
Hari minggu pun tiba. Setelah mendapatkan pengumuman dari kiyai Husen, mereka akan berlibur ke kebun binatang yang ada di Jakarta. Selain harganya terjangkau di sana juga para santri yang ikut dalam perlombaan, bisa mengenal macam macam binatang dan bisa berkunjung ke ibu kota. Untuk para pemain sepak bola yang menang mereka berlibur ke Jakarta geratis, semua di tanggung oleh kiyai Husen, tentunya dari uang pribadinya. Namun untuk yang kalah namun ingin ikut mereka harus bayar tiket masuk saja.
Zahira pagi pagi sudah datang ke rumahnya Aisyah, berniat berangkat bersama menuju gerbang utama di mana mobil bus menunggu. Ia sudah menggunakan gamis yang Riziq belikan itu, memakai sepatu yang di belikan umi Fadlun dan memakai jam caple yang ia pinta dari Riziq. Zahira nampak terlihat imut dan menggemaskan diusianya yang baru 15 tahun.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah pun membukakan pintu.
" Ira, kau kesini dulu?" tanya Aisyah.
" Ia aku ingin berangkat bareng, tapi nanti kita samper umi Fadlun di rumahnya" jawab Zahira.
" Hmmm, tunggu sebentar ya kakamu belum selesai memakai baju. Ka Aisyah bantu dulu" ucap Aisyah sambil berlalu ke kamar. Zahira hanya mengeryitkan keningnya.
" Geli sekali aku dengarnya, mau mandi di bantu, mau pakai baju di bantu, apa kakaku itu seorang balita?, sungguh menggelikan sepasang suami istri ini" batin Zahira.
Aisyah yang masuk kamar pun melihat Riziq sedang menggunakan kemeja putihnya yang tangan bajunya ia gulung sampai siku. Riziq menggunakan kemeja bukan baju koko, tapi ia masih menggunakan sarung, kopeah dan sorbannya yang selalu melekat di pundaknya. Aisyah pun membantu suaminya mengancingkan baju. Riziq pun tersenyum sambil memeluk pinggangnya Aisyah. Dilihatnya istrinya itu nampak cantik dari biasanya meskipun riasan yang di kenakannya nampak sederhana.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Aisyah masih dengan mengancingkan baju kemeja suaminya. Ditanya seperti itu Riziq malah tersenyum.
" Hari ini kau nampak cantik dari biasanya, boleh aku menggodamu sebentar" ucap Riziq.
" Kau jangan macam macam Le, di luar ada Zahira yang sedang menunggu kita"
" Biarkan saja bocah semprul itu menunggu. Hanya 2 menit" ucap Riziq sambil memegang kedua pipinya Aisyah. Seketika Aisyah menjinjitkan kedua kakinya. Setelah hampir 2 menit, Riziq masih belum melepaskan Aisyah hingga Aisyah terpaksa mencubit pinggang suaminya itu.
" Awwwww"
" Sudah dua menit, tidak boleh lebih" ucap Aisyah sambil menarik tangannya Riziq keluar dari kamar, karna Zahira, Adam dan Hawa sudah menunggu di ruang tamu.
" Maaf Ira, kau lama menunggu" ucap Aisyah.
Zahira terdiam melihat penampilan kakaknya itu.
" Ka penampilanmu tidak salah, kita mau ke Jakarta, kenapa kau masih menggunakan sarung serta sorban, kau mau ceramah di kebun binatang. Kali kali dong kau menggunakan celana jeans dan jaket kulit serta kaca mata hitam, mungkin akan terlihat lebih keren" tutur Zahira. Aisyah sudah tersenyum senyum saja.
" Aku sudah terbiasa berpenampilan seperti ini. Aku tidak suka pakai celana jeans" jawab Riziq. Zahira pun terdiam melihat sudut bibir kakaknya itu berwarna merah.
" Ka, bibirmu berdarah, apa kau panas dalam(sariawan)?" tanya Zahira. Riziq hanya mengeryitkan keningnya mendengar ucapannya Zahira. Aisyah pun terkejut melihat noda merah di sudut bibir suaminya itu. Seketika Aisyah langsung menarik paksa Riziq masuk ke dalam kamar.
