Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Pulang kampung


__ADS_3

Liburan pun kini telah tiba. semua santri telah pulang kampung. Libur 2 minggu membuat Aisyah dan Riziq memanfaatkannya untuk pulang kampung ke halamannya Aisyah di luar kota yang jaraknya sangat jauh dengan pesantren, perjalanan mereka memakan waktu 5 jam lebih. Aisyah dan Riziq pun berpamitan pada umi Salamah.


Kini Aisyah sudah berberes beres di dalam kamarnya, mengepak keperluannya sendiri, Riziq dan anak anaknya. Tiba tiba ia langsung duduk ia merasa kelelahan.


" Duuh badanku berasa remuk semua setelah Riziq mendapatkan hadiahnya" batin Aisyah.


Tiba tiba Riziq menghampirinya.


" Uni sudah siap?" tanya Riziq.


" Sudah Le"


" Kenapa kau nampak kelelahan seperti itu, padahalkan ngepak bajunya cuma sedikit" tanya Riziq. Hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.


" Ini semua hasil perbuatanmu semalam, badanku berasa remuk semua" gerutu Aisyah. Riziq malah tersenyum senyum.


" Kalau uni sudah siap, ayo kita temui bi Ratna dan mang llham, mereka sudah menunggu di depan gerbang pesantren" ajak Riziq.


Aisyah sudah mendorong kreta bayi Adam dan Hawa, sementara Riziq membawa tas besar keperluan mereka di kampung nanti. Di perjalanan mereka bertemu dengan ustad Rasyid.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Kalian mau kemana?" tanya ustad Rasyid.


" Kita mau pulang kampung Ang, ke kampung halamannya uni bersama mang llham dan bi Ratna" jawab Riziq.


ustad Rasyid pun mengangguk.


" Aang mau pergi liburan kemana?" tanya Riziq.


" Belum tau aang belum punya rencana" jawab ustad Rasyid.


" Ya sudah kita duluan asalamualaikum"


" Waalaikumsalam, hati hati"


Aisyah dan Riziq pun melanjutkan perjalanan menuju gerbang pesantren. Setelah sampai di sana, mang llham dan bi Ratna sudah menunggu, mobil sewaan pun sudah ada. Aisyah terheran melihat Dewi yang sedang menangis seperti anak kecil di hadapannya bi Ratna.

__ADS_1


" Aku ingin ikut bi, setiap liburan aku tidak pernah kemana mana, kali ini aku ingin liburan bersama kalian, meskipun cuma berziarah" rengek Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Bi, Dewi kenapa?" tanya Aisyah.


" Dari tadi dia merengek rengek minta ikut" jawab bi Ratna yang kini telah menggendong Hawa.


" Kamu ingin ikut Wi?" tanya Aisyah.


" Hmmm"


" Kalau kau ikut, lalu siapa yang akan mengurus suamimu disini, lagi pula mobilnya gak akan muat kalau kamu ikut" ucap bi Ratna hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.


" Tidak usah sedih begitu Wi, nanti pulangnya aku beliin oleh oleh, nanti aku beliin keripik kentang 2 kilo, kripik bawang satu kilo dan buah manggis satu kilo, kamu mau?" tanya Aisyah. Seketika itu pula Dewi tersenyum sambil mengangguk nganggukan kepalanya setelah Aisyah mau membelikannya oleh oleh.


" Masih mau ikut?" tanya bi Ratna.


" Ngga bi,.aku nunggu oleh olehnya saja bi" jawab Dewi.


Setelah mengucap salam mereka pun naik mobil yang mereka pesan. Aisyah, Riziq dan bi Ratna duduk di belakang


sementara mang llham duduk di depan dengan Adam. Kini Hawa telah di pangku oleh bi Ratna.


" Bismillahirrahmanirahim"


Kini Aisyah sudah menyender ke pundaknya Riziq sambil melingkarkan tangannya ke lengan suaminya itu. Rasa lelah membuatnya mengantuk. Riziq tersenyum saat tau Aisyah tertidur di pundaknya.


" Kasian uni, mungkin dia kelelahan setelah aku meminta hadiahku semalam" batin Riziq. Ia pun mengelus kepala Aisyah lembut.


Setelah melewati perjalanan 5 jam lebih. Akhirnya mereka pun sampai di kota x tempat kelahiran Aisyah.


Setelah turun dari mobil, suasana pedesaan sudah mulai terasa. Aisyah pun tersenyum melihat kampung halamannya.


