
Sepulang dari rumahnya umi Salamah, Riziq sudah berjalan bersama Aisyah dan Zahira sambil mendorong kereta bayi Adam dan Hawa.
" Ira, kau mau menginap apa pulang ke asrama?" tanya Aisyah.
" Aku mau menginap ka"
" Jangan, besok kau masuk kelas. Aku takut kakak ipar mu ini kelupaan lagi tidak membangunkanmu" ucap Riziq.
" Aku tau isi dari otakmu Le, kau mau menyuruhku membuka ret sletingmu sebagai hadiah karna nilaiku 75" batin Aisyah.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan bi Ratna.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Bi Ratna pun menciumi Adam dan Hawa.
" Kalian dari mana?" tanya bi Ratna.
" Kita dari rumahnya umi, bibi sendiri dari mana?" tanya Aisyah.
" Bibi habis mengantarkan ketring ke rumahnya ustadzah Ulfi"
" Bibi kalau nanti ada pesanan lagi dari ustadzah Ulfi, bibi tidak usah repot repot mengantarkan ketringnya, karna dengan senang hati aku siap jadi kurir" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Kau jangan macam macam Ira"
" Iya iya" gerutu Zahira.
" Bibi mau langsung pulang apa mau ke tempat lain lagi?" tanya Riziq.
" Bibi mau langsung pulang, kebetulan kerjaan hari ini sudah selesai"
" Kalau gitu aku titip Zahira ya bi, biar dia ada yang jaga di jalan, dan jangan sampai Ira tersesat hingga datang ke rumahnya Yusuf" ucap Riziq. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
" Bibi atar Zahira ko sampai depan gerbang asrama" ucap bi Ratna.
Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali dan berpisah di persimpangan jalan.
"Bibi duluan ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati bi"
Bi Ratna pun mengantarkan Zahira sampai ke depan gerbang asrama, tiba tiba mereka melihat Yusuf lewat. Zahira sudah tersenyum senyum.
" Ingat pesan kakakmu, kau tidak boleh genit genit pada Yusuf" ucap bi Ratna mengingatkan.
" Sebentar saja ya bi, aku ingin ngobrol dengan ka Yusuf" rengek Zahira.
" Tidak boleh Ira, kalian bukan mahrom, jadi tidak boleh ngobrol berdua, cukup menyapanya saja" ucap bi Ratna. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
" Asalamualaikum ka Yusuf" sapa Zahira dengan senyum menggemaskannya.
" Waalaikum salam Ira" jawab Yusuf sambil tersenyum lalu melanjutkan kembali langkahnya. Zahira terus menatap kepergiannya Yusuf.
" Istighfar Ira"
" Masya allah calon imamku, bibi jantungku loncat loncat bi" ucap Zahira sambil memegangi dadanya.
" Hatiku juga hilang dari tempatnya"
" Memangnya hatimu hilang kemana Ira?" tanya bi Ratna.
" Sepertinya di curi ka Yusuf barusan"
Bi Ratna sudah menggeleng gelengkan kepalanya.
* * * * * * *
Keesokan harinya. Aisyah dengan sigap memasang sorban di pundak suaminya.
" Le, nanti siang aku dan Zahira pergi ke rumahnya ustadzah Yasmin ya, kita mau masak masak bareng" ucap Aisyah.
" Zahira kan ada kelas uni"
" Iya, aku ke rumah ustadzah Yasminnya setelah Ira pulang sekolah. Lagiankan kehamilan ustadzah Yasmin sudah besar, kasian kalau di tinggal tinggal sendirian. Lagi pula kakakmu kan gak ada di rumah. Aku pastikan sebelum ustad Rasyid pulang, aku dan Zahira pasti sudah pergi dari rumah kakakmu itu" tutur Aisyah.
" Iya iya aku izinkan, tapi ingat ya, saat aku pulang kau harus sudah ada di rumah" tegas Riziq.
" Hmmm"
" Ingat satu lagi, kau tidak boleh bertemu dengan kakaku tanpa aku di sampingmu"
Aisyah pun mengangguk.
" Dasar pecemburu"
" Sudah sana berangkat" pinta Aisyah.
" Sentuhan paginya mana?"
Aisyah pun memutar bola matanya heran dengan kebiasaan barunya Riziq.
" Mana?"
__ADS_1
Seketika Aisyah langsung mengecup pipinya Riziq. Riziq pun tersenyum setelah mendapat ciuman manis dari istrinya.
" Aku berangkat ya uni, asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati Le"
Aisyah pun menatap kepergian suaminya.
"Hati hati berondongku"
Setelah pukul 11:00, Aisyah pun menunggu Zahira bersama Adam dan Hawa di persimpangan jalan sambil membawa satu kantong plastik belanjaan. Tidak lama kemudian pun Zahira datang setelah pelajarannya selesai.
" Asalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Zahira langsung menciumi keponakan keponakannya.
" Ayo kita berangkat" pinta Aisyah.
Kini mereka pun berjalan menuju rumahnya ustadzah Yasmin.
Sesampainya di sana, Zahira dan Aisyah pun mengetuk pintu.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab ustadzah Yasmin sambil membuka pintu.
" Tereeeeeng" ucap Zahira sambil mengangkat kantong plastik belanjaan. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.
" Ayo masuk" pinta ustadzah Yasmin.
Kini mereka pun masuk dan menuju dapur. Aisyah sudah mengeluarkan seisi belanjaannya yang ia beli tadi pagi.
" Kau sudah izin suamimu Aisyah?" tanya ustadzah Yasmin.
" Sudah"
" Ya Allah, aku belum minta izin pada ka Yusuf, apa itu suatu dosa untuku?" tanya Zahira. Aisyah dan ustadzah Yasmin langsung mengeryitkan keningnya.
" Tidak perlu repot repot minta izin pada Yusuf, karna meskipun kau hilang sekalipun Yusuf tidak akan mencarimu" ucap Aisyah hingga Zahira mengerucutkan bibirnya. Sementara ustadzah Yasmin sudah tertawa.
" Ayo kita mulai masak" pinta ustadzah Yasmin antusias, biasanya kalau ustad Rasyid pergi mengajar, ia akan sendirian di rumahnya. Ia selalu merasa kesepian tanpa ada teman yang mau menemaninya.
" Ustadzah istrirahat saja, biar kita yang masak, lagi pula kehamilannya kan sudah besar, jadi jangan terlalu capek" pinta Aisyah.
" Iya ka, ka Yasmin istirahat saja, biar aku dan ka Aisyah yang masak, akukan sudah jago masak seperti chef Renata" tutur Zahira.
Zahira kini sudah mengelus perutnya ustadzah Yasmin.
" Keponakan tante Ira, baik baik ya di dalem, nanti kalau bayinya sudah keluar pasti dia sangat mirip denganku" tutur Zahira.
" JANGAAAAAN" ucap Aisyah dan ustadzah Yasmin sedikit berteriak hingga Zahira mengeryitkan keningnya.
" Kenapa?" tanya Zahira heran.
" Tidak apa apa, ayo kita mulai masak"
Kini mereka pun masak dan berkutat di dapur hampir 45 menit. Ustadzah Yasmin hanya duduk sambil menjaga Adam dan Hawa yang kini sudah mulai aktif, Hawa sudah guling guling dan tengkurep, begitu pun dengan Adam , membuat ustadzah Yasmin tambah gemas dengan bayi kembar itu.
Tiba tiba terdengar suara orang mengucap salam di depan pintu.
" Ira, kau jaga Adam sama Hawa dulu, ka Yasmin mau buka pintu dulu sepertinya ada tamu" ucap ustadzah Yasmin.
" Iya kak"
Zahira pun kini menjaga Adam dan Hawa. Zahira nampak kerepotan karna bayi bayinya Aisyah sudah mulai aktif berguling guling.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustadzah Yasmin terdiam saat melihat tamu yang datang adalah Riziq.
" Aisyah ada di sini ustadzah?" tanya Riziq.
" Ada, mari masuk" pinta ustadzah Yasmin.
Riziq pun masuk dan berlalu menuju dapur. Dilihatnya Aisyah sedang asik di depan penggorengan. Perlahan Riziq berjalan mengndap ngendap menghampiri istrinya yang tidak tau dengan kedatangannya. Ustadzah Yasmin hanya diam sambil menatap Riziq dan Aisyah. Perlahan Riziq memeluk Aisyah dari belakang tanpa bicara apapun hingga Aisyah terkejut dan dengan sigap ia mengambil centong dan memukulkannya pada kepalanya Riziq.
" Awwww" Ringis Riziq.
Aisyah langsung terkejut setelah mendengar suara suaminya. Aisyah langsung membalikan badannya.
" Lee, maaf, aku tidak tau itu kau" ucap Aisyah merasa bersalah.
" Uni kenapa kau memukulku dengan centong nasi, memangnya aku sangkuriang" ucap Riziq sambil mengusap ngusap keningnya.
" Maaf Le, aku fikir siapa tiba tiba memeluku dari belakang, akukan kaget makanya aku pukul, sakit ya Le?" ucap Aisyah sambil mengusap ngusap kening suaminya tepat di bekas pukulannya tadi.
"Hmmmm"
Aisyah pun dengan hati hati meniupi kening suaminya. Riziq hanya tersenyum senyum saja mendapat perlakuan dari istrinya. Ustadzah Yasmin terus menatap mereka, tidak bisa di pungkiri kalau ia merasa cemburu dengan kemesraan adik iparnya itu. Tiba tiba ustadzah Yasmin pergi dari ambang pintu karna mendengar suara suaminya pulang.
