
Masih dengan Riziq dan Aisyah yang sedang mengantarkan Zahira ke asrama. Aisyah nampak khawatir pada suaminya yang berjalan tanpa alas kaki.
" Le, kakimu sakit tidak?" tanya Aisyah. Riziq pun menggelengkan kepalanya lalu menggandeng Aisyah.
" Kenapa?, apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Riziq sambil berjalan menggandeng lengan istrinya yang sedang mendorong kereta Adam dan Hawa.
" Tentu saja aku mengkhawatirkanmu"
Tiba tiba mereka bertemu dengan ustad Usman, ustad Azam dan ustad Soleh.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kalian mau kemana ko balik lagi?" tanya ustad Soleh.
" Tadi habis nganterin umi Fadlun ke depan"
" Umi Fadlun sama kiyai Mansyur sudah berangkat?" tanya ustad Azam.
" Sudah ustad" jawab Riziq.
Tiba tiba ustad Usman mengeryitkan keningnya melihat Riziq berjalan tanpa alas kaki.
" Eh Aisyah, kenapa suamimu nyeker begitu, apa semua sandalnya putus semua?" tanya ustad Usman, ada nada mengejek dalam kalimatnya. Aisyah hanya menjawab lewat dagunya yang mengarah pada kaki Zahira.
Ustad Usman pun kembali mengeryitkan keningnya melihat Zahira memakai sandalnya Riziq.
" Eh Ira, kenapa kakimu menghilang begitu" ustad Usman mengejek hingga Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
" Ceritanya panjang, aku malas untuk bercerita, karna itu akan memakan waktu 3 hari tiga malam" jawab Zahira.
" Massa" ucap ustad Usman tak percaya.
Zahira pun mengangguk.
" Memakan waktu 3 hari tiga malam?, sudah seperti waktu sedang datang bulan saja" ucap ustad Usman.
" Kenapa kalian balik lagi?" tanya udtad Soleh kembali.
" Kita mau mengantarkan Zahira ke asrama dulu untuk mengambil sandal"
" Ka, Suamiku saja mau meminjamkan sandalnya pada adiknya, apa kau mau meminjamkan sandalmu untuk adik iparmu?" tanya Aisyah pada ustad Usman. Ustad Usman hanya mengeryitkan keningnya.
" Apa maksudmu Aisyah, kalau aku meminjamkan sandalku untuk ustad Riziq. Nanti aku pake apa?, masa aku harus nyeker, lagi pula sandalku tidak akan muat di kaki suamimu" tutur ustad Usman.
" Kakinya ka Usman berukuran mungil ya kaya kakinya Ira" ucap Aisyah sedikit meledek.
" Enak saja, kakiku tidak mungil, hanya saja sedikit lebih kecil dari ukuran kaki suamimu. Kalau kau mau pinjam sandal yang ukurannya pas dengan ukuran kaki suamimu, kau pinjam sana sandalnya Dewi" ucap ustad Usman.
" Ka ayo ke asrama, nanti aku terlambat" ucap Zahira. Riziq dan Aisyah pun kembali mengantarkan Zahira ke asrama untuk mengambil sandal. Setelah selesai menukarkan sandal, Aisyah pun mengantarkan Zahira ke kelasnya. Sementara Riziq sudah pergi untuk mengajar santri putra.
" Ira kau yang rajin ya belajarnya. Semangat" ucap Aisyah.
" Makasih ka, terus sekarang ka Aisyah mau kemana?" tanya Zahira.
" Ka Aisyah mau ke kantinnya bi Ratna"
Zahira pun mengangguk.
" Ya sudah ka Aisyah pergi ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah pun pergi dari depan kelasnya Zahira dan langsung pergi ke kantin. Di lihatnya Dewi sedang asik melayani para santri putri yang sedang jajan.
" Asalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam Aisyah"
Dengan gemasnya bi Ratna menciumi Adam dan Hawa.
" Sama siapa kesininya Aisyah?" tanya bi Ratna.
