Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Terima kasih.


__ADS_3

Masih dengan Aisyah dan Riziq yang berada di asramanya Zahira. Aisyah sudah menyuruh adik iparnya itu duduk karna Aisyah ingin mendengar cerita tadi di kelasnya Zahira. Riziq hanya menatap kedua perempuan yang ada di hadapannya itu.


" Coba cerita sama ka Aisyah apa yang terjadi di kelasmu setelah kamu membaca kertas belanjaan itu" pinta Aisyah.


" Awalnya sih aku tetawa tawa puas mendengar pidato Syifa yang di buatkan oleh om ustad"


" Memangnya pidato yang dibuat ka Usman berisi apa?" tanya Aisyah.


" Isinya menyindir ka Dewi, agar iya tak makan berlebihan"


" Lalu?"


" Setelah Syifa selesai membacakan pidatonya, baru aku yang maju kedepan, aku membaca tiap kata dengan lantang tanpa ngèh artinya apa, hingga aku tersadar saat teman teman menertawakanku. Aku membacakan daftar belanjaanmu, sampai bawang sama kangkung aku sebutin" tutur Zahira sambil cemberut. Riziq yang mendengar pun langsung tertawa kecil hingga Aisyah memicingkan mata padanya.


" Maaf uni"


" Lanjutkan lagi Ira" pinta Aisyah.


" Setelah aku menghentikan paksa pidatonya, ustadzah Ulfi mendekatiku dan melihat kertas yang kupegang, dia bilang ini belanjaan ka Aisyah, dan ustadzah Ulfi bilang setelah jam istirahat aku boleh pulang dulu untuk menukar kertasnya, tapi kata ka Dewi kalian pergi ke pasar"


" Ustadzah Ulfi tidak menghukumu kan?" tanya Aisyah cemas. Zahira pun menggeleng.


" Dia mberi kesempatanku untuk membacakannya besok"


" Tapi kata ka Dewi kau menangis" ucap Riziq.


" Semua anak anak menertawakanku termasuk ka Dewi" ucap Zahira kesal.


"Hanya karna mereka menertawakanmu jadi kau menangis?" tanya Riziq kembali.


" Aku kan malu ka, aku murid paling besar tapi paling bodoh, terlebih malu pada calon ibu mertuaku. Nanti dia mengeluarkan namaku dari daftar calon menantu idaman" tutur Zahira. Riziq dan Aisyah pun langsung mengeryitkan keningnya.


" Jadi kau belum membacakan pidatonya?"


" Sudah" jawab Zahira.


" Memangnya kau mendapatkan teks pidatonya dari siapa?, kan pidato yang dibuat ka Riziq dibawa sama ka Aisyah" ucap Riziq. Zahira malah tersenyum senyum.


" Nih si bocah semprul beneran kesambet" batin Riziq.


" Aku mendapatkan teks pidatonya dari calon imamku" jawab Zahira. Hingga Riziq dan Aisyah mengeryitkan kening mereka kembali sambil saling lirik.


" Kau tidak lelahkan Ira?" tanya Aisyah. Kini giliran Zahira lah yang mengeryitkan keningnya.


" Aku tidak lelah, aku sehat dan bugar"


" Memangnya siapa calon imamu?" tanya Riziq.


" Ka Riziq jangan pura pura amnesia deh, tentu saja calon imamku ka Yusuf"


" Yusuf memberikanmu teks pidato?" ucap Riziq seolah tak percaya. Zahira langsung mengangguk nganggukan kepalanya.


" Uni, ternyata bukan kita yang keningnya anget tapi Yusuf" ucap Riziq hingga Zahira yang mendengar pun langsung memicingkan matanya. Seketika Riziq langsung tertawa kecil melihat tatapan tajam dari adik perempuannya itu.


" Bagaimana bisa Yusuf memberimu teks pidato?" tanya Aisyah.


" Itu sudah tertulis dalam takdirku ka" jawab Zahira.


