
Masih dengan Zahira dan ustad Usman yang sedang belajar. Sementara Aisyah dan umi Salamah sedang asik bersama Adam dan Hawa.
" Kau dengarkan aku ya Ira, sebelum apa apa kau harus baca bismilah dulu, termasuk membaca ayat suci. Sekarang aku tanya saat kau di hukum oleh calon ibu mertuamu itu karna apa?" tanya ustad Usman.
" Karna waktu itu ada hafalan surat Al ikhlas, tapi aku belum hafal hingga aku di hukum berdiri di lapangan" ucap Zahira. Ustad Usman sudah menggeleng gelengkan kepalanya.
" Memangnya waktu itu kau membacakan apa, apa kau hanya diam saja?" tanya ustad Usman.
" Aku hanya membacakan bacaan andalanku, karna surat al ikhlas ada 4 ayat, jadi aku membacanya 4 kali" jawab Zahira.
" Coba kau ulang bacaan yang kau sebutkan di depan calon ibu mertuamu itu, aku penasaran ingin dengar"
" Al ikhlas, Al ikhlas, Al ikhlas, Al ikhlas"
" Astghfirullah alazim, jadi itu yang kau bacakan di depan ustadzah Ulfi?, pantas saja dia menghukumu berdiri di lapangan. Untung saja ustadzah Ulfi tidak pingsan mendengar bacaan yang kau ucapkan" ucap ustad Usman. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Siapa saja waktu itu yang dihukum ustadzah Ulfi karena tidak bisa menghafal surat Al ikhlas?"
" Cuma aku" jawab Zahira sedikit malu.
" Ya Allah kau sungguh memalukan Ira, kau kan murid fenomenal disana. Semua murid rata rata berumur 5 tahun, dan kau satu satunya murid berumur 15 tahun, seharusnya kecerdasanmu lebih unggul dari mereka yang ada di kelas itu, ini malah kebalikannya, sungguh memalukan, kalau aku jadi ustad Rasyid dan ustad Riziq, aku pasti sudah menyembunyikan wajahku di dalam kantong kresek berwarna hitam karna malu" tutur ustad Usman. Zahira pun kembali cemberut.
" Om ustad sedari tadi ceramah mulu kapan mau ngajariku" protes Zahira.
" Astaghfirullah aku sampai lupa gara gara cemas dengan kecerdasanmu itu" ucap ustad Usman.
" Lucu ya mereka mi" bisik Aisyah pada umi Salamah. Umi Salamah sedari tadi hanya tersenyum saja.
" Kau dengar dan perhatikan aku" ucap ustad Usman.
" Hmmm"
Zahira sudah memperhatikan wajahnya ustad Usman dengan fokusnya tanpa berkedip sekalipun.
" Audzubillah himinasyaiton nirojim bis,"
Belum saja ustad Usman selesai, ia menatap heran pada murid penomenalnya itu.
" Kenapa kau menatap wajahku seperti itu, jangan bilang kalau kau mulai menyukaiku. Aku tidak suka dengan anak kecil, hanya Nisa yang ada di dalam hatiku, jadi kau jangan berfikir macam macam padaku. Jangankan menjadikanmu istriku, menjadikanmu anakku saja aku harus berfikir 1000 x" tutur ustad Usman. Hingga Zahira mengeryitkan keningnya heran dengan ucapan ustad Usman.
" Om ustad ini bicara apa, siapa juga yang menyukaimu, hatiku sudah terpaut dengan ka Yusuf" jawab Zahira.
" Lalu kenapa kau menatap wajahku seperti itu, asal kau tau saja ya, aku paling tidak suka jika wajahku di tatap seperti itu, aku tau dan aku sadar kalau wajahku ini sangat tampan, tapi aku benar benar paling benci di tatap intens seperti itu" tutur ustad Usman.
" Om ustad yang menyuruhku memperhatikanmu" jawab Zahira.
" Ia aku menyuruhmu memperhatikanku, tapi bukan memperhatikan wajahku, tapi kau perhatikan semua ucapanku" ucap ustad Usman sedikit kesal.
"Aisyah kau bawa air satu ember, siramkan pada kedua orang yang ada di hadapanmu itu, sedari tadi bukannya belajar mereka malah mengoceh terus menerus" gerutu umi Salamah. Aisyah sudah tertawa tawa dengan perintahnya umi Salamah.
" Umi, memangnya kita tanaman pake di siram siram segala" gerutu ustad Usman.
" Sedari tadi umi memperhatikan kalian, bukannya belajar tapi malah mengoceh kemana mana" ucap umi Salamah.
" Ha ha ha ha ha" Aisyah tertawa puas.
