Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Kertas


__ADS_3

Kini Aisyah dan Riziq sudah sampai di pasar. Aisyah sudah menggendong Hawa sementara Riziq menggendong Adam. Mereka mulai berkeliling dulu mencari pakaian untuk Adam dan Hawa.


" Bajunya bagus bagus semua, lucu jika Adam dan Hawa yang memakainya aku jadi bingung harus beli yang mana" ucap Aisyah sambil memilih milih baju seusia putra putrinya.


" Kau beli saja semuanya sekalian kau beli juga dengan toko tokonya" gerutu Riziq.


" Tidak usah so kaya, memangnya kau punya uang untuk membeli tokonya" jawab Aisyah dengan sedikit mengejek. Riziq malah tersenyum.


" Aku kan bisa membayarnya pake cinta" jawab Riziq sambil tersenyum senyum. Aisyah langsung memicingkan matanya apalagi saat melihat penjaga toko baju itu masih muda dan cantik.


" Kau jangan macam macam ya Le, kau mau menukarkan cintamu hanya untuk sebuah toko pakaian"


Riziq malah tertawa melihat wajah istrinya yang kala itu terlihat kesal.


" Uni kalau kau sedang marah seperti itu kau terlihat menggemaskan" ucap Riziq sambil mencubit pipinya Aisyah.


" Lee, kau jangan mencubitku begitu, aku malu di lihat orang" protes Aisyah.


" Kenapa harus malu kau kan istriku"


Setelah selesai membeli baju Adam dan Hawa, Aisyah dan Riziq pun pergi ke tempat langganannya membeli bahan makanan pokok.


" Uni aku haus, kita beli es cendol yu" ajak Riziq.


"Sebentar Le aku kasih sulu daftar belanjaannya"


Aisyah pun mengambil kertas belanjaannya tanpa membaca terlebih dulu, lalu di berikannya pada bapak si pemilik ruko itu.


" Pak saya beli bahan makanan pokok ya, semua sudah saya tulis di kertas daftar belanjaan, kami pergi dulu nanti kami kembali lagi untuk mengambil belanjaannya" tutur Aisyah pada bapak si pemilik toko yang rambutnya sudah tumbuh uban.


" Ok" ucap si bapak pemilik toko. Aisyah pun pergi ke tempat tukang es cendol mangkal. Saat si bapak pemilik toko itu membuka kertas yang di berikan Aisyah padanya, keningnya langsung berkerut, matanya seketika menyipit dan mulutnya sedikit menganga, iya mulai mencerna tulisan yang ada di kertas teesebut. Iya perlahan lahan menggosok gosok matanya, takut kalau matanya mulai rabun dengan melihat tulisan daftar belanjaan yang menurutnya terasa aneh.


Sementara Aisyah dan Riziq yang kini sudah sampai di tempat mangkal pedagang es cendol.


" Pak buatkan dua ya"


ucap Riziq pada si pedagang es cendol itu.


" Siap" jawab si bapak penjual es cendol langganannya dulu. Biasanya Riziq hanya berdua duduk menikmati es cendol kesukaannya itu, tapi sekarang mereka sudah berempat bersama Adam dan Hawa. Si bapak pedagang es cendol itu pun memberikan dua gelas es cendol pesanan Riziq dan Aisyah.


" Makasih pak"


Mereka pun menikmati es cendol itu.


" Rasanya tidak berubah ya Ni, masih manis sepertiku" ucap Riziq sambil tersenyum hingga Aisyah memgeryitkan keningnya.


" Narsis"


" Biarin, akukan memang manis, semanis es cendol" Riziq masih tersenyum senyum sendiri.


" Oh ya Le, ngomong ngomong Zahira bisa gak ya membaca pidato di depan kelas" ucap Aisyah.


"Aku rasa bisa, orang dia cuma tinggal baca doang"


" Memangnya kau memberi tema apa pada pidatonya?"


" Jodoh"


" Jodoh Aisyah kah?" tanya Aisyah.


" Jodoh setiap umat manusia" jawab Riziq.


Aisyah pun mengangguk nganggukan kepalanya. Setelah selesai menghabiskan es cendol itu dan membayarnya, Aisyah dan Riziq pun kembali ke tempat ruko yang tadi iya memberikan daftar belanjaannya.


