
Pagi pagi sekali setelah Aisyah mengerjakan shalat subuh, ia pun membuat sarapan di dapur. Sementara Riziq pergi ke masjid. Aisyah nampak asik sendiri ia sudah menggunakan celemek dan memegang pisau kecil. Aisyah masak sambil bershalawat. Tiba tiba Riziq pulang.
" Asalamualaikum" ucap Riziq sambil masuk rumah. Namun Aisyah tidak mendengar salam yang di ucapkan suaminya. Tidak mendengar jawaban salam dari Aisyah, Riziq pun mengedarkan pandangan untuk mencari istrinya itu.
" Kemana si uni"
Riziq pun berjalan menuju dapur, ia tersenyum melihat Aisyah sedang asik membuat sarapan nasi goreng. Riziq langsung memeluk Aisyah dari belajang. Tentu saja Aisyah terkejut.
" Lee, kau mengagetkanku saja"
Riziq malah tersenyum.
"Sebegitu asiknya kah kau memasak, hingga aku mengucap salam pun uni tidak menjawabnya" ucap Riziq masih dengan memeluk Aisyah.
" Maaf Le, aku tidak mendengarnya. Ya sudah waalaikum salam" ucap Aisyah.
" Kau masak apa?" tanya Riziq sambil menaruh dagunya ke pundak istrinya.
" Nasi goreng"
Riziq pun melepaskan pelukannya, kini ia berdiri di sebelah Aisyah sambil menghadap ke arah berlawanan. Setelah masakannya selesai. Aisyah pun mencoba nasi gorengnya.
" Cobain Le" ucap Aisyah sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng ke hadapannya Riziq. Seketika Riziq langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Aisyah.
"Leeeeee"
Aisyah sudah menggeram sementara Riziq malah tersenyum senyum.
" Di suruh nyobain nasi goreng yang di sendok malah nyobain nasi goreng di mulutku dasar genit" gerutu Aisyah. Riziq malah tersenyum senyum sambil sesekali ia tertawa.
" Rasanya manis" ucap Riziq.
" Jorok" jawab Aisyah sambil membawa 2 piring nasi goreng ke meja makan. Riziq dan Aisyah pun duduk di meja makan sambil menikmati sarapan pagi, sementara Adam dan Hawa belum bangun.
" Le hari ini aku pergi ke kantinnya bi Ratna ya, uni rindu sudah lama tidak kesana"
" Hmmm"
Setelah selesai sarapan.
" Uni nanti kau sesekali ke rumahnya umi Fadlun ya, kasian takutnya dia sendirian" ucap Riziq.
" Kiyai Mansyur sudah berangkat keluar kota?" tanya Aisyah.
" Nanti siang"
Aisyah pun mengangguk. Aisyah pun membereskan dan mencuci piring bekas sarapannya. Riziq pun mendekati Aisyah.
" Mau kubantu?" tanya Riziq.
" Telat, kau tidak lihat pekerjaanku sudah selesai" jawab Aisyah. Riziq malah tersenyum.
" Kenapa dengannya, sedari tadi dia senyam senyum dan gelendotan mulu padaku, mencurigakan" batin Aisyah.
" Kau belum berangkat, tidak takut terlambat Le?" tanya Aisyah.
" Sebentar lagi"
Saat Aisyah akan akan menarih piring ke dalam rak, tiba tiba ia heran melihat roknya seperti tersangkut. Di lihatnya ternyata Riziq yang memegang ujung rok gamisnya.
" Leeeeeee"
Riziq malah tersenyum senyum.
" Lepaskan Le, nanti gamisku robek" protes Aisyah. Bukannya melepaskan gamisnya Riziq malah menarik gamis istrinya itu hingga Aisyah kini mendekat padanya.
" Leee"
" Uni lebih pilih gamismu yang robek apa sesuatu yang lain yang robek" ucap Riziq sambil memeluk Aisyah.
" Leeee, kau ini. Jangan menggodaku terus, berangkat sana nanti kau terlambat" pinta Aisyah. Riziq malah tersenyum senyum.
" Aku sudah menghubungi ustad Azam dan ustad Soleh, kalau hari ini aku sedikit terlambat" ucap Riziq sambil tersenyum simpul.
" Kau jangan macam macam ya Le" pinta Aisyah.
" Kalau aku macam macam kau mau apa?"
" Akan ku robek hatimu" Jawab Aisyah. Riziq malah tertawa tawa mendengar jawaban istrinya itu.
" Memangnya kau berani merobek hatiku?" tanya Riziq sambil mengeratkan pelukannya.
