
Pagi pagi sekali Aisyah sudah membuatkan sarapan untuk suaminya. Riziq belum pulang dari masjid.
" Tumben shalat subuhnya lama banget"
Tidak lama kemudian Riziq pun datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah sudah mencium tangannya Riziq.
"Uni, anak anak belum bangun?" tanya Riziq yang kini sedang di gandeng Aisyah menuju dapur untuk sarapan.
" Mereka masih tidur."
Tiba tiba terdengar Hawa menangis. Aisyah segera menghampiri bayi bayinya di dalam kamar. Tangis Hawa semakin kencang hingga Riziq ikut menyusul Aisyah ke dalam kamar.
" Cup cup cup, sayangnya umi kenapa?" ucap Aisyah yang kini sudah menggendong Hawa. Riziq menghampiri mereka dan duduk bersama Aisyah.
" Hei putri abi yang cantik kenapa menangis?" tanya Riziq. Saat Aisyah akan memberi Hawa asi, tiba tiba Riziq membuka satu persatu kancing bajunya Aisyah. Seketika itu pula Aisyah menepiskan tangannya Riziq.
" Mau ngapain Le?" tanya Aisyah curiga.
" Mau membantu uni, biar Hawa cepat di beri asi"ucap Riziq sambil tersenyum senyum.
" Ga usah, nanti kau macam macam"
Riziq malah tertawa mendengar jawabannya Aisyah. Kini Aisyah sudah memberikan asi pada Hawa. Seketika itu pula Hawa berhenti menangis.
" Uni"
" Hmmm"
" Kalau aku menangis seperti Hawa, apa yang akan uni lakukan ?" tanya Riziq penasaran. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya, merasa heran dengan pertanyaan suaminya.
" Tentu saja uni akan menertawakanmu" jawab Aisyah. Hingga Riziq mendengus kesal.
" Kau tidak romantis uni" jawab Riziq sambil mendengus.
" Memangnya uni harus ngapain?, apa uni harus membuka kancing baju lalu memberimu asi seperti uni melakukan itu pada Hawa saat ia menangis" tutur Aisyah hingga Riziq tertawa tawa mendengar jawaban istrinya itu.
" Aku geli mendengar jawabanmu itu uni" Riziq masih tertawa tawa hingga Aisyah menjadi kesal di buatnya.
" Le, kau jangan mengganggu ku terus, lebih baik kau sarapan dulu" pinta Aisyah sambil membaringkan Hawa di tempat tidur.
" Kalau aku minta sarapan yang lain bagaimana?" tanya Riziq sambil tersenyum menatap Aisyah. Yang di tatap pun sudah mulai menyeringai curiga.
"Perasaanku tidak enak nih, pagi pagi begini sudah mau macam macam padaku" batin Aisyah.
" Memangnya kau mau sarapan apa?" tanya Aisyah. Riziq malah tersenyum.
" Senyumanmu itu membuatku curiga"
Riziq mendekat dan memeluk Aisyah.
" Aku ingin di beri sarapan lain dari yang lain" ucap Riziq sambil menatap intens pada Aisyah.
Glek.
Aisyah sudah menelan salivanya kasar.
" Dia pagi pagi begini sudah mau menggodaku, nafsu birahinya tidak pernah berkurang setiap harinya, apa dia tidak pernah mengenal kata bosan?, ishh ishh ishh" gumam Aisyah dalam hati. Saat Riziq sudah mendekat pada wajah istrinya itu, tiba tiba terdengar ada yang mengetuk pintu sambil mengucap salam. Seketika itu juga Riziq langsung menjauh dari Aisyah.
" Pagi pagi begini sudah bertamu, mengganggu saja" gerutu Riziq.
" Ha ha ha, malaikat penolongku sudah datang " batin Aisyah.
" Ada tamu, uni mau buka pintu dulu." ucap Aisyah sambil berlalu membuka pintu depan. sementara Riziq malah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah terdiam saat melihat siapa yang datang. Kiyai Husen, kiyai Samsul dan ustad Azam lah yang datang bertamu.
