Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Perubahan


__ADS_3

Masih dengan Zahira dan Aisyah yang berada di perkebunan. Aisyah sudah berlari mendekati Riziq yang kini sedang asik merawat pohon cabe yang masih kecil kecil dan belum berbuah.


" Aku bantu Le"


" Anak anak tidak rewel uni?" tanya Riziq cemas.


" Tadi aku menghubungi ka Nisa, katanya Adam dan Hawa sedang tidur" jawab Aisyah. Riziq pun mengangguk.


" Kau bantu beri pupuk saja uni" Riziq pun memberikan pupuk itu pada Aisyah.


" Di taburin apa di taroh dekat batang pohonnya Le?" tanya Aisyah tak mengerti.


" Dimasukin ke ember kecil, terus di kasih air abis itu di minum" ucap Riziq sambil tersenyum senyum hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.


" Kalau pupuknya kuminum, memangnya kau sudah siap jadi duda" ketus Aisyah. Riziq malah tertawa.


" Duda manis ya Uni?"


Aisyah langsung memicingkan matanya. Riziq kembali tertawa tawa melihat reaksinya istrinya itu.


"Maaf uni aku hanya bercanda"


Dari kejauhan ustad Usman dan Zahira sempat menatap Riziq dan Aisyah yang kini sedang tertawa tawa.


" Kenapa?" tanya ustad Usman pada Zahira.


Zahira langsung menatap ustad Usman.


" Apa kalau aku sidah menikah nanti aku akan semesra dan sebahagia mereka?" tanya Zahira.


" Tergantung cara kau bersikap, kalau kakakmu dan Aisyah itu ng'klop, istrinya ganjen dan suaminya genit" jawab ustad Usman.


" Mereka seimbang" ucap ustad Usman kembali.


" Kalau aku sama ka Yusuf seimbang gak?"


ustad Usman langsung menatap Zahira dan langsung menimbang nimbang tentang pertanyaan bocah selebor itu.


" Kalau dilihat lihat sih kau dan Yusuf berbanding terbalik, Yusuf itu kalem, pendiam, cool dan santai orangnya. Sementara kau" ustad Usman langsung terdiam tak melanjutkan ucapannya.


" Sementara aku kenapa om ustad?" tanya Zahira penasaran.


" Kau terlalu pecicilan, genit, ganjen, centil, heboh, ceroboh, cerewet, bawel, rewel, ngeyel, bicaramu nyablak dan yang tak pernah hilang dalam dirimu yaitu menyebalkanmu yang naudzubilah. Dan satu lagi kecerdasanmu masih di bawah rata rata, sementara Yusuf sudah di atas rata rata" tutur ustad Usman.


" Ternyata banyak sekali ya kelebihanku, apa aku terlihat serakah dengan kelebihan kelebihanku itu?" ucap Zahira. Hingga ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya setelah mendengar ucapan bocah ingusan yang kini ada di depannya itu.


" Eh selebor, itu bukan kelebihan, tapi itu lebih mendekati kekurangan" tegas ustad Usman.


" Benarkah?"


" Hmmm"


" Aku tidak menyangka ternyata aku terlalu serakah dengan kekurangan" ucap Zahira sedikit memelas.


" Tidak usah pura pura sedih begitu"


" Apa aku dan ka Yusuf tidak seimbang?" tanya Zahira.


" Bukan tidak seimbang Ira, tapi belum seimbang"


" Maksudnya?"


" Kalau kau ingin seimbang dengan Yusuf, perbaiki kekuranganmu" ucap ustad Usman.


" Caranya?"


" Jangan terlalu pecicilan, tidak boleh genit apalagi ganjen. Kalau bicara harus kalem, selooow. Buang sifat rewel, bawel, cerewet dan ngeyelmu itu. Jadilah wanita kelas atas yang menjunjung tinggi kehormatannya. Satu lagi, belajarlah yang rajin supaya kecerdasanmu sedikit bisa mengimbangi kecerdasannya Yusuf" tutur ustad Usman kembali. Zahira pun mengangguk ngangguk.


" Aku akan mencobanya besok" ucap Zahira.


" Baiklah besok akan ku koreksi perubahan sikapmu"


Zahira kembali mengangguk.


" Sekarang ayo bantu untuk menyiram pohon tomat yang baru tumbuh itu" pinta ustad Usman.


" Aku ngambil airnya dimana?" tanya Zahira.


" Di rumahnya Aisyah" jawab ustad Usman. Zahira langsung mengeryitkan keningnya.


" Om ustad jangan macam macam ya, masa aku ngambil airnya di rumah ka Aisyah, yang benar saja" protes Zahira. Ustad Usman malah tertawa.