"Tadi sama Ale dan Zahira" jawab Aisyah. Aisyah pun ikut membantu di kantin, kalau ada waktu ia selalu ke kantin untuk membantu bibinya.
" Wi, nanti sore kita pergi ke kebun yu, aku kangen dengan suasana perkebunan, apa lagi duduk di kursi bambu" ucap Aisyah. Dewi pun mengangguk. Selama ini mereka memang sudah lama tidak duduk di kursi bambu perkebunan, mereka hanya sering mengunjungi perkebunan untuk menanam bibit sayuran yang jaraknya sekitar 100 meter dari kursi bambu.
* * * * * *
Sore pun tiba. Setelah selesai berberes di kantin.
" Bi aku sama Dewi pergi dulu, kita mau ke kebun" ucap Aisyah.
" Memangnya anak anak mau di ajak ke kebun?" tanya bi Ratna.
" Anak anak tidur, nanti kutitip sama umi, kebetulan umi sama ka Nisa sangat senang menjaga Adam sama Hawa"
" Ayo Aisyah" ajak Dewi.
" Kita duluan ya bi, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah pun pergi dari kantin, ia menunggu Riziq di depan gerbang sekolah. Riziq pun keluar bersama Zahira. Setelah mengucap salam, Aisyah pun mencium tangan suaminya.
" Le, aku sama Dewi mau ke kebun" Aisyah meminta izin.
" Iya, aku juga mau membantu ustad Soleh di perkebunan" jawab Riziq.
" Aku ikut ya" rengek Zahira.
Kini mereka pun berjalan menuju perkebunan.
Sementara Aisyah, Dewi dan Zahira sudah duduk di kursi bambu. Di sana mereka bisa melihat Riziq dan yang lainnya yang sedang menanam bibit.
" Waaah aku baru tau ada kursi panjang disini, tempatnya enak, adem" ucap Zahira sambil menatap lurus ke perkebunan yang luas itu.
" Ini itu tempat favorit kita. Tempat ini juga adalah tempat dimana kakakmu dan Aisyah hubungannya di mulai di sini, tempat ini banyak sekali kenangannya. Semenjak Aisyah melahirkan, kita jadi jarang ke sini, paling cuma ke kebun untuk menanam sayuran" tutur Dewi menjelaskan. Zahira pun mengangguk ngangguk.
" Ka boleh aku tanya sesuatu?"
" Apa?"
" Kapan kau pertama kali bertemu dengan ka Riziq?" tanya Zahira.
" Kau kepo Ira"
" Cuma pengen tau"
" Aku bertemu kakakmu Riziq di hari kedua aku tinggal di pesantren ini. Saat itu aku tersesat dan bertemu dengannya" ucap Aisyah.
" Pasti waktu itu ka Riziq masih abg ya, dan ka Aisyah sudah seperti ini, he he he" ucap Zahira ada nada mengejek di kalimatnya hingga Aisyah memicingkan matanya.
" Kau tau Ira, kalau mereka lagi jalan berdua, Aisyah sudah seperti menenteng adiknya, dan sekarang kalau ustad Riziq menggandeng Aisyah, dia sudah seperti menggandeng ibunya, hi hi hi" ucap Dewi yang juga ikutan meledek Aisyah. Hingga kini Aisyah memicingkan matanya pada Dewi.
" Maaf Aisyah cuma bercanda"
" Meskipun dia masih abg, tapi dia lebih dewasa dari kakakmu ustad Rasyid" tutur Aisyah.
" Apa tempat ini punya kenangan juga antara ka Aisyah sama ka Rasyid?" tanya Zahira.
Aisyah dan Dewi pun berfikir sejanak.
" Kayanya tidak ada deh. Cuma dulu kita baca puisi dari ustad Rasyid di sini, itu pun ustad Riziq yang mengantar" ucap Dewi.
__ADS_1
" boleh tidak aku baca puisi buatan ka Rasyid?, aku kan sudah pernah baca puisi buatan ka Aisyah. Puisi buatan ka Riziq pun sudah pernah baca di dinding kamarnya ka Aisyah. Boleh ya" rengek Zahira.
