
Setelah selesai merapihkan rambut Zahira, Aisyah pun mengenakan kerudung miliknya pada adik iparnya itu.
" Sudah cantik" ucap Aisyah.
" Makasih ka"
" Malam ini kau menginap saja ya Ira" pinta Aisyah.
" Hmmm"
Dengan hati hati Aisyah mengobati kakinya Zahira yang tercakip kepiting.
" Masih sakit?" tanya Aisyah. Zahira pun menggelengkan kepalanya.
" Sudah berasa tidak sakit, soalnya tadi ka Yusuf, meniupinya penuh cinta mmmmm" batin Zahira.
* * * * *
Malam pun tiba. Setelah mengerjakan shalat isya, Zahira pun duduk di teras depan, kebetulan sinar bulan nampak cerah malam itu. Aisyah pun perlahan duduk di sebelahnya Zahira.
" Sedang ngelamunin apa?" tanya Aisyah. Zahira malah tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Adam sama Hawa sudah tidur ka?" tanya Zahira.
" Sudah"
" Makasih ya ka sudah membawaku ke sini, aku merasa punya kehidupan baru." ucap Zahira. Aisyah pun tersenyum.
" Ka Aisyah juga senang punya adik sepertimu. Kau tau Ira, aku dan kakakmu sama sama yatim piatu. Aku datang ke sini di bawa bi Ratna sama mang Ilham, aku senang mereka membawaku ke pesantren ini, di sini aku punya banyak keluarga meskipun kami tidak punya hubungan darah. Umi Salamah dan kiyai Husen mengangkatku menjadi putrinya, mereka tidak membeda bedakanku dengan ka Soleh dan ka Usman. Begitu pun dengan kakakmu Riziq, umi Fadlun dan kiyai Mansyur mengangkatnya sebagai putranya. Ia di beri kasih sayang dan pendidikan agama yang bagus. Dan kau Ira, kau tidak boleh menyia nyiakan kesempatan. Belajarlah selagi kau masih ada di sini." tutur Aisyah.
" Tapi pada kenyataannya, otaku tidak bisa mengimbangi semua pelajaran yang masuk. Apa aku sudah bodoh dari sananya ya?" tanya Zahira. Aisyah malah tersenyum.
" Kau ini ada ada saja Ira, semua orang bisa pintar kalau ia mau berusaha belajar dan terus belajar. Kata orang usaha tidak akan menghianati hasil"
" Benarkah?"
" Hmmm"
" Jadi aku bisa pintar seperti kakak kakaku?" tanya Zahira kembali.
" Tentu"
Zahira pun tersenyum.
" Oh iya ka, kau dan ka Riziq kan pintar membuat puisi begitu pun dengan ka Rasyid. Kalian kan pernah tuker tukeran puisi dulu, kalau aku ngirim puisi pada ka Yusuf boleh tidak ya?" tanya Zahira.
" Ka Aisyah sudah bilang jangan terlalu genit pada Yusuf" ucap Aisyah mengingatkan.
" Iya aku akan menjaga sikapku pada ka Yusuf. Tapi apa boleh aku mengirim puisi pada ka Yusuf?" tanya Zahira kembali.
" Kalau ketahuan kakakmu bisa ribet nantinya. Lagi pula memangnya kau bisa membuat puisi?" tanya Aisyah tak percaya.
" Bisa dong ka" jawab Zahira tegas.
"Coba ka Aisyah ingin dengar"
" Aku bacain ya ka, tapi setelah aku membaca puisi dan kau terharu dan terkesima dengan puisi ku yang ku bacakan begitu bagus, kau jangan menciumku ya ka, soalnya aku sudah menggunakan krim pelembab di wajahku" tutur Zahira.
" Ya sudah kau bacakan" pinta Aisyah.
__ADS_1
" Baiklah. Bismilahirahmanirahim.
Satu titik dua koma,
Ira cantik Yusuf yang punya. Bagaimana puisiku baguskan?" ucap Zahira sambil tersenyum. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya.
" Itu bukan puisi Ira tapi itu pantun" Aisyah menjelaskan.
" Masa sih itu pantun?" tanya Zahira tak percaya.
Tiba tiba Riziq pulang dari masjid bersama ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" Aisyah pun mencium tangannya Riziq. Ustad Usman pun ikut mampir ke rumahnya Aisyah karna mau menunggu ustad Soleh yang berjalan belakangan.
" Ira kau ada di sini?, memangnya tidak tidur di asrama?" tanya ustad Usman.
"Aku malam ini nginep di sini" jawab Zahira.
" Tadi sore Ira terjatuh ke sungai, kakinya kecakip kepiting. Jadi kusuruh dia menginap dulu di sini" ucap Aisyah.
