Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Baju gamis


__ADS_3

Sore pun tiba. Setelah pulang mengajar, Riziq pun menghubungi Aisyah karna pulang terlambat. Mau tidak mau Aisyah pun pulang duluan dari kantinnya bi Ratna.


" Bi aku pulang duluan ya" ucap Aisyah.


" Suamimu kan belum jemput Aisyah" jawab bi Ratna. Umi Fadlun sudah menaruh Adam dan Hawa pada kereta bayi.


" Ale pulang terlambat, jadi aku pulang duluan, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Dadah cucu cucunya umi" ucap umi Fadlun pada Adam dan Hawa sambil melambai lambaikan tangannya.


" Bi, aku mau langsung pergi ke pasar ya" ucap Dewi.


" Hmmm, jangan lupa belanjaannya jangan sampai ada yang tertinggal" ucap bi Ratna mengingatkan.


" Iya bi, umi Fadlun saya duluan ya, asalamualaikum" ucap Dewi sambil berlalu pergi.


" Waalaikum salam, hati hati"


baru saja beberapa langkah, Dewi bertemu dengan Zahira.


" Kau sudah pulang selebor?" tanya Dewi.


" Sudah ka. Ka Dewi mau ke pasar ya?" tanya Zahira.


" Hmmm, kenapa?, apa kau mau ikut?" tanya Dewi kembali.


" Tidak, aku mau nitip sesuatu"


" Nitip apa?" tanya Dewi. Zahira pun membisikan sesuatu pada Dewi. Dewi yang mengerti pun langsung mengangguk ngangguk. Zahira memberikan 3 lembar uang pemberian dari Riziq itu pada Dewi.


" Nih uangnya, makasih ya ka Dewi"


" Ok Ira" ucap Dewi sambil berlalu pergi.


" Hi hi hi hi" Zahira tertawa cekikikan.


" Kapan lagi mengerjai kakaku yang berondong itu, he he" ucap Zahira sambil berjalan menuju kantinnya bi Ratna.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam Ira"


Zahira pun mencium tangannya umi Fadlun dan bi Ratna.


" Ira, wajahmu nampak senang begitu sepertinya" tanya bi Ratna.


" Ia bi aku punya hiburan hari ini, he he" jawab Zahira.


" Ira, hari ini menginap di rumah umi ya?" pinta umi Fadlun. Zahira pun mengangguk


" Ayo umi" ajak Zahira. Setelah mengucap salam mereka pun pergi meninggalkan kantinnya bi Ratna dan meninggalkan bi Ratna sendirian.


" Sepertinya sangat menyenangkan punya seorang anak, tapi sayang aku belum di karuniai seorang anak, tapi alhamdulilah, aku punya Aisyah Dewi dan Zahira serta Riziq. Lengkaplah sudah hidupku, meski mereka bukan darah dagingku, tapi mereka adalah bagian dari hidupku. Terima kasih ya Allah, telah mengirim mereka dalam hidupku, meski kadang mereka meropotkan tapi mereka sangat menyenangkan" tutur bi Ratna.


* * * * * * *


Saat Zahira dan umi Fadlun berjalan menuju rumah, mereka bertemu dengan ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Umi kapan datang dari Kairo?" tanya ustadzah Yasmin sambil mencium tangannya umi Fadlun.


" Kemarin" jawab umi Fadlun sambil tersenyum. Ustad Rasyid menatap Zahira, karna setaunya Zahira belum begitu akrab sebelumnya dengan umi Fadlun.


" Ira" ucap ustad Rasyid.


" Umi mengajaknya untuk menginap di rumah umi, kebetulan kiyai Mansyur lagi ada urusan di luar kota" tutur umi Fadlun.


" Umi sudah mengenal Ira?" tanya ustad Rasyid.


" Sudah, Ira yang menjemput umi di bandara. Adikmu sangat menggemaskan" ucap umi Fadlun sambil mencubit pipinya Zahira. Zahira pun tersenyum senyum.


