Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Pertandingan putri


__ADS_3

Masih di lapangan pesantren yang kini sedang mengikuti turnamen sepak bola. Kini giliran pertandingan putri. Aisyah dan Zahira nampak semangat untuk mengikuti pertandingan itu meskipun mereka tak begitu faham dengan olah raga sepak bola. ustadzah Ulfi pun sudah bersiap untuk mengikuti pertandingan.


" Mas aku ikutan ya" ucap Nisa penuh harap pada ustad Usman.


" Jangan, nanti kau pulang pulang minta di pijitin" ucap ustad Usman melarang istrinya mengikuti pertandingan. Nisa sudah cemberut kesal.


" Le, kalau aku boleh ikutan?" tanya Aisyah.


" Boleh, nanti kalau kau pegal pegal aku siap memijitmu dari atas sampai bawah" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga wajah Aisyah bersemu merah.


" Kau tidak seromantis ustad Riziq" ucap Nisa sambil berjalan ketengah lapangan. Aisyah dan Zahira pun berjalan ketengah lapangan termasuk Dewi dan ustadzah Ulfi. Perlahan ustad Usman pun berjalan ketengah lapangan mengikuti mereka.


" Om ustad, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zahira penasaran.


"Apa selebor"


" Kalau aku memenangkan pertandingannya, lalu hadiahnya apa?" tanya Zahira kembali. Ustad Usman sudah tersenyum.


" Kalau kau menang, kau akan mendapatkan tiket menuju alam gaib" jawab ustad Usman. Hingga Zahira mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban ustad Usman yang tak masuk akal itu.


" Memangnya aku dedemit" gerutu Zahira.


" Kau jangan terlalu memikirkan hadiah apa yang akan kau dapatkan nanti, karna kalau kau menang nanti malaikat izrail akan menjemputmu" ucap ustad Usman.


" Siapa malaikat Izrail?" tanya Zahira.


" Kau tidak mengenalnya?" tanya ustad Usman sedikit tak percaya. Zahira hanya menggelengkan kepalanya.


" Astaghfirullah alazim. Kalau kau belum mengenalnya nantiku kenalkan" ucap ustad Usman.


" Ok" ucap Zahira sambil mengacungkan jempolnya. Ustad Usman hanya menggeleng gelengkan kepalanya heran karna Zahira belum tau tentang malaikat dan tugas tugasnya.


" Sungguh miris otaknya si slebor, malaikat saha dia tidak tau, kasian kasian kasian" batin ustad Usman.


" Kalian bagi tim ya" ucap ustad Usman. Kini Aisyah sudah menjadi tim B yang terdiri dari Zahira dan Dewi serta beberapa santri yang lain, sementara tim A sudah terdiri dari ustadzah Ulfi, Nisa, istrinya ustad Soleh dan beberapa santri yang lain.


" Aisyah aku jadi gelandang ya" ucap Dewi.


" Jangan, ka Dewi jadi kiper aja, badan ka Dewi kan lebar, pasti sangat berguna untuk menghalangi gawang agar musuh tidak bisa mencetak gol, lagi pula kalau ka Dewi berlari larian pasti tidak akan selincah badanku yang kecil" tutur Zahira hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.


" Kau menghinaku Ira" ucap Dewi sedikit menggeram.


" He he, tidak ka Dewi. Ka Dewi boleh ko jadi gelandang, mau sekalian jadi gelandangan juga boleh" ucap Zahira sambil tersenyum senyum karna sedikit takut setelah Dewi mengeram padanya.


" Wi, kalau setelah selesai pertandingan berat badanmu berkurang 2 kilo, nanti kau akan ku beri hadiah 5 mangkok baso untukmu sebagai hadiah" ucap ustad Usman. Mata Dewi langsung berbinar binar mendengar makanan.


" Jangan mau. Berat badanmu turun dua kilo, nanti setelah makan baso 5 mangkok berat badanmu akan bertambah 5 kilo, artinya kau mendapatkan bonus 3 kilo untuk berat badanmu" ucap Aisyah tegas.


Priiiiiit


Suara pluit sudah di tiup oleh sang wasit dadakan.


" Kalian sudah siap?" tanya ustad Usman.