" Tuh bak airnya ada di sebelah kakakmu yang berondong itu, ambilah airnya pake ember" pinta ustad Usman sambil menunjuk tempat air di dekat Riziq dan Aisyah. Zahira mengangguk dan langsung berjalan mendekati Aisyah sambil menenteng ember yang kosong.


" Mau kemana Ira?" tanya Aisyah.


" Mau ngambil air ka"


Zahira pun mengambil air satu ember penuh. Setelah mau mengangkatnya, ternyata iya tak kuat.


" Berat banget. Ka, bawain air dalam ember kebelah sana dong aku tidak kuat" ucap Zahira memelas.


" Ka Aisyah juga tidak kuat Ira"


Zahira pun langsung melirik Riziq yang masih asik dengan pohon cabainya.


" Le, tolong angkatin aku tidak kuat" ucap Aisyah. Riziq pun mengangguk. Setelah melihat kakaknya mengangguk, Zahira langsung berjalan terlebih dulu menghampiri ustad Usman kembali. Namun tiba tiba Aisyah terkejut saat Riziq mengangkat tubuhnya dan membawanya menghampiri Zahira dan ustad Usman. Tentu saja Aisyah meronta.

__ADS_1


" Leee, turunkan aku, kenapa kau menggendongku " ucap Aisyah sambil meronta.


" Tadi uni bilang minta di angkatin"


" Bukan tubuhku Le, tapi ember yang berisi air" tegas Aisyah sambil menunjuk ember yang kini ada di dekat perkebunan cabe"


Riziq pun tersenyum.


" Ternyata hatiku lebih cepat nyimak ketibang telingaku" ucap Riziq sambil tersenyum senyum dan kembali untuk mengambil ember berisi air itu.


" Modus" gerutu Aisyah.


Ustad Usman yang melihat kejadian itu pun hanya mengeryitkan keningnya seolah tidak aneh dengan kelakuan sepasang suami istri itu.


" Kau harus banyak banyak istighfar selebor" ucap ustad Usman sambil mengusap ngusap dadanya.


" Kebiasaan kakaku dan kakak iparku sepertinya sudah mendarah daging"


Sementara dengan ustad Soleh, iya hanya menggelengkan kepalanya melihat ke-4 orang yang ada di perkebunan itu. Setelah mengambil air dan menaruhnya di hadapan Zahira, Riziq dan Aisyah pun kembali ke perkebunan cabe.


" Ira kau mulailah menyiram pohon tomatnya" pinta ustad Usman.


" Hmmm"


Zahira pun menyiram pohon tomat itu sambil berdendang ria.


" Trala la la la la...


Trili li li li li...."


" Eh selebor, tidak perlu berseriosa begitu, suaramu jelek, aku takut pohon tomatnya mendadak layu mendengar lagumu yang amburadul itu" ucap ustad Usman. Seketika Zahira langsung cemberut kesal.


" Segitu merdunya di bilang amburadul. Om ustad menyebalkan" batin Zahira kesal.


" Siram yang benar"


" Hmmm"


Zahira pun menyiramkan air lebih banyak pada pohon tomat itu hingga ustad Usman yang melihat pun langsung berdecak kesal.


" ZAHIRA RAHMADIA ALFIQRI. Apa yang kau lakukan?" tanya ustad Usman sedikit menggeram. Hingga Zahira mengeryitkan keningnya.


" Om ustad tidak amnesia kan?, tadikan om ustad yang menyuruhku untuk menyiram pohon tomat, dan aku sekarang sedang menyiramnya" jawab Zahira.


" Kau bukan menyiramnya Ira, tapi kau memandikannya. Nyiram airnya jangan banyak banyak, sedikit saja. Pohonnya masih kecil, kalau kau banyak menyiramkan airnya, nanti pohonnya kelelep" gerutu ustad Usman.


" Iya maaf om ustad, akukan belum tau, nanti aku siramnya satu tetes saja perpohon" Zahira ikut menggerutu.


" Apa maksudnya setetes?, kau mau menyiramnya dengan keringatmu?" gerutu ustad Usman kembali. Hingga ustad Soleh yang mendengarpun langsung menghampirinya.


" Lama lama aku ambil parang sama cangkul. Kubabad habis kalian berdua" ucap ustad Soleh kesal.


* * * * * *


Keesokan harinya. Setelah pulang dari sekolah, Zahira langsung pergi ke rumahnya Aisyah sambil berjalan kaki. Di tengah jalan iya bertemu dengan Dewi.


" Kau mau kemana selebor?" tanya Dewi yang lupa mengucap salam terlebih dulu.


