
Setelah pulang dari lapangan, Zahira, Aisyah dan Riziq pun pamit pulang.
" Wi, kau mau pulang bareng gak?" tanya Aisyah.
" Kalian duluan saja Aisyah, Syifa masih ingin di sini" jawab Dewi.
" Oh ya sudah, aku duluan ya asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Syifa, nanti di kelas belajar bareng ya, nyontek dikit, Hi hi hi" bisik Zahira pada Syifa.
Seketika Dewi yang mendengar pun langsung menggeram.
" Kau jangan macam macam ya Ira" Dewi sedikit mengancam. Zahira malah cengengesan.
" Aku pulang duluan ya Syifa. Baaay" ucap Zahira sambil melambai lambaikan tangannya.
" Asalamualaikum" ucap Dewi dan Syifa mengingatkan.
" He he, maaf asalamualaikum" ulang Zahira kembali.
" Waalaikum salam"
Riziq, Aisyah dan Zahira pun pulang bersama dengan mendorong kereta bayi.
" Le, besok kita ke pasar yu, bahan masakan sudah habis" ucap Aisyah.
" Hmmm"
" Kau temenin ya, tapi jangan bilang bilang Ira nanti dia pengen ikut" bisik Aisyah. Riziq pun mengangguk.
" Ka, aku di beri tugas sama calon ibu mertua untuk membaca pidato di depan kelas, bikinin aku sebuah pidato ya" pinta Zahira pada Riziq.
" Kenapa gak bikin sendiri saja"
" Aku belum mengerti, lagian kata ustadzah Ulfi, pidatonya boleh di buatkan oleh orang lain, aku hanya membacanya saja di depan kelas" tutur Zahira.
" Iya nanti kubuatkan, apa temanya?"
" Bebas ka"
" Hmmm"
Sesampainya di rumah, Zahira sedikit terburu buru masuk kamarnya. Riziq dan Aisyah hanya saling lirik menatap perempuan kecil yang bertingkah aneh itu.
" Warisanmu kenapa lagi Le?" tanya Aisyah.
" Entahlah" jawab Riziq dengan mengangkat kedua bahunya. Tiba tiba Zahira keluar kamar dengan membawa sorban Yusuf menuju ruang pencuci pakaian.
" Mau ngapain dia bawa bawa sorban Yusuf?" ucap Aisyah yang masih berdiri bersama Riziq memperhatikan tingkah Zahira yang sedikit aneh. Perlahan Aisyah dan Riziq berjinjit untuk melihat apa yang akan di lakukan adiknya itu. Dilihatnya Zahira sedang mencuci sorban Yusuf dengan tangannya langsung bukan dengan mesin cuci.
" Kau lagi apa Ira?" tanya Aisyah.
" Aku sedang mencuci sorbannya ka Yusuf ka, kalian jangan ngintip" jawab Zahira. Riziq dan Aisyah hanya mengeryitkan keningnya masing masing.
"Mungkin semalam dia tidur sambil meluk sorbannya Yusuf, terus pas bangun nyium sorbannya bau iler, jadi dia cuci" ucap Riziq sambil menatap Zahira yang masih sibuk mencuci sorban.
" Cinta bisa membuat orang menjadi Inem pelayan selebor. Dan itu hanya bisa di lakukan oleh warisanmu Le" tutur Aisyah sedikit tertawa.
" Apa kalian tidak punya pekerjaan selain memperhatikanku, aku sadar kalau aku ini cantik, imut, lucu dan menggemaskan, tapi aku risih di perhatikan seperti itu" ucap Zahira yang tau kalau kakak kakaknya itu sedari tadi berdiri memperhatikannya.
Aisyah pun pergi ke dapur untuk membuatkan kopi.
" Yang bersih nyucinya, jangan sampai bau ilernya masih tercium di sorbannya Yusuf" ucap Riziq dengan nada mengejek.
" Ka Riziq berisik ah" gerutu Zahira.
Sambil sedikit tertawa, Riziq pun meninggalkan Zahira dan pergi ke ruang tengah untuk menjaga Adam dan Hawa. Aisyah pun datang membawa kopi dan cemilannya.
" Terima kasih uni"
Aisyah memangku Adam dan memberinya asi, dan bergantian dengan Hawa.
Setelah Zahira selesai mencuci, iya pun mencium dulu sorban itu takutnya masih bau iler, setelah iya mencium bau sorbannya, keningnya langsung berkerut.
" Ko wangi sokl*n lantai ya" gumam Zahira. Iya pun melihat kembali sabun yang sempat iya gunakan, Zahira nampak tersenyum malu.