" Maaf oma, abis om ustadnya rese, aku jadi tidak fokus belajarnya" ucap Zahira.
" Eh slebor kenapa kau memanggil oma, panggil umi" gerutu ustad Usman.
" Umi?"
" Hmmm begitu, ayo lanjut"
" Audzubillahiminasyaitonirojim bismilahirrahmanirahim, Qul huawallahu ahad (1). Allahus samad (2). Lam yalid wa lam yulad (3). Wa lam yakul lahu kufuwan ahad (4). Shodaqallahul adzim. Coba kau ikuti" pinta ustad Usman.
" Qul huallahu ahad. Allahus samad. Wa lam yakul lahu kufuan ahad"
" Ira kenapa ayat yang ketiganya kau lewat, semuanya ada 4 ayat, coba ulang lagi" ucap ustad Usman. Zahira sudah tersenyum getir.
" Qul huallahu ahad. Allahu samad. E e, aku lupa ayat ketiganya" ucap Zahira.
" Man, biarkan dia menghafal dua ayat dulu nanti sisanya menyusul, jangan terlalu memaksakan, kasihan nanti Zahira pusing sendiri" ucap umi Salamah.
" Ternyata daya tangkap otakmu sangat lola ya, ya sudah tidak apa apa, sekarang hafalkan yang dua ayat itu, nanti kau lupa lagi, sisanya nanti menyusul tahun depan" tutur ustad Usman.
" Lama banget tahun depan" protes Zahira. Ustad Usman sudah tertawa tawa.
" Kau sudah hafal berapa do'a?" tanya ustad Usman. Zahira sudah berantusias untuk menjawab.
" Kalau soal membaca do'a aku sudah banyak hafal" jawab Zahira.
" Coba sebutkan"
" Doa masuk surga, do'a menjadi cantik, do'a menjadi kaya, do'a menjadi pintar, dan masih banyak do'a do'a yang lain" ucap Zahira sedikit sombong.
" Coba bacakan"
" Bismillahirahmanirahim, Ya Allah semoga aku masuk surga, dan semoga aku menjadi cantik biar ka Yusuf tergila gila padaku. Semoga aku juga bisa punya banyak uang biar bisa bantu ka Aisyah sama ka Riziq. Dan semoga aku menjadi pintar agar aku tidak di hukum calon ibu mertuaku, amiin" tutur Zahira. Ustad Usman sudah menutupi wajahnya dengan kopeah, sementara Aisyah dan umi Salamah sudah cekikikan sedari tadi.
"Ya Allah dosa apa aku punya murid seperti Zahira" batin ustad Usman.
" Ira itumah berdo'a" ucap ustad Usman. Zahira hanya diam kebingungan.
" Kau di ajarkan do'a apa saja oleh ustadzah Ulfi?" tanya ustad Usman.
" Do'a makan, do'a masuk wc, do'a naik kendaraan, do'a masuk rumah, do'a mau tidur, do'a keselamatan, do'a untuk orang tua dan masih banyak lagi"
__ADS_1
" Apa saja yang kau hafal?" tanya ustad Usman.
" Do'a sebelum makan sama do'a sebelum tidur"
" Segitu banyaknya yang diajarkan oleh ustadzah Ulfi, kau cuma hafal do'a sebelum makan sama do'a sebelum tidur saja?" tanya ustad Usman sedikit tak percaya. Zahira pun mengangguk.
" Astaghfirullah" ucap ustad Usman sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
" coba aku ingin dengar do'a sebelum makan sama do'a sebelum tidur" pinta ustad Usman.
" Bismillahirahmanirrahim. Allahumaa barik lanaa pimaa razaktanaa wakina adza banaar. itu do'a sebelum makan. Dan do'a sebelum tidur, bismika allahuma ahya wabismika amuut"
" Waaah kamu hebat ya Ira, seharusnya kamu di acungi jempol karna kamu di umur 15 tahun baru bisa baca do'a sebelum makan dan do'a sebelum tidur, hebaaat"
" Om ustad memujiku apa menghinaku?" tanya Zahira.
" Sakarepmu maunya apa"
Tiba tiba kiyai Husen datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Kiyai Husen pun duduk bersama umi Salamah dan Aisyah.
" Itu siapa yang sedang bersama usman?" tanya kiyai Husen.
" Murid penomenalnya bi. Warisan suamiku" jawab Aisyah.
" Itukan Zahira yang kemarin bermain sepak bola itu, diakan adiknya ustad Rasyid dan ustad Riziq" tutur umi Salamah. Kiyai Husen pun mengangguk ngangguk.
" Ira, kau sudah hafal huruf hija'iah?" tanya kiyai Husen.
" Sudah opa" jawab Zahira.