" Asalamualaikum ka Dewi. Aku mau ke rumahnya ka Aisyah" jawab Zahira lemah lembut dan dengan di iringi senyum manis menyejukan.


" Wa waalaikum salam" jawab Dewi sambil menatap Zahira penuh kebingungan dengan perubahan sikap Zahira yang nampak lemah lembut.


" Ira kau demam?" tanya Dewi. Zahira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Aku duluan ya ka, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dewi terus menatap kepergian Zahira yang menurutnya ada yang ganjil hari ini.


Sesampainya di depan rumah Aisyah.


Tok tok tok


" Asalamualaikum" Zahira mengucap salam terlebih dahulu, dia masih menunggu tuan rumah untuk membukakan pintu. Biasanya Zahira hanya mengucap salam dan langsung menerobos masuk ke rumah. Aisyah yang kini sedang memberikan mp asi untuk Adam dan Hawa pun menjawab salam.


" Waalaikum salam"


Riziq datang dari dapur sambil membawa secangkir kopi.


" Le, sepertinya ada tamu, tolong kau bukakan dulu, aku sedang kerepotan" pinta Aisyah yang kini masih sibuk menyuapi si kembar. Riziq pun mengangguk dan langsung berjalan untuk membukakan pintu. Setelah membuka pintu, Riziq pun melihat Zahira yang kini sedang berdiri anggun di depannya. Penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Iya menggunakan pakaian yang sedikit kelonggaran dan kerudung yang sedikit lebih panjang dari biasanya, namun tak membuatnya menghilangkan kecantikan dan keimutannya yang di usia 15 tahun lebih.


" Tumben tumbenan dia berpenampilan seperti ini, tumben juga dia tidak nyelonong masuk" batin Riziq. Zahira pun melempar senyum simpulnya.


" Kau manja sekali Ira pake ingin di bukakan pintu segala" gerutu Riziq.


" Maaf ka"


Sebelum masuk, Zahira pun mencium dulu tangan kakaknya itu. Setelah itu langsung menemui Aisyah dan mencium tangan kakak iparnya itu. Riziq yang melihat pun langsung mengeryitkan keningnya. Biasanya Zahira tidak pernah mencium tangan kakaknya.


" Itu bocah semprul kenapa ya, apa dia kesambet?" gumam Riziq. Perlahan Riziq pun memegang dahinya sendiri untuk mengecek suhu badannya, lalu iya menatap jam tangannya.


" Suhu badanku normal, ini juga masih siang, masa iya dia jam segini gilanya sudah kumat" Riziq bicara sendiri.


" Ka biar aku saja yang suapin" pinta Zahira sambil mengambil mangkok makanan Adam dan Hawa, lalu menyuapinya dengan sabar dan telaten. Aisyah yang merasa aneh dengan sikap adik iparnya itu, ia langsung menatap Riziq untuk meminta jawaban. Riziq pun hanya mengangkat kedua bahunya karna tidak tau. Kini Riziq dan Aisyah duduk dihadapan Zahira, menatap perempuan kecil yang tiba tiba bersikap manis dan lemah lembut. Tidak ada suara tawa yang berlebihan yang keluar dari mulutnya Zahira, hanya senyum manis dan tutur kata yang lembut. Riziq dan Aisyah saling tatap.


" Mungkin dia lelah uni" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk ngangguk.

__ADS_1


" Ira, kau sudah makan?" tanya Aisyah.


" Sudah ka"


" Tadi tidak kepeleset dan kejedotkan?" tanya Riziq.


" Nggak ka, aku baik baik saja" Jawab Zahira.


" Apa tadi kau ketemu Yusuf saat mau kemari?" tanya Aisyah kembali. Aisyah dan Riziq masih penasaran dengan sikapnya Zahira.


" Hari ini aku belum ketemu ka Yusuf"


Setelah selesai menyuapi keponakan keponakannya, Zahira pun mengelap mulut Adam dan Hawa yang sedikit belepotan dengan selembar tisu.


" Sebentar ya ka, aku mau mencuci mangkuknya" pamit Zahira ke dapur.


" Apa adikmu mendapatkan hidayah Le?" bisik Aisyah pada Riziq.


" Sepertinya ada pergeseran otak di kepalanya uni"


Aisyah pun mengangguk. Karna penasaran dengan apa yang di lakukan Zahira di dapur, Aisyah dan Riziq pun mengintipnya. Dilihatnya Zahira sedang membersihkan mangkuk bekas makan Adam dan Hawa.