" Berani"
" Coba lakukan"
" Kau yakin ingin kurobek hatinya?" tanya Aisyah sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu.
" Hatiku sekuat baja, kau yakin bisa merobeknya"
" Tentu saja, sangat mudah untuku, cuma tinggal digeser saja" jawab Aisyah. Mendengar jawaban Aisyah Riziq malah tertawa.
" Kau mau menggeser apa uni?" tanya Riziq sambil tersenyum.
" Tentu saja menggeser namamu di hatiku dengan nama orang Lain" jawab Aisyah. Seketika senyum Riziq menghilang dan kini raut wajah murka penuh gejolak emosi nampak di raut wajahnya. Wajahnya yang manis berubah menjadi menyeramkan. Seketika Aisyah nampak ketakutan dibuatnya.
" Kau bukan hanya merobeknya uni, tapi kau menghancurkannya" jawab Riziq tegas. Tiba tiba Aisyah tersenyum.
" Aku hanya bercanda Le, kenapa kau serius begitu, aku takut melihatmu seperti itu" ucap Aisyah sedikit takut.
" Kau telah mengusik ketenangan hatiku uni, kau tau, cuma kau Adam dan Hawa yang berharga dalam hidupku. Kalau kau menggeser namaku di hatimu itu artinya kau membunuhku" tegas Riziq.
__ADS_1
" Maafkan aku Le, aku tidak serius dengan ucapanku, aku tidak mungkin mengganti posisimu dengan orang lain" ucap Aisyah mencoba meyakinkan Riziq dengan ucapannya sambil memeluk suaminya. Riziq hanya diam saja. Aisyah dapat merasakan getaran di tubuhnya Riziq, dada Riziq pun naik turun mencoba untuk meredakan gejolak amarahnya.
" Waah sepertinya dia sangat marah mendengar ucapanku, lagi lagi aku telah membangunkan harimau yang sedang tidur, aku dapat merasakan degup jantungnya sudah tak karuan begini, habislah aku" batin Aisyah.
" Leeee" ucap Aisyah sambil mendongakan wajahnya.
" Le, aku hanya bercanda, kau jangan terlalu serius begitu" Aisyah sudah berkaca kaca, ia takut kakau Riziq benar benar marah padanya. Seketika Riziq langsung menatap Aisyah.
" Lain kali kau tidak boleh bicara seperti itu jika kau tidak mau melihatku marah" ucap Riziq menegaskan. Aisyah pun mengangguk nganggukan kepalanya.
" Maafin aku Le, aku janji tidak akan bicara seperti itu lagi" ucap Aisyah sambil mengeratkan pelukannya.
" Pagi pagi sekali kau sudah bermain main api denganku uni, kau tau hukuman apa yang akan kuberikan padamu?" ucap Riziq.
" kalau dia sudah bicara tentang hukuman, itu artinya zona bahaya untuku, bisa remuk semua badanku, apalagi dia sudah sarapan, artinya tenaganya full 100%, oh tidaaaak" batin Aisyah.
" Sudah siang Le, cepat kau berangkat" pinta Aisyah.
" Kau mau menghindar dari hukumanku?" ucap Riziq sambil sedikit menarik ujung gamis istrinya itu.
" Jangan ditarik nanti gamisku robek"
" Kau saja mau merobek hatiku, kenapa aku tidak boleh merobek gamismu" ucap Riziq dengan masih menggenggam ujung gamis Aisyah.
" Ingat ya Le, kalau gamisku sampai robek, kau harus menggantinya sepuluh"
Seketika Riziq langsung menggendong Aisyah di pundaknya dan membawanya ke dalam kamar, tentu saja Aisyah meronta minta di turunkan.
" Leee kau bisa terlambat"
" Biarkan"
" Le, kau bukan bernafsu padaku, kau pun tidak sedang berhasrat, tapi kau sedang emosi Le, nanti kau bisa menyakitiku" tutur Aisyah sedikit ketakutan ketika Riziq sudah menindihnya di atas tempat tidur.
" Adam Hawa, tolong umi" teriak Aisyah. Seketika itu pula Adam dan Hawa langsung menangis. Riziq dan Aisyah pun menatap putra putrinya yang menangis.
" Ha ha ha, menangislah yang kencang putra putriku, kalian bisa menyelamatkan umi dari kemurkaan abimu, he he" batin Aisyah.
" Le, anak anak menangis, boleh aku menggendongnya"
Seketika Riziq langsung bangun dari tempat tidur dan membiarkan Aisyah mengurus putra putrinya.