" Ya sudah, umi duluan ya, asalamualaikum" ucap umi Fadlun sambil berlalu pergi.


" Waalaikum salam"


ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin pun terus menatap kepergian mereka.


" Meskipun sikap adikmu itu suka menjengkelkan, namun pada kenyataannya banyak yang menyukainya" ucap ustadzah Yasmin.


" Hmmmm, ayo kita pulang" ajak ustad Rasyid pada istrinya.


Sesampainya di depan rumah umi Fadlun, Zahira pun membuka pagar.


" Permisi" ucap Zahira sambil membuka pintu.


" Asalamualaikum Ira, jangan permisi" ucap umi Fadlun. Zahira pun tersenyum.


" Maaf umi aku lupa. Asalamualaikum"


Tiba tiba ustad Usman dan ustad Soleh lewat.


" Asalamualaikum umi" ucap mereka. umi Fadlun pun tersenyum.

__ADS_1


" Waalaikum salam, kalian baru pulang?" tanya umi Fadlun. Mereka pun mengangguk.


" Om ustad, aku tidak di sapa?" ucap Zahira.


" Eh ada si slebor, kirain umi sendirian" ucap ustad Usman. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.


" Om ustad, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zahira.


" Apa?. Kau jangan memberikan pertanyaan yang aneh aneh" ucap ustad Usman.


" Kudengar yang memenangkan pertandingan sepak bola akan di ajak jalan jalan ya ke Jakarta?" tanya Zahira antusias.


" Hmmmm"


" Apa mbah Husen akan mengajak kita ke dufan?" tanya Zahira penuh harap.


" Bukan ke Dufan Ira, tapi kita pertama datang akan berkunjung ke MUSIUM TAMAN PRASASTI, setelah itu kita pergi ke SETASIUN MANGGARAI, dan kalau kau ingin bersantai, kau bisa berdiri di JEMBATAN ANCOL. Atau jika kau ingin uji nyali, maka kau bisa berdiri di TEROWONGAN KASABLANKA atau jika kau ingin menginap di Jakarta, kau bisa menginap di MENARA SAIDAH, atau jika kau ingin duduk bersantai kau bisa berkunjung ke DANAU TAMAN PAHLAWAN KALIBATA" tutur ustad Usman. Zahira yang mendengar pun langsung bergidik ngeri. Umi Fadlun sudah tersenyum senyum sementara ustad Soleh sudah menggeleng gelengkan kepalanya sambil mengucap istighfar.


" Kalau diajak jalan jalannya kesitu aku tidak mau" ucap Zahira.


" Kenapa tidak mau?" tanya ustad Usman.


" Masa kita jalan jalannya ke tempat angker semua, aku kan takut" jawab Zahira.


" Kenapa kau takut, bukankah semua itu tempat favoritmu. Kau kan temannya dedemit" ucap ustad Usman. Seketika Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.


" Aku tidak mau pergi kesana"


" Ya sudah kalau kau tidak mau pergi ke tempat yang kusebutkan tadi, nanti kita akan pergi ke monas, nanti di sana kau boleh naik ke atas monas, nanti akan ku foto kau saat kau berdiri di atas monas itu dan aku memotomu saat aku berdiri di kota tua" ucap ustad Usman. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.


" Kau jangan cemberut begitu. Siap siap saja minggu depan kita akan pergi ke Jakarta"


" Horeeeeee" Zahira bersorak riang.


" Umi kita duluan" ucap ustad Soleh. Umi Fadlun pun tersenyum.


" Asalamualaikum" ucap ustad Usman dan ustad Soleh.


" Waalaikum salam"


" Syuuh syuuuh syuuuh, pergi sana yang jauh" ucap Zahira mengusir.


" Ira kau tidak boleh seperti itu" tegas umi Fadlun. Zahira sudah tersenyum malu.