__ADS_1
" Abi" ucap Aisyah sambil mencium tangannya kiyai Husen.
" Ustad Riziqnya ada?" tanya kiyai Samsul.
" Ada"
" Mereka mau ngapain ya, bukankah kata Riziq, ustajah Yasmin akan meminta kiyai Samsul untuk membatalkan penawarannya" batin Aisyah. Entah kenapa ada rasa khawatir dalam dirinya. Aisyah malah bengong di tempat, memikirkan sesuatu yang belum pasti.
" Aisyah, apa kami boleh masuk?" tanya kiyai Husen.
" Oh maaf bi, mari masuk" ajak Aisyah.
Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu.
" Sebentar, saya panggilkan dulu suami saya" ucap Aisyah yang kini masuk kamar untuk memanggil Riziq. Riziq masih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan matanya.
" Le" Aisyah membangunkan Riziq sambil menggoyangkan pundak suaminya itu.
" Le bangun"
Riziq malah menarik tangan Aisyah, hingga kini Aisyah menindih tubuhnya, dan tak sengaja Aisyah mencium baju kokonya Riziq yang berwarna putih hingga bekas lipstik itu menempel di bajunya Riziq. Aisyah dan Riziq tidak sadar akan hal itu.
" Leeee kau mau ngapain?"
" Aku mau menggodamu" ucap Riziq sambil mengeratkan pelukannya. Seketika itu pula Aisyah langsung menutup mulutnya Riziq dengan tangan kirinya.
" Ada abi, dan kiyai Samsul di ruang tamu" ucap Aisyah sambil berbisik. Riziq langsung mengeryitkan keningnya.
" Bukankah ustadjah Yasmin akan meminta kiyai Samsul untuk membatalkan penawarannya" batin Riziq.
Aisyah pun bangun dan langsung menarik Riziq untuk menemui mereka.
" Kau temui mereka dulu, ustad Azam juga ada" ucap Aisyah yang kini berlalu ke dapur untuk membuatkan minum.
Riziq langsung menemui mereka.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
" Apa jangan jangan kiyai Samsul sudah meminta langsung pada kiyai Husen tentang penawarannya padaku" batin Riziq.
Tidak lama kemudian Aisyah datang sambil membawa 4 gelas teh manis dan menaruhnya tepat di hadapan mereka.
" Silahkan diminum" pinta Aisyah.
" Terima kasih Aisyah"
Seketika Aisyah membelalakan matanya saat ia melihat noda lipstik di baju kokonya Riziq. Di bahu sebelah kiri.
" Le" panggilnya lirih. namun Riziq tak mendengar panggilan dari Aisyah. Aisyah sudah mencoba dengan beberapa isyarat untuk memberi tau Riziq. Namun Riziq malah fokus mengobrol basa basi dengan mereka.
" Aduh Le, di baju kokomu ada lipstiku, kalau mereka lihat, mau di taruh di mana wajah manismu itu, masa mau di taruh di dalam kantong kresek berwarna hitam, seperti yang kukatakan pada ka Usman, bukankah itu sangat memalukan" batin Aisyah.
" Le"
Saat Aisyah memberi isyarat, untung saja Riziq melihatnya. Riziq sudah mendongakan wajahnya.
" Apa" tanya Riziq tanpa suara. Aisyah pun menunjuk kearah baju kokonya sebelah kiri. Mata Riziq membulat saat ia melihat lipstik Aisyah yang menempel di bajunya. Seketika itu pula Riziq langsung menarik sorbannya untuk menutupi noda lipstik itu.
"Ya Allah uni, apa yang kau lakukan"
Saat noda lipstik itu sudah tertutup sorban, Aisyah pun bernafas lega. untung saja kiyai Husen dan kiyai Mansyur tidak melihatnya, namun tidak dengan ustad Azam, ia sudah tersenyum sambil menundukan kepalanya, ini kali keduanya ia melihat lipstik Aisyah menempal pada Riziq. Wajah Aisyah langsung memerah saat ia sadar kalau ustad Azam sudah melihatnya.
Saat mereka mengobrol ngobrol.