" Masih untung cuma di cakip kepiting bukan di gigit buaya sungai" ucap ustad Usman sedikit meledek. Hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Asal om ustad tau, itu bukan sekedar kepiting biasa, dia sudah seperti dewa amor untuku" tegas Zahira. Ustad Usman hanya mengeryitkan keningnya mendengar ucapan bocah ingusan yang ada di depannya itu.
" Bagaimana ceritanya kalau ada kepiting jelmaannya dewa amor"
" Om ustad tidak akan mengerti, cuma aku dan calon imamku yang mengerti dan faham akan hal itu. Tapi om ustad jangan minta aku untuk menceritakan bagaimana kronologisnya, karna itu akan memakan waktu 3 hari 3 malam untuk menceritakannya hingga selesai" tutur Zahira.
" Aisyah mulai besok setiap pagi kau prgi ke asrama adik iparmu ini untuk memberikan rukiyah rutin padanya supaya dedemit yang bersemayam di tubuhnya bisa keluar" tutur ustad Usman. Zahira sudah menggeram kesal sementara Aisyah malah cekikikan.
" Ka Aisyah ko malah ngetawain sih" protes Zahira.
" Enak saja kau membandingkanku dengan si Zahira" gerutu ustad Usman.
" Sudah sudah kalian berisik" ucap Riziq.
" Iya iya maaf, kau mau minum apa ka?" tanya Aisyah pada ustad Usman.
" Tidak usah, aku hanya sedang menunggu ka Soleh, dia masih ada di belakang, kebetulan dia sedang membawa senter" ucap ustad Usman.
" Jangan bilang om ustad takut sama gelap ya, makanya pulangnya nungguin ustad Soleh" ucap Zahira sedikit meledek.
" Eh kau jangan sembarangan kalau bicara, aku tidak takut sama gelap, aku hanya sedikit ngeri"
" Sama saja" ucap Aisyah hingga Zahira tertawa.
" Ha ha ha ha. lulusan terbaik kairo takut sama gelap" ucap Zahira dengan nada mengejek.
" Hei sudah kubilang aku tidak takut gelap, cuma sedikit ngeri doang. Di kutip bawahnya ya cuma sedikit" ucap ustad Usman mengingatkan.
" Mukanya mirip sekuriti tapi hatinya seperti hello kitty" ucap Zahira sambil tertawa.
" Eh slebor, apa maksud ucapanmu itu?" tanya ustad Usman sedikit kesal.
" Muka sangar tapi hati melow" ucap Zahira kembali.
" Dari pada muka manis tapi hati bringas" ucap ustad Usman. Hingga Aisyah berbisik pada Riziq.
__ADS_1
" Ka Usman nyindir kamu Le"
" Mukaku memang manis uni, tapi aku tidak bringas" jawab Riziq.
" Tapi kau bringas di atas ranjang Le" bisik Aisyah kembali.
Tiba tiba ustad Soleh datang sambil membawa senter.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kau belum pulang Man?" tanya ustad Soleh.
" Aku menunggumu ka, so sweat kan punya adik sepertiku yang mau menunggu kakaknya biar bisa pulang bareng" jawab ustad Usman.
" Bohong cuma modus, ka Usman takut pulang sendirian" ucap Aisyah meledek.
" Heei kau berisik Aisyah"
Zahira sudah cekikikan.
" Ya sudah ayo kita pulang" ajak ustad Soleh.
Ustad Usman pun mendekati kakanya.
" Aku pulang" ucap ustad Usman.
" Iya hati hati" jawab Aisyah.
" Om ustad, sebelum kau pergi, aku bacakan puisi dulu untukmu" ucap Zahira.
" Memangnya kau bisa baca puisi?" tanya ustad Usman tak percaya.
" Dengerin ya.
Malam hari main kulintang.
Di temani teman teman tersayang.
Bagaimana hati tidak bimbang.
kepala botak minta di kepang.
Bagus kan puisinya?" ucap Zahira. Semuanya langsung mengeryitkan kening masing masing.
" Eh slebor, itu bukan puisi tapi itu syair" ucap ustad Usman. Seketika Aisyah, Riziq dan ustad Soleh berteriak.
" PANTUN"
" Ha ha ha ha, ternyata kita 11 12" ucap Zahira sambil tertawa.
" Enak saja 11 12. Lagi pula kepalaku tidak botak" protes ustad Usman.
" Sudah sudah ayo kita pulang, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman dan ustad Soleh pun pergi dari rumahnya Aisyah.
__ADS_1
" Ira ayo masuk" pinta Riziq.
Aisyah dan Zahira pun masuk ke rumah bersama Riziq.