" Uniiii"
" Le, di bibirmu ada lipstiku nempel" ucap Aisyah sambil membersihkannya dengan tisu.
" Sudah kubilang jangan suka pake listik, lain kali kalau beli lipstik itu yang gak luntur dan tahan lama" protes Riziq.
" Kalau maumu seperti itu, ngasih dananya jangan nanggung nanggung" gerutu Aisyah. Setelah selesai membersihkan bibir suaminya dan membereskan mak'upnya, mereka pun menemui Zahira kembali.
" Maaf Ira nunggu lama, ayo kita berangkat. Le kau bawa tas ya" pinta Aisyah. Riziq dan Zahira pun hampir tak percaya kalau barang bawaannya Aisyah satu tas besar penuh.
" Uni kau yakin ini mau dibawa semua?" tanya Riziq tak percaya.
" Hmmn"
" Kakak iparmu itu mau liburan satu bulan di Jakarta" bisik Riziq pada Zahira. Zahira sudah cekikikan tak bersuara. Mereka pun berangkat menuju gerbang utama. Aisyah sudah mendorong kereta bayi. Mereka berhenti di depan rumahnya umi Fadlun.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Umi ayo berangkat " teriak Zahira.
__ADS_1
Umi Fadlun pun menghampiri mereka. Lalu berangkat bersama.
Sesampainya di depan gerbang, mobil bus pun sudah ada di sana. Semua sudah nampak berkumpul di parkiran dekat gerbang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman terdiam melihat tas besar yang di bawa oleh Riziq.
" Aisyah, kau mau kabur kemana bawa tas sebesar itu" tanya ustad Usman sedikit meledek hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.
Tiba tiba Zahira menganga ia nampak terpesona melihat penampilan Yusuf yang mengenakan jaket lepis dan kacamata berwarna hitam, tidak lupa juga memakai sarung.
" hansemnya calon imamku" gumam Zahira sambil tersenyum senyum. Aisyah yang melihatpun langsung menyipitkan matanya.
" Kau jangan macam macam ya Ira" ucap Aisyah.
" Iya iya, aku akan jaga jarak aman, 3 jengkal kan?" ucap Zahira.
" Bukan 3 jengkal tapi 3 meter" tegas Aisyah.
Zahira pun mengangguk pasrah. Mereka pun mendekati umi Salamah. Tiba tiba ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin datang .
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin pun bergabung dengan yang lain. Saat ustadzah Yasmin berdiri di dekat ustad Usman. Zahira pun mendekatinya.
" Ka Yasmin, kalau kakak ketemu om ustad, harus bilang amit amit, itu juga jangan kurang dari 7 x" tutur Zahira. Ustadzah Yasmin terdiam saat mendengar ucapannya Zahira. Sementara ustad Usman sudah mengeryitkan keningnya.
" Eh slebor, apa maksud dari ucapanmu itu?" tanya ustad Usman.
" Astaghfirullah, segini tampannya di bilang jelek" gerutu ustad Usman.
" Abis kata tante Nisa, saat dia hamil, om ustad suka disuruh tidur di luar, katanya takut anaknya jelek kaya bapaknya" ucap Zahira sedikit meledek. Hingga yang lain tertawa. Namun ustad Usman sudah menggeram pada Zahira.
" Ira kau tidak boleh bicara seperti itu" ucap ustad Rasyid.
" Maaf ka aku cuma bercanda"
Tidak lama kemudian Dewi datang bersama Syifa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Dewi sudah membawa tas besar yang tidak kalah besarnya dengan Aisyah.
" Wi, kenapa kau membawa tas yang sebesar badanmu, memangnya kau mau menginap berapa hari di Jakarta" ucap ustad Usman.
" Jangan banyak bicara ustad, cepat kau bantu aku, aku membawa badanku saja sudah berat di tambah harus membawa tas, sungguh aku tidak kuat" tutur Dewi. Mau tidak mau ustad Usman pun membantu Dewi membawa tasnya. Namun saat mau mengangkatnya ia nampak kesusahan.