__ADS_1
Aisyah kembali memasak. Namun Riziq masih setia memeluknya dari belakang.
" Kau memukulku karna berfikir aku siapa?" tanya Riziq sambil berbisik ke telinganya Aisyah.
" Le, lepaskan pelukanmu, malu kalau dilihat orang, ini bukan rumah kita"
" Ustadzah Yasmin ada di depan, Zahira juga sedang anteng di ruang tamu bersama Adam dan Hawa" jawab Riziq.
" Aku tanya, kenapa kau memukulku?" tanya Riziq kembali.
" Ku fikir kau adalah ustad Rasyid, makanya aku pukul"
Riziq malah tersenyum.
" Kenapa kau mau memukul kakakku?"
" Ya karna dia berani memeluku"
" Jadi kalau dia memelukmu, maka kau akan memukulnya?" tanya Riziq.
" Tentu saja, dari pada kau yang memukulku lebih baik aku yang memukulnya"
Tiba tiba mereka tertawa dan bercanda canda sampai mereka tak sadar ada dua pasang mata yang kini sedang memperhatikan mereka di ambang pintu yaitu ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin. Ustad Rasyid merasa ada yang aneh dalam hatinya saat melihat kemesraan mereka.
" Ehem ehem"
Ustad Rasyid berdehem hingga Riziq terkejut dan langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Aisyah.
" Aang kau sudah pulang?"
Ustad Rasyid pun mengangguk.
" Apa dia mendengarkan percakapanku bersama Riziq ya" batin Aisyah.
" Sudah selesai semua Aisyah?" tanya ustadzah Yasmin.
" Sudah"
Aisyah pun menaruh semua masakannya di atas meja.
" Aku panggil Zahira dulu"
Kini mereka sudah berkumpul di meja makan. Namun susana terasa canggung kala dua pasang suami istri itu saling berhadapan. Mereka pun mulai makan setelah ustad Rasyid memimpin do'a.
" Kau mau sayurnya Le?"
" Hmmm"
Saat Aisyah akan mengambil sayur, ustad Rasyid pun mengambil sayur yang sama hingga mereka bersentuhan tangan karna memegang sendok yang sama. Seketika itu pula Aisyah segera menjauhkan tangannya begitu pun dengan ustad Rasyid. Ustadzah Yasmin hanya diam saja sambil menundukan wajahnya, namun lain dengan Riziq yang sudah berapi api.
" Sudah sudah biar aku saja yang mengambilkan" ucap Zahira yang kini mengambilkan sayur untuk Riziq dan ustad Rasyid.
" Kalian pasti beruntungkan punya adik sebaik dan seperhatian sepertiku" ucap Zahira.
Mereka semua langsung mengeryirkan kening masing masing.
Setelah makan siang selesai, Riziq langsung menarik tangan Aisyah untuk pulang. Aisyah dapat merasakan kalau suaminya itu sedang merasa cemburu.
" Sebentar Le, aku belum beres beres dapur" ucap Aisyah.
" Tidak apa apa Aisyah, biar aku saja yang bereskan" pinta ustadzah Yasmin.
" Maaf ya ustadzah Yasmin" ucap Aisyah merasa bersalah.
" Tidak apa apa Aisyah"
Riziq kembali menarik tangan Aisyah pergi dari rumahnya ustad Rasyid, di ikuti oleh Zahira. Di tegah jalan Aisyah melepaskan geggaman tangannya Riziq.
" Sakit Le, kau ini kenapa sih?" tanya Aisyah sedikit kesal.
" Masih tanya kenapa?, akukan sudah bilang, kau harus ada di rumah setelah aku pulang, apalagi sampai kau bertemu dengan kakaku" gerutu Riziq.
" Akukan tidak tau kalau kau pulang lebih awal Le, maaf kalau masalah tadi dengan kakakmu, kita kan tidak sengaja bersentuhan tangan" ucap Aisyah kesal.
" Tetap saja aku tidak suka"
" Iya iya maaf"
Aisyah dan Riziq malah berdebat di tengah jalan membuat Zahira ikutan kesal.
" Ka"
" APAAAAA"
jawab Riziq dan Aisyah dengan suara tinggi.
" Adam sama Hawa masih ada di rumahnya ka Rasyid" ucap Zahira mengingatkan.
" Astaghfirullah"
" Kalian tunggu di sini, biar aku yang ambil anak anak" pinta Riziq sambil berlalu pergi kembali ke rumah kakaknya. Seketika itu pula Aisyah dan Zahira langsung tertawa.
" Ha ha ha ha"
" Kau lihat Ira kelakuan kakakmu kalau sedang cemburu"
__ADS_1
" Iya, dia sudah seperti èma èma rempong yang kebakaran jenggot" jawab Zahira. mereka pun kembali tertawa.