
Erika berdiri di sana sambil memegang surat pengunduran diri Nova dalam kondisi linglung.
Tak disangka usaha kerasnya malah mendatangkan hasil seperti ini. Dia tiba-tiba merasa bumi bergoyang, kepalanya sangat sakit, pandangannya tiba-tiba jadi gelap, lalu jatuh pingsan.
Alex kaget setengah mati, dia segera memapah Erika dan memanggilnya dengan lantang, “Erika, Erika?”
“Riska, cepat panggil ambulans!”
Sepuluh menit kemudian, Erika dimasukkan ke dalam ambulans, Nova yang belum sempat pergi juga ikut kaget, “Alex, ada apa dengan Erika? Kenapa tiba-tiba bisa pingsan? Apa jangan-jangan luka kepala sebelumnya belum sembuh?”
Alex berkata dengan gelisah, “Aku juga tidak tahu. Kita bicarakan lagi nanti setelah menanyakan dokter.”
Erika dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan darurat, Alex dan Nova menunggu dengan gelisah di koridor, sedangkan Riska menelpon Saras, tak lama kemudian Saras dan Ferdi sampai di rumah sakit.
Dokter Yenny keluar dari bangsal, Alex bertanya dengan panik, “Dok, gimana kondisi Erika?”
Dokter Yenny berkata dengan marah, “Alex, istrimu sudah sakit separah ini, tapi kamu masih membiarkannya bekerja? Kalau tahu begitu aku pasti akan memintanya menerima perawatan di rumah sakit.”
Alex bertanya dengan penuh rasa terkejut, “Sakit apa?”
Dokter Yenny berkata, “Kamu tidak tahu?”
Alex berkata sambil menggelengkan kepala, “Tidak.”
Dokter Yenny menghela nafas, “Sepertinya dia tidak memberitahumu. Sebenarnya, Erika mengidap tumor ganas stadium III. Sejak terakhir kali dia masuk rumah sakit, kami sudah mengetahui hasilnya. Aku sudah memberitahunya untuk mendapatkan perawatan secepat mungkin jika merasa tidak nyaman.”
Setelah mendengar perkataan itu, Alex seakan disambar petir, “Kenapa bisa begini? Kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia mengidap tumor?”
Dokter Yenny berkata,”Seharusnya kami terlebih dahulu memberitahumu hasil pemeriksaannya saat keluar karena kamu suami pasien. Namun, saat itu kamu sedang pergi karena ada urusan. Jadi aku memberitahunya, dia tidak memberitahumu saat pulang?”
__ADS_1
Alex menghela nafas, “Aku baru tahu sekarang.”
Dokter Yenny juga menghela nafas, “Erika adalah wanita baik, benar-benar tak disangka dia akan mengidap penyakit seperti ini!”
Alex bertanya, “Lalu gimana kondisinya sekarang?”
Dokter Yenny menggelengkan kepala dan berkata, “Kondisinya tidak bagus, sebentar sadar, sebentar tidak.”
“Aku mau melihatnya.” Alex masuk ke dalam bangsal dan melihat wajah pucat Erika, saat ini dia kebetulan baru sadar, dia melamun menatap langit-langit.
Hati Alex terasa sakit seakan disayat pisau, dia sama sekali tidak menyangka Erika akan menyembunyikan penyakit yang dideritanya darinya, tumor ganas di bagian kepala, ini benar-benar penyakit parah yang sulit disembuhkan. Dia menyembunyikan kondisinya dalam keputusasaan, apa mungkin dia ingin bercerai dengannya juga karena penyakitnya ini?
Seketika Alex serasa ingin meneteskan air mata.
Alex berjalan menghampiri, lalu memegang tangannya, “Ka, ini aku.”
Alex berkata, “Ka, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sakit?”
Erika tersenyum pahit, lalu berkata, “Kalau aku memberitahumu, kamu pasti akan gelisah, penyakit ini sulit disembuhkan.”
Alex berkata, “Jadi ini alasan kamu bersikeras ingin bercerai denganku?! Agar aku bisa melupakanmu?” Alex menggigit bibirnya sendiri, air matanya tidak terjatuh.
Erika tersenyum lega dan tidak berbicara lagi, dan menutup matanya.
Alex berkata, “Kamu benar-benar bodoh, Ka! Kenapa kamu tidak memberitahuku, kita bisa memikirkan solusinya bersama. Memang kamu bisa menanggung penderitaannya seorang diri?”
