
Kini Aisyah sudah duduk di perkebunan, menundukan wajahnya yang sudah sembab karna menangis, ia tidak tau kenapa ia bisa menerima dan mau menikah dengan kiyai Mansyur. Tiba tiba dari kejauhan Riziq berlari mendekati Aisyah. Wajahnya nampak memerah, sudah terlihat kalau dirinya sedang marah dan dikuasai emosi.
"Uni " panggil Riziq sedikit berteriak. Seketika Aisyah langsung menengok ke belakang sambil menyeka air matanya. Aisyah melihat Riziq yang begitu marah dan murka. Ia yakin Riziq marah karna ia menerima untuk menikah dengan kiyai Mansyur, Riziq mendekati Aisyah tanpa mengucap salam, tubuhnya bergetar, wajahnya nampak merah menggeram kesal.
"Kenapa kau menerima kiyai Mansyur " tanya Riziq dengan nada emosi, Aisyah hanya diam saja sambil menundukan wajahnya.
"Bukankah sudah ku bilang kau tidak boleh menerima lamarannya kiyai Mansyur" ucap Riziq dengan nada meninggi. Nafas dan dadanya naik turun, mencoba menguasai emosinya.
"Jawab aku uni, kenapa kau menerimanya, aku tau kau tidak menginginkan semua ini, lalu apa alasanmu, katakan padaku " ucap Riziq dengan masih di kuasai emosi.
"Maafkan uni ziq " ucap Aisyah sambil menundukan wajahnya, ia tak berani memandang bocah ingusan yang ada di hadapannya itu, mendengar suaranya saja Aisyah sudah tau kalau Riziq sedang di kuasai emosi.
"Ternyata kau sama bodohnya dengan kakaku, menerima keputusan tanpa berpikir dengan jernih, dengar uni, kau adalah seorang perempuan, seharusnya kau tau tidak ada perempuan yang rela di madu, meskipun umi Fadlun bilang kalau dia ikhlas kalau suaminya menikah lagi, seharusnya kau tau di lubuk hatinya yang paling dalam terbesit rasa sakit yang tidak mungkin orang tau, tidak ada perempuan yang rela melihat suaminya berbagi cinta dengan perempuan lain " tutur Riziq, membuat Aisyah kembali menangis.
Kini Riziq mulai menatap kesal pada Aisyah.
"Sekarang lihat dirimu, apa kau bahagia setelah menerima kiyai Mansyur untuk jadi suamimu, kalau kau bilang bahagia itu salah uni, ini adalah awal penderitaanmu, kalau kau memang bahagia, tidak mungkin kau menangis seperti sekarang, seharusnya kau tertawa senang, aku kecewa padamu uni, kenapa kau melakukan semua ini, aku hanya kasihan padamu, kau bukan hanya menyakiti istrinya tapi kau juga menyakiti dirimu sendiri, demi Allah aku tidak ikhlas kau jadi istri kedua." tutur Riziq kembali, membuat Aisyah menangis sesegukan.
__ADS_1
"Beri uni alasan kenapa uni harus menolaknya? " ucap Aisyah masih dengan menundukan kepalanya.
Perlahan Riziq duduk di sebelahnya Aisyah, kini ia sudah bisa mengontrol emosinya.
"Kau tau uni, kenapa aang Rasyid membawaku kesini " ucap Riziq dengan suara pelan. Sontak Aisyah langsung menatap Riziq.
"Dulu keluargaku adalah keluarga yang bahagia, ayah dan ibu begitu sangat menyayangi kami, sampai suatu ketika ayah membawa perempuan lain kerumah, dia bilang itu istri barunya, kau tau uni, ibuku terkejut sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh ayahku, dia sama sekali tidak terima kalau dirinya kini di madu, begitu pun dengan aang Rasyid, ia sangat marah dan ia berusaha meyakinkan ayah untuk melepas istri barunya, ayah begitu marah dan murka pada aang Rasyid hingga ayah membawanya kesini, lebih tepatnya membuangnya kesini, kau tau waktu itu aku berumur sekitar 3 th, mungkin saat itu aku belum mengerti apa apa, setelah keputusan ayah yang tidak bisa di ganggu gugat menikahi perempuan lain, ibuku mulai sakit sakitan apalagi saat aang di bawa dari rumah, ibu merasakan sakit hati yang teramat dalam hingga ia sakit sakitan dan ahirnya meninggal. Begitu sedihnya aku dan aang Rasyid waktu itu. Sejak saat itulah kami membenci ayah kami sendiri. Setelah ibu pergi aku di rawat oleh ibu tiriku, namun aku tidak pernah di perlakukan dengan baik, hingga aang Rasyid diam diam membawaku kesini tanpa sepengetahuan ayah dan ibu tiriku, tapi ayah dan istri barunya seperti senang dengan kepergianku, sampai sekarang pun mereka tidak pernah mencariku" tutur Riziq menceritakan panjang lebar.
Aisyah dapat merasakan kesedihan pada sahabat kecilnya itu.
"Setelah kejadian itu aku sangat membenci perempuan yang menjadi istri kedua, yang suka merebut suami orang, kalau kau menikah dengan kiyai Mansyur, kau tidak ada bedanya dengan ibu tiriku, kalau kau benar benar menjadi istri kedua aku pasti akan membencimu, karna kau tidak ada bedanya dengan ibu tiriku " tutur Riziq kembali.
"Kau jangan membenciku" pinta Aisyah. Seketika Riziq langsung menatap pada Aisyah.
"Kalau kau tidak ingin aku membencimu, batalkan pernikahanmu " pinta Riziq tegas.
"Aku tidak bisa membatalkannya begitu saja, aku tidak mungkin mencabut keputusanku yang telah ku buat di depan umi sama abi" jawab Aisyah.
__ADS_1
"Jadi kau ingin aku membencimu ? " tanya Riziq. Aisyah pun menggelengkan kepalanya .
"Tolong jangan membenciku " Aisyah memohon.
"Kalau begitu pergi dan temuilah umi Fadlun dan kiyai Mansyur, bilang pada mereka kalau kau membatalkan pernikahan itu" ucap Riziq meyakinkan. Aisyah langsung terdiam sambil menundukan wajahnya.
"Uni tidak mungkin membatalkan pernikahan itu, kecuali kiyai Mansyur sendiri lah yang membatalkannya " ucap Aisyah tegas..
"Lalu apa yang akan kau lakukan ? " tanya Riziq penasaran. Aisyah malah menangis sejadi jadinya.
"Kenapa kau menangis? " tanya Riziq.
"Jujur uni tak mau menikah dengan kiyai Mansyur, tidak mau tapi uni tidak punya pilihan, katakan apa yang harus uni lakukan agar kiyai Mansyur membatalkan pernikahan ini, katakan Ziq, katakan apa yang harus uni lakukan, demi Allah uni tidak mau menikah dengan kiyai Mansyur, uni tidak tau kenapa uni bisa menerimanya " tutur Aisyah
Seketika Riziq langsung berdiri dari duduknya dan langsung berlari pergi, membuat Aisyah kebingungan.
"Riziq " panggil Aisyah, seketika Riziq langsung menghentikan langkahnya dan menengok pada Aisyah.
__ADS_1
"Kau mau kemana Ziq ? " tanya Aisyah.
"Akan ku pastikan kiyai Mansyur tidak akan menikahimu, asalamualaikum" ucap Riziq tegas sambil berlari kembali.