Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Pidato


__ADS_3

Setelah kepergian Zahira, Aisyah dan Riziq pergi berjalan kaki menuju gerbang utama pesantren untuk pergi ke pasar sambil menggendong Adam dan Hawa. Di tengah jalan ia bertemu dengan Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Mau kemana Wi?" tanya Aisyah.


" Aku mau lihat anak anak baca pidato di kelas, tadi pagi ustad Usman menyuruhku untuk melihat anak anak membacakan pidato di depan kelas, jadi tidak ada salahnya jika aku melihat Syifa membacakan pidato. Kalian sendiri mau kemana?" tanya Dewi balik.


" Kita mau ke pasar" jawab Aisyah.


" Sekalian mau ng'det" Riziq nenimpali.


Dewi hanya mengeryitkan keningnya.


" So iyeee kalian, bak seperti abg saja" ejek Dewi.


" Aku kan memang masih abg, yang berasa tua itu ya yang di sebelahku" ucap Riziq sambil tersenyum senyum hingga Aisyah langsung memicingkan matanya.


" Jadi aku terlihat tua?" tanya Aisyah sambil mencubit pinggangnya Riziq.


" Awwwww" Riziq meringis kesakitan saat tangan Aisyah mencubit pinggangnya.


" Maaf uni aku hanya bercanda"


Dewi sudah cekikikan.


" Sudah kalian berangkat sana, kasian kalau Adam sama Hawa kepanasan" ucap Dewi.


Aisyah pun mengangguk.


" Ya sudah kita duluan ya, asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati"


Aisyah dan Riziq pun pergi ke pasar dengan menaiki mobil online.


Kini Dewi langsung pergi ke kelasnya Syifa. Dilihatnya ustadzah Ulfi sedang memimpin do'a. Dewi pun berdiri di ambang pintu, kebetulan pintu kelas tidak di tutup.


" Asalamualaikum ustadzah"


" Waalaikum salam Wi" jawab ustadzah Ulfi sambil tersenyum.


" Ustadzah, saya boleh melihat acara pembacaan pidato anak anak sampai selesai?" tanya Dewi.


" Boleh, masuk aja Wi, jangan berdiri di pintu" pinta ustadzah Ulfi.


" Tidak apa apa ustadzah, saya di sini saja takut mengganggu" jawab Dewi.


" Ka Dewi jangan berdiri di pintu, nanti anginnya susah masuk. Panas" ucap Zahira. Dewi langsung menggeram sambil memicingkan matanya.


" Selebor...."


Dewi langsung mengambil kursi kosong dan menaruhnya di depan pintu lalu didudukinya.


" Nah anak anak ustadzah jelaskan sedikit ya tentang arti pidato. Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi menyatakan pendapatnya atau memberikan gambaran tentang suatu hal" tutur ustadzah Ulfi.


Semua murid yang terdiri dari 29 santri putri di kelas itu pun memperhatikan semua yang di ucapkan oleh ustadzah Ulfi.


" Nah sekarang siapa dulu yang mau membacakan pidato di depan kelas?" tanya udtadzah Ulfi.


" Aku aku aku" ucap semua santri putri di kelas itu yang umurnya rata rata 5 tahun.


" Eh selebor, kau kan murid paling besar, jadi kau belakangan saja, mengalahlah pada anak anak" teriak Dewi.


" Iya iya" jawab Zahira sambil cemberut.


" Ustadzah panggil sesuai abjad masing masing ya"


Para santri putri pun satu persatu membacakan pidatonya sesuai abjad.


Dan kini giliran Syifa untuk maju ke depan.


" Silahkan langsung di bacakan Syifa" pinta ustadzah Ulfi. Syifa pun mengangguk.


" Semangat Syifa" teriak Dewi memberi semangat.


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" Syifa memberi salam terlebih dahulu.


"Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh" jawab semua serempak. Syifa pun kembali melanjutkan bacaan pidatonya yang ia baca di kertas yang kini sedang di pegangnya.


" Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kesempatan kepada kita semua dapat berkumpul di kelas nol besar ini. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada nabi kita yakni habibana yanabiyyana Muhammad saw. Pada kesempatan hari ini izinkan Syifa menyampaikan sepatah dua patah kata tentang makan berlebihan. Manusia tidak di anjurkan untuk memakan makanan yang berlebihan, selain mubadzir, Rasullulah saw juga telah menganjurkan umat islam untuk makan secukupnya saja.


Makan berlebihan dapat mengakibatnya seseorang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas" tutur Syifa.

__ADS_1


Dewi sudah menundukan wajahnya merasa tersindir oleh pidato putrinya sendiri.


"Kenapa pidato Syifa seperti menyindirku, sebenarnya dia dapat dari mana teks pidatonya" batin Dewi heran. Zahira sudah cekikikan tanpa suara setelah mendengar pidato dari Syifa dan setelah melihat reaksi dari Dewi. Syifa pun melanjutkan pidatonya kembali.


