
Pagi pagi sekali Riziq sudah mengajak anak anak dan istrinya untuk jalan jalan keliling pesantren. Aisyah sudah mendorong kereta bayi Adam dan Hawa. Suasana nampak sepi karna para santri kini sedang pulang kampung. Liburan panjang mereka gunakan untuk berkumpul bersama keluarga.
" Sepi banget ya Le, tidak ada teriakan dan tawa anak anak santri. Pesantren nampak terasa sepi" ucap Aisyah sambil menatap sekeliling lingkungan pesantren itu. Semua kantin pun tutup sementara saat liburan.
"Nikmati saja uni, bukankah saat seperti ini sungguh romantis, kita bisa jalan jalan bebas. Waktu libuaranku kuhabiskan hanya untukmu dan anak anak" ucap Riziq.
Setelah puas berkeliling keliling, Riziq dan Aisyah pun berkunjung ke rumahnya umi Salamah.
" Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
" Masuk" ajak umi sambil tersenyum. Mereka pun masuk kerumah. Dilihatnya rumah nampak sepi.
" Umi rumah nampak sepi, pada kemana ka Usman sama kak Nisa?" tanya Aisyah.
" Usman sama Soleh sedang menyiram sayuran di kebun, Nisa sedang pergi ke luar" jawab umi Salamah sambil menggendong Hawa. Riziq dan Aisyah pun mengobrol ngobrol bersama umi Salamah. Tak terasa kini Adam dan Hawa sudah tertidur.
" Le, tiba tiba uni kangen dengan perkebunan, sudah lama kita tidak duduk di kursi bambu" ucap Aisyah.
" Uni mau kesana?"
" Hmmm, tapi gak mungkin kita bawa anak anak kesana" ucap Aisyah. Riziq pun terdiam.
" Kalau kalian ingin pergi ke kebun, silahkan biar anak anak umi yang jagain, lagi pula Adam dan Hawa sedang tidur. Pergilah, tapi jangan lama lama" pinta umi Salamah. Aisyah dan Riziq pun tersenyum.
" Beneran mi kita boleh pergi?" tanya Aisyah memastikan.
" Pergilah"
Kini Aisyah dan Riziq sudah berjalan menuju perkebunan. Aisyah sudah menggandeng lengannya Riziq. Mereka bak seperti sepasang kekasih yang akan pergi pacaran.
Sesampainya di kebun. Mereka pun langsung duduk di kursi bambu tempat favorit mereka. Aisyah sudah menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya.
" Le, kau masih ingat tidak saat terakhir kita ketemu sebelum kau pergi ke Kairo. Disini kau memeluku secara tiba tiba. Kau tau waktu itu aku terkejut tak kusangka ada seorang santri tiba tiba memeluku, sebenarnya ada rasa takut dalam hatiku, aku takut tiba tiba ada yang melihatmu saat kau memeluku. Sudah bisa di bayangkan apa yang akan terjadi setelah itu" tutur Aisyah. Riziq malah tersenyum.
" Kita pasti akan dinikahkan paksa" jawab Riziq.
" Untung saja tidak ada yang lihat selain Dewi"
" Tapi Allah melihatnya uni. Maafkan aku yang telah menyentuhmu sebelum aku menghalalkanmu waktu itu" ucap Riziq sambil menatap Aisyah. Aisyah pun ikut menatap suaminya.
__ADS_1
" Kau bisa bayangkan Le, kalau waktu itu kita di nikahkan paksa, lalu apa yang akan terjadi, waktu itu umurmu masih 16 tahun, tubuhmu masih kecil dan kau belum punya penghasilan" tutur Aisyah. Riziq malah tersenyum.
" Kenapa?, uni takut kalau waktu itu aku tidak bisa memberikan nafkah lahir dan batin?" tanya Riziq.
" Tentu saja, kau kan waktu itu masih kecil" jawab Aisyah.
" Uni rezeki Allah yang mengatur, dan soal nafkah batin, bukankah uni sering bilang kalau sifat, pikiran dan sikapku lebih dewasa dari umurku. Waktu itu memang umurku baru 16 tahun, tapi pikiranku sudah berumur 26 tahun, jadi uni tidak perlu ragu kalau aku tidak bisa menyingkap rok gamismu" ucap Riziq sambil tertawa tawa.
" Ternyata sikap genitmu sudah tertanam sejak kau abg" ledek Aisyah.
" Bukankah uni senang jika aku suka menggodamu" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.
Dari kejauhan nampak ustad Usman dan ustad Soleh yang sedang menyiram sayuran milik kiyai Husen. Jarak perkebunan sayuran dengan perkebunan yang terdapat kursi panjang terbuat dari bambu itu yang kini sedang diduduki Aisyah dan Riziq adalah kurang lebih sekitar 100 meter.
Saat ustad Usman melihat Riziq dan Aisyah yang sedang duduk santai di perkebunan, ia pun menggeleng gelengkan kepalanya.
" Ya Allah itu si Aisyah sama si ustad berondong, lagi asik pacaran di kebun. Sampai sampai mereka lupa dengan anak anaknya. Hadeuh hadeuh hadeuuuh" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Biarkan saja, merekakan pacarannya setelah menikah, jadi tidak ada masalah" ucap ustad Soleh yang kini tengah asik menyiram pohon mentimun yang masih kecil.
* * * * * * *
" Hari libur seperti ini membuatku kesusahan untuk memberi asupan gizi pada tubuhku" ucap Dewi, hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.