" Astaghfirullah, berat sekali tas mu ini Wi, apa kau menaruh kulkas di dalamnya" gerutu ustad Usman. Karna penasaran, ustad Usman pun minta izin untuk melihatnya. Tiba tiba matanya membelalak melihat isi dari dalam tasnya Dewi.
" Astaghfirullah, pantasan saja berat, isinya mini market sama warteg" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Dewi sudah tersenyum malu. Tas Dewi memang isinya makanan semua.
" Perutku mudah laper ustad, jadi aku bawa stok buat di jalan" ucap Dewi.
" Kupikir kau mau buka warung di kebun binatang" ucap ustad Usman meledek hingga Dewi cemberut kesal. Mereka pun menaiki mobil bus itu. Aisyah dan Riziq memilih duduk di kursi dua. ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin duduk di belakang mereka. Saat Zahira melihat Yusuf duduk di kursi paling belakang, seketika ia langsung berlari kebelakang, namun dengan sigap Riziq menahannya.
" Mau kemana kau?" tanya Riziq curiga.
__ADS_1
" Aku mau duduk di belakang"
" Tidak boleh, di belakang laki laki semua, kau duduk di depanku saja" ucap Riziq sambil memaksa Zahira duduk di depannya bersama umi Fadlun. Zahira langsung cemberut kesal. Saat Zahira menengokan wajahnya ke belakang, ia tersenyum menatap Yusuf. Saat Yusuf sadar kalau Zahira menatapnya ia langsung menundukan kepalanya. Saat Yusuf menatap kembali ke depan ternyata Zahira masih menatapnya dengan senyuman menggemaskannya, Yusuf kembali menundukan kepalanya.
" Lihat ke depan" ucap Riziq sambil menaikan level suaranya. Seketika Zahira langsung melihat kearah depan. Namun baru saja 5 menit, Zahira sudah menengokan wajahnya kembali menatap Yusuf.
" Sekali lagi kau menatap ke belakang, akan ku lakban matamu" ucap Riziq sambil mengancam setelah tau sedari tadi Zahira curi curi pandang pada Yusuf. Zahira pun langsung menghadap kedepan karna takut dengan ancaman kakaknya.
" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" ucap ustad Soleh yang kini sudah berdiri di depan.
" Sebelum kita berangkat, mari kita berdo'a terlebih dulu untuk keselamatan dalam perjalanan kita" ucap ustad Soleh yang kini memimpin do'a.
" Amiin"
Setelah do'a selesai, mobil pun berangkat.
" Bismilahirahmanirahim"
Baru saja mobil melaju keluar gerbang, tiba tiba Hawa menangis. Ini pertama kalinya Hawa di bawa naik mobil bus dan bepergian keluar kota.
" Cup cup cup, putrinya umi kenapa nangis" ucap Aisyah sambil mengeong ngeong bayinya. Aisyah pun sudah memberi asi namun tetap saja Hawa menangis. Hingga Aisyah menjadi panik sendiri karna di mobil itu berisik dengan suara tangisannya Hawa.
" Biar aku yang gendong uni" pinta Riziq. Saat Riziq menggendong Hawa, bukannya berhenti menangis Hawa malah semakin keras suara tangisnya. Riziq sudah menggendong kedepan ke belakang, namun tetap saja tak bisa menghentikan. Hingga umi Salamah yang kini menggendong Hawa, namun masih sama Hawa masih menangis. Lalu umi Fadlun pun ikut menggendong Hawa. begitu pun dengan ustadzah Ulfi dan Zahira serta Dewi yang mencoba menghentikan tangisannya Hawa, namun sia sia bukannya berhenti Hawa malah sengakin keras tangisannya. Semua nampak kebingungan di buatnya.
" Usman coba kau gendong Hawa, biasanya Hawa senang di gendong olehmu" ucap umi Salamah.
" Umi jangan macam macam Mi" ucap ustad Usman penuh kewaspadaan.
" Dicoba dulu, siapa tau Hawa berhenti menangis" ucap umi Salamah kembali. Hingga ustad Usman pasrah dan mau menggendong Hawa. Saat Hawa sudah ada dalam gendongannya, ustad Usman terus berdo'a dalam hatinya.
