ada rasa tak suka dengan ucapannya Aisyah.
" Kau jangan macam macam ya uni, Adam dan Hawa tidak mirip ustad Usman. Adam mirip denganku dan Hawa mirip denganmu" tutur Riziq.
" Apa ada yang salah dengan ucapanku, aku hanya bilang kalau Adam dan Hawa mirip dengan kak Usman, tapi dia malah ngambek, bagaimana kalau aku bilang kalau Adam dan Hawa mirip kakaknya. HABISLAH AKU" batin Aisyah.
" Iya iya Adam mirip denganmu" ucap Aisyah mengalah. Oh ya Le, tadi kata kak Usman ada bu Erni datang lagi eh maksudnya sès Erni, tapi kata kak Usman dandanannya berbeda dari kemarin. Bu Erni hijrah" tutur Aisyah.
" Hijrah?, benarkah?"
" Hmmm"
" Ia dia mengajak Zahira untuk ikut dengannya, tapi Zahiranya tetap tidak mau"
" Syukurlah"
Setelah Adam dan Hawa tertidur, Aisyah pun menidurkan mereka di tempat tidur bayi. Saat Aisyah berdiri di dekat tempat tidurnya, Riziq sudah menepuk nepuk dadanya. Aisyah pun mengerti maksud suaminya itu. Perlahan Aisyah berbaring di sebelahnya Riziq sambil berbantalkan bahunya Riziq.
" Le, boleh aku tanya sesuatu?"
" Hmmm"
" Dulu waktu kau seumuran Zahira apa kau juga bandel dan menjengkelkan seperti lra?" tanya Aisyah penasaran. Riziq malah tersenyum senyum.
" Kenapa kau bertanya seperti itu"
" Cuma ingin tau saja"
" Uni tau, dulu aku lebih bandel dari Zahira, aku sering di hukum ustad Azam. Dulu aku pernah bolos dalam pelajarannya, aku ketahuan sedang main layangan di kebun kiyai Husen, saat itu kupikir cuma ustad Soleh yang mengetahui aku sedang main layangan karna dia sedang menanam bibit di kebun. Ternyata kiyai Husen melihatku sedang asik di kebun. Dan akhirnya aku dihukum oleh kiyai Husen langsung di suruh berdiri menatap matahari" tutur Riziq.
" Pantas saja ya Le, kulitmu nampak berwarna coklat, jadi kau sering terpapar sinar matahari" ledek Aisyah.
" Exsotis uni" ucap Riziq mengingatkan.
__ADS_1
" Iya iya, exsotis seperti coklat lumer" ucap Aisyah mengalah.
" Kau tau uni, ternyata bukan aku saja yang di hukum kiyai Husen, ternyata ustad Soleh pun kena hukuman juga gara gara membiarkanku asik bermain saat jam pelajaran"
" Kak Usman dihukum juga tidak?" tanya Aisyah.
" Ustad Usman waktu itu masih di kairo"
" Ooh, ternyata masa kecilmu bandel juga ya"
Aisyah sudah menarik selimut menutupi setengah badannya.
" Sudah malam uni ngantuk"
" Uni lupa malam ini malam apa?" ucap Riziq. Aisyah langsung mengeryitkan keningnya sambil menatap Riziq.
" Uni jangan pura pura lupa kalau malam ini adalah malam jum'at" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.
" Kau jangan membodohiku Le, malam ini adalah malam senin, aku tidak amnesia" ucap Aisyah. Riziq pun tertawa.
" Uni jangan tidur dulu, bagaimana kalau kita main pijat pijatan dulu" ucap Riziq.
" Ga mau" jawab Aisyah.
" Kalau main dokter dokteran?"
" Gak mau?"
" Kalau main salon salonan mau?"
" GAAAAAAAA"
Bukannya Riziq marah dengan penolakan istrinya ia malah tertawa tawa.
" Uni fikir aku butuh persetujuanmu. Tidak"
Seketika Riziq langsung menarik selimut menutupinya dan Aisyah.
" Leeeee"
Tangan Riziq sudah meraba baju depan Aisyah untuk mencari kancing, namun baju itu tak mempunyai kancing. Perlahan Riziq membalikan badannya Aisyah untuk mencari retsleting.
" Uni bajumu tidak punya kancing dan tidak ada retsleting, lalu kau masuk lewat mana?" tanya Riziq.
" Uni kan tidak kalah pintar darimu, jadi aku bisa masuk lewat mana saja" jawab Aisyah. Mendengar jawaban dari istrinya, Riziq malah tersenyum senyum.
" Aku pun begitu Uni, aku bisa masuk lewat mana saja" jawab Riziq sambil mengangkat baju tidurnya Aisyah.
__ADS_1
" Leeeee"