" Sudah"


Pertandingan pun dimulai. Semua pemain nampak semangat mengikuti pertandingan.


Mereka sudah berlari larian di tengah lapangan, Zahira nampak lincah dan gesit, sementara Dewi sudah merasa ngos ngosan.


" Ayo Wi semangat" ucap Aisyah.


" Semangat demi 5 mangkok baso" ucap Dewi sambil berlari kembali. Aisyah hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Pertandingan nampak gesit, Zahira berlarian sambil mengangkat rok gamisnya sedikit lebih tinggi agar ia lebih gampang untuk berlarian.


" Ira gamisnya jangan diangkat terlalu tinggi, nanti betismu terlihat" ucap Aisyah. Zahira pun menurunkan gamisnya. Saat Zahira berlari tiba tiba ia terserimpet gamisnya hingga menubruk Nisa dan akhirnya mereka terjatuh berdua.


PRIIIIIIIIIIIIIIT


ustad Usman berlari mendekati mereka sambil meniup pluitnya. Nisa dan Zahira pun bangun sambil mengaduh kesakitan.


" Duuh sakit"


" Ira kau melakukan pelanggaran" ucap ustad Usman.


" Sayang kau tidak apa apa?" tanya ustad Usman pada Nisa. Nisa hanya menggelengkan kepalanya saja.

__ADS_1


" Aku kan tidak sengaja om" ucap Zahira.


" Tetap saja kau melakukan pelanggaran ira, kuberi kau kartu kuning" ucap ustad Usman.


" Ka, ira kan tidak sengaja, lagian kan mereka berdua jatuh semua, kau jangan berat sebelah ka, jangan mentang mentang ka Nisa istrimu jadi kau lebih membelanya, jadi wadit itu harus netral" tegas Aisyah.


" Aku tidak membela siapa siapa, aku juga tidak berat sebelah, kalau berat sebelah itu ketika aku mengangkat Zahira dengan tangan kananku lalu tangan kiri ku mengangkat Dewi, baru itu yang namanya berat sebelah" ucap ustad Usman. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya, Zahira sudah tertawa tawa sementara Dewi sudah mengerucutkan bibirnya. Dengan sedikit kesal Aisyah meniup pluit yang di gantung di lehernya ustad Usman.


PRIIIIIIIIT


Ustad Usman begitu sangat terkejut.


" Aisyah, kau mau menjebol gendang telingaku ya" gerutu ustad Usman.


" Abis dari tadi ka Usman prat prit prat prit mulu, tapi tetap saja pilih kasih" gerutu Aisyah. Ustad Usman pun memberikan kartu kuning pada Zahira. Sambil mengerucutkan bibirnya Zahira pun menerima kartu itu.


" Apa kartunya tidak ada yang berwarna pink, aku tidak suka warna kuning" ucap Zahira. Ustad Usman sudah menganga ia hampir tak percaya dengan permintaan bocah ingusan itu. Sementara Aisyah dan Nisa sudah tersenyum senyum geli.


" Lama lama aku bisa gila menghadapi si slebor bocah ingusan ini" gerutu ustad Usman.


" Ada tidak kartu yang warnanya pink?" tanya Zahira kembali.


" Ada" ucap ustad Usman.


" Apa?" tanya Zahira kembali.


" Tiket masuk bioskop"ucap ustad Usman sedikit kesal.


" Sudah sudah, ayo kita main lagi" pinta Nisa.


Mereka pun melanjutkan permainan kembali. Dewi sudah nampak semangat dengan membayangkan bola adalah sebuah baso. tiba tiba saat ia berlari kencang, ia tak sengaja menyenggol ustad Usman yang saat itu juga berlari, hingga wasit dadakan itu tersungkur di lapangan.


" Allahuakbar" ucap ustad Usman sambil bangun. Dewi sudah ketakutan karna ia takut di beri kartu kuning.


" Maaf ustad aku tidak sengaja" ucap Dewi sedikit memelas. Aisyah dan Zahira sudah cekikikan melihat ustad Usman tersungkur.


"Kau tidak apa apa mas?" tanya Nisa khawatir. Ustad Usman hanya menggelengkan kepalanya.