" Ketika seseorang memiliki berat badan yang berlebihan, kondisi tersebut dapat mendatangkan beragam penyakit seperti diabetes dan darah tinggi.


"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih lebihan (Qs. Al. A'raf:31).


Dengan begitu Allah swt menganjurkan umatnya untuk tidak makan berlebihan, sebab akan memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan.


Demikianlah pidato singkat dari Syifa. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"


Syifa telah selesai membacakan pidatonya. ustadzah Ulfi pun tersenyum. Sementara Dewi sudah bertepuk tangan. Tiba tiba Zahira berteriak.


" Syifa kau hebat, pidatomu mengena banget di hati ibumu, sindiran halusmu sangat bermanfaat" teriak Zahira sedikit mengejek Dewi. Dewi yang mendengar pun langsung menggeram kesal.


" Kau berisik selebor"


" Pidatonya bagus Syifa, kalau ustadzah Ulfi boleh tau, teks pidatonya dapat dari siapa?" tanya ustadzah Ulfi.


" Dapat dari ustad Usman, katanya isi pidatonya di khususkan untuk ibu" jawab Syifa polos. Dewi langsung mengerucutkan bibirnya.


" Pantas saja pagi pagi sekali ustad Usman sudah menyuruhku untuk datang ke kelasnya Syifa, ternyata dia mau menyindirku lewat pidato yang di bawakan Syifa. Dasar ustad Usman menyebalkan" gerutu Dewi dalam hati.


Ustadzah Ulfi hanya tersenyum saja. Sementara Zahira tertawa tak henti hentinya.


" Beri tepuk tangan untuk Syifa" ucap ustadzah Ulfi. Semua santri putri di kelas itu pun memberi tepuk tangan pada Syifa.


" Syifa, nilaimu dapat 85, dan sekarang boleh duduk kembali"


Syifa pun duduk kembali di tempat duduknya.


" Untuk sekarang giliran Zahira Rahmadia Alfiqri, silahkan maju ke depan" pinta ustadzah Ulfi. Sambil tersenyum, Zahira pun maju ke depan sambil mengambil kertas pidato dari saku bajunya.


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" Zahira memberi salam terlebih dahulu sebelum membuka kertas pidatonya.


" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh"


Zahira pun membuka kertas itu dan membacanya dengan jelas dan lantang.


"Bawang merah 2 kilo,


minyak sayur 1,5 liter,


gula pasir satu kilo,


masako 1 renteng,


Kangkung 2 iket..."


Belum saja Zahira menyelesaikan bacaannya, iya sudah tersadar dengan tulisan yang dibacanya, matanya membelalak sementara mulutnya menganga, iya langsung membulak balikan kertas itu berharap ada teks pidato di balik kertas daftar belanjaan itu. Ustadzah Ulfi hanya mengeryitkan keningnya mendengar bacaan pidato dari Zahira yang lain dari pada yang lain. Sementara Dewi sudah tertawa tawa hingga ia terduduk di lantai kelas karna tidak kuat menahan tawanya. Zahira sudah tertunduk malu wajahnya sudah memerah. Tidak sedikit dari anak anak yang menertawakannya, matanya Zahira sudah berkaca kaca.


" Ira, kau mau belanja kemana?" teriak Dewi. Perlahan ustadzah Ulfi menghampiri Zahira.


" Kenapa Ira?" tanya ustadzah Ulfi sambil mengelus lembut kepalanya Zahira.


" Siapa yang membuat pidato itu?" tanya ustadzah Ulfi.


" Ka Riziq"


" Boleh saya lihat"


Zahira pun memberikan kertas itu. Ustadzah Ulfi pun terdiam.


" Ini seperti tulisannya Aisyah, mungkin pidatomu tertukar dengan daftar belanjaannya Aisyah" ucap ustadzah Ulfi.


" Maaf ustadzah" ucap Zahira sambil menyeka air matanya.


" Tidak apa apa Ira, masih ada kesempatan, sebentar lagi jam istirahat, kau boleh pulang dulu untuk menukar kertas pidatonya, lalu setelah masuk jam pelajaran, kau boleh bacakan kembali di depan kelas" tutur ustadzah Ulfi.


" Maaf ustadzah, tapi Aisyah dan ustad Riziq tadi pagi pergi ke pasar" ucap Dewi memberitau. Zahira pun terdiam.


" Ya sudah besok juga tidak apa apa" ucap ustadzah Ulfi. Zahira pun mengangguk. Tiba tiba bel istirahat berbunyi. para santri putri yang lain sudah berhambur pergi ke kantin. Sementara Zahira malah duduk di kursi taman di depan kelas sambil memegangi paper bag yang didalamnya sudah ada sorbannya Yusuf. Zahira sudah menangis sedari tadi, iya merasa malu dengan kejadian tadi. Perlahan Dewi mendekatinya dan duduk disebelahnya.


" Kenapa kau menangis?" tanya Dewi.


Zahira langsung menyeka air matanya.