" Eh slebor kenapa kau memanggilnya opa?. Opa itu panggilan si upin ipin sama neneknya" ucap ustad Usman. Zahira sudah tersenyum getir sementara Aisyah sudah tertawa tawa.
" Lalu aku harus memanggil apa?" tanya Zahira.
" Panggil dia m'bah kiyai" ucap ustad Usman.
" M'bah?"
" Hmmm"
" Seperti panggilan jaman dulu, sekarang sudah ketinggalan Zaman" gumam Zahira.
Setelah hampir satu jam belajar, akhirnya selesai juga belajar mengajarnya.
" Alhamdulilah selesai juga, untung cuma satu jam, kalau sampai dua jam aku bisa migren menghadapi bocah ingusan ini" gumam ustad Usman. Zahira yang mendengar pun langsung cemberut.
" Ok" ucap Zahira sambil mengacungkan jempolnya. Setelah itu ustad Usman langsung pergi menyusul Riziq dan ustad Soleh ke perkebunan. Zahira kini duduk di sebelahnya Aisyah.
" Kau mau minum?" tanya Aisyah. Zahira hanya menggelengkan kepalanya.
" Ira, kau betah tidak tinggal disini?" tanya kiyai Husen.
" Betah m'bah, bahkan betah sekali, disini kan ada ka Yusuf" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Yusuf?"
" Hmmm"
" Yusuf putranya ustad Azam?" tanya kiyai Husen.
" Ia dia tampan sekali kan" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Aisyah sudah melototkan matanya pada Zahira.
" Kau harus ingat ya Ira, m'bah berpesan sama kamu, jadi perempuan itu tidak boleh genit, kau harus bisa menjaga kehormatanmu, harus bisa menjaga kancing bajumu agar tidak mudah di lepas oleh laki laki yang bukan suamimu. Carilah laki laki yang mau menghargaimu sebagai perempuan, bukan karna ingin memanfaatkanmu untuk memuaskan nafsunya" tutur kiyai Husen.
" Iya m'bah, tapi menurut m'bah, ka Yusuf termasuk laki laki seperti itu bukan?" tanya Zahira. Aisyah langsung memicingkan matanya pada Zahira, karna sedari tadi Zahira selalu menyebut nama Yusuf. Kiyai Husen hanya tersenyum saja mendengar pertanyaannya Zahira.
" M'bah tanya, sekarang umurmu berapa?" tanya kiyai Husen.
" 18 tahun m'bah" jawab Zahira.
" 15 tahun Iraaaaaaa" ucap Aisyah sedikit menggeram. Zahira sudah tersenyum getir.
" Jadi umurmu baru 15 tahun?" tanya kiyai Husen kembali. Zahira pun mengangguk.
" Menurut m'bah, kau masih di bawah umur untuk membicarakan hal seperti itu, kurang baik bersikap dewasa sebelum waktunya. Sekarang kau fokus saja dengan belajar, supaya kau pintar. Kalau kau sudah pintar dalam pelajaran agama, dalam mengaji, nanti jodoh akan datang menghampirimu, jodoh yang terbaik yang Allah kirim khusus untukmu" tutur kiyai Husen. Zahira pun tersenyum.
" Apa Allah akan mengirimkan jodoh terbaiknya untuku?" tanya Zahira.
" Tentu"
" Ka Yusuf aku akan menunggumu 5 tahun lagi" gumam Zahira. Aisyah sudah menggeleng gelengkan kepalanya. Sementara kiyai Husen dan umi Salamah sudah tersenyum geli dengan kelakuannya Zahira.
Tidak lama kemudian Riziq datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Riziq pun mengambil Adam dalam pangkuannya Aisyah.
" Uni kita pulang yu sudah sore" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk.
__ADS_1
" Mi kita pulang dulu ya, ayo Ira" ajak Aisyah.
" Asalamualaikum"
"Waalaikum salam"
" Daaah umi daaah m'bah sampai jumpa lagi" ucap Zahira sambil melambai lambaikan tangannya. Aisyah sudah memicingkan matanya pada Zahira.
" Yang sopan kalau bicara" ucap Riziq.
" Iya iya maaf, asalamualaikum m'bah umi"
" Waalaikum salam" jawab kiyai Husen dan umi Salamah. Mereka pun meninggalkan rumahnya umi Salamah.
" Ira kau mau ke rumahnya ka Aisyah dulu tidak?" tanya Aisyah.
" Aku langsung pulang saja ke asrama" jawab Zahira. Setelah di persimpangan jalan, Zahira pun berbelok karna jalan menuju asrama berbeda.
" Tunggu Ira" ucap Riziq.