" Aku berasa tersenggol angin ****** beliung" ucap ustad Usman. Ustad Usman pun meniup pluit kembali. Mereka pun bermain kembali.


Ketika permainan nampak sengit, tiba tiba Zahira menendang bola itu kearah gawang timnya sendiri karna ia lupa setelah bertukar posisi. Untung saja tidak gol.


" Iraa kenapa kau masukan bola ke gawang kita, kau mau melakukan gol bunuh diri" gerutu Dewi. Zahira sudah tersenyum getir.


" Maaf ka aku lupa kalau kita tukar posisi" jawab Zahira.


" Untung tidak gol, kalau saja kau berhasil melakukan gol bunuh diri, akan kutelan kau hidup hidup" ucap Dewi sedikit menggeram. Setelah itu mereka pun melanjutkan permainan kembali. Ustadzah Ulfi nampak semangat mengoper bola pada Nisa. Namun Zahira berhasil membloknya. Tiba tiba Dewi terserimpet bajunya yang sebesar bedcover itu hingga tubuhnya ambruk menimpa Zahira.


"HUUAAAAAAAAAA" teriak Zahira yang kini ada di bawah tubuh gempalnya Dewi.


PRIIIIIIIIIT


" Cepat tolongin, terlambat 5 menit saja si slebor bisa masuk ruang UGD" teriak ustad Usman sambil berlari mendekati mereka. Aisyah dan Nisa serta ustadzah Ulfi pun dengan susah payah membangunkan Dewi.


Riziq pun berlari ketengah lapangan karna khawatir dengan adiknya itu. ia sudah membawa botol minuman.


" Kau tidak apa apa Ira?" tanya Riziq khawatir. Riziq sudah membuka tutup botol minuman itu dan langsung meminumkannya pada Aisyah. Seketika Aisyah langsung menepis tangan suaminya itu.


" Yang jatuh itu Ira bukan aku Le, kenapa kau memberi minum padaku" ucap Aisyah heran.


" Astaghfirullah, maaf uni aku lupa" ucap Riziq. Lalu memberikan botol minuman itu pada Zahira.


" Astaghfirullah, maaf ya Ira" ucap Dewi sambil cengengesan karna malu. Zahira hanya diam saja sambil mengatur nafasnya.


" Kau tidak apa apa Ira?" tanya Aisyah. Zahira pun menggelengkan kepalanya.


" Tidak apa apa kak, aku hanya syok, aku berasa tertimpa planet MARS" ucap Zahira sambil mengusap ngusap dadanya. Dewi sudah mengerucutkan bibirnya setelah ia mendengar Zahira membandingkannya dengan planet mars. Riziq pun berlari kembali kepinggir lapangan karna permainan akan dimulai kembali.


PRIIIIIIT


" Ayo semangat mulai lagi"


Mereka kembali bermain. Zahira sudah mengoper sana mengoper sini. Dan ia pun kini berlari bersama ustadzah Ulfi menuju gawang tim A, dengan sekuat tenaga Zahira berlari sambil dikejar oleh ustadzah Ulfi.


" Kalau aku mengalah pada ustadzah Ulfi, apa dia akan merestuiku dengan ka Yusuf tidak ya?, mengalah pada calon mertua. Tapi tidak, kalu aku mengalah, bisa bisa ka Dewi marah dan menelanku hidup hidup, ooh tidaak" batin Zahira. Dengan sekuat tenaga Zahira menendang bola itu sambil berlari dan akhirnya Gol.

__ADS_1


Priiiiiiit


GOOOOOLLL


" Goooool horeeeee"


Tim B bersorak gembira.


" Hidup Zahira" teriak para penonton. Namun karna Zahira sangat kencang berlari hingga ia hilang keseimbangan dan tidak bisa mengerem kakinya, alhasil Zahira pun menerobos gawang lawan.


" Huaaaaaaa" teriak Zahira lalu ia tersungkur di dalam gawang lawan.


" Aduuuh sakit" ringis Zahira.


Aisyah dan Dewi pun berlari untuk menolong Zahira.


