
Masih dengan mereka yang baru saja selesai makan makan di rumahnya kiyai Husen. Namun ustad Usman masih asik menikmati ikan bakar yang tersisa.
"Man sudah jangan makan ikan terus, itu sudah tidak ada dagingnya, kau sudah seperti kucing saja, keselek tulang kau bau tau rasa" ucap ustad Soleh.
" Sedikit lagi ka, sayang mubazir" jawab ustad Usman.
" Si om ustad rakus deh, itu kan jatahnya si om kucing" ucap Zahira.
" Berisik kau Ira, sekarang aku tanya, bagaimana rasanya makan di atas daun pisang?" tanya ustad Usman. Zahira langsung tersenyum ada rasa malu di raut wajahnya. Aisyah pergi ke dapur untuk mengambil air kobokan.
" Ternyata makan di atas daun lebih menyenangkan di banding makan di atas kertas nasi, he he" jawab Zahira.
" Tadi saja kau bilang primitip, sekarang bilang menyenangkan" gerutu ustad Usman. Tiba tiba, ustad Usman keselek tulang ikan.
Uhuk uhuk uhuk.
" Tuh kan kau keselek Man"
" Tolong ka sepertinya tulangnya nyangkut di tenggorokanku" ucap ustad Usman yang sedikit merasa kesakitan di tenggorokannya. Semua pun menjadi panik.
" Mas kenapa ?" tanya Nisa sambil memberi segelas air putih pada suaminya.
" Sepertinya ada tulang ikan yang bersemayam di tenggorokanku Nis"
Dengan cemasnya Nisa pun langsung mengusap ngusap punggung suaminya. Umi Salamah nampak panik melihat putranya kesakitan.
" Kau makan nasi Man tapi jangan di kunyah, biar tulang ikannya ikut kedorong" ucap umi Salamah yang kini sudah mulai berdo'a untuk keselamatan putranya.
" Gimana caranya umi makan nasi gak di kunyah" protes ustad Usman.
" Ka Nisa di tiup saja ubun ubunnya" pinta Zahira. Karna panik, Nisa pun menuruti ucapan bocah ingusan itu. Ia pun meniup niup ubun ubun suaminya.
" Kau pikir aku bayi di tiup ubun ubunnya" gerutu ustad Usman.
" Umi ini bagaimana Mi" ucap Nisa yang kini panik di level 5.
" Bi, kenapa diam saja, kau lihat putramu keselek tulang ikan, lakukan sesuatu" ucap umi Salamah pada kiyai Husen.
" Itu hukuman untuk orang serakah, makanya kalau makan itu jangan terlalu banyak" gerutu kiyai Husen.
" Abi, bukannya nolongin malah ngomel ngomel" protes ustad Usman.
__ADS_1
" Man kau nungging saja sambil buka mulutmu, siapa tau tulangnya jatuh tiba tiba" ucap ustad Soleh.
" Kau jangan macam macam ka"
Tiba tiba Aisyah membawa air kobokan dalam mangkok yang berisi irisan jeruk nipis. Saat Aisyah akan memberikannya pada Riziq, tiba tiba ustad Usman langsung merebutnya dan seketika itu pula ustad Usman langsung meneguk air dalam mangkuk itu. Aisyah nampak terkejut.
" Ka itu air kobokan" ucap Aisyah yang sedikit terkejut tiba tiba kakaknya meminumnya. Saat tau itu adalah air kobokan, seketika itu pula ustad Usman menyemburkannya hingga mengenai umi Salamah.
" Usmaaaaaan" geram umi Salamah sambil memukul pelan pundak putranya itu.
" Maaf umi aku tidak sengaja" ucap ustad Usman. Nisa pun membersihkan baju ibu mertuanya itu.
" Maafkan mas Usman umi" ucap Nisa.
" Aisyah, kenapa kau tidak bilang kalau ini adalah air kobokan" gerutu Ustad Usman.
" Salah sendiri, kenapa main serobot serobot saja" timpal Aisyah.
" Uhuk uhuk"
Ustad Usman masih terbatuk batuk.
" Emangnya ka Usman kenapa?" tanya Aisyah yang belum tau.
Seketika itu pula Aisyah mendekati kakaknya dan berjongkok di belakang punggung ustad Usman.
" Biar kubantu ka"
Seketika itu pula Aisyah langsung memukul punggung ustad Usman.
BUUUUKKH.