" Ka Aisyah sudah buang"
" Aku tau ko puisi itu di simpan ka Dewi"ucap Zahira.
" Tidak boleh, puisi itu sudah Aisyah buang dan aku memungutnya. Aku berasa langsing membaca puisinya ustad Rasyid" jawab Dewi. Aisyah dan Zahira langsung mengeryitkan keningnya.
" Apa hubungannya" ucap Zahira heran.
" Itulah caranya Dewi untuk diet dengan cara membaca puisi dari kakakmu" ledek Aisyah.
" Sakarepkulah " ucap Dewi masa bodo.
" Aku pengen liat dong ka, biar aku tambah langsing" rengek Zahira.
" Tidak boleh"
Zahira langsung cemberut.
" Tapi aku punya puisi yang di buat Yusuf"
" Benarkah?" tanya Zahira dengan mata berbinar.
" Iya puisinya yang nulis Yusuf, tapi puisi itu punya orang lain. Yusuf hanya menjiplaknya saja"
" Masa sih ka Yusuf bajak puisi orang?" tanya Zahira tak percaya.
" Iya dia nulis puisi buatan orang lain, tapi yang nyuruh kakakmu"
" Ka Rasyid?" tanya Zahira.
" Riziq" jawab Dewi.
"Ikh jahat sekali ka Riziq nyuruh ka Yusuf buat bajak puisi orang. Coba aku lihat tulisannya ka Yusuf" pinta Zahira. Dewi pun mengambil puisi itu dari dompetnya. Puisi Aisyah, puisi ustad Rasyid dan puisi yang di tulis Yusuf selalu ia bawa bawa dalam dompetnya. Dewi pun memberikan kertas puisi itu pada Zahira.
Dengan tersenyum senyum Zahira menerimanya dan langsung membukanya. Tiba tiba matanya membulat dan mulutnya menganga.
" Apa tidak salah ini tulisannya ka Yusuf, ko tulisannya jelek banget kaya ceker bebek. Masa iya orangnya tampan tapi tulisannya Jelek" ucap Zahira tak percaya.
" Itu tulisan Yusuf saat dia berumur 10 tahun"
Zahira pun mengangguk.
" Oh pantasan tulisannya jelek begini"
" Tulisannya sama ya kaya tulisanmu, cuma bedanya, tulisan jelek Yusuf saat dia berumur 10 tahun, sementara tulisan jelekmu waktu kau berumur 15 tahun alias sekarang. Ha ha ha" ucap Dewi mengejek. Hingga Zahira menggeram kesal.
" Tulisan Yusuf sekarang mah bagus" ucap Aisyah.
" Tulisannya ka Yusuf biar aku yang simpan" ucap Zahira sambil memasukan puisi itu ke saku bajunya. Mereka pun duduk dan mengobrol ngobrol di sana kadang kadang mereka pun tertawa tawa.
Dari kejauhan, ustad Usman menatap mereka yang sedari tadi ketawa ketiwi.
" Astaghfirullah alazim. Kalian lihat itu. Perempuan perempuan akhir zaman, ketawa ketiwi tak jelas, sampai sampai mereka lupa sama anak dan suaminya" ucap ustad Usman.
Riziq dan ustad Soleh pun menatap ke arah Aisyah, Dewi dan Zahira.
" Untung saja Nisa tidak seperti mereka" ucap ustad Usman.
" Kau tidak lihat itu siapa yang datang" ustad Soleh memberitau. Seketika ustad Usman menatap kembali ke arah mereka. Mulutnya menganga saat Nisa datang menemui Aisyah dan bergabung bersama mereka.
" Astaghfurullah" ucap ustad Usman sambil menepuk jidatnya.
" Mereka cuma mengobrol tidak melakukan yang aneh aneh" ucap ustad Soleh.
" Biasanya kalau perempuan sudah berkumpul, biasanya bergosip jadi menu utamanya"
__ADS_1