" Hei anak anak umi kenapa kalian menangis"
( Menangislah yang kencang biar umi terbebas dari hukuman abi kalian)
Setelah menidurkan kembali Adam dan Hawa, di lihatnya Riziq sedang duduk menatapnya.
" Le, ini sudah siang, kuantarkan kau kedepan" ucap Aisyah. Riziq pun mengangguk. Kini Riziq sudah menarik ujung gamis istrinya itu sambil melangkah ke depan rumah.
" Le, gamisku jangan di tarik tarik, nanti bisa robek beneran, ingat ya kalau sampai robek, kau harus menggantinya 10" ucap Aisyah tegas. Riziq tak memperdulikan ucapan istrinya itu. Dan benar saja sampai di ujung pintu tiba tiba gamis Aisyah sedikit robek di ujung.
Srueeeeek.
" Kau ganti 10" ucap Aisyah sambil menyipitkan matanya.
" Sepertinya si uni marah, sebaiknya aku kabuuuur" Riziq pun berlari kabur setelah menatap kemurkaan istrinya.
" Asalamualaikum"
" Lee, kalau kau tidak menggantinya 10, jangan harap kau bisa masuk rumah" teriak Aisyah.
" Waalaikum salam, aku sampai lupa menjawab salam" ucap Aisyah bicara sendiri.
Siang pun tiba, Aisyah pun mendorong kereta bayi Adam dan Hawa menuju kantinnya bi Ratna. Adam dan Hawa nampak anteng dan sesekali mereka mengeluarkan suara khas bayi.
" Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai" ucap Aisyah. Sesampainya di kantin.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Bi Ratna nampak senang dengan kedatangan Aisyah dan putra putrinya.
" Eeeh ada Adam sama Hawa" ucap bi Ratna sambil menggendong Adam.
" Lagi sibuk ya bi?" tanya Aisyah.
" Lumayan"
Dilihatnya Dewi sedang asik beberes botol minuman.
" Ngapain Wi?"
" Menurutmu?" tanya Dewi balik.
Aisyah malah tertawa.
" Ku pikir kau sedang bersantai ria" ucap Aisyah menggoda sahabatnya itu.
" Jangan banyak bicara Aisyah, cepat kau bantu aku" pinta Dewi. Aisyah pun membantu Dewi berberes beres di kantin. Adam dan Hawa sedang asik di goda oleh bi Ratna.
Jam istirahat pun tiba. Zahira sudah berlari menuju kantinnya bi Ratna.
" Asalamualaikum" ucap Zahira.
" Waalaikum salam"
" Tumben bener, biasanya dia mengucap haai dulu baru salam" bisik Dewi pada Aisyah. Zahira sudah mengunyel ngunyel pipinya Adam dan Hawa.
" Makan siang dulu Ira" pinta bi Ratna.
__ADS_1
" Ia bi" Zahira pun sudah memesan makanan kesukaannya pada Dewi.
" Makan yang banyak Ira" pinta Aisyah.
" Jangan banyak banyak ka, nanti badanku selebar dan seluas sahabatmu" sindir Zahira. Dewi sudah menggeram.
" Kau bicara apa Iraaaaa" ucap Dewi sambil memicingkan matanya.
" He he he, aku bercanda ka" ucap Zahira sedikit takut.
" Ira, jajan mu sedikit sekali, apa uang jajanmu sudah habis?" tanya Aisyah.
" Masih ada ka, uangnya aku simpan dalam celengan, nanti kalau sudah banyak kan lumayan buat biaya resepsi pernikahanku bersama ka Yusuf" ucap Zahira. Aisyah, Dewi dan bi Ratna yang mendengar ucapannya bocah ingusan itu mereka langsung mengeryitkan keningnya.
" Kau bicara apa Ira, jangan macam macam ya" ucap Aisyah sedikit mengancam.
" He he he, bercanda ka"
" Aisyah, suamimu tidak kemari?" tanya bi Ratna.
Tidak bi, dia makan siang bersama yang lain, nanti kalau sudah pulang dia akan menjemputku kemari" tutur Aisyah. Bi Ratna pun mengangguk ngangguk.
" Eh slebor, kau tau tidak kalau kiyai Husen sudah mengumumkan hadiah apa yang akan di berikannya pada para pemenang pertandingan sepak bola itu" ucap Dewi.
" Jangan bilang kalau hadiahnya adalah mendapatkan tiket menuju alam gaib" ucap Zahira. Aisyah dan bi Ratna sudah tersenyum senyum. Sementara Dewi sudah mengeryitkan keningnya.