" Apa maksudmu?" tanya Aisyah.
" Ya tentu saja gara gara libur, semua kantin dan pedagang pedagang yang biasa mangkal di pesantren, mereka semua ikut libur juga, aku kan jadi susah untuk cari makan dan cemilan" ucap Dewi.
Aisyah hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Tiba tiba ada dua orang santri yang tidak pulang kampung karna orang tuanya masih tinggal di pesantren, mereka berlari larian di jalan tanpa melihat kanan kiri hingga salah satunya menabrak Dewi, alhasil anak itu terpental dan akhirnya jatuh tersungkur, dan anak yang satunya lagi menabrak Aisyah, karna tubuh Aisyah tak sebesar Dewi, alhasil Aisyah lah yang jatuh tersungkur karna anak itu berlari begitu kencangnya.
" Aaaaaaw" jerit Aisyah. Aisyah nampak kesakitan, ia sudah terduduk di jalan. Dewi nampak cemas melihatnya. Anak anak itu malah pergi berlari begitu saja meninggalkan mereka.
" Aisyah kau tidak apa apa?" tanya Dewi cemas. Aisyah sudah meringis kesakitan.
" Kakiku sakit Wi, sepertinya terkilir" ucap Aisyah sambil meringis. Dewi pun menjadi panik, di lihatnya sekeliling jalan tidak ada orang yang lewat untuk di mintai pertolongan.
" Aisyah sakit sekali ya, apa kau bisa berdiri?" tanya Dewi. Aisyah malah menggelengkan kepalanya. Dewi semakin panik saat wajah Aisyah nampak pucat karna menahan sakit.
" Aisyah kau tunggu disini aku akan mencari bantuan" ucap Dewi sambil berlalu pergi. Dewi sudah berlari sekuat tenaga, namun apadaya, badannya yang begitu besar membuatnya kesulitan untuk berlari.
Dari kejauhan nampak ustad Rasyid sedang berjalan, ia terdiam saat melihat Aisyah yang kini telah terduduk di jalan. Ustad Rasyid pun segera menghampirinya.
__ADS_1
" Aisyah, asalamualaikum" ucap ustad Rasyid sedikit cemas saat melihat Aisyah menangis sambil meringis kesakitan.
" Waalaikum salam"
" Aisyah kau kenapa?" tanya ustad Rasyid cemas.
" Tadi saya terjatuh ustad, kaki saya terkilir" jawab Aisyah. Dilihatnya kaki Aisyah sedikit membiru dan sedikit bengkak.
" Kakimu sedikit bengkak Aisyah, ini harus segera di obati" ucap ustad Tasyid. Ustad Rasyid sudah melihat sekeliling jalan, namun tak ada seorang pun yang lewat, ia tak mungkin menggendong Aisyah sampai ke klinic. Ustad Rasyid panik sendiri apa lagi mereka hanya berdua. Dari tadi Dewi tak kunjung kunjung datang untuk meminta bantuan.
" Boleh aku mengobatimu?" tanya ustad Rasyid ragu. Aisyah tak menjawab ia hanya memegangi pergelangan kakinya yang terasa amat sakit, air mata sudah mengalir di pipinya.
" Sakit" ringis Aisyah.
Karna merasa khawatir dan kasihan, ustad Rasyid pun mencoba mengobati kaki Aisyah dengan memijit pergelangan kaki yang sedikit bengkak karna terkilir itu tanpa seijin Aisyah.
" Maaf Aisyah" ucap ustad Rasyid sambil memijat kakinya Aisyah.
Dari kejauhan nampak Dewi berlari bersama Riziq. Ternyata Dewi pergi untuk meminta bantuan pada Riziq. Ketika hampir sampai, Riziq terkejut melihat kakaknya sedang memijat kaki istrinya itu. Seketika Riziq langsung mendekati mereka.
" Uni kau tidak apa apa?" tanya Riziq cemas. Riziq pun langsung menepis tangan ustad Rasyid yang kala itu sedang memijat kakinya Aisyah. Tentu saja ustad Rasyid terkejut atas kedatangannya Riziq yang begitu tiba tiba.
" Kakiku sakit Le" ucap Aisyah sambil meringis kesakitan. Riziq pun langsung menggendong Aisyah untuk dibawa ke klinik terdekat.
" Kita ke klinik uni,
" Ka Dewi, aku titip anak anak" ucap Riziq.
Ustad Rasyid melihat ada rasa tak suka diraut wajah adiknya itu.
" Ziq" panggil ustad Rasyid yang takut kalau Riziq akan salah faham padanya. Riziq pun langsung berhenti dari langkahnya, dan menengok pada kakaknya itu.
" Kau tidak salah faham padaku kan?" tanya ustad Rasyid cemas. Riziq langsung menatap kakaknya itu.
" Aisyah adalah istriku, biarkan aku yang mengurusnya" ucap Riziq tegas. Seketika itu pula Riziq langsung membawa Aisyah ke klinik.
Ustad Rasyid pun terdiam sambil menundukan kepalanya. la merasa tak enak dengan adiknya itu. Dewi pun ikut terdiam.
" Ustad Rasyid tidak perlu khawatir, nanti saya jelaskan pada ustad Riziq biar dia tak salah faham padamu" ucap Dewi. Ustad Rasyid pun tersenyum.
"Terima kasih"
__ADS_1