Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Undangan


__ADS_3

Melihat Fauzi berhenti berbicara, Inspektur Gilang berkata: "Hari sudah gelap, pulanglah. Aku juga akan pulang."


Fauzi tersenyum, "Baiklah, Inspektur Gilang. Semuanya pulanglah."


Dalam perjalanan pulang, Nova merasa kesal, "Alex, pasti ada yang janggal dengan hal ini. Aku yakin Edward adalah si mesum, apa kita akan melepaskannya begitu saja?"


Alex berkata, "Nalurimu benar. Anak ini memang si mesum! Aku juga merasa ada yang aneh. Setelah kita sampai di kantor cabang, Herman dan Fauzi selalu berada di bawah pengawasan kita. Tidak mungkin bagi mereka untuk berkomunikasi dengan Bu Emma untuk melakukan sesuatu."


Nova berkata: "Ya. Inspektur Gilang Bu Emma secara mendadak untuk bertanggung jawab atas pemeriksaan teknis."


“… Mungkinkah Fauzi menelepon Emma dan memintanya untuk memalsukan hasil dalam perjalanan kembali ke kantor cabang?” Alex bertanya lagi.


Nova berkata: "Seharusnya tidak, bagaimana Herman bisa tahu kalau Emma yang akan bertanggung jawab atas pemeriksaan hari ini?"


Alex tiba-tiba bertanya: "Kapten Ardiansyah, bagian mana dari DNA tubuh Edward yang diambil oleh departemen teknis?"


Nova menelepon dan bertanya pada Bram, lalu berkata, "Aku baru saja bertanya pada Bram. Bram bilang Bu Emma awalnya akan mengambil sampel darah. Kemudian Edward berkata bahwa dia phobia darah, setelah itu rambutnya dipotong. Rambut juga bisa mengidentifikasi DNA seseorang dengan akurat. "


Wajah Alex seketika cemberut, "Kapten Ardiansyah. Kalau aku tidak salah ingat, malam itu rambutnya berwarna putih dan juga ada anting-anting perak. Hari ini, rambutnya berubah menjadi hitam. Sangat jelas kalau dia berusaha menyembunyikan dirinya karena takut dikenali. Apa kamu pernah berpikir kalau dia mungkin mencukur rambutnya dan memakai wig?"


Kalimat ini mengingatkan Nova, "Sialan! Aku benar-benar tidak memikirkannya. Ini bisa saja terjadi Bajingan ini kemungkinan besar memakai wig. Aku benar-benar bodoh. Tidak, aku harus menangkapnya kembali dan melakukan identifikasi lagi. "


Alex menahannya, "Lupakan saja. Akan sulit jika kamu ingin menangkapnya lagi. Selain itu, Wakil Walikota juga tidak akan mengizinkannya."


Nova berkata dengan tegas: "Apa kita harus melepaskannya begitu saja?"


Alex berkata, "Jangan khawatir, kita akan mencari kesempatan untuk menangkapnya."

__ADS_1


Ketika mereka kembali ke hotel Emperor bersama, Nova masih tidak senang, dan Erika juga merasa sangat menyayangkan kesempatan setelah mendengar apa yang terjadi.


Alex berkata: "Erika, tiga hari kemudian, Devan dan aku akan mempertaruhkan properti keluarga di Pulau Pari."


Nova berkata: "Erika, kamu harus memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun, menang atau kalah ditentukan dalam 3 ronde. Sehebat apapun Alex, dia juga hanya bisa memenangkan satu ronde, itu tidak bisa menjamin kemenangannya. Bagaimana jika hotel Emperor benar-benar kalah? "


Erika tersenyum tipis, "Jika dia kalah, aku akan pulang bersamanya untuk bertani. Belum lama ini, kami pulang ke Desa Sango untuk mengunjungi makam mertua. Menurutku pemandangan di desa sangat indah. Ada kebun buah-buahan dan kebun sayur-mayur di mana-mana. Mereka tidak bertentangan dengan dunia, dan menjalani hidup mereka dengan damai. "


Alex berkata: "Tujuan kembalinya Friska adalah untuk membantuku mengundang seseorang yang kuat untuk berpartisipasi dalam 3 ronde pertaruhan di Pulau Pari 3 hari kemudian. Devan dan ayahnya begitu sombong sampai mempertaruhkan seluruh Armada lautan keluarga Utama, Aku harus memenangkan taruhan ini. "


Tiba-tiba, Clara dengan tergesa-gesa masuk, "Kak Erika, kak Alex, penjaga di pintu menerima undangan untuk kak Alex."


Alex menerima undangan itu dan melihatnya, lalu berkata, "Tuan Rangga mengundangku makan malam di rumahnya malam ini?"


Erika berkata: "Alex, abaikan dia. Kita cukup pergi ke taruhan itu 3 hari kemudian setelah Friska kembali."


Nova berkata: "Kalau begitu aku akan menemanimu. Tidak ada dari mereka yang berani macam-macam jika ada aku."