" Hebat ya si slebor itu, orang lain masukin gol hanya bolanya saja, dia mah badannya ikut dimasukin juga ke dalam gawang, sungguh menakjubkan" gumam ustad Usman.


PRIIIIIIIT.


Permainan pun selesai.


" Pertandingan sepak bola putri dimenangkan oleh tim B, beri tepuk tangan" ucap ustad Usman sambil berteriak di tengah lapangan. Tim B pun bersorak gembira setelah memenangkan pertandingan. Setelah permainan selesai, sebagian santri ada yang membubarkan diri dan ada yang masih berdiam diri di lapangan untuk beristirahat.


Aisyah sudah nampak ngos ngosan sambil berjalan mendekati Riziq.


" Le, aku capek banget"


Aisyah pun duduk di hadapan Riziq sambil menselonjorkan kakinya. Seketika Riziq langsung mengangkat kaki istrinya itu lalu di taruhnya kaki Aisyah kepangkuannya setelah itu Riziq dengan sabar memijat mijat kakinya Aisyah. Aisyah pun tersenyum karna Riziq sangat perhatian padanya.


Zahira pun berbisik pada ustad Rasyid.


" Ka Rasyid lihat ka Riziq sama ka Aisyah, mereka sosweatkan, ka Rasyid bisa menirunya di rumah nanti" bisik Zahira. Ustad Rasyid pun menatap Aisyah dan Riziq. Tidak bisa dibohongi kalau ia merasa iri dengan kemesraan Adiknya itu.


" Uni, kalau lima menit lagi pertandingan belum selesai, pasti betismu sudah bengkak seperti ka Dewi" ucap Riziq sambil memijat mijat kakinya Aisyah. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya. Zahira pun mendekati Riziq dan Aisyah.


" Ka tadi aku hebatkan?, aku mencetak satu gol dan ka Yusuf pun mencetak satu gol, bukankah itu artinya jodoh" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Aisyah dan Riziq hanya mengeryitkan kening masing masing.


" Kau jangan macam macam Ira" ucap Riziq tegas.


Dewi pun mendekati ustad Usman.


" Ustaaaad kau jangan lupa ya, kau punya hutang padaku" ucap Dewi pada ustad Usman.


" Apa?" tanya ustad Usman.


" Kan katanya kalau berat badanku turun dua kilo, kau akan memberiku 5 mangkok baso, kau tidak lupa kan ustad?" tanya Dewi.


" Memangnya berat badanmu sudah turun?" tanya ustad Usman.


" Belum tau aku belum menimbang berat badanku, nanti aku ke klinik dulu untuk cek berat badan" ucap Dewi sambil berlalu pergi ke klinik. Tiba tiba Zahira berteriak pada ustad Usman.


" Om ustad mana malaikat izrail, katanya kalau aku menang dia mau menjemputku" ucap Zahira sambil berteriak. Aisyah dan Riziq pun terkejut dengan ucapannya Zahira.


" Astaghfirullah"


" Ira kau bicara apa?" tanya Riziq.


" Kata om ustad kalau aku menang, nanti malaikat izrail akan menjemputku" jawab Zahira.


" Allahu akbar, kau jangan dengarkan ucapannya kak Usman" ucap Aisyah sambil memicingkan matanya pada ustad Usman. Saat ustad Usman sadar dengan tatapannya Aisyah, seketika ia langsung berlari kabur.


" kabuuuuur"


" Kau tau tidak Ira siapa malaikat Izrail itu?" tanya Riziq.


" Tidak tau, tapi kata om ustad dia bilang mau memperkenalkanku padanya" jawab Zahira polos.


" Astaghfirullah, Ira ira, kau harus rajin belajar ya biar tau pelajaran agama, jangan taunya menggoda Yusuf doang" ucap Riziq tegas. Zahira pun mengangguk nganggukan kepalanya. Tiba tiba ia berbisik pada Aisyah.


" Ka, memangnya maalaikat Izrail itu siapa?" tanya Zahira penasaran.


" Malaikat yang bertugas mencabut nyawa" jawab Aisyah. Zahira pun membelakakan matanya mendengar jawaban dari Aisyah.


" Om ustaaaaaaad" ucap Zahira sambil menggeram kesal.

__ADS_1


__ADS_2