" Ayo kita masuk" pinta umi Fadlun.


" Mi, nanti aku ke rumah ka Riziq ya sebentar, ada barang yang harus kuambil" ucap Zahira. umi Fadlun pun mengangguk.


* * * * * *


Saat Riziq berjalan untuk pulang, tiba tiba Dewi memanggilnya yang kebetulan melihatnya, ia baru pulang dari pasar.


" Ka Dewi"


Dewi pun memberikan sebuah plastik berwarna putih bertuliskan Mama ica fashion, berisikan sesuatu di dalamnya.


" Ini pesananmu" ucap Dewi. Riziq pun tau apa maksudnya Dewi, itu pasti gamisnya Aisyah yang ia pesan itu fikirnya Riziq.


" Terima kasih ya ka Dewi"


" Sama sama" jawab Dewi.


" Kau baik sekali ya ustad, kau pantas jadi seorang kaka" ucap Dewi. Riziq hanya diam sambil terheran dengan kalimat yang di ucapkan oleh Dewi.


" Aku pulang dulu ka Dewi, asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu. Dewi sudah tersenyum sambil menatap kepergian Riziq.


" Si ustad Berondong itu bukan hanya wajahnya yang manis, tapi sikapnya juga, tak kusangka dia begitu menyayangi Zahira. Selebor, kau beruntung punya kakak seperti Riziq yang begitu perhatian padamu" tutur Dewi bicara sendiri.


Sesampainya Riziq di rumah. Ia pun mengetuk pintu.


Tok tok tok.


"Asalamualaikum" ucap Riziq yang kini menenteng plastik berwarna putih itu.


" Asalamualaikum uni"


Karna tidak ada jawaban salam dari Aisyah Riziq pun mencoba membuka pintu, namun pintunya di kunci dari dalam.


" Uni, uni aku pulang" teriak Riziq.


Aisyah pun membuka gorden, dia belum membuka pintu.


" Waalaikum salam" jawab Aisyah. Riziq hanya mengeryitkan keningnya karna Aisyah tidak membukakan pintu.


" Uni kenapa kau tidak membukakan pintu. Suami pulang bukannya di sambut ini malah di suruh berdiri di depan pintu" gerutu Riziq.


" Kau bawa kuncinya tidak?" tanya Aisyah. Riziq pun mengeryitkan kembali keningnya heran dengan ucapan istrinya itu.


" Uni bukannya kuncinya ada di dalam" ucap Riziq.


" Aku tidak menanyakan kunci pintu, aku menanyakan kunci rumah" ucap Aisyah. Riziq pun lama lama akhirnya mengerti.


" Pasti si uni menanyakan ganti rugi baju gamisnya yang robek. Diakan sudah mengancamku kalau aku tidak mengganti baju gamisnya 10 maka dia tidak akan membukakan pintu untuku. Pendendam sekali dia" batin Riziq.


" Bagaimana Le, kau sudah membeli kuncinya?" tanya Aisyah.


" Sudah" jawab Riziq sambil memperlihatkan plastik putih yang di jinjingnya. Aisyah pun tersenyum lebar.

__ADS_1


" Kau membelinya Le?" tanya Aisyah kembali.


" Hmmm, sekarang bukalah pintunya aku mau masuk" pinta Riziq. Seketika Aisyah langsung membukakan pintu.


" Mana baju gamisnya" pinta Aisyah. Riziq langsung memberikan kantong plastik itu. Di lihatnya tulisan di plastik itu.


" Mama ica fashion. berarti benar ini baju gamis" batin Aisyah. Namun Aisyah merasa heran karna plastiknya berukuran kecil dan isinya berasa ringan.


" Le, ko bajunya ringan begini?" tanya Aisyah sambil mengangkat plastik itu.


" Memangnya uni mau beli baju yang beratnya setengah kuwintal, nanti kucarikan baju yang menggunakan benang rantai" ucap Riziq. Aisyah yang mendengarpun langsung mengerucutkan bibirnya.