Sekeras mungkin Aisyah memukulnya supaya yang tersangkut di tenggorokan kakaknya bisa keluar.
" Aduuuh Aisyah, kau mau membunuhku ya, aku ini keselek tulang ikan, bukan keselek bakso" gerutu ustad Usman.
" Sudah sudah jangan pada ribut, bawa Usman ke kelinik" pinta kiyai Husen.
" Ayo mas aku antar ke kelinik" ucap Nisa sambil membangunkan suaminya yang masih terduduk, dengan hati hati Nisa pun membersihkan telapak tangan suaminya dengan air kobokan yang di bawa Aisyah yang tinggal setengah lagi.
" Ka aku ikut" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Aku juga" ucap Zahira.
Kini Nisa, Aisyah dan umi Salamah serta Zahira sudah bersiap untuk pergi ke klinik mengantar ustad Usman.
" Ka kau tidak mau mengantarku, tega sekali" ucap ustad Usman pada ustad Soleh.
" Usman kau ini cuma keselek tulang ikan, bukannya mau melahirkan, ini yang mengantarmu sudah satu rombongan begini" tutur ustad Soleh.
" Iya ka, nanti kau akan dikira mau sunatan" ucap Aisyah.
" Sudah sudah, ayo Soleh kau antarkan adikmu ke klinik" pinta kiyai Husen. Kalau abinya sudah memerintah, itu artinya sudah tidak bisa terbantahkan lagi.
" Iya bi, Sarah ayo kita antar adik iparmu ini kasian dia" ledek ustad Soleh. Dan pada akhirnya mereka pun mengantarkan ustad Usman ke klinik. Hanya menyisakan Riziq, kiyai Husen dan kiyai Mansur yang tidak ikut.
" Maaf putra putriku memang seperti itu kelakuannya" ucap kiysi Husen. Kiyai Mansyur pun tersenyum.
" Tidak apa apa kiyai, justru saya senang melihatnya, keluarga terasa begitu ramai meski ada sedikit keributan keributan kecil. Tidak seperti saya yang belum di karuniai seorang putra, hidup terasa hampa, meski saya sudah punya Riziq, tapi sekarang dia sudah punya keluarga sendiri, kita juga jarang bertemu, rasanya seperti ada yang kurang" tutur kiyai Mansyur sambil membelai lembut kepalanya Riziq.
" Jodoh memang tidak bisa di tebak, kalau di lihat kebelakang rasanya ingin tersenyum ketika teringat kalau dulu saya pernah mau menikahi Aisyah" ucap Kiyai Mansyur. Kiyai Husen pun tersenyum.
" Itulah takdir Allah" ucap kiyai Husen.
" Kiyai tau dulu menantumu ini berlari lari ke rumah saya untuk memohon pada saya dan istri saya agar saya mau membatalkan menikahi Aisyah. Dia sampai terserempet motor hingga tangannya terluka. Saya fikir ketika saya menawarkan pilihan padanya dia akan menyerah untuk membatalkan rencana saya, tapi ternyata dia berani menukarkan posisinya dengan Aisyah. Dia lebih memilih menjadi putraku dari pada Aisyah menjadi istriku. Itu pertama kalinya saya melihat cinta di mata menantumu ini" tutur kiyai Mansur sambil menepuk pundaknya Riziq. Riziq hanya tersenyum sambil menundukan kepalanya. Kiyai Husen pun ikut tersenyum.
" Seberapa besar kau menyayangi putriku?" tanya kiyai Husen pada Riziq. Seketika Riziq langsung menatap kiyai Husen.
" Sebesar sayangnya kiyai Husen pada umi Salamah" jawab Riziq.
Kiyai Husen dan kiyai Mansyur pun tersenyum.
" Kau masih ingat apa yang di minta Aisyah saat menjelang pernikahan?" tanya kiyai Husen.
" Ingat kiyai"
" Apa?"
" Aisyah tidak ingin di poligami" jawab Riziq.
" Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya kiyai Husen kembali.
" Insya Allah saya akan menutup mata saya untuk tidak menatap perempuan lain, dan saya akan berusaha untuk menutup telinga saya supaya tidak mendengar rayuan rayuan perempuan yang berusaha untuk menggodaku" tutur Riziq. Kiyai Husen dan kiyai Mansyur pun kembali tersenyum.
__ADS_1
" Cuma satu yang saya minta darimu, bahagiakanlah putriku" pinta kiyai Husen. Riziq pun mengangguk pasti.