" Ka Aisyah serius"


" Iya iya. Jadi saat aku menangis di taman dekat kelas sambil membawa paper bag yang isinya sorban ka Yusuf, tiba tiba ka Yusuf menghampiriku"


" Kau jadi membeli paper bag yang gambarnya love love itu?, kau dapat uang dari mana?" tanya Riziq penuh selidik.


" He he he, aku minta sama ka Rasyid, kebetulan di jalan aku bertemu dengannya. Meskipun aku tidak bertemu dengannya, aku akan minta sama om ustad" tutur Zahira.


" Kau tidak boleh malak malak ustad Usman" pinta Riziq tegas.


" Iya"


" Lanjutkan ceritamu?" pinta Aisyah.


" Saat ka Yusuf menghampiriku, lalu aku memberikan paper bag itu. Dia bilang dia tau kenapa aku menangis. Tentu saja aku kaget, itu artinya dia melihat kejadian memalukan itu di kelas. Sudah calon mertuaku yang melihat, di tambah calon imamku yang melihat juga, bukankah itu sangat memalukan. Ya bisa dikatakan malunya sampai ke ubun ubun" tutur Zahira. Aisyah dan Riziq pun langsung cekikikan tak bersuara hingga Zahira menggeram kesal.


" Maaf Ira, ayo lanjutkan lagi" pinta Aisyah kembali.


" Setelah itu ka Yusuf memberiku selembar kertas dan dia bilang bacakanlah di depan umiku, sebelumnya aku fikir ka Yusuf memberiku puisi. setelah memberikan kertas itu dia langsung pergi, dan setelah kubuka kertas itu ternyata isinya pidato"


Aisyah pun tersenyum.


" Waah ternyata Yusuf baik sekali ya"


" Iya ka, dia jadi malaikat penolongku, tapi pasti ka Yusuf melakukan itu bukan tanpa alasan" ucap Zahira.


" Maksudnya?"


"Tentu saja dia melakukan itu karna dia menyukaiku" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Aisyah hanya diam saling lirik bersama Riziq.


" Kalian tau isi pidato yang dibuat oleh ka Yusuf?, dia menulis bunga akhir Zaman. Dia pasti berharap kalau aku akan menjadi bunga di akhir zaman. Bukankah itu so sweat namanya"


" Lalu?"


" Ustadzah Ulfi memberiku nilai 90. Hebatkan. Apa aku sudah pintar?" tanya Zahira.


Aisyah pun tersenyum lalu mengangguk.


" Benar kau sangat pintar" ucap Riziq.


" Benarkah?" tanya Zahira antusias.


" Hmmm"


" Dalam hal apa?"

__ADS_1


" Dalam hal membuatku malu" jawab Riziq. Zahira langsung cemberut kesal.


" Kakakmu hanya bercanda, lanjutkan lagi ceritamu"


" Sudah selesai ka"


Aisyah pun mengangguk. Iya merasa lega dan tidak khawatir lagi tentang kertas pidato yang tertukar itu.


" Ya sudah ka Aisyah sama ka Riziq pulang dulu ya"


" Ka Aisyah belanjaannya mana?" tanya Zahira.


" Ka Aisyah belum sempat belanja, setelah mengetahui kalau pidatomu tertukar, kami langsung pulang sebelum berbelanja bahan makanan"


" Yah tadinya aku mau masak buat ka Yusuf sebagai tanda terima kasih" ucap Zahira.


" Kau jangan macam macam Ira, kau mau anak orang keracunan" ucap Riziq. Seketika Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.


" Jangan cemberut kaya gitu, nanti ka Aisyah masakain untuk Yusuf, tapi ingat ya, cuma untuk tanda terima kasih bukan untuk yang lain, jadi kau tidak boleh genit genit" tegas Aisyah. Zahira pun mengangguk tersenyum.


" Makasih ya ka" Zahira tersenyum bahagia.


" Ya sudah ka Aisyah sama ka Riziq pulang dulu ya, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Sebelum Aisyah pergi, Zahira pun menciumi keponakan keponakannya dengan gemas.