" Bukan begitu maksudnya Le, aku kan minta di ganti 10, kurasa ini tidak ada 10 baju" ucap Aisyah sambil mengangkat plastik itu kembali.


" Itu memang tidak ada 10 uni tapi cuma satu baju gamis, aku hanya membelinya satu" tegas Riziq.


" Le, aku kan menyuruhmu mengganti 10, kenapa cuma beli satu. Kalau beli satu, kau hanya bisa masuk rumah saja, tapi kau tidak bisa masuk kamar" gerutu Aisyah sedikit mengancam.


" Sudah mau merobek hatiku, kini kau mau menguras dompetku. Sungguh kau keterlaluan uni. ish ish ish" batin Riziq


"Nanti yang 9 nya menyusul tahun depan" ucap Riziq.


" Ya sudah kalau begitu aku buka pintu kamarnya pun tahun depan" ucap Aisyah hingga Riziq mengeryitkan keningnya.


" Kau jangan ikut ikutan menyebalkan seperti Zahira uni" ucap Riziq. Seketika Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.


" Ya sudah, sekarang kau coba dulu bajunya, cocok tidak denganmu" pinta Riziq. Aisyah pun mengangguk sambil masuk ke dalam kamar untuk mencoba baju barunya. Riziq pun ikut masuk.


" Leee, kau tunggu di luar. Dasar genit" ucap Aisyah sambil mendorong Riziq keluar kamar. Pada akhirnya Riziq pun menunggu Aisyah di depan pintu.


" Sudah belum uni?" tanya Riziq tak sabar.


" Sebentar Le, agak susah pakenya" jawab Aisyah. Tiba tiba Aisyah berteriak.


" LEEEEEEEEEEEE" teriak Aisyah di dalam kamar. Riziq yang mendengar teriakan istrinya itu ia langsung menerobos masuk karna takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


" Uni kau kenapa?" tanya Riziq cemas.


" Kau lihat baju gamisnya" ucap Aisyah sambil merengek kesal. Riziq pun terkejut melihat baju yang di kenakan oleh istrinya itu.


" Unii" ucap Riziq sambil menganga. Di lihatnya baju gamis itu berukuran kecil, panjangnya saja berada sejengkal di bawah lututunya Aisyah hingga celana leging Aisyah nampak terlihat. Karna bajunya berukuran kecil, hingga dadanya Aisyah terlihat jelas bentuknya. Aisyah sudah menggeram kesal. Riziq hanya diam terheran.


" Le, kenapa kau membelikanku gamis anak kecil, apa kau lupa dengan ukuran tubuhku, bukankah hampir setiap malah kau melihat tubuhku masa kau bisa lupa dengan ukurannya" gerutu Aisyah.


" Tapi uni yang beli itu ka Dewi, aku yang menyuruhnya membeli ke pasar, dia kan paling tau ukuran dan seleramu. Aku yang menitipkan uangnya pada Za"


Belum saja Riziq menyelesaikan ucapannya, tiba tiba Riziq menaruh curiga pada adiknya itu. Seketika ia langsung menghubungi Dewi.


" Asakamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kak Dewi, aku mau tanya sesuatu" ucap Riziq.


" Kau mau tanya apa ustad?" tanya Dewi balik.


" Zahira menyuruhmu membeli gamis, dia mengatakan apa sebelumnya" tanya Riziq.


" Dia cuma bilang. Ka Dewi aku titip baju gamis yang modelnya paling bagus dan keluaran terbaru, untuk ukuran sepertiku, ingat ya, ukurannya harus cukup di badanku. Kalau ada warnanya yang pink ya ka. itu yang dikatakan Zahira padaku sebelum aku berangkat ke pasar" tutur Dewi menceritakan. Seketika Riziq langsung menggeram setelah mendengar penjelasan Dewi.