" Iya beneran aku salah kasih sabun, pantasan saja busanya sedikit aneh, lain dari yang lain he he"
__ADS_1
Zahira pun mencuci ulang sorbannya Yusuf dengan menggunakan sabun cuci baju karna sebelumnya iya menggunakan sokl*n lantai.
Setelah selesai mencuci, Zahira kembali mencium sorban itu.
" Mmmm, wangi" ucapnya sambil tersenyum senyum. Lalu ia pergi ke halaman rumah untuk menjemur sorban itu. Setelah menaruh sorban itu di jemuran baju, Zahira duduk sambil menomoang dagunya menatap sorban itu.
Aisyah yang melihatpun langsung menggelengkan kepalanya heran.
" Kau lihat kelakuan warisanmu Le, benar kata ka Usman, dia harus sering serig di rukiyah" ucap Aisyah. Riziq yang melihat adiknya pun langsung menghampirinya di halaman samping.
" Kau sedang apa Ira?" tanya Riziq.
" Ka Riziq matanya katarak ya, aku sedang jagain sorbannya ka Yusuf, takut ada yang maling"
Riziq langsung mengeryitkan keningnya.
" Siapa juga yang mau mengambil sorbannya Yusuf, lagian semua lelaki yang ada di pesantren ini, rata rata sudah mempunyai sorban semua. Itu hanya sorban biasa bukan sorban yang terbuat dari emas, jadi kau tidak perlu khawatir ada yang mencurinya" tutur Riziq.
" Biarin, aku akan tetap menjaga sorbannya ka Yusuf, karna kalau sorbannya sudah dikembalikan, maka aku akan susah untuk menatapnya, apalagi menatap pemiliknya" tutur Zahira.
" Sampai kapan kau akan menatapnya?" tanya Riziq.
" Sampai sorbannya benar benar kering dan siap untuku kembalikan"
Riziq hanya mengeryitkan keningnya.
" Terserah kau saja. Tunggulah sesuakamu, paling tubuhmu juga ikut kering seperti sorban itu" ucap Riziq sambil berlalu masuk kembali menemui Aisyah.
" Kening warisanmu anget ya Le?" tanya Aisyah sedikit tertawa.
" Bukan anget lagi tapi panas. Entah ngidam apa ibu tiriku dulu saat mengandungnya, berojol berojol sudah menyebalkan dan genitnya naudzubilah"
Aisyah malah tertawa.
"Bukankah kelakuannya sangat mirip denganmu?" tanya Aisyah. Riziq langsung memicingkan matanya dan dengan sigap iya menarik ujung kerudung Aisyah hingga wajah istrinya itu mendekat padanya.
" Jadi genitku naudzubilah?" tanya RIziq yang kini semakin mendekatkan wajahnya pada Aisyah.
" Le, jangan menciumku disini nanti Ira masuk" bisik Aisyah.
" Bocah semprul itu sedang asik menjemur dirinya sendiri, dia tidak akan melihatnya" ucap Riziq, saat iya akan mencium Aisyah. Tiba tiba Zahira masuk.
" Kau mengganggu saja, belum saja nempel" gerutu Riziq.
" Aku yang sedari tadi kepanasan di luar sana, kalian malah asik menciptakan suasana panas di dalam rumah" gerutu Zahira.
" Siapa suruh menjemur badanmu sendiri"
Dengan kesalnya Zahira berjalan mendekati mereka dan duduk di hadapan mereka. Tanpa izin terlebih dulu, Zahira langsung meminum kopinya Riziq.
" Main serupur seruput aja" gerutu Riziq.
Aisyah hanya tertawa saja melihat mereka.
* * * * * *
Keesokan harinya. Aisyah dan Riziq sudah siap untuk pergi ke pasar. Riziq sengaja menemani istrinya berbelanja di pasar, kebetulan Riziq mengajar sore hari.
Saat Riziq berjalan melangkah ke luar, iya melihat Zahira berjalan ke rumahnya sudah menggunakan seragam, semalam Zahira tidak menginap.
" Uni kau ngumpet dulu, ada Zahira kemari" bisik Riziq. Setelah di beritau kalau ada Zahira datang, Aisyah langsung bersembunyi di dalam kamar.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam Ira"
" Ka kau sudah membuatkanku pidato?" tanya Zahira.
