
Masih dari perkebunan. Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, mereka pun melanjutkan pekerjaan kembali memanen sayuran.
Aisyah dan umi Salamah lebih memilih memetik buah tomat sambil menjinjing keranjang berukuran sedang. Sementara Riziq dan ustad Usman memilih memanen mentimun yang letaknya tidak jauh dari Aisyah, sedangkan yang lain memanen buah wortel dan kentang yang letaknya sedikit berjauhan dengan Aisyah.
dari kejauhan ustad Usman melihat Riziq dan Aisyah yang sedari tadi curi curi pandang.
Perlahan Riziq memandang Aisyah yang kini berdiri jauh, lalu menyelipkan sebuah kertas pada ranting pohon tomat. Aisyah yang melihat itu, tau apa maksudnya Riziq. Perlahan Aisyah berjalan untuk mengambil kertas tersebut yang terselip di ranting pohon tomat tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Riziq.
Setelah jauh dari posisi yang lain. Aisyah perlahan membuka kertas tersebut, ia tersenyum saat membacanya.
" Seorang bidadari datang bernama Aisyah
Berdiri di hadapanku
Dengan sejuta kecantikannya,
Tak bisa ku pungkiri kalau aku tergoda
Senyum manisnya membutakan mataku
Suara merdunya menari nari di telingaku
Bukan maksud hati untuk berbuat dosa
Mataku ingin sekali berpaling
Langkahku pun ingin menjauh
Tapi kecantikannya menarikku lebih cepat
Mendekat dan semakin mendekat
Hingga kami bertatap muka
ku takut setan menghampiri
Bolehkah aku meminangmu
Wahai Aisyah bidadari cantikku
Jadilah engkau tulang rusukku
Izinkanlah aku menjadi imam di sisa hidupmu
oleh : Muhammad Riziq Al fiqri.
__ADS_1
Setelah membaca surat itu raut wajah Aisyah nampak bahagia. Tak bisa di pungkiri kalau hatinya kini berbunga bunga. Perlahan ia mengambil bolpoin di kantong bajunya, lalu menulis sesuatu di balik kertas tersebut. Setelah itu menaruh nya kembali di ranting pohon tomat.
Riziq yang sadar akan hal itu ia tersenyum. Dan ketika Aisyah menjauh, perlahan Riziq berjalan untuk mengambil kertas balasan dari Aisyah, setelah mengambil kertas tersebut Riziq berjalan kembali menuju perkebunan mentimun yang bersebelahan dengan perkebunan tomat .
Ustad Usman yang sadar akan Aisyah dan Riziq, ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya, serasa melihat 2 orang abg yang sedang di mabuk cinta.
Perlahan Riziq membuka kertas balasan dari Aisyah dan langsung membacanya, nampak senyum di raut wajah manisnya.
"Jika namamu yang tertulis di lauhul mahfudz
Kuharap kehadiranmu
menyempurnakan hidupku
Izinkan aku menyebut namamu
di setiap do'a do'aku
Jadilah imam di hidupku
Yang akan menyempurnakan imanku
Jika aku berharga untukmu
Biarkan aku menjadi surga dalam hidupmu
Biarkan aku menjadi yang halal bagimu
Jadikanlah aku bidadari surgamu
Yang akan kau kecup keningnya
Dan kau hapus air matanya
Semoga kita bisa melangkah bersama
Disetiap suka dan duka
Amin amin amin
oleh : Aisyah khoerunisa.
Senyum lebar nampak di raut wajah Riziq. Ia sangat senang dengan tulisan Aisyah, ia sadar kalau Aisyah pun berharap akan dirinya. Tiba tiba ustad Usman menghampirinya dan memberikan selembar kertas pada Riziq.
" Untuk mu " ucap ustad Usman sambil berlalu pergi. Riziq malah terdiam heran ketika menerima kertas itu. Perlahan ia membuka kertas itu, matanya membelalak hebat ketika membaca surat itu, disitu tertulis .
__ADS_1
" Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah khoerunisa binti khoer abdulah dengan mas kawin tersebut di bayar kontan, sah sah sah sah sah "
Setelah membaca surat itu, Riziq pun tersenyum malu, ia tau maksud surat dari ustad Usman adalah menyuruhnya agar cepat menikahi Aisyah.
Kini ustad Usman menghampiri Aisyah dan memberinya selembar surat.
" Apa " tanya Aisyah sambil menggenggam kertas itu.
" Untukmu " jawab ustad Usman yang kini berjalan menuju umi Salamah sambil membawa satu karung mentimun yang telah di panennya bersama Riziq.
Dengan keherananpun Aisyah membuka kertas tersebut. Tiba tiba wajahnya memerah seperti tomat yang baru di petiknya, ketika membaca surat dari ustad Usman.
" Tarik baju kokonya kalau perlu gered dia ke KUA, suruh dia menghalalkanmu di sana, jangan main kucing kucingan di kebun, jiwa lelakiku meronta ronta hingga aku ingin berguling guling di tanah perkebunan menahan geli melihat kalian bak seperti abg yang lagi di mabuk cinta** "
Seketika Aisyah menutup wajahnya menahan malu ketika selesai membaca surat dari ustad Usman.
" Dari mana kak Usman tau kalau aku menyelipkan surat di ranting pohon tomat, sungguh ajaib matanya " gumam Aisyah dalam hati.
Perlahan Aisyah menghampiri umi Salamah dan ustad Usman sambil membawa keranjang berisi tomat yang baru di petiknya.
Wajahnya masih sedikit memerah menahan malu, bahkan ia tak berani menatap ustad Usman yang kini ada di hadapannya.
" Ehem " ustad Usman berdehem. Aisyah tau kalau kakaknya itu sedang menggodanya.
" Ayo kak Usman antar " ucap ustad Usman pada Aisyah.
" Kemana ? " tanya Aisyah heran.
" Ke KUA " jawab ustad Usman sedikit menggoda Aisyah. Seketika Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.
" Umi, kak Usman dari tadi menggodaku terus " ucap Aisyah sedikit merengek.
" Usman " ucap Umi salamah tegas. Ustad usman malah cengengesan.
Dari kejauhan nampak Riziq sedang berdiri bersama ustad Rasyid.
" Sepertinya sekarang kau nampak lebih dekat dengan Aisyah " ucap ustad Rasyid.
" Aang cemburu padaku ? " tanya Riziq santai.
Ustad Rasyid malah memalingkan wajahnya.
" Sepertinya aku melihat kecemburuan di wajahmu " ucap Riziq sambil memandang jauh ke arah perkebunan. Dan tak bisa di pungkiri memang ustad Rasyid sedikit cemburu melihat kedekatan Aisyah dengan adiknya itu.
" Maafkan aku yang sulit untuk membuang nama Aisyah di hatiku " gumam ustad Rasyid.
__ADS_1