Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Busway


__ADS_3

Masih dengan mereka yang berada di lokasi kejadian saat ustad Usman tertabrak busway ( Dewi). Dewi masih berdiri lunglai di tengah jalan.


" Ustad Riziq, kau yakin tidak kuat menggendong Dewi?" tanya ustad Usman. Seketika Riziq langsung menatap Dewi.


" Aku bukannya tidak kuat menggendong ka Dewi, hanya saja aku tidak kuat kalau harus mendengar kemarahan istriku yang membab* buta saat melihatku menggendong perempuan lain selain adiku Zahira" tutur Riziq. Ustad Usman dan Dewi sudah cekikikan sementara ustad Azam hanya tersenyum saja.


" Iya aku sampai lupa kalau Aisyah sedang cemburu ia lebih menakutkan dari srigala betina yang sedang menyusui" ucap ustad Usman. Perlahan ia pun melirik Dewi.


" Kau yakin tidak kuat berjalan?" tanya ustad Usman srdikit tak percaya.


" Kakiku terasa ngilu" jawab Dewi. Seketika ustad Usman menyipitkan matanya pada Dewi.


" Apa perlu aku memanggil ambulance dan dokter spesialis saraf kemari" ucap ustad Usman.


" Tidak perlu, kau cukup menghubungi petugas damkar saja" jawab Dewi sambil mengerucutkan bibirnya. Lalu ustad Usman langsung menatap Dewi kembali.


" Kenapa kau menatapku seperti itu ustad?" tanya Dewi heran.


" Ada saatnya kau ikut berjejer sambil memegang tali di tiang" ucap ustad Usman. Dewi hanya mengeryitkan keningnya tak mengerti dengan ucapan ustad Usman. Sementara Riziq dan ustad Azam yang mengerti pun langsung tertawa tanpa suara.


" Apa maksudnya ustad?, sungguh aku tidak mengerti" ucap Dewi yang kini menaruh curiga saat ia menatap Riziq dan ustad Azam sedang tertawa tak bersuara.


" Apa maksud dari ucapannya ustad Usman, kenapa perasaanku tidak enak, sepertinya dia membandingkanku dengan sesuatu yang berjejer di tiang dengan ikatan tali, tapi apa ya sungguh aku tidak mengerti" batin Dewi.


" Ya sudah ayo kita ke kelas" ucap ustad Azam.


" Kalian duluan saja, kakiku terasa ngilu dan tulangku berasa remuk semua" ucap Dewi mempersilahkan.


" Memangnya kau punya tulang Wi?, kupikir badanmu semuanya hanya daging saja" ledek ustad Usman hingga Dewi cemberut. Riziq pun berbisik pada ustad Usman. Seketika ustad Usman yang mengerti arah pembicaraan adik iparnya itu ia langsung merogoh saku bajunya dan mengambil uang 20.000 lalu di berikannya pada Dewi.


" Apa dengan ini kakimu akan sembuh dari rasa ngilunya" ucap ustad Usman sambil memberikan uang selembaran 20.000 itu pada Dewi. Mata Dewi langsung berbinar, ia tak menyia nyiakan kesempatan, ia langsung mengambil uang itu dari tangannya ustad Usman.


" Sembuh ustad, langsung sembuh" ucap Dewi sambil tersenyum dan mengantongi uang itu ke saku bajunya.


" Asalamualaikum" ucap Dewi yang kini langsung berlari menuju kantinnya bi Ratna.


" Astaghfirullah alazim" ucap Riziq, ustad Azam dan ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan Dewi.


" Waalaikum salam" jawab mereka.


" Tidak kusangka, kufikir di dalam otaknya hanya ada makanan saja, ternyata pundi pundi rupiah pun terselip dalam fikirannya"


" Pada kenyataannya uang bisa membeli makanan yang di inginkan, itu fungsinya"


Mereka pun tertawa bersama. Saat mereka akan melanjutkan langkahnya, tiba tiba ustad Azam melihat ustad Usman terluka di bagian tangan dan kakinya.