" Memangnya kau mau jalan jalan ke alam gaib?" tanya Dewi.
" Tidak mau aku takut" jawab Zahira.
" Bukan itu hadiahnya Ira, kita akan jalan jalan ke Jakarta. Kau belum pernah kan pergi ke ibu kota?" tanya Dewi.
Mata Zahira nampak berbinar.
" Benarkah?" tanya Zahira antusias.
" Yang kudengar sih begitu, tapi nanti kalau ingin lebih jelasnya lagi tunggu pengumuan dari kiyai Husen" tutur Dewi. Zahira pun bersorak gembira.
" Pasti itu sangat menyenangkan" ucap Zahira antusias. Tiba tiba umi Fadlun datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Umi Fadlun pun tersenyum.
" Rupanya kalian ada di sini" ucap umi Fadlun pada Aisyah.
" Kiyai Mansyur sudah berangkat umi?" tanya Aisyah.
" Sudah, barusan dia berangkat" jawab umi Fadlun sambil bergabung dengan mereka.
" Ira untuk beberapa hari ke depan, mau ya nemenin umi di rumah, nanti setelah selesai belajar, kau pulangnya ke rumah umi" ucap umi Fadlun pada Zahira.
" Ok umi"
Dewi pun mengeryitkan keningnya.
" Apa umi tidak salah?, umi tidak takut mendapat serangan jantung jika dekat dekat dengan si slebor" ucap Dewi. Aisyah sudah menepuk pundak gempalnya Dewi sebagai tanda jangan bicara begitu. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya. Namun umi Salamah malah tersenyum.
" Masa umi akan mendadak serangan jantung kalau dekat dengan Zahira, kau tidak lihat Ira nampak menggemaskan seperti ini" ucap umi Fadlun sambil mencubit pipinya Zahira. Merasa dirinya dibela, Zahira tersenyum sambil menjulurkan lidahnya pada Dewi.
Setelah bel berbunyi tanda belajar mengajar di mulai kembali. Zahira sudah bersiap untuk masuk kelas.
" Semuanya aku masuk kelas dulu ya asalamualaikum" ucap Zahira sambil berlalu.
" Waalaikum salam"
"Semangat ya belajarnya Ira" ucap umi Fadlun. Di depan kelas Zahira bertemu dengan Riziq yang berjalan sedikit tergesa.
" Ka Riziq mau kemana buru buru banget?" tanya Zahira.
" Aku ada miting para pengajar di aula" jawab Riziq.
" Ka Aisyah ada di kantin bi Ratna" ucap Zahira memberitau.
" Hmmm aku tau, oya Ira boleh ka Riziq minta tolong?" ucap Riziq penuh harap.
" Minta tolong apa kak?"
" Hari ini jadwal ka Dewi belanja ke pasar, kamu bilang sama ka Dewi, aku titup baju ka Aisyah. Ka Dewi pasti sudah tau seleranya istriku" ucap Riziq.
" Kenapa tidak belanja sendiri saja ke pasar"
" Kami sibuk" ucap Riziq sambil memberikan beberapa lembar uang pada Zahira untuk di berikan pada Dewi.
" Berikan uang ini pada ka Dewi, bilang bajunya sesuai ukuran Aisyah, kau harus ingat ya sesuai ukuran kaka iparmu" ucap Riziq mengingatkan.
" Hmmm, tapi kalau aku boleh tau, dalam rangka apa kau membelikan baju untuk ka Aisyah?" tanya Zahira kepo.
" Eh kau banyak tanya ya Ira, ini adalah pasword, anggap saja baju itu adalah kunci untuku bisa masuk rumah" jawab Riziq. Zahira hanya mengeryitkan keningnya tak mengerti.
" Baiklah nanti kusampaikan pada ka Dewi"
" Kalau Ira tau aku telah merusak baju Aisyah hingga dia minta ganti 10, Ira pasti menertawakanku, apalagi Aisyah mengancam kalau aku tidak membelikan baju gantinya dia tidak akan membukakan pintu untuku" batin Riziq.
" Ya sudah ka Riziq pergi dulu, asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu pergi ke aula.
" Waalaikum salam"
Zahira pun menatap 3 lembar uang pemberian dari kakaknya itu.
__ADS_1
" Aku memang tidak akan mengkorupsi uang ini, tapi kita lihat bagaimana reaksinya ka Aisyah setelah melihat kasil karya otaknya Zahira Rahmadia Alfiqri yang kecerdasannya di bawah rata rata ini ha ha ha" ucap Zahira sambil tertawa tawa.