" Bagaimana ustad Riziq, apa keputusanmu dengan penawaran yang saya berikan?" tanya kiyai Samsul.
Deg.
Aisyah sudah ketakutan, ia takut kalau abinya akan meminta langsung pasa Riziq tentang pemindahan pengajar ke pesantrennya kiyai Samsul. Aisyah sudah menatap Riziq yang kala itu tersenyum.
" Le, kuatkan imanmu"
__ADS_1
" Apa keputusanmu ustad Riziq?" tanya kiyai Husen.
" Saya sudah memikirkan sebelumnya. Maaf saya menolak untuk pindah mengajar dari pesantren ini" jawab Riziq tegas.
" Lalu apa alasannya kau menolak?" tanya kiyai Samsul.
" Terlalu banyak alasan yang membuat saya harus menolak penawaran dari kiyai Samsul"
" Salah satunya?" tanya kiyai Samsul kembali.
" Banyak sekali kenangan saya disini, sejak umur saya 4 tahun, aang Rasyid sudah membawa saya kesini, Jadi terlalu banyak kenangan yang tidak mau saya tinggalkan di pesantren ini, apalagi Aisyah tidak mau pergi dari sini" tutur Riziq menjelaskan.
" Memangnya kau tidak tertarik dengan fasilitas yang diberikan kiyai Samsul?" tanya kiyai Husen. Riziq malah tersenyum.
" Maaf kiyai, kemewahan tidak menjamin kebahagiaan, saya sudah bahagia disini bersama istri dan anak anak saya, saya rasa itu sudah cukup, saya tidak mau serakah"
jawab Riziq.
Kiyai Samsul pun mengangguk sementara Kiyai Husen sudah tersenyum.
" Kau tidak tertarik dengan mobil yang akan di berikan kiyai Samsul, Aisyah sangat senang pergi kepasar, bukankah jika kau punya kendaraan sendiri itu lebih nyaman dan enak di pakai?" tanya kiyai Husen.
Riziq malah tersenyum.
" Punya mobil sendiri memang enak, tapi saya lebih senang jika kepasar bersama Aisyah dengan naik beca, bukankah itu sangat romantis kiyai?" ucap Riziq.
" Jadi kau lebih senang naik becak dari pada naik mobil?"
" Tentu, aku dan Aisyah bisa bergandengan tangan sambil memandang jelas kearah depan, tidak perlu repot repot memencet klakson jika ada yang menyebrang jalan sembarangan, kita tinggal teriak saja" tutur Riziq. Hingga ustad Azam tersenyum.
" Jadi kau benar benar menolak penawaran saya?" tanya kiyai Samsul.
" Dengan berat hati saya menolaknya"
Kiyai Husen pun tersenyum, ia merasa Riziq memang pantas untuk membantu putra putranya memimpin pesantren. Tapi kiyai Husen tidak akan mengatakan tentang rencananya pada Riziq. karna suatu saat nanti kiyai Husen akan memintanya langsung pada Riziq.
" Ya sudah tidak apa apa jika kau menolaknya, saya kan hanya memberi penawaran bukan perintah" ucap kiyai Samsul.
Setelah lama ngorol ngobrol, mereka pun pamit pergi.
" Ustad Riziq, Aisyah, kami pulang dulu"
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Sebelum pergi, kiyai Samsul pun mendekati Riziq dan Aisyah.
" Maafkan putri saya yang telah membuat kalian tidak tenang" ucap kiyai Samsul.
" Tidak apa apa kiyai"
Setelah kepergian mereka, Riziq dan Aisyah pun duduk di kursi.
" Uni senang akhirnya kita tidak pindah dari pesantren ini" ucap Aisyah.
" Uni tau tidak, kendaraan apa yang paling enak dinaiki selain becak?" tanya Riziq.
" Apa?" tanya Aisyah.
Riziq langsung berbisik pada Aisyah.
" Tubuhmu" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.
Tiba tiba,
Buuukh
Aisyah melempar bantal pada Riziq.
" Dasar ustad genit"
" Ha ha ha" Riziq tertawa dengan puasnya.
__ADS_1