" Ustad, sepertinya tangan dan kakimu terluka" ucap ustad Azam.


Ustad Usman pun menatap luka di tangannya dan sedikit mengeluarkan darah segar. Ia sudah seperti terhantam busway yang tidak bisa ia hindari, dalam hitungan detik ia langsung terpental dan tersungkur hingga menyebabkan luka di tubuhnya.


" Sebaiknya kau ke klinik untuk mengobati lukamu ustad" ucap Riziq.


" Iya nanti saya ke klinik"


" Perlu kubantu?" tanya Riziq sambil menatap kakak iparnya itu.


" Maksudmu?" tanya ustad Usman penuh curiga. Seketika Riziq langsung berjongkok di hadapannya ustad Usman.


" Kau jangan macam macam ustad Riziq, aku tau kau mampu dan kuat untuk menggendongku sampai ke klinik, tapi kalau ada yang lihat bisa jatuh ambruk harga diriku. Bukan hanya harga diriku yang akan jatuh ambruk, tapi kita juga bisa jatuh ambruk, kau fikir badanku tidak berat" tutur ustad Usman. Ustad Azam sudah tersenyum senyum melihat mereka.


" Aku akan pergi sendiri ke klinik"


" Iya, nanti aku akan menghubungi ka Nisa dan Aisyah untuk melihat keadaamu" ucap Riziq. Mereka pun berpisah di persimpangan jalan. Riziq dan ustad Azam pergi ke kelas, sementara ustad Usman pergi ke klinik.


Riziq langsung menghubungi Aisyah.


" Asalamualaikum, kenapa Le?" ucap Aisyah saat menerima panggilan dari suaminya.


" Uni, ustad Usman tadi tertabrak busway, dan sekarang dia ada di klinik, kau sampaikan pada ka Nisa untuk menengok keadaannya" tutur Riziq. Aisyah pun terkejut.


" Ka Usman tertabrak busway? ? ? ?, astaghfirullah alazim" ucap Aisyah. Umi Salamah yang mendengarpun badannya langsung melemas.


" Inalilahi"


Aisyah, umi Salamah dan Nisa pun langsung bergegas ke klinik yang ada di pesantren.


" Ya Allah semoga suamiku baik baik saja" Nisa terus berdo'a. Mereka berjalan tergesa gesa menuju klinik.


" Kenapa Usman malah di bawa ke klinik bukan dibawa ke rumah sakit" ucap umi Salamah.


" Memangnya ka Usman pergi kemana Mi, ko bisa tertabrak busway?" tanya Aisyah tak mengerti. Sesampainya di klinik.


" Asalamualaikum"

__ADS_1


" Waalaikum salam"


Dilihatnya ustad Usman sedang di obati oleh dokter Husna.


" Mas, kau tidak apa apa?" tanya Nisa cemas. Dilihatnya tangan suaminya berdarah.


" Kalian tau darimana kalau aku ada di klinik?"


" Tadi ustad Riziq menghubungi Aisyah, katanya kau tertabrak busway, kau tidak apa apa kan Man?" tanya umi Salamah yang tak kalah cemasnya.


" Aku bukannya tertabrak busway kendaraan Mi, tapi tertabrak Dewi yang badannya mirip busway itu"


" Dewi? ? ? ?"


" Hmmm"


Aisyah sudah cekikikan hingga ustad Usman menggeram pada Aisyah.


" Maaf ka, tapi ko bisa tiba tiba kau tertabrak Dewi?" tanya Aisyah heran.


" Entahlah tiba tiba Dewi menabraku dari belakang hingga aku terpental dan tersungkur di pinggir jalan"


Aisyah, umi Salamah dan Nisa malah tersenyum senyum mendengar kejadian yang menimpa ustad Usman.


" Kalian menyebalkan" gerutu ustad Usman.