Zahira pun menghentikan langkahnya. Riziq pun menghentikan langkahnya.
" Ini uang jajan untukmu"
Riziq memberikan 2 amplop pada Zahira. Zahira pun tersenyum sambil menerimanya.
"Ko amplopnya dua?"
" Yang satu dariku, dan yang satu dari aang Rasyid" ucap Riziq.
" Tumben ka Rasyid memberiku uang jajan, itu artinya dia sudah menerimaku sebagai adiknya. Apa dia baru sadar kalau dia itu mempunyai adik seimut dan semanis diriku hi hi hi" tutur Zahira.
" Kau gunakan sebijak mungkin ya" pinta Riziq.
"Aku sudah seperti karyawan yang setiap minggunya di beri gaji, ha ha ha menyenangkan ya belajar di pesantren tapi di beri gaji" tutur Zahira sambil tertawa tawa. Riziq sudah menggeram padanya.
" He he, maaf ka aku hanya bercanda. Makasih ya kakak brondongku yang manis" ucap Zahira. Riziq sudah memicingkan matanya.
" Kenapa kau memanggilku seperti itu?" tanya Riziq tak suka.
" He he, bukankah umurmu lebih muda dari ka Aisyah?"
" Kalau ia memangnya kenapa?" tanya Riziq sambil menyipitkan matanya.
" Tidak kenapa napa, tapi aku bolehkan memanggilmu seperti itu?" tanya Zahira.
" Boleh, tapi aku tidak akan memberimu uang jajan lagi" ucap Riziq sedikit mengancam.
" Yah jangan dong ka, ia aku akan memanggilmu ka Riziq yang manis" ucap Zahira pasrah.
" Hmm bagus"
" Ya sudah aku pulang, asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Aisyah dan Riziq. Riziq sudah menggeleng gelengkan kepalanya, sementara Aisyah sudah cekikikan.
" Kelakuan warisanmu Le, hi hi hi" ucap Aisyah sambil di bumbui tawa. Riziq sudah memicingkan matanya pada istrinya itu yang sedari tadi tertawa terus.
" Maaf Le, ayo kita pulang" ucap Aisyah sambil menggandeng lengannya Riziq.
* * * * * * *
Malampun tiba. Setelah selesai shalat isya dan makan malam, Aisyah pun membereskan dapur. Riziq sedang asik membaca di ruang tamu, sementara Adam dan Hawa sudah tertidur di kamar.
" Uni duduk sebentar disini" pinta Riziq.
" Sebentar Le pekerjaanku belum selesai" Aisyah kembali membereskan ruang tamu.
" Uni duduklah, apa kau tidak cape beres beres terus dari tadi"
" Sebentar lagi selesai Le"
Setiap kali disuruh mendekat, Aisyah selalu bilang sebentar hingga Riziq menjadi kesal. Seketika Riziq langsung menarik Aisyah dan menyudutkannya di tembok. Riziq pun membuang sapu yang sedang di pegang istrinya itu.
" Kenapa kau selalu menghindar dariku" ucap Riziq sambil mendekatkan tubuhnya pada tubuh Aisyah.
" Pekerjaanku belum selesai Le"
Riziq pun menarik sorban yang di kenakannya, lalu ia tutupi kepalanya dan kepala Aisyah dengan sorban itu.
" Kalau kau mau menggodaku, nanti saja kalau pekerjaanku sudah selesai" pinta Aisyah.
" Kau mau membuatku menunggu?" ucap Riziq sambil melepas kerudungnya Aisyah.
" Jangan di lepas disini Le"
Riziq sudah mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu. Mendapatkan perlakuan seperti itu, kedua tangan Aisyah repleks langsung menelusup punggungnya Riziq dan mencengkram kuat baju kokonya Riziq dengan sedikit menjinjitkan kakinya. Setelah puas dengan perbuatannya, Riziq pun menarik kembali sorban yang menutupi kepalanya dan kepala Aisyah.
" Astaghfirullah uni aku lupa kalau aku ada janji dengan ustad Azam, aku pergi sebentar ke rumahnya ustad Azam" ucap Riziq. Namun saat Riziq melangkah ke belakang, seketika Aisyah langsung menarik baju depan suaminya itu.
" Setelah kau membangkitkan hasratku, tiba tiba kau mau pergi meninggalkanku, kejam sekali kau Le" ucap Aisyah dengan masih mencengkram bajunya depannya Riziq. Riziq hanya mengeryitkan keningnya.
" Maksud uni?"
" Kau harus bertanggung jawab" ucap Aisyah sambil menarik Riziq masuk kamar.
JEBREEED.
__ADS_1
Aisyah menutup pintu.
" UNIIIIIIIII"