Alex tersenyum dan berkata, "Kapten Ardiansyah, terima kasih atas niat baikmu. Namun, ini sama sekali tidak perlu. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Mereka tidak dapat melakukan apa pun kepadaku bahkan jika aku pergi sendiri."


Pukul 7 malam, sebuah BMW X5 berhenti di depan Villa No.3 di Gunung Runju. Begitu pintu terbuka, Alex yang berbadan kokoh dan berkulit gelap keluar dari mobil.


Tiga saudara laki-laki Keluarga Utama semuanya hadir hari ini, tetapi Devan tidak terlihat di mana pun.


Setelah teh disajikan, Rangga langsung terus terang dan menunjuk sungai panjang di kejauhan dengan jarinya: "Alex, aku sangat senang kamu datang kali ini. Sejujurnya, aku sangat menghargai kemampuanmu. Apa kamu melihat kapal-kapal di dermaga sana? Separuhnya adalah milikku. Aku kekurangan ahli manajemen sekarang. Jika kamu bersedia membantu, pengelolaan 100 kapal kargo akan diserahkan kepadamu. Aku yakin jika Keluarga Utama dan keluarga Buana bekerja sama, Jakarta yang kecil ini pasti tidak akan mampu menampung diirmu dan aku. Bisnis dan pengaruh kita akan segera menyebar ke seluruh provinsi. "


"Bagaimana bisa membantu Erika dibandingkan dengan mengelola sendiri? Jika kita berdua bekerja sama, tidak akan butuh waktu lama, keluarga Wibowo dan Keluarga Sutiono bukanlah lawan kita."

__ADS_1


Syaratnya memang menggiurkan. Namun, Alex tersenyum tipis, "Hehe, terima kasih Tuan Rangga atas dukunganmu, tapi aku sudah terbiasa hidup bebas. Aku masih ingin berusaha sendiri."


Rangga menggelengkan kepalanya, "Beberapa orang memang berusaha secara membabi buta ketika masih muda, dan pada akhirnya, tidak ada yang tercapai."


Alex malah berkata, "Tidak apa-apa, kurasa jika sepasnag tanganku ini elum pernah berusaha, dan hidupku berlum pernah mengalami kesulitan, aku takut aku akan menyesal sebelum mati."


Tatapan Alex sangat yakin, Rangga yang berpandangan lama segera menyadari bahwa rencananya untuk menarik Alex hari ini kemungkinan besar akan gagal. Tetapi tentu saja orang tua itu tidak akan menunjukkan ketidakpuasannya, dia hanya tersenyum acuh tak acuh: "Kamu benar-benar berpendirian, bagus. Pemikiranmu sama seperti ketika aku masih muda. Kalau begitu aku akan menunggu waktu itu tiba. Aku mengundangmu hari ini untuk makan malam keluarga dan mencicipi masakan koki ku, jadi jangan sungkan. "


Alex tersenyum, "Terima kasih untuk perjamuannya."


Perjamuan itu ditempatkan di teras. Di teras rumah Rangga terdapat dua lentera yang menyala. Cahaya lentera menciptakan suasana hangat dan nyaman. Di sana juga ada saudara Rangga.


Selain itu, ada juga Mega, putri Rangga, dan Nia, pacar Devan.


Kedua wanita itu berdandan hari ini. Keduanya menuangkan minuman dan mengambilkan sayuran untuk Alex. Terlihat jelas mereka memperlakukan dia sebagai tamu VIP. Alex juga tidak sungkan, dan mulai minum.


Nia berdiri dan menuangkan minuman untuk Alex, "Alex, Erika dan aku punya kesalahpahaman pada acara reuni hari itu. Aku minta maaf. Untuk itu, aku akan bersulang untukmu. Silakan.


"Tidak apa. Aku akan menyampaikan maksudmu." Alex mengambil gelas dan meminumnya.


Mega juga menuangkan minuman, "Alex, kita sama-sama berlatih bela diri. Aku mengagumi keahlianmu, dan aku juga akan bersulang untukmu."


Alex mengangguk dan meneguknya lagi. Mega meletakkan gelasnya dan berkata, "Alex, ayahku dan aku sangat menyukaimu. Aku tahu kamu mungkin tidak ingin bekerja sama dengan Keluarga Utama sekarang, tetapi kamu bisa memikirkannya setelah kembali nanti. Pintu rumah kami akan terbuka untukmu kapan saja. "


Alex tersenyum dan berkata, "Terima kasih, nona Utama. Aku mengingatnya."


Pada saat ini, ponsel Alex tiba-tiba berdering. Yang menelepon adalah Erika. Erika mengkhawatirkan keselamatan Alex dan mendesaknya untuk kembali ke hotel Emperor untuk menjemputnya lebih awal setelah selesai makan malam.

__ADS_1


Alex menutup telepon dan berkata, "Tuan Rangga, aku masih ada urusan di rumah. Terima kasih atas perjamuan hari ini. Aku harus pergi dulu."


__ADS_2