"Asalamualaikum pak, belanjaannya sudah beres?" tanya Aisyah. Si bapak pemilik ruko pun mengangguk.


" Berapa harga semuanya pak?" tanya Aisyah kembali.


" Seiklasnya saja" jawab si pemilik ruko membuat Aisyah dan Riziq mengeryitkan kening masing masing karna heran. Aisyah pun melirik suaminya itu.

__ADS_1


" Mungkin dia lelah uni" ucap Riziq.


Aisyah pun kembali menatap si bapak pemilik ruko itu.


" Mana barang yang saya tulis di kertas belanjaannya pak?" tanya Aisyah. Si bapak itu pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Riziq dan Aisyah. Si bapak itu pun berdiri tepat di hadapannya Riziq dan Aisyah.


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" si bapak mengucap salam. Meski merasa heran dan aneh, Riziq dan Aisyah pun menjawab salam.


" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh"


" Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kesempatan kepada kita semua dapat berkumpul di tempat ini. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada nabi kita yakni habibana ya nabiyana Muhammad saw" tutur si bapak pemilik toko.


Riziq dan Aisyah langsung mengeryitkan kening masing masing merasa heran kenapa si bapak pemilik toko itu malah berpidato di hadapan mereka. Aisyah langsung menatap Riziq.


" Le kenapa dia berpidato di hadapan kita?" tanya Aisyah.


" Mungkin dia benar benar lelah uni" jawab Riziq. Si bapak itu pun kembali melanjutkan pidatonya.


" Pada kesempatan hari ini izinkan saya menyampaikan sepatah dua patah kata tentang yang namanya jodoh"


Riziq kembali mengeryitkan keningnya.


"Kenapa pidatonya mirip sekali dengan pidato yang kubuat untuk Zahira" batin Riziq.


" Pak kenapa bapak malah berpidato di hadapan kami?" tanya Aisyah heran sambil memotong pertuturan si bapak itu.


" Loh bukannya ibu memberikan kertas ini pada saya, ibu kan yang menyuruh saya untuk berpidato" jawab si bapak itu. Dengan sedikit heran Aisyah pun mengambil kembali kertas itu dari tangan si bapak. Aisyah dan Riziq langsung menganga melihat daftar belanjaannya isinya adalah sebuah pidato.


" Hal yang kutakutkan terjadi juga" gumam Riziq.


" Le, kenapa daftar belanjaanku isinya pidato?"


Tiba tiba mereka saling menatap sambil mengucapkan satu kalimat secara bersamaan.


" Astaghfirullah alazim"


" Kita langsung pulang uni, aku takut dia keburu membacakan daftar belanjaanmu" ucap Riziq sambil menarik lengan Aisyah untuk pergi dari pasar.


" Maaf pak, nanti kita kembali lagi" ucap Riziq sambil pergi dari pasar itu. Si bapak itu hanya bengong menatap kepergian Aisyah dan Riziq.


" Sebenarnya yang gila itu mereka apa saya? ? ? " ucap si bapak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal hingga uban di kepalanya nongol tanpa beraturan.


* * * * *


Setelah selesai belajar, Zahira pun pulang menuju asrama, iya sudah berlari lari karna terlalu senang dengan yang terjadi hari ini. Yusuf dan teman temannya yang baru keluar kelas pun melihat Zahira sedang berlari dari kejauhan. Zahira berlari tanpa melihat kiri kanan hingga akhirnya iya menabrak ustad Usman yang kebetulan baru pulang mengajar.


Bruggh.


" Awww" Zahira meringis.


" Eh selebor, kau kebiasaan sekali suka menabraku dan ujung ujungnya suka malak" ucap ustad Usman.


" Hari ini aku sedang berbunga bunga, jadi aku tidak akan malak om ustad" ucap Zahira sambil tersenyum hingga ustad Usman mengeryit heran.


" Kau sedang berbunga bunga?"


" Hmmm"


" Bunga apa yang sedang ada di hatimu itu. Bunga melati apa bunga kamboja?" tanya ustad Usman.


" Jangan membuat mood ku yang sedang bahagia ini berubah menjadi buruk" pinta Zahira.