" Daah Adam daah Hawa"


Kini Aisyah dan Riziq pun pergi dari asrama.


" Apa kita akan pulang lagi ke pasar?" tanya Riziq.


" Tidak usah Le, nanti aku titip belanjaannya pada Dewi. Adam sama Hawa sepertinya sudah pada ngantuk"


" Ya sudah kita pulang saja"


Riziq dan Aisyah pun berjalan pulang ke rumah.


* * * * *


Keesokan harinya. Pagi pagi sekali Zahira datang ke rumahnya Aisyah.


" Asalamualaikum"


ucap Zahira menerobos masuk.


" Kau pagi pagi sudah kesini" ucap Riziq yang kini sedang menggoda putra putrinya yang baru saja selesai mandi dan di dandani.


" Ka Aisyah mana"


" Lagi buat sarapan di dapur"


" Ka"


" Kebetulan kau datang, ayo sarapan" ajak Aisyah.


" Aku sudah sarapan ka tadi di asrama. Ka aku boleh tidak bawa sarapan untuk ka Yusuf" ucap Zahira penuh harap. Aisyah langsung menatap adik iparnya itu.


" Aku janji tidak akan genit, cuma buat tanda terima kasih aja tidak lebih" Zahira menegaskan.


" Janji"


" Janji"


Aisyah pun memasukan makanan yang dimasaknya ke dalam kotak makan berwarna biru tua dan di berikannya pada Zahira.


" Makasih ya ka" Zahira sudah tersenyum senyum sambil memandang kotak makanan itu.


" Hmmm, sampaikan juga terima kasihku untuk Yusuf"


Setelah mendapatkan yang diinginkannya, Zahira langsung pamit pulang. Di jalan iya bertemu dengan ustad Usman.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kau bawa apa Ira?" tanya ustad Usman ketika menatap kotak makanan yang sedang si pegang Zahira.


" Ini sarapan"


" Tumben sekali kau membawa sarapan dari rumah"


" Ini untuk ka Yusuf"


Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya.


" Tidak usah berekspresi seperti itu" ucap Zahira.


" Mau berekspresi seperti apapun wajahku akan selalu terlihat menyenangkan" ucap ustad Usman.


" Tapi om ustad tidak akan bisa mengalahkan ketampanannya ka Rasyid dan manisnya ka Riziq" tutur Zahira. Ustad Usman kembali mengeryitkan keningnya.


" Om ustad hanya akan menang kalau adu menyebalkan dengan mereka"


Seketika ustad Usman langsung menggeram.


" He he he, aku hanya bercanda om ustad. Oh iya, hari minggu nanti om ustad sibuk gak?" tanya Zahira.


" Kenapa memang?"


" Ceritakan padaku ya tentang wanita akhir Zaman, aku butuh pencerahan" ucap Zahira.

__ADS_1


" Berapa suhu badanmu?" tanya ustad Usman.


" Jangan tanya berapa suhu badanku, karna aku tidak sedang meriang, aku hanya sedang dimabuk asmara"


Ustad Usman hanya terdiam sambil menatap Zahira.


" Kerasukan apa si selebor minta di jelaskan tentang wanita akhir Zaman" batin ustad Usman.


" Iya iya, nanti hari libur kau datanglah ke kebun, nanti kujelaskan di sana"


" Ok"


" Kau akan membayarku dengan apa?"


" Memangnya berapa nominal bayaran untuk om ustad?" tanya Zahira.


" Aku tidak butuh uang, uang ku sudah banyak di bawah tempat tidur"


" Ya sudah nanti aku masakin makanan sepesial untuk om ustad"


ustad Uan langsung mengeryitkan keningnya.


" Kau tidak sedang berusaha meracuniku kan?"


Zahira langsung cemberut.


" Kau tidak perlu membayarku dengan uang atau pun dengan masakanmu yang beracun itu, kau cukup membantuku menanam bibit sayuran di kebun" tutur ustad Usman.