“Ka, kamu akan baik-baik saja. Kemampuan dokter di sini terlalu rendah. Mungkin saja cuma salah diagnosa, kita pindah rumah sakit saja ya, atau ke rumah sakit provinsi, atau ke Ibu Kota.”
Erika malah berkata, “Tidak perlu, Lex. Penyakitku sudah dikonfirmasi oleh rumah sakit provinsi. Makasih atas kebaikanmu padaku, meskipun akan mati besok, aku juga tidak akan melupakannya. Nova gadis baik, aku benar-benar berharap kalian bisa bersama setelah aku meninggal.”
__ADS_1
Air mata sudah membasahi wajah Nova yang berdiri di sisinya, “Ka, kamu pasti akan sembuh! Alex milikmu, aku tidak akan berebutan denganmu!”
Alex berkata, “Aku pasti akan memikirkan cara untuk menyelamatkanmu, Ka.”
Saras dan Ferdi juga menghibur Erika, mereka memikirkan cara bersama sepanjang malam.
Keesokan harinya, Alex kembali meminta Dokter Yenny untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Erika, kemudian mengirimkan hasilnya kepada spesialis di Ibu Kota, setelah konfirmasi ulang oleh spesialis di Ibu Kota, hasilnya tetaplah sama. Memang ada masalah dengan kepala Erika, tapi tidak bisa dipastikan tumor ganas atau bukan. Jika dianalisa dari kesehatan fisiknya, dia tidak semakin kurus, mual, muntah parah, ataupun epilepsi. Kondisinya hanya sakit kepala sesekali dan pingsan.
Melihat tatapan gelisah Alex, Nova berbisik kepada Alex untuk memanggilnya ke sebuah sudut, lalu berkata, “Alex, aku punya kerabat seorang dokter jenius. Dia spesialis pengobatan penyakit yang sulit disembuhkan, kalau kamu percaya padaku, cobalah bawa Erika berobat ke sana.”
Alex langsung meraih tangan Nova dan bertanya, “Beneran ada dokter jenius berhati mulia seperti itu? Dimana dia?”
Nova menjawab, “Dia teman lama Kakekku! Tunggu keadaan Erika membaik, kita akan pergi mencarinya.”
Sakit kepala Erika sudah membaik di hari kedua setelah istirahat cukup, kondisi fisiknya juga tidak bermasalah, penyakit seperti ini mungkin saja tidak ada apa-apanya sekarang, tapi kedatangannya sangat mendadak, bisa saja mengancam nyawa hanya dalam waktu beberapa hari.
Alex berdiskusi dengan Saras, “Bu, rumah sakit sama sekali tidak bisa menyembuhkan penyakit Erika, aku ingin membawanya ke dokter jenius, katanya dia ahli dalam mengobati penyakit yang sulit disembuhkan. Aku ingin mencobanya.”
Saras sudah tidak lagi berpendapat, dia berkata, “Lex, kalau menurutmu cara ini bisa berhasil, maka cepatlah pergi. Kuharap Tuhan melindungi Erika agar bisa melewati cobaan ini.”
Kemudian Alex juga memberitahukan Erika tentang pemikirannya, Erika tersenyum pahit dan berkata, “Sudahlah Lex, jangan khawatirkan aku. Penyakit seperti ini mana bisa disembuhkan? Jangan sibukkan dirimu untukku.”
Alex berkata, “Asal ada secerca harapan, aku tidak akan pernah menyerah, Ka.”
Nova juga berkata, “Aku pernah dengar Kakekku bilang kalau temannya ini memang punya kemampuan di luar orang biasa, orang yang disembuhkannya tidak hanya satu saja.”
Erika tidak bisa menolaknya, jadi dia menyerah, “Nov, bukannya kamu mau balik ke kampung halamanmu untuk kerja di sana? Aku tidak enak merepotkanmu.”
Nova berkata, “Pas sekali aku sudah resign di sini, terus di sana juga belum mulai kerja, jadi aku punya waktu luang beberapa hari ini. Aku akan membawa kalian bertemu Kakekku dulu, lalu minta tolong Beliau membawa kalian bertemu dokter jenius itu. Erika, jangan menyerah ya, kamu pasti bisa mengalahkan penyakit ini.”
__ADS_1