" Semoga Hawa tidak suka di gendong olehku biar aku tidak harus menggendongnya, ayo Hawa lebih keras lagi menangisnya" batin ustad Usman.
Namun do'a ustad Usman meleset jauh, Hawa langsung berhenti menangis saat ustad Usman menggendongnya. Hingga ia mengeryitkan keningnya.
" Alhamdulilah" ucap semua serempak.
" Waah ternyata Hawa sangat menyukai ustad Usman ya" ucap ustadzah Ulfi. Aisyah sudah senyam senyum pada kakaknya itu.
" Aisyah, putrimu sangat senang sekali mengerjaiku" ucap ustad Usman. Hawa pun di gendong dan di bawa ke belakang. Suasana di mobil nampak sunyi karna tidak ada suara tangis Hawa lagi. Adam pun nampak anteng di gendong umi Fadlun.
" Sepi begini salawatan dong" ucap ustad Usman sambil menggendong Hawa. Semuanya pun serempak bersalawat. Aisyah sudah menggandeng tangannya Riziq sambil bersandar di pundaknya. Saat selesai bershalawat, Yusuf pun memainkan gitar dan ustad Soleh sudah bernyanyi untuk melumerkan suasana. Saat Zahira melihat Yusuf memainkan gitarnya, hatinya meleleh begitu saja ia sudah tersenyum senyum sendiri seperti cacing kepanasan.
" Meleleh, aku meleleh" ucap Zahira sambil mengipas ngipas wajahnya dengan tangan kanannya saat melihat Yusuf. Hingga umi Fadlun terheran melihat sikap Zahira yang seperti cacing kepanasan.
" Kau kenapa Ira?" tanya umi Fadlun.
" Aku meleleh umi"
" Apanya yang meleleh?, apa kau mau muntah, kau mabuk kendaraan Ira?" tanya Umi Fadlun cemas.
" Hatiku meleleh umi, bukan mabuk kendaraan tapi mabuk asmara" jawab Zahira dengan masih mengipas ngipas wajahnya dengan tangan, padahal di mobil itu sudah berasa dingin karna ac. Karna khawatir umi Fadlun pun menengok pada Aisyah kebetulan Aisyah duduk di belakangnya umi Fadlun.
" Aisyah adik iparmu kenapa?" tanya umi Fadlun.
" Biarkan saja umi dia kalau sedang kumat memang seperti itu kelakuannya" jawab Aisyah. Umi Fadlun hanya diam tak mengerti. Tiba tiba ustad Usman menghampiri Aisyah dan Riziq yang sedang saling menyandar dan bergandeng tangan.
" Hadeuuuuh, aku sedari tadi gendong gendong, empak empok, mengeong ngeong bahkan aku nyanyi nyanyi gak jelas biar Hawa anteng. Eeeh emak sama bapaknya malah lebih anteng gelendotan" ucap ustad Usman sedikit menggerutu pada Aisyah dan Riziq. Riziq sudah tersenyum getir sementara Aisyah sudah cengengesan. Perlahan Aisyah berdiri untuk menggendong Hawa. Namun saat di gendongan Aisyah Hawa malah menangis kembali. Hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.
" Sepertinya Hawa masih ingin di gendong udtad Usman" ucap ustad Azam.
" Usman gendong lagi" pinta umi Salamah. sambil cemberut kesal ustad Usman pun menggendong kembali Hawa, dan benar saja tiba tiba Hawa tertawa.
" Tuh kan Hawa sangat menyukai pa De nya" ucap ustad Azam kembali. Ustad Usman pun duduk di kursi sambil memangku Hawa, dan tidak lama kemudian mereka tertidur. Nisa hanya tersenyum senyum saja saat melihat suaminya di kerjai oleh seorang bayi. Saat ustad Soleh melewati adiknya itu, ia langsung mengambil ponselnya dan mengarahkannya pada ustad Usman. Tanpa seijin ustad Usman, ustad Soleh pun memoto adiknya itu yang kini tertidur sambil memangku Hawa dengan posisi yang lucu.
__ADS_1
" Soleh kalau adikmu tau dia bisa ngamuk" ucap umi Salamah. Ustad Soleh hanya tersenyum saja