" Ok aku setuju"


" Ya sudah kutunggu kau di kebun pas hari libur. Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, Makasih om ustad"


Ustad Usman pun pergi untuk mengajar. Zahira sudah menunggu Yusuf di depan gerbang sekolah santri putra. Iya tersenyum saat melihat Yusuf datang bersama teman temannya. Yusuf dan teman temannya pun berhenti tepat di hadapan Zahira.


" Asalamualaikum ka"


" Waalaikum salam Ira"


Zahira pun memberikan kotak makanan itu pada Yusuf. Perlahan Yusuf pun menerimanya.


" Apa ini Ira?"


" Itu sarapan untuk ka Yusuf. Ka Yusuf tidak usah takut itu yang masak ka Aisyah, jadi tidak akan keracunan" ucap Zahira. Yusuf pun tersenyum.


" Ini sebagai tanda terimakasih untuk teks pidato kemarin. Ka Aisyah sama ka Riziq juga mengucapkan terima kasih untuk ka Yusuf" Yusuf pun mengangguk.


" Terima kasih untuk makanannya" ucap Yusuf.


" Ira, apa kami juga boleh menikmati sarapan bersama Yusuf?" tanya salah satu temannya Yusuf. Seketika Zahira langsung memicingkan matanya dan memberikan tatapan menusuk pada teman temannya Yusuf. Teman temannya Yusuf langsung bergidik ngeri melihat ekspresi Zahira.


" Kau lihat matanya seperti silet, tajamnya mengalahkan belati" bisik temannya Yusuf.


" Tatapannya seperti mama tiri" bisik temannya yang lain.


" Ka Yusuf aku pamit ya, asalamualaikum" ucap Zahira sambil berlalu pergi.


" Waalaikum salam"


Zahira pun pergi.


" Suf, coba kau buka kotak makannya, isinya apa?"


Teman temannya Yusuf kepo. Perlahan Yusuf pun membuka kotak itu, terlihat nasi goreng dan telor ceplok di dalamnya yang di baluri kecap.


" Cobain dulu suf, aku curiga itu bukan kecap tapi oli" ucap temannya Yusuf. Teman temannya selalu curiga setelah Zahira mencuci sorbannya Yusuf dengan sokl*n lantai, pertanda kalau Zahira ceroboh. Perlahan Yusuf pun mencicipi nasi goreng itu.


" Ini kecap" jawab Yusuf.


" Alhamdulilah" ucap teman temannya Yusuf secara berbarengan.


" Kita boleh nyobain suf?"


" Tidak boleh, ini untuku" ucap Yusuf sambil berlalu masuk ke halaman sekolah.


" Cieeee" goda teman temannya Yusuf.


* * * *


Zahira sudah berjalan meninggalkan sekolahan santri putra. Dari kejauhan iya melihat Riziq yang berjalan menuju sekolahan santri putra. Seketika Zahira langsung menghentikan langkahnya.


" Duh ada ka Riziq kesini, bahaya, ka Riziq pasti ngamuk kalau tau aku habis memberikan sarapan pada ka Yusuf"


Seketika Zahira langsung berbalik arah dan berlari kencang untuk menghindari Riziq, dari pada kupingnya terasa panas karna harus mendengar ceramah dan omelan Riziq, Zahira lebih memilih untuk menghindar. Namun tiba tiba ia menabrak ustad Rasyid yang baru saja datang.


Bruggh.


" Allahu akbar" ucap ustad Rasyid.


" Maaf ka"


" Kenapa kau lari lari di sini Ira?" tanya ustad Rasyid heran.


" E e aku tersesat ka" jawab Zahira asal.


Ustad Rasyid langsung mengeryitkan keningnya.


" Arah kelas santri putri sebelah sana bukan sebelah sini" ucap ustad Rasyid.


" Aku lewat sini saja ka, kalau lewat sana aku takut, di sana ada serigala manis yang siap menerkamku kapan saja. Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab ustad Rasyid sambil menatap kepergian adik perempuannya itu.

__ADS_1


__ADS_2