
Kini Aisyah sedang berberes pakaian di rumahnya bi Ratna untuk di bawa ke rumah barunya bersama Riziq, Riziq mendapatkan fasilitas rumah dari pesantren, karna setiap pengajar pasti di beri fasilitas tempat tinggal.
Bi Ratna sudah menangis tersedu, saat melihat Aisyah berberes pakaian di kamarnya. Padahal Aisyah lebih sering tinggal di rumahnya umi Salamah, namun bi Ratna merasa sangat kehilangan, saat keponakannya itu akan tinggal bersama suaminya. Riziq sudah menunggu Aisyah di depan rumahnya bi Ratna.
" Kenapa bibi menangis seperti itu ? " tanya Aisyah.
" Tidak tau kenapa bibi merasa kehilanganmu " ucap bi Ratna.
" Rumahku kan masih di lingkungan pesantren, nanti aku bicara sama Riziq, biar dia mengijinkanku untuk tetap membantu bibi di kantin " tutur Aisyah. Setelah selesai mengepak pakaiannya, Aisyah pun pamit pulang.
" Aku pulang ya bi, tidak usah sedih seperti itu, besok kita juga ketemu lagi "
Aisyah dan bi Ratna pun menemui Riziq yang sudah menunggu di depan rumah.
" Sudah selesai ? " tanya Riziq.
" Sudah " jawab Aisyah sambil memberikan tas yang berisi pakaiannya pada Riziq.
" Ziq, bibi titip Aisyah ya, jagain dia" ucap bi Ratna.
" Aku pasti jagain istriku bi " ucap Riziq meyakinkan. Setelah mengucap salam, mereka pun langsung pergi ke rumahnya yang baru. Rumahnya tidak jauh dari rumah umi Salamah, itu sengaja biar Aisyah gampang berkunjung ke rumah uminya.
Sesampainya di rumah baru, Aisyah pun tersenyum, rumahnya sederhana namun terlihat nyaman dan bersih.
" Ayo masuk " ajak Riziq.
Mereka pun melangkahkan kaki kanannya memasuki rumah baru.
" Asalamualaikum " mereka mengucap salam.
" Suka rumahnya ? " tanya Riziq. Aisyah pun mengangguk tersenyum. Mereka pun mulai membereskan pakaian dan beberapa peralatan yang lain. Ketika mereka sedang asik membereskan pakaiannya di dalam kamar, tiba tiba terdengar suara yang mengucap salam dari depan pintu.
" Asalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Riziq dan Aisyah. Mereka malah saling pandang, saat tamu pertama mereka datang mengetuk pintu.
" Siapa ya ? " ucap Aisyah bertanya tanya.
" Uni buka saja" pinta Riziq. Perlahan Aisyah membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Dewi.
__ADS_1
" Dewi " ucap Aisyah senang.
" Kau mau membantuku berberes rumah ya ? " tanya Aisyah.
" Maaf Aisyah, aku kesini bukan untuk membantumu, tapi aku kesini cuma mau mengantarkan ini dari ustad Usman, katanya buat ustad Riziq " ucap Dewi sambil memberikan sesuatu pada Aisyah yang di bungkus pelastik kecil berwarna hitam. Perlahan Aisyah menerima plastik itu.
" Kapan kamu bertemu kak Usman ? " tanya Aisyah.
" Tadi di jalan, ya sudah aku pulang ya Aisyah " ucap Dewi.
"Kau tidak mau membantuku Wi "
" Maaf Aisyah, Syifa tidak ada yang jaga, jadi aku harus pulang, lagiankan aku tidak mau mengganggu pengantin baru " tutur Dewi.
Setelah mengucap salam, Dewi pun pergi.
Perlahan Aisyah membuka palstik berwarna hitam itu, seketika matanya membelalak melihat obat kuat merk x di dalam pelastik itu.
" Kak USMAAAN " ucap Aisyah sambil menggeram kesal melihat benda itu di dalam pelastik. Perlahan Aisyah mengambil benda itu dari dalam pelastik. Ia menggenggam kuat obat kuat itu.