" Sudah, kertasnya ada di atas meja" tunjuk Riziq pada kertas itu. Zahira langsung mengambil kertas itu tanpa memeriksanya terlebih dulu, di meja itu ada dua kertas, yang satu punya Zahira dan yang satu punya Aisyah. Setelah mengambil kertas itu, Zahira pun beranjak pergi, namun ia sedikit merasa aneh dengan penampilan dan gelagat Riziq yang tak biasanya. Hingga Zahira berdiri sebentar untuk memperhatikan kakaknya itu.
" Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?" tanya Riziq.
" Tumben penampilanmu sedikit berbeda dari biasanya, kau pun tercium sangat wangi" ucap Zahira menaruh curiga.
" Nih bocah semprul tau aja kalau kakaknya mau pergi ng'det" batin Riziq.
" Kau jangan memandangku penuh selidik seperti itu, cepatlah masuk kelas, nanti kau terlambat, bukannya hari ini kau ada acara pembacaan pidato" tutur Riziq. Bukannya pergi, Zahira malah menatap Riziq penuh curiga.
" Sudah kubilang jangan memandangku seperti itu" ucap Riziq kembali.
__ADS_1
" Kau tidak mau pergi ng'det dengan pacar barumu kan?" tanya Zahira curiga. Seketika Riziq langsung menyentil kening adik perempuannya itu.
Celetak.
" Awww" Ringis Zahira sambil mengusap ngusap keningnya.
" Kalau bicara jangan sembarangan, kalau kakak iparmu dengar dia bisa ngamuk" ucap Riziq.
" Iya maaf"
" Sudah sana pergi" usir Riziq.
Zahira masih mematung di tempat membuat Riziq menaruh curiga.
" Apa lagi?" tanya Riziq.
" Minta uang dong ka" ucap Zahira sambil merentangkan tangannya. Riziq langsung mengeryitkan keningnya.
" Kemarin aku sudah memberimu uang jajan, masa baru 3 hari sudah habis" ucap Riziq tak percaya.
" Uang yang kemarin masih ada tapi tinggal dikit, aku mau beli sesuatu, minta 20.000 lagi ya" Zahira memelas.
" Buat apa uang 20.000?"
" aku mau beli paper bag yang gambarnya love love" jawab Zahira.
" Untuk apa kau membeli paper bag?"
" Untuk tempat sorban ka Yusuf, nanti sore aku mau mengembalikannya"
" Tidak usah pake paper bag segala, kau cukup masukan sorban itu ke dalam kantong pelastik berwarna hitam lalu tinggal kasih pada Yusuf" tutur Riziq memberi saran. Zahira hanya mengeryitkan keningnya.
" Kalau di masukan paper bag kan kelihatannya lebih keren ka" jawab Zahira.
" Tidak usah beli, nanti kubuatkan paper bag untukmu"
" Emangnya ka Riziq bisa buat paper bag?"
" Di kantinnya bi Ratna banyak kardus bekas minuman, nanti di gunting gunting, lalu di kasih tali rapia buat pegangannya, abis itu ambil sepidol buat gambar love lovenya" ucap Riziq. Zahira yang mendengar pun langsung menganga.
" Kau norak sekali ka. Primitif" gerutu Zahira.
" Mau pergi atau kusentil lagi?" tanya Riziq memberi pilihan. Sambil mengerucutkan bibirnya, Zahira pun pergi dari rumahnya Riziq.
" Asalamualaikum ka Riziq pelit"
" Waalaikum salam" jawab Riziq sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Astaghfirullah alazim" ucap Riziq sambil mengelus dada. Aisyah pun keluar dari kamarnya.
" Warisanmu sudah pergi Le?" tanya Aisyah.
" Hmmm, ayo kita berangkat"
Sebelum pergi Aisyah pun mengambil kertas dari atas meja. Setelah itu mereka pergi ke pasar.
* * * * *
Zahira tak putus asa untuk mendapatkan paper bag yang diinginkannya. Satu satunya harapan iyalah ustad Rasyid. Dan kebetulan sekali Zahira bertemu kakaknya itu di jalan.
" Ka Rasyid" teriak Zahira sambil berlari mendekati kakaknya itu.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kenapa kau lari lari Ira?" tanya ustad Rasyid.
" Ka boleh aku minta uang 20.000 untuk membeli paper bag yang gambarnya love love" ucap Zahira. Ustad Rasyid hanya mengeryitkan keningnya, lalu memberikan uang 20.000 itu pada Zahira, iya tidak mau bertanya untuk apa paper bag itu karna akan panjang urusannya.
" Terima kasih ka" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Kau cepat masuk kelas, nanti kau terlambat" pinta ustad Rasyid.
" Iya ka Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira pun berlari menuju kelasnya.
__ADS_1