" Kau perhatikan uni, Ira membersihkan mangkuknya pake sabun cuci apa pake sampo?" tanya Riziq sambil berbisik. Aisyah pun melihat Zahira membersihkannya pake sunlight.


" Sabun Le"


Sat Zahira sudah membersihkan mangkuknya, iya pun berniat untuk menemani Adam dan Hawa kembali. Namun iya di kejutkan oleh Riziq dan Aisyah yang masih setia memperhatikannya.


" Kenapa ka Riziq sama ka Aisyah memperhatikanku seperti itu?" tanya Zahira masih dengan bertutur kata lemah lembut. Aisyah dan Riziq yang ketahuan mengintip pun langsung salah tingkah, hingga Aisyah tidak sengaja keserimpet rok gamisnya, alhasil iya dan Riziq terjatuh.


Brughh.


" Allahu akbar" ucap mereka berdua.


" Awww" Aisyah meringis kesakitan.


Riziq pun perlahan membangunkan istrinya.


" Kalian tidak apa apa?" tanya Zahira.


" Ira, kau duduklah sebentar, ka Riziq ingin bicara denganmu" ucap Riziq sambil berjalan ke ruang tengah.


Kini Zahira sudah duduk tepat di hadapannya Aisyah dan Riziq. Perlahan Riziq menempelkan tangannya ke keningnya Zahira.


"Normal"


" Suhu badanku normal ka, emangnya kenapa ka, aku tidak sakit dan baik baik saja" ucap Zahira.


" Yakin kau baik baik saja?" tanya Aisyah.


" Hmmm"


" Aku melihat ada perubahan dalam sikapmu, apa ada alasan?" tanya Riziq penasaran. Zahira malah tersenyum.


" Aku sedang memperbaiki diri ka" jawab Zahira. Aisyah dan Riziq malah saling menatap.


" Mungkin dia benar benar lelah" ucap Aisyah.


" Memperbaiki bagaimana Ira?" tanya Riziq kembali.


" Aku sedang memperbaiki diri menjadi seorang wanita shalehah yang menjunjung tinggi kehormatannya" jawab Zahira.


" Alhamdulilah" ucap Aisyah dan Riziq berbarengan.


" Aku sudah membicarakan ini sebelumnya sama om ustad, dia bilang dengan memperbaiki diri, aku jadi bisa mengimbangi sikap dan sifatnya ka Yusuf"


" Ternyata ada hubungannya sama Yusuf Le" bisik Aisyah.


" Aku akan mencoba memperbaiki diri dengan cara tidak genit, centil. Dan berkata pun berusaha untuk lemah lembut"


" Kau memperbaiki diri alasannya karna Yusuf apa karna Allah?" tanya Riziq. Zahira pun terdiam kebingungan.


" Alasannya apa ya?, karna Allah apa karna ka Yusuf?" batin Zahira bingung.


" Dengarkan ka Riziq ya Ira, apapun alasanmu, ka Riziq mendukungmu untuk memperbaiki diri. Tapi ka Riziq saranin, kau lebih dekatkanlah dirimu pada Allah sedekat dekatnya" tutur Riziq. Zahira pun mengangguk.


Waktu sudah menunjukan pukul 13:00. Zahira pun pamit pulang.


" Ka aku pulang dulu ya, sebentar lagi masuk kelas jam kedua" ucap Zahira. Riziq dan Aisyah pun mengangguk. Sebelum pergi Zahira kembali mencium tangan Riziq dan Aisyah, tidak lupa menciumi keponakan keponakannya.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah dan Riziq pun menatap kepergiannya Zahira. Tiba tiba Zahira tersandung batu hingga terjatuh.


Brugh


" Duuh sakit. Ikh dasar batu menyebalkan gak tau apa aku mau lewat. Ngalang ngalangin aja deh dasar batu menyebalkan" gerutu Zahira dengan menggunakan bahasa yang biasanya iya gunakan. Mendadak iya lupa kalau iya sedang memperbaiki diri. Aisyah dan Riziq yang melihat pun langsung saling lirik.


" Kumat Le"


Saat Zahira tersadar.


" Astaghfirullah alazim, aku kan sedang memperbaiki diri. Ya Allah ampuni hambamu ini yang mendadak lupa" ucap Zahira sambil menepuk jidatnya lalu memindahkan batu yang baru tidak sengaja membuatnya terjatuh itu. Aisyah dan Riziq langsung cekikikan tak bersuara melihat kelakuan perempuan kecil yang sedang di perhatikannya itu.


" Mendadak lupa katanya Le,hi hi hi"

__ADS_1


" Dasar bocah semprul, kita lihat sampai kapan dia bisa bertahan dengan perubahan sikapnya itu"


__ADS_2