" Ngapain kak Usman ngasih ini sama Riziq "
gumam Aisyah dalam hati. Tiba tiba Riziq menghampirinya dan berdiri di belakang Aisyah.
Riziq melihat gelagat mencurigakan dari istrinya itu.
" Ka Dewi ngasih apa uni ? " tanya Riziq kembali. Aisyah malah semakin ketakutan, ia mencoba menyembunyikan obat itu.
" Dewi tidak ngasih apa apa " jawab Aisyah terbata.
" Lalu apa yang uni sembunyikan ? "
" Ini bukan apa apa, ini cuma barang pribadi perempuan" jawab Aisyah bohong, terlihat sekali kalau dirinya gugup.
" Boleh aku lihat " ucap Riziq.
" Tidak boleh " jawab Aisyah seketika.
" Kenapa ? " tanya Riziq curiga.
__ADS_1
" Barang ini tidak penting jadi mau uni buang."
" Tapi aku mau lihat dulu, sini aku lihat" ucap Riziq sambil merentangkan tangannya ke depan Aisyah. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.
" Uni mau masuk surga apa masuk neraka ? " tanya Riziq.
" Pertanyaan macam apa itu, kalau ada pertanyaan seperti itu pasti semua orang akan menjawab ingin masuk surga" gumam Aisyah dalam hati.
" Uni mau masuk surga apa mau masuk neraka ? " ucap Riziq mengulang pertanyaannya.
" Mau masuk surga " jawab Aisyah lirih.
" Coba lihat barangnya " pinta Riziq. Perlahan Aisyah memberikan barang itu pada Riziq sambil mengucap do'a dalam hatinya.
" Jangan marah, jangan marah, jangan marah"
Saat obat kuat itu sudah berada di tangannya, Riziq menatap obat itu, seketika ia langsung menatap Aisyah. Aisyah sudah ketakutan di tatap seperti itu.
" Kenapa kak Dewi memberikan obat ini pada uni ? " tanya Riziq. Aisyah menjadi gugup dan takut, ia hanya diam saja sambil menundukan kepalanya.
" Uni mau meminumnya ? " tanya Riziq sambil mendekat pada Aisyah. Seketika itu pun Aisyah melangkah mundur karna takut sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kak Dewi memberikan obat ini pada uni? "
" Itu bukan dari Dewi, tapi dari kak Usman " jawab Aisyah masih dengan rasa takut.
" Ustad Usman yang kasih ini, untuk uni ? " tanya Riziq memastikan.
" Bukan untuk uni, tapi untukmu ups " seketika Aisyah langsung menutup mulutnya. Seketika itu pula Riziq langsung menatap Aisyah dengan tatapan berbeda, membuat Aisyah semakin di buat takut.
" Untukku ? " tanya Riziq memastikan sambil melangkah mendekat kembali pada Aisyah. Seketika itu pula Aisyah mundur karna takut, hatinya sudah berdebar debar tak karuan takut suaminya itu marah.
" Kak Usman, kau harus bertanggung jawab atas ini " gumam Aisyah dalam hati.
" Kenapa aku harus meminumnya ? " tanya Riziq yang kini terus mendekat pada Aisyah, hingga Aisyah terpojok di tembok, mereka saling berhadapan, jantung Aisyah sudah berdegup kencang tak karuan saat Riziq sudah tak memberinya celah untuk bergeser, ia menelan salivanya dengan kasar.
" Apa uni ragu, atau uni takut kalau aku tidak bisa memberikan nafkah batin padamu ? " tanya Riziq semakin mendekat pada Aisyah, hingga Riziq bisa merasakan detak jantung Aisyah yang sudah berdegup tak karuan.
" Uni tidak pernah bicara seperti itu " jawab Aisyah terbata.
__ADS_1
Perlahan Riziq, mengangkat sorban yang ada di lehernya, memakaikannya hingga menutup kepalanya dan kepala Aisyah. Saat itu juga Aisyah gugup sampai ia mencengkram kuat ujung kerudung yang di kenakannya.
Apa yang di lakukan Riziq pada Aisyah, hanya mereka dan Allah lah yang tau.