" Aku malu ka, aku yang paling besar di kelas itu tapi aku yang paling bodoh juga di kelas" ucap Zahira.


" Kau bukannya bodoh Ira, tapi kau hanya ceroboh, seharusnya kau periksa dulu kertas itu sebelum kau membacanya di depan kelas, tapi kau tidak usah menangis, ustadzah Ulfi kan sudah memberimu kesempatan, kau boleh membacanya besok" tutur Dewi. Zahira masih menitikan air matanya. Tiba tiba terdengar ada yang mengucap salam.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" Seketika Zahira langsung menghapus air matanya saat melihat Yusuf yang kini berdiri dihadapannya.

__ADS_1


" Ka Yusuf"


" Kenapa kau menangis Ira?" tanya Yusuf.


Zahira langsung tersenyum malu lalu menggelengkan kepalanya. Yusuf pun melihat sorbannya yang ada di dalam paper bag berukuran kecil yang kini sedang di pegang oleh Zahira.


" Apa itu sorbanku?" tanya Yusuf sambil menunjuk paper bag.


" Oh iya ka, ini sorbannya ka Yusuf, terima kasih sudah membantuku" ucap Zahira sambil memberikan paper bag itu. Yusuf hanya mengangguk lalu mengambil paper bag itu dari tangannya Zahira.


" Aku tau kenapa kau menangis" ucap Yusuf.


Deg


Deg


Deg


Deg


Zahira terkejut dengan ucapannya Yusuf, itu artinya Yusuf melihat kejadian di kelas tadi.


" Apa tadi ka Yusuf melihat kejadian memalukan di kelas tadi" batin Zahira.


Bukannya menjawab, Zahira langsung menundukan kepalanya karna malu. Perlahan Yusuf mengambil selembar kertas dari saku baju kokonya dan di berikannya pada Zahira.


" Bacakanlah di depan umiku" ucap Yusuf. Perlahan tanpa bertanya Zahira langsung mengambil kertas itu dari tangannya Yusuf.


" Asalamualaikum" Yusuf mengucap salam lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.


" Waalaikum salam"


Zahira masih tak percaya Yusuf memberikan selembar kertas padanya.


" Isinya apa?" tanya Dewi kepo.


Zahira pun langsung membuka kertas itu. Zahira langsung tersenyum melihat isi dari kertas itu.


" Isinya pidato"


" Waah Yusuf perhatian sekali sampai dia membuatkan pidato untukmu. Zahira sudah tersenyum senyum bahagia, rasa sedih dan rasa malunya sudah hilang entah kemana.


" Kau mau bilang kalau daftar belanjaan Aisyah dan kecerobohanmu itu adalah dewa amor?" ucap Dewi.


" Kau jangan bertanya apa apa ka Dewi, aku sedang berbunga bunga" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Hingga Dewi mengeryitkan keningnya.


" Tapi Ira, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aisyah setelah ia membaca daftar belanjaannya di pasar nanti" ucap Dewi. Tiba tiba Dewi dan Zahira langsung tertawa terbahak bahak.


" Ha ha ha "


Bel masuk pun berbunyi. Dewi dan Zahira pun kembali masuk ke kelas. Kini Zahira sudah berdiri di depan kelas untuk membacakan pidatonya.


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"


" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh" jawab semua serempak.


" Allah swt akan senantiasa memberikan nikmat serta karunianya kepada umatnya. Nikmat tersebut harus kalian syukuri kapan saja dan dimana saja. pada kesempatan hari ini Izin kan saya menyampaikan sedikit tentang sifat wanita akhir zaman.


Bagaimana sifat wanita akhir zaman?, mereka lebih sibuk memikirkan jodoh dan kecantikan tapi jahil dalam urusan agama.


Perempuan lalai akan dua perkara.



Aurat mereka adalah harga diri mereka.


Kecantikan mereka bukan pada wajah, melainkan pada hati yang bersih.


Wanita solehah, jadilah bunga diakhir zaman. Saudariku muslimah, semoga hijab menjadi pakaianmu. Kesucian menjadi amalanmu. Kesopanan menjadi perhiasanmu, dan surga menjadi tempat bagimu.


Aku hanyalah wanita akhir zaman yang mengidolakan para wanita ahli surga dan bermimpi semulia mereka dimata ilahi. Semoga kita semua bisa menjadi bunga diakhir zaman. Sekian pidato singkat dari saya semoga bermanfaat, wasalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" tutur Zahira selesai membacakan pidatonya.



" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh"


Ustadzah Ulfi pun tersenyum lalu mendekati Zahira.


" Pidatomu bagus Ira" puji ustadzah Ulfi.


Zahira pun tersenyum senang.


" Nilaimu 90"


Zahira pun tersenyum senang.

__ADS_1


" Alhamdulilah, meskipun cuma beda 5 poin dari Syifa, setidaknya aku paling unggul. Terima kasih ka Yusuf calon imamku" batin Zahira.


__ADS_2