" Bocah sempruuuuuul" gerutu Riziq dengan nada tinggi sambil menggeram kesal.


" Jadi ini perbuatannya Zahira" tanya Aisyah yang kini juga ikut kesal.


" Pantas saja ka Dewi mengucapkan kalau aku pantas menjadi seorang kakak" Tiba tiba Zahira datang.


" Asalamualaikum" ucap Zahira sambil masuk ke rumahnya Riziq. Aisyah dan Riziq langsung memicingkan matanya pada Zahira. Zahira yang mendapatkan tatapan berbeda dari mereka, ia mulai menaruh curiga, namun ia belum sadar dengan gamis yang di kenakan Aisyah.


"Kau panjang umur ya bocah ingusan" ucap Riziq dengan menaikan kevel suaranya.


" Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Zahira.


" Iraa, kau tidak lihat dengan baju yang ku kenakan" ucap Aisyah. Seketika Zahira langsung menatap Aisyah. Matanya membulat dan mulutnya menganga. Zahira sudah ingin tertawa namun ia tahan.


" Ka Aisyah kenapa kau menggunakan baju super ketat begitu?" ucap Zahira pura pura tidak tau.


" Ini bukan super ketat Ira, tapi ini kekecilan. Bukankah kau yang memesan baju gamis pada ka Dewi, aku kan sudah bilang kalau ukurannya adalah ukurannya Aisyah. Kenapa kau mengatakan pada ka Dewi dan memberi taunya ukuran badanmu" ucap Riziq sedikit kesal.


" Sssstth, ka Riziq jangan ngomel ngomel mulu, biarkan ka Aisyah berganti pakaian. Ka Aisyah gantilah pakaianmu, aku engap melihatnya" ucap Zahira. Seketika Aisyah langsung mengganti baju gamisnya dengan baju yang semula ia kenakan. Setelah melepas pakaian baru itu, Aisyah masih mengerucutkan bibirnya.


" Coba ku lihat, masa sih ukurannya cukup di badanku" ucap Zahira pura pura tidak tau. Aisyah pun memberikan baju itu pada Zahira.


" Nih kau cobain saja" ucap Aisyah kesal. Zahira pun mencobanya. Setelah mencoba gamis itu, ia pun tersenyum karna benar saja gamis itu cukup dan sangat pas di badannya.


" Diiih iya benar, gamisnya cukup di badanku" ucap Zahira sambil berlenggak lenggok menatap kanan kiri dan berputar putar melihat gamis itu yang kini menempel di tubuhnya.


" Ka Aisyah, karna gamisnya tak cukup di badannya ka Aisyah dan hanya cukup di badanku, jadi gamisnya buat aku aja ya, dari pada tidak terpakai, karna barang yang sudah di beli tidak dapat di kembalikan" tutur Zahira.


" Iraa kau pasti sengaja ya menyuruh ka Dewi membeli gamis ukuran badanmu biar gamis itu menjadi milikmu" tuduh Riziq pada adiknya. Zahira sudah tersenyum senyum.


" Ko ka Riziq tau sih ups" Zahira sudah menutup mulutnya karna keceplosan. Riziq dan Aisyah sudah menggeram kesal.


" ZAHIRAAAAAAAAAAAAAAA" teriak Riziq dan Aisyah. mendapatkan situasi yang mengancam, Zahira pun memilih kabur.


" Terima kasih ka Aisyah atas bajunya, asalamualaikum" ucap Zahira sambil berlari pergi meninggalkan rumahnya Riziq.


" Dasar bocah semprul, berani beraninya kau mengerjai kakakmu yang manis ini" gerutu Riziq.

__ADS_1


" Leeee, kau lihat kelakuan warisanmu" ucap Aisyah sambil merengek.


" Nanti kubelikan lagi baju gamisnya, kalau perlu sekalian dengan tokonya" ucap Riziq kesal.


__ADS_2