
Pagi pagi sekali Fahmi sudah datang ke rumahnya kiyai Husen untuk menjemput ustad Usman. Mereka berencana untuk melihat lihat seluruh pesantren yang ada di kota itu, mungkin ada 3 pesantren yang akan mereka kunjungi. Ustad Usman dan Fahmi pun sudah bersiap pergi. Tiba tiba Aisyah datang.
" Asalamualaikum "
" Waakaikumsalam "
" Kak Usman mau kemana sudah rapih ? " tanya Aisyah.
" Kak Usman sama Fahmi mau pergi ada urusan, kamu mau ikut ? " tanya ustad Usman. Aisyah malah nenggelengkan kepalanya.
" Ya sudah kalau tidak mau ikut, kak Usman titip kak Nisa ya, asalamualaikum " ucap Ustad Usman sambil berlalu pergi.
" Waalaikum salam, hati hati ka Usman " ucap Aisyah.
" Hanya Usman? " ucap Fahmi.
" Hati hati juga mas Fahmi "
Seketika Fahmi langsung tersenyum, lalu pergi menyusul ustad Usman yang sudah berjalan terlebih dulu. Saat Aisyah akan masuk rumah, ia pun berbalik menatap mereka yang sudah berjalan jauh, entah kenapa ada rasa aneh saat menatap kepergian mereka.
"Ya Allah mudah mudahan ini hanya perasaanku saja "
Kini Aisyah sudah pergi ke perkebunan seperti biasa, sore sore ia selalu pergi ke perkebunan untuk mencari angin menghilangkan rasa lelahnya, ia duduk sendirian di sana.
" Riziq, kini uni sudah ber ta'aruf dengan mas Fahmi, sesuai keinginanmu uni akan menikah dengan lelaki baik, soleh dan belum beristri, semua kriteria yang kamu maksud ada pada mas Fahmi, semoga kamu suka dengan pilihan uni, tapi kamu jangan tanya uni mencintainya atau tidak, karna untuk sekarang uni belum mencintainya, tapi kata umi cinta dan kasih sayang bisa datang dengan seiringnya waktu. "
Tiba tiba Dewi datang menghampirinya, dan duduk di sebelah Aisyah.
" Kau yakin dengan keputusanmu ? " tanya Dewi sambil memandang jauh ke perkebunan.
" Kenapa memangnya ? "
" Aku melihat keraguan di matamu, apa kau benar benar yakin dengan Fahmi " ucap Dewi sambil menatap Aisyah.
" Entahlah "
" Hei Aisyah itu artinya kau belum Yakin dengan keputusanmu "
__ADS_1
" Setidaknya keputusanku akan membuat ustajah Yasmin sedikit meredakan cemburunya padaku "
" Maksudmu ? " tanya Dewi penasaran .
" Ya kalau aku sudah punya calon, pasti ustajah Yasmin tidak akan mencemburuiku, tidak akan berfikir lagi kalau aku akan merebut suaminya " tutur Aisyah, Dewi malah mengeryitkan keningnya.
" Jadi kau menerima Fahmi hanya karna semata mata ingin menyelamatkanmu dari ustajah Yasmin ? "
" Tentu saja tidak " jawab Aisyah.
" Aku hanya takut kau menyesal karna terpaksa menerima Fahmi "
" Demi Allah aku tidak terpaksa Wi "
" Kau tau Aisyah kalau si Riziq tau kau menerima Fahmi karna ada hubungannya dengan ustajah Yasmin, tentu dia akan marah besar padamu pasti urat nadinya akan keluar dan ngomel ngomel seperti perempuan " tutur Dewi. Aisyah pun terdiam sambil menundukan kepalanya.
" Apapun keputusanmu, ku harap ini yang terbaik untukmu Aisyah " ucap Dewi sambil menatap Aisyah.
" Makasih ya wi, kau memang teman terbaiku "
Sesampainya di rumah umi Salamah, Aisyah pun masuk rumah ia melihat kak Nisa sedang menerima telepon.
" Astaghfirullah alazim " ucap kak Nisa sambil menjatuhkan ponselnya. Aisyah pun heran melihat ka Nisa sudah menangis. Seketika Aisyah langsung menghampiri nya.
" Kak Nisa kenapa kak ?, kenapa kak Nisa nangis " ucap Aisyah cemas. Nisa malah menangis tersedu sedu hingga ia terduduk di lantai, Aisyah semakin panik.
" Kak, kak Nisa istighfar kak,
" Umi " teriak Aisyah.
Seketika umi Salamah langsung menghampiri mereka dan terkejut melihat Nisa yang sudah duduk di lantai, apalagi Nisa sedang hamil. Aisyah langsung mengambilkan air minum dan meminumkannya pada Nisa.
" Nisa kenapa kamu na ? " tanya umi cemas.
" Umi mas Usman mi " ucap Nisa sambil berkaca kaca.
" Usman kenapa ? " tanya umi semakin cemas.
__ADS_1
" Mas usman kecelakaan mi " jawab Nisa sudah bercucuran airmata. Seketika itu pula Aisyah dan umi terkejut.
" Allahuakbar, Usman " ucap umi lirih.
" Ya sudah kita kerumah sakit sekarang " pinta umu Salamah.
Deg.
Aisyah terdiam.
" Astaghfirullah, bukannya kak Usman perginya sama mas Fahmi, apa mas Fahmi baik baik saja, ya Allah selamatkan lah mereka" gumam Aisyah.
" Mi bukannya kak Usman perginya sama mas Fahmi ya " ucap Aisyah. Umi pun kembali terdiam.
" Ya sudah sekarang kita kerumah sakit ? kita lihat keadaan mereka "
Seketika itu juga mereka pergi kerumah sakit bersama ustad Soleh.
Sesampainya disana. Mereka langsung bergegas menemui ustad Usman di ruangannya.
" Allahuakbar Usman " ucap Umi ketika melihat putra bungsunya tak sadarkan diri. Nisa sudah menangis sesegukan. Tiba tiba dokter menghampirinya.
" Dokter bagai mana keadaan suami saya " tanya Nisa cemas.
" Suami ibu baik baik saja, hanya saja dia belum sadarkan diri, tapi maaf saya tidak bisa menyelamatkan temannya dari kecelakaan itu " ucap Sang dokter.
Seketika itu mereka terkejut .
" Mas Fahmi " gumam Aisyah lirih, matanya sudah berkaca kaca. Umi salamah langsung memeluk Aisyah.
" Umi mas Fahmi " ucap Aisyah sambil menatap umi nya.
" Yang sabar Aisyah, ini ujian untukmu "
Kini nyawa Fahmi tidak bisa di selamatkan dari kecelakaan itu, Aisyah nampak sedih, pasalnya ia baru saja berta'aruf dengannya, tapi kini Fahmi sudah meninggal.
"Ya Allah kenapa kau ambil mas Fahmi secepat itu, aku baru saja mengenalnya, apa mas Fahmi memang bukan jodohku hingga engkau mengambilnya terlebih dulu, terimalah dia di sisimu Ya Allah, amiin "
__ADS_1