" Kalau aku ada di lokasi kejadian, aku pasti akan memvidiokannya, vidio itu akan kujadikan kenang kenangan terindah dalam hidupku" ledek Aisyah. Seketika itu pula ustad Usman langsung menggeram.


* * * * * *


Sore pun tiba, di kamar asrama, Zahira sudah mandi dan kini ia membuka kepangan miliknya. Dia tersenyum senyum geli melihat rambutnya yang keriting mengembang tak karuan.


" Rambutku sudah seperti rambutnya Niki astria jaman dulu. Ha ha ha keren" ucap Zahira sambil tersenyum senyum di depan cermin. Tiba tiba teman sekamarnya masuk, ia terkejut melihat rambutnya Zahira.


" Ira, rambutmu kenapa?" tanya temannya.


" Keren kan"


" Keren apanya, rambutmu nampak seperti rambutnya Ahmad albar" jawab temannya Zahira.


" Heei bukan Ahmad albar tapi Niki Astria. Kereeeen"


" Sakarepmu, tuh di depan ada yang mencarimu"


" Ustad Riziq"


Zahira pun memakai kerudungnya namun ia tidak sempat mengikat rambutnya yang mengembang itu. Saat Zahira menemui Riziq.


" Ada apa ka tumben kemari?" tanya Zahira.


" Astaghfirullah Ira rambutmu kenapa?" tanya Riziq heran yang melihat rambut Zahira mengembang di balik kerudungnya. Zahira malah cengengesan.


" Baguskan, ka Riziq kalau lihat rambutku pasti terkagum kagum" ucap Zahira. Riziq hanya mengeryitkan keningnya.


" Kau nampak seperti memakai helm di balik kerudungmu itu"


Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.


" Duduk, aku ingin bicara denganmu" pinta Riziq. Mereka pun duduk di teras depan asrama putri.


" Kau betah tidak tinggal di pesantren ini?" tanya Riziq.


" Tentu" jawab Zahira.


" Kalau ibumu datang kemari lagi apa yang akan kau lakukan?"


" Tenang saja ka aku akan meyakinkan ibu untuk mengijinkanku menimba ilmu di pesantren ini" tegas Zahira. Riziq pun tersenyum lega.


" Kalau ibumu datang kemari kau jangan menghindar, temui saja mungkin dia rindu padamu, tapi kalau dia mengajakmu untuk pergi, kau bilang saja kalau kau ingin memperdalam ilmu agama disini" tutur Riziq. Zahira pun mengangguk ngangguk.


" Ka boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


" Apa kau benci sama ibu?" tanya Zahira sambil menatap kakaknya itu.


" Kenapa kau bertanya seperti itu"


Zahira pun langsung menundukan wajahnya.


" Maafkan ibu ya ka, dia yang menyebabkan keluargamu hancur"


Riziq pun terdiam lalu menatap adik perempuannya itu. Tak bisa ia bohongi ada rasa marah kesal dan kecewa saat ia ingat keluarganya hancur saat kedatangan bu Erni.

__ADS_1


" Semuanya sudah takdir, kita tidak bisa saling menyalahkan. Yang terpenting aku sangat menyayangimu. Kau adalah warisan yang di tinggalkan ayah untuku" ucap Riziq sambil mengelus kepalanya Zahira yang terasa mengembal karna rambutnya yang mengembang. Zahira pun tersenyum.


" Makasih ya ka, kau sudah mau bertanggung jawab atas diriku"


Riziq pun tersenyum.


" Ya sudah ka Riziq pulang dulu sudah sore, dan ini uang jajanmu" Riziq pun memberikan dua amplop pada adiknya itu.


" Dariku dan aang Rasyid"


Zahira pun mengambil amplop itu dari tangannya Riziq sambil tersenyum senyum.


" Gajihan lagi hi hi hi"


" Gunakan dengan bijak" pinta Riziq tegas.


" Akan kubelikan martabak, roti bakar, pecel ayam, berger dan kebab, lalu ku kirim ke rumahnya ustadzah Ulfi calon ibu mertuaku"


Seketika Riziq langsung menggeram. Zahira malah tertawa.