" Alhamdulilah akhirnya kita sampai juga, aku sudah kangen sama kampung ini" ucap Aisyah. Mereka pun berjalan beberapa menit hingga akhirnya sampai di depan rumah Aisyah, rumahnya nampak kecil dan sederhana, namun terasa nyaman jika dilihat.


" Asalamualaikum" ucap mereka sambil masuk kehalaman rumah itu. rumah itu sudah lama kosong sejak Aisyah pindah ke pesantren. Namun mang Dirman tetangga Aisyah selalu merawat rumah itu dengan baik.

__ADS_1


Dari kejauhan nampak mang Dirman berjalan mendekati mereka.


" Aisyah" panggil mang Dirman sambil tersenyum. Ia tak menyangka kalau Aisyah pulang kampung.


" Mang Dirman "panggil Aisyah sambil tersenyum Antusias.


" Apa kabar mang?" tanya Aisyah.


" Alhamdulilah mamang sehat sehat saja" jawab mang Dirman.


" Mang llham, bi Ratna" sapa mang Dirman.


Mang llham dan bi Ratna pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Tiba tiba mang Dirman menatap Riziq.


" Aisyah ini adik sepupumu?" tanya mang Dirman pada Aisyah sambil menunjuk Riziq dengan ibu jarinya, hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya karna mang Dirman menyebut Riziq sebagai adiknya Aisyah.


" Mamang, ini ustad Riziq suamiku" ucap Aisyah sambil cemberut.


" Meskipun umurku 5 tahun lebih tua dari Riziq, tapi wajahku terlihat lebih muda darinya, tapi kenapa mang Dirman bilang kalau dia adalah adikku, ikh nyebelin deh" gerutu Aisyah dalam hati.


Riziq sudah tertawa namun tak bersuara setelah mendengar pembicaraan antara Aisyah dan mang Dirman. Begitu pun mang llham dan bi Ratna, mereka sudah menundukan kepalnya mencoba menahan kejadian lucu itu.


" Maaf Aisyah, mamang tidak tau kalau dia adalah suamimu, tapi ngomong ngomong Aisyah, suamimu tampan dan manis ya" ucap mang Dirman.


" Mamang suamiku hanya manis saja, dia tidak tampan, jadi mang Dirman jangan berbohong, DOSA" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum hingga Riziq mendengus kesal.


" Uni sepertinya kau rugi sekali bilang aku ini tampan, sekali kali ke bilang kalau aku ini tampan seperti habib Reyhan al qadri, atau paling ngga seperti Syakir Daulai" protes Riziq.


" Le, kau menyuruhku berbohong" ucap Aisyah.


" Heei kalian malah ribut disini ayo kita masuk rumah" pinta bi Ratna. Mang Dirman pun memberikan kunci rumah itu pada Aisyah.


" Terima kasih mang sudah mau merawat rumah ini, rumahnya terlihat bersih" ucap Aisyah. Setelah lama ngobrol ngobrol, Aisyah pun sudah bersiap untuk berziarah ke makam orang tuanya. Aisyah pergi bersama Riziq dan mang llham di antar oleh mang Dirman, Sementara bi Ratna menunggu Adam dan Hawa di rumah.


Mereka berjalan melewati ujung perkampungan yang nampak indah di pandang, Aisyah sudah menggandeng lengannya Riziq seperti biasa. Saat akan melewati pesawahan.


" Aisyah, kalau lewat pesawahan, sebaiknya kau berjalan jangan sambil bergandengan, takutnya kalian kejebur ke sawah, maklum saja galengannya kecil hanya cukup untuk berjalan satu orang. Sambil mengerucutkan bibirnya Aisyah pun melepaskan gandengan tangannya.


" Kau tidak perlu khawatir uni, di sawah tidak akan ada pelakor, yang ada hanya kodok dan dan keong racun" ucap Riziq. Mereka melewati pesawahan itu dengan sangat hati hati. Sesampainya di pemakaman orang tuanya Aisyah. Mereka pun mendoakan kedua orang tua Aisyah, Riziq sudah memimpin do'a. terlihat Aisyah meneteskan air mata. Seketika itu pula Riziq langsung merangkul Aisyah.

__ADS_1


" Bu, pak, orang yang disebelahku ini adalah suamiku namanya Riziq, dia orangnya baik dan sayang sama aku dan anak anak. Wajahnya manis kan bu, kulitnya juga eksotis seperti coklat lumer, tapi sayang dia genit banget, tapi gak apa apa aku bahagia dengannya, kudoakan bapak sama ibu mendapatkan surganya Allah. Amiin"


__ADS_2