" Baiklah. Berbahagialah sesuai yang kau mau" ucap ustad Usman.


" Ok, asalamualaikum om ustad baay" Zahira pamit pergi sambil berlari kembali. Ustad Usman hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.


Dari kejauhan Yusuf dan teman temannya masih menatap kepergian Zahira.


" Suf, sepertinya Zahira menyukaimu" ucap salah satu temannya Yusuf. Yusuf hanya menundukan kepalanya saja.

__ADS_1


" Kecerdasannya memang masih di bawah rata rata, tapi dia terlihat menggemaskan Suf, apa kau tidak menyukainya?" tanya salah satu temannya Yusuf. Yusuf masih diam sambil menundukan kepalanya. Salah satu temannya Yusuf menatap paper bag yang kini sedang di pegang Yusuf.


" Suf itu apa?" tanya temannya Yusuf sambil menunjuk paper bag.


" Ini sorbanku" jawab Yusuf.


" Sorban baru?"


" Bukan"


Temannya Yusuf pun mengambil sorban itu dari dalam paper bag lalu menciumnya.


" Suf, sorbanmu sudah di jadikan pel lantai?" tanya temannya Yusuf.


" Nggak" jawab Yusuf.


" Ko wangi sokl*n lantai"


Karna penasaran Yusuf pun mencium sorbannya, iya juga dapat mencium sokl*n lantai di sorbannya. Seketika iya langsung menundukan kepalanya, ada senyum yang nampak di bibirnya.


" Dulu bau iler, sekarang wangi sokl*n lantai" ucap salah satu temannya Yusuf. Yusuf hanya tersenyum saja.


* * * * *


Aisyah dan Riziq yang baru sampai pun langsung bergegas untuk mencari Zahira. Tiba tiba mereka bertemu dengan Dewi di jalan.


" Asalamualaikum Wi"


" Waalaikum salam, kalian sudah pulang, mana belanjaan kalian?" tanya Dewi heran karna Riziq dan Aisyah datang dengan tangan kosong.


" Lupakan tentang belanjaan, kau lihat Zahira tidak, apa pembacaan pidatonya sudah selesai?" tanya Aisyah cemas.


" Kalian terlambat, Zahira sudah membaca daftar belanjaanmu di depan kelas" ucap Dewi. Aisyah dan Riziq pun terkejut.


" Astaghfirullah alazim"


" Terus bagaimana dengan Zahira?" tanya Riziq.


" Zahira sudah pulang ke asrama, tapi tadi dia sempat nangis, kalau ingin lebih jelasnya kalian temuilah adik kesayangan kalian itu"


" Ayo Le"


Aisyah menarik tangan Riziq untuk segera pergi ke asrama.


" Dia pasti marah Le"


Sesampainya di sana. Aisyah segera menyuruh salah satu santri putri untuk memanggil Zahira keluar. Tidak lama kemudian Zahira keluar sambil berlari dan langsung memeluk Aisyah.


" Ka Aisyaaaah" teriak Zahira sambil mencium pipi Aisyah berkali kali karna ia sedang merasa bahagia. Riziq dan Aisyah terdiam heran melihat tingkah bocah semprul itu.


" Kau tidak apa apa Ira?"


" Aku tidak apa apa, kalian lihat saja" ucap Zahira sambil memutar mutarkan tubuhnya dan sedikit berjingkrak. Perlahan Riziq menempelkan tangannya ke dahi Zahira.


" Suhunya normal uni" ucap Riziq.


" Keningku tidak panas ka"


" Maaf Ira, tadi pidatomu tertukar dengan daftar belanjaannya ka Aisyah" ucap Aisyah. Zahira malah tersenyum.


" Tidak apa apa ka, justru aku berterima kasih untuk itu"


Riziq dan Aisyah langsung mengeryitkan kening masing masing. Riziq pun perlahan memegangi dahinya sendiri lalu bergantian memegangi dahinya Aisyah.


" Normal ko"


" Kenapa kau mengecek suhu badanku" protes Aisyah.


" Sebenarnya yang stres itu Zahira apa kita ya uni?" tanya Riziq heran. Aisyah hanya mengangkat kedua bahunya karna tidak tau.

__ADS_1


__ADS_2