" He he he maaf bercanda" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.


" Awas kalau kau macam macam. Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Riziq pun pergi dari asrama putri. Ia berjalan santai hingga sampai di rumahnya.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membukakan pintu. Aisyah pun mencium tangan suaminya itu.


" Anak anak lagi ngapain ni?" tanya Riziq.


" Aku habis memandikannya. Sekarang mau memakaikan pakaiannya, bantu aku ya Le"


" Hmmm"


Riziq pun membantu Aisyah memakaikan popok dan bajunya Adam sementara Aisyah memakaikan pakaiannya Hawa. Aisyah dengan gesit menabur bedak lalu memasang popok dan bajunya Hawa yang nampak begitu imut di tambah bando kecil berbentuk pita.


" Selesai, duh putrinya umi nampak imut imut seperti uminya" Ucap Aisyah sambil menciumi Hawa dengan gemasnya. Di lihatnya Riziq baru selesai memakaikan bajunya Adam. Tiba tiba Aisyah mengeryitkan keningnya saat melihat popoknya Adam ada di luar celana.


" Le, kenapa kau memakaikan popoknya di luar, popok dulu baru celana" ucap Aisyah. Riziq pun tersenyum senyum karna ia tak mengerti urusan mengurus bayi.


" Maaf uni aku tidak mengerti soal mengurus bayi"


" Lalu apa yang kau mengerti soal bayi?" tanya Aisyah.


" Aku hanya mengerti cara membuatnya saja" jawab Riziq. Seketika Aisyah langsung memicingkan matanya, seketika itu pula Riziq langsung tertawa.


" Benerin lagi Le, pasang popoknya di dalam, setelah itu baru pakaikan celananya" ucap Aisyah. Riziq pun melepaskan popok dan celana Adam karna tertukar posisi. Saat mau memakaikan popoknya kembali, tiba tiba saja Adam mengeluarkan cairan hangat hingga mengenai baju kokonya Riziq.


" Uniiiii"


Aisyah pun tertawa.


" Rezekimu hari ini Le, he he. Kau mandi sana biar uni yang memakaikan popok"


Riziq pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia pun duduk di hadapan Aisyah. Aisyah yang mengerti pun langsung mengambil handuk kecil dan menggosok gosokannya ke rambutnya Riziq yang basah. Aisyah sudah seperti punya bayi 3. Setelah mengeringkan rambut suaminya ia pun langsung menyisirnya dengan rapih.


" Le coba menghadap padaku" pinta Aisyah. Riziq pun menurut dan membalikan badannya.


" Waaaah berondongku yang manis nampak hensem ya" ucap Aisyah sambil mencubit kedua pipinya Riziq dengan gemas. Aisyah mencubit Riziq bak seorang bayi. Riziq langsung memicingkan matanya.


" Maaf Le aku hanya bercanda" ucap Aisyah sambil senyum senyum. Seketika Riziq langsung menarik ujung kerudungnya Aisyah. Tentu saja Aisyah terkejut. Apalagi kini wajah Aisyah sudah mendarat di wajahnya Riziq.


" Le kau mau apa?"


" Memberimu hadiah"


" Mmmmmmpp"


Aisyah memukul mukul pelan dadanya Riziq karna hampir 15 menit Riziq tidak melepaskan istrinya itu. Setelah puas memberikan hadiah, Riziq pun melepaskan istrinya. Nafas Aisyah sudah terengah engah.


" Leee kau mau membunuhku ya" gerutu Aisyah. Riziq malah tersenyum dan berbaring di pangkuannya Aisyah.


" Nafasmu sesak uni?" tanya Riziq sambil mendongakan wajahnya.


" Hmmmm" jawab Aisyah sambil menggeram. Riziq malah tersenyum senyum.


" Kalau kau merasa sesak, sepertinya kau perlu nafas buatan"


" NGGAAAAAAAAK"

__ADS_1


__ADS_2