
Pilot itu mengangguk mengerti, dan berdiskusi dengan tentara bayaran lainnya di pesawat, "Kalian bertiga, turun dan lihat apakah orang itu masih di sana. Jika ada, tahan dia. Ingat, jangan serang dia secara langsung, aku akan melindungi kalian dari atas. "
Ketiga tentara bayaran itu memeriksa senjata mereka, membuka pintu helikopter dan melempar tangga, lalu meluncur ke bawah untuk turun dan mencari keberadaan Alex.
Semua upaya yang dilakukan Alex di depan adalah untuk detik ini. Tidak mungkin untuk merebut helikopter berdasarkan kemampuannya seorang diri.
Namun, selama helikopter itu berani menurunkan tangga, maka tujuannya sudah tercapai. Jadi dia melompat keluar dari lubang tanah dan berlari menuju pesawat seperti seekor cheetah.
Pilot menyadari Alex mendekat ke arah sini, dia segera berkata kepada co-pilot: "Gawat, dia kemari. Cepat tembak dia sampai mati."
Co-pilot buru-buru menyesuaikan arah senapan mesin, tetapi mana mungkin Alex memberi mereka begitu banyak waktu untuk menyesuaikan?
Ketika senapan mesin baru saja disesuaikan, Alex sudah tiba di bawah pesawat. Senapan mesin kehilangan sudut tembak.
Pilot mau tidak mau harus menaikkan pesawat, dan tiga tentara bayaran yang berada di tangga pendaratan mengalami kesulitan. Alex mengambil kesempatan untuk meraih tangga pendaratan dengan lompatan tinggi. Sebelum 3 tentara bayaran bisa menembaknya, pistol Alex sudah berbunyi lebih dulu.
Tiga mayat terlempar dari tangga pendaratan.
“Hentikan dia, jangan biarkan dia naik.” Pilot itu berteriak.
Melihat bahwa senapan mesin tidak dapat mengenai Alex, co-pilot itu segera mengeluarkan pistolnya, mendekat ke pintu dan melepaskan tembakan ke arah Alex.
Mana mungkin tembakan ini bisa mengenai Alex yang mempunyai kemampuan prediksi tingkat dewa? Begitu orang ini muncul, Alex melakukan tindakan mengelak. Peluru itu menembak ke samping sejauh 20 cm dari kepala Alex. Alex tidak memberinya kesempatan untuk melakukan tembakan kedua, dia meraih tubuh tali dan melompat ke atas, wusss! Tubuh lincah Alex menaiki tangga. Sebelum co-pilot melepaskan tembakan kedua, Alex meninju pelipisnya. Tubuhnya terjatuh dari pesawat.
__ADS_1
Pilot helikopter dengan cepat mengeluarkan pistol dari pinggangnya begitu melihat Alex sudah naik. Belum sempat pistol dikeluarkan, tangan Alex sudah sampai. Dia memegang pergelangan tangannya dan memelintirnya. Pergelangan tangan pilot itu patah. Disusul dengan sebuah tinjuan, kepala orang itu langsung bengkok. Alex mengendalikan helikopter sambil melempar mayat itu dari pesawat.
Alex mengambil kendali pesawat dan mendekatkan pesawat lebih dekat ke tempat Erika, "Erika, cepat naik ke tangga."
Erika menyaksikan Alex merampok helikopter dengan berani, dia merangkak keluar dari lubang batu dengan gembira. Tetapi tepat pada saat ini, 6 tentara bayaran Petir berseragam muncul di belakang Erika. Ketika mereka mendengar suara teriakan di depan, mereka segera mengepung dengan senjata. Setelah melihat Erika, mereka mengangkat senjata dan mulai menembak.
Namun, kemunculan kedua tim ini juga disadari oleh Alex. Dia menekan tombol tembak meriam yang ada pada helikopter, dddrrrttttt... lautan peluru mengarah menuju 6 tentara bayaran Petir. Para tentara bayaran ini tidak secepat Alex, mereka dengan cepat menjadi daging cincang.
Seorang tentara bayaran patah kakinya dan separuh tubuhnya jatuh di depan Erika. Dia masih berusaha menangkap Erika dengan tangannya. Dengan tergesa-gesa, Erika menembak tentara bayaran itu dengan pistol yang diberikan Alex padanya.
Dor! Peluru mengenai kepala tentara bayaran, darah memercik ke wajah Erika, dan Erika juga berteriak ketakutan.
“Erika, cepat naik!” Teriak Alex dengan keras.
Erika berlari ke depan sejauh puluhan meter, meraih tangga helikopter, dan naik sekuat tenaga. Meskipun ada luka di tubuhnya, dan tidak istirahat dengan baik. Tetapi begitu keinginan untuk melarikan diri muncul, kekuatannya jadi tidak terbatas. Erika menaiki tangga pendaratan. Begitu naik, dia memeluk leher Alex dan memberikan ciuman, "Alex, kamu luar biasa, aku sungguh mencintaimu!"
Alex membiarkan Erika duduk di posisi co-pilot, sedangkan dirinya mengendalikan pesawat untuk lepas landas. Adeline secara pribadi memimpin tim tentara bayaran untuk menangkap Alex, tetapi tak disangka terlambat satu langkah. Pesawat Alex sudah lepas landas.
Melihat Adeline membawa pasukan bala bantuan, Alex mengumpat: “Wanita kurang ajar, rasakan rudal ini.” Alex menekan tombol peluncuran dan meluncurkan rudal. Rudal yang berbisa ini meledakkan tanah menjadi lautan api!
Tentara bayaran Petir segera menderita kematian dan luka yang tak terhitung jumlahnya, dan suara jeritan terdengar mengerikan.
Alex mengemudikan helikopter menjauh dari pulau, setelah terbang beberapa saat, dia memeriksa meteran bahan bakar dan berkata, "Gawat, bahan bakarnya tidak cukup. Bahan bakar ini tidak cukup untuk terbang kembali ke Jakarta. "
__ADS_1
Erika bertanya dengan cemas: "Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Pada saat ini, sebuah helikopter menyusul di belakangnya. Adeline yang mengemudikan pesawat itu. Dia berteriak: "Alex, kamu tidak akan bisa lari."
Alex mengomel: "Wanita sialan, aku sudah mengampuni nyawamu, tapi kamu masih berani mengejarku? Apa kamu datang mengantar nyawa?"
Wajah Alex muram, dia berubah pikiran. Dia menarik tuas kendali helikopter, dan memutar balik helikopter. Kemudian, menghadapi helikopter yang mengejarnya, dia menekan peluncur meriam. Tiba-tiba, peluru mengarah ke arah helikopter itu seperti hujan deras.
“Padahal aku tidak ingin membunuh lebih banyak, tapi kamu memaksaku. Daripada melarikan diri seperti ini, lebih baik aku membunuh kalian semua!” Alex berpikir bahwa dia bisa membunuh pilot lawan dalam satu gerakan. Tapi siapa sangka, skill mengemudi Adeline juga sangat luar biasa. Helikopter itu mengubah jalurnya dengan lincah, dan menghindari tembakan Alex. Peluru menghantam pelat baja sayap helikopter, dan mengeluarkan serangkaian percikan api. Pelat baja setebal 10 cm lebih dari cukup untuk menahan serangan peluru.
“Hebat juga wanita ini, hmph! mari kita lihat bagaimana aku membunuhmu!” Alex tersenyum.
Saat Adeline dan Alex berada dalam jarak dekat, Adeline juga melepaskan tembakan. Tembakan Alex barusan tidak mengenai Adeline, dia buru-buru mengendalikan pesawat untuk menghindari peluru padat dari lawan. Kedua pesawat itu berpapasan di udara dan hampir berbenturan.
"Ah! Hati-hati." Erika yang berada di posisi co-pilot berteriak.
Helikopter ini tidak dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara, tapi terdapat dua bom pembakar dan dua rudal udara-ke-permukaan. Jika ingin membunuh lawan, hanya bisa mengandalkan senjata galting. Setelah memutar balik helikopter, Alex menyerang ke arah Adeline lagi.
"Erika, bantu bukakan pintu."
"Kamu juga harus berhati-hati."
Erika dengan hati-hati membuka pintu sesuai dengan instruksi Alex.
__ADS_1
Setelah kedua helikopter melewati putaran tembakan udara lagi, Alex mengeluarkan granat dari pinggangnya pada saat mereka berpapasan.
“Ini babak penentuannya!” Alex menarik kunci granat, menggunakan keahlian melempar pisau, dan melemparkan granat yang sudah berasap ke bagian